Ungkapan James Cook dalam buku petunjuk perjalanan di Thailand ini banyak benarnya. Pencapaian seni itu bukan hanya mewujud pada tarian klasik atau untaian kembang melatinya. Dalam banyak hal Grand Palace, monumen paling terkenal di seantero negeri yang baru saja memilih Chavalit Yongchaiyudh sebagai perdana menteri yang baru, merupakan perpaduan dari semua itu. Salah satu bagian penting dari istana itu ialah Wat Phra Kaew alias the Temple of the Emerald Buddha.
Masuk ke dalam kompleks kuil seperti berkunjung ke sebuah negeri dongeng. Arsitektur kuil serta
bangunan-bangunan lainnya ibarat alien, sama asingnya dengan bahasa maupun tulisan Thai yang pating clengkunik mirip huruf Jawa Hanacaraka. Unsur-unsur ornamen yang menghiasi sosok kuil dan sejumlah bangunan pendukung lainnya serba bersepuh emas, diperkaya dengan mosaik potongan cermin, dipolesi perada emas atau pernis. Pada bidang-bidang tertentu bertatahkan kulit kerang mutiara. Penuh warna dan eksotis.
Berdiri megah di sudut timur halaman istana, tempat itu mudah dijangkau dari mana-mana karena letaknya nyaris di jantung Kota Bangkok, yang dijuluki sebagai Kota Bidadari (City of Angels) atau Krung Thep dalam bahasa Thai. Naik taksi dari hotel atau penginapan di berbagai sudut kota semahal-mahalnya 250 baht, sekitar Rp 25.000,-. Istana dan Kuil Buddha Hijau ini termasuk salah satu tempat paling ramai dikunjungi wisman maupun wisdom.
Seperti ditulis H.R.H. Putri Maha Chakri Sirindhorn, putri Raja Bhumibol Adulyadej, dalam prakata buku sejarah tentang kuil Buddha Hijau karya Prof. M.C. Subhadradis Diskul, selain merupakan bangunan suci kuil itu juga tempat penyatuan jiwa seluruh masyarakat Thailand yang mayoritas (94,5%) beragama Budhha. Bukan saja karena tempat itu hampir sepanjang tahun dipakai untuk berbagai upacara kerajaan, tetapi juga tempat bagi masyarakat untuk senantiasa memperbarui tujuan hidupnya dengan mendengarkan kotbah pada hari Minggu dan hari raya keagamaan, memuliakan Buddha Hijau untuk manfaat yang menguntungkan, bermeditasi guna mengembangkan pikiran damai, mengagumi keindahan kuil, mempelajari berbagai aspek seni, dsb.
Giok, bukan zamrud
Tradisi membangun kuil Buddha di halaman istana kerajaan di negeri ini, menurut tulisan sejarah itu, sudah berlangsung sejak periode Sukhothai (1240 - 1438), yaitu zaman kerajaan Thai kuno yang berpusat di Kota Sukhothai, Thailand Utara.
Ketika Raja Rama I (1782 - 1809) mendirikan Kota Bangkok pada 1782 sebagai ibu kota kerajaan, ia pun memerintahkan membangun kuil di bagian timur istana guna menyemayamkan patung Buddha Hijau yang dianggap suci. Raja lalu menyebut kota itu Ratanakosin, yang artinya tempat peristirahatan Buddha Hijau. Pembangunan kuil itu makan waktu kira-kira 2 tahun.
Dikatakan Emerald Buddha atau Buddha Hijau karena sesungguhnya arca itu terbuat dari batu giok hijau (green jade) berukuran besar. Diameternya saja 48,3 cm dan tingginya 66 cm termasuk dasarnya. Dalam bahasa Thai, tulis Prof. Diskul, kata emerald hanya punya satu makna, yaitu hijau. Bukan emerald dalam arti zamrud, salah satu jenis batu mulia.
Posisi arca itu duduk bersila dengan kaki kanan menyilang di atas kaki kiri. Dari faktor ikonografis ini orang bisa menyimpulkan arca tersebut dibuat di wilayah Thailand Utara tidak lebih tua daripada abad XV. Itu berarti dipahat di zaman Thai Utara lama.
Di lain pihak, arca Buddha Hijau yang mengambil sikap meditasi itu, sangat mirip dengan arca-arca Buddha dari India Selatan dan Sri Lanka, terutama yang mengambil sikap meditasi demikian. Sikap meditasi semacam itu tidak pernah populer dalam dunia arca-arca Buddha di Thailand. Jadi orang dapat mengambil kesimpulan asal usul arca Buddha Hijau itu dari salah satu negara yang disebut tadi.
Gara-gara disambar petir
Arca Buddha dari batu giok yang disemayamkan di ubosoth (ruang pentahbisan biku), tinggi di atas altar berkilau di bawah payung emas, merupakan arca suci dan paling bernilai bagi masyarakat Thailand. Di dalam patung yang mudah pecah itu diyakini bersemayam kekuatan supranatural yang jauh melebihi kekuatan-kekuatan supranatural pada arca-arca lain. Sehingga dipercaya, selama patung suci itu masih berada di pangkuan bumi Thailand, kerajaan Thailand akan terbebas dari segala marabahaya.
Menurut sebuah kronik yang layak dipercaya, tulis Prof. Diskul, arca itu ditemukan pada tahun 1494 dalam keadaan terbungkus plesteran semen di dalam sebuah chedi (pagoda) di Chiang Rai, Thailand Utara, yang tersambar petir. Benda itu lalu dibawa ke kediaman seorang kepala biara. Satu hari kepala biara itu menemukan semen pembungkus arca pada bagian hidung terkelupas. Ketika seluruh semen pembungkus dikupas, ditemukanlah sosok arca Buddha dari batu giok hijau di dalamnya.
Mendengar temuan itu, orang pun berbondong-bondong datang untuk memuja arca berharga itu. Ketika itu Kota Chiang Rai berada di bawah kekuasaan raja dari Chiang Mai. Penggantinya, Raja Samfangkaen, mengirimkan seekor gajah untuk membawa arca Buddha itu ke Chiang Mai. Namun ketika tiba di persimpangan jalan menuju ke Kota Lampang, si gajah membelot, maunya berlari saja ke arah kota itu. Sudah tiga ekor gajah dikirimkan, selalu begitu yang terjadi.
Raja Samfangkaen akhirnya berpikir, jiwa yang menjaga arca Buddha Hijau itu inginnya tinggal di Lampang. Maka patung itu pun dibawa dan menetap di sana selama 32 tahun hingga tahun 1468 ketika Chiang Mai diperintah oleh raja yang sangat berkuasa, yaitu Raja Tiloka. Ia juga memerintahkan agar patung itu dibawa ke Chiang Mai dan, menurut kronik lain, menaruh arca tersebut di relung bagian timur sebuah stupa besar yang disebut Chedi Luang.
Tahun 1551 Raja Tiloka yang tak memiliki putra itu mangkat. Salah satu putrinya menikah dengan Raja
Laos dan melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Pangeran Chaichettha. Ketika Raja Chiang Mai itu
wafat, para menteri kerajaan Chiang Mai mengundang pangeran yang masih berusia 15 tahun itu untuk menjadi raja, dan ia setuju.
Namun ketika ayahnya, raja Laos itu meninggal, Raja Chaichettha ingin pulang ke negerinya. Maka pada tahun 1552 ia kembali ke Luang Prabang, yang kemudian menjadi ibu kota Laos, sambil membawa arca Buddha Hijau. Ia berjanji kepada para menteri Chiang Mai untuk kembali suatu saat. Namun ia tak pernah kembali dan tidak pula mengirimkan arca itu ke Chiang Mai sehingga patung tersebut tetap berada di Luang Prabang selama 12 tahun.
Ketika Raja Chaichettha tak mampu menghadapi serangan pasukan Raja Bayinnaung dari Birma (kini
Myanmar) pada tahun 1564, ia memindahkan ibu kota Laos ke Vientiane sehingga arca Buddha Hijau itu pun tinggal di sana selama 214 tahun.
Tahun 1778, selama periode Thonburi, ketika Raja Rama I dari Bangkok masih sebagai jenderal, ia
menguasai Vientiane dan membawa arca Buddha itu kembali ke Thailand. Dengan berdirinya Bangkok sebagai ibu kota Thailand, sejak itu arca Buddha Hijau menjadi simbol yang dianggap penting bagi keselamatan rakyat Thailand hingga kini. Arca tersebut dipindahkan dari Thornburi ke Kuil Buddha Hijau di Bangkok pada 22 Maret 1784.
Arca Buddha Borobudur
Selain arca Buddha Hijau di dalam ruang ubosoth juga dijumpai beberapa benda lain yang menarik. Misalnya singgasana raja dari kayu berlapis emas tempat arca itu didudukkan, dibuat pada masa pemerintahan kerajaan pertama. Panel-panel pintu yang bertatahkan kulit kerang mutiara, dibuat pada masa yang sama. Dua arca Buddha besar bersepuh emas dan bermahkota dalam posisi berdiri; yang satu dipersembahkan bagi Raja Rama I, dan lainnya untuk Raja Rama II (1809 - 1824).
Ada juga arca-arca Buddha berukuran kecil dari perunggu yang dinamai Phra Samputtha Panni, dibuat oleh Raja Rama IV pada 1830 ketika masih menempuh pendidikan sebagai biku. Pangeran yang biku ini menciptakan tipe baru dari arca Buddha tanpa tonjolan di bagian kepala, yang mengenakan jubah biarawan berlipit dan duduk dalam sikap meditasi. Patung ini ditempatkan di depan singgasana yang ditempati arca Buddha Hijau.
Yang tak kalah menarik adalah lukisan dinding bagian dalam ubosoth yang menggambarkan adegan kosmologi Buddhisme (kamadatu, rupadatu, dan arupadatu) di dinding sisi barat di belakang arca Buddha Hijau. Sedangkan di dinding sisi timur, atau dinding dalam bagian depan, digambarkan Pencerahan Buddha, yang dilukis pada masa pemerintahan Raja Rama I. Kompleks kuil ini dikelilingi oleh galeri beratap yang sepanjang dindingnya berlukisan dinding (mural paintings) yang menceritakan epos Ramayana.
Di sekitar ubosoth berdiri 12 paviliun kecil (semacam gazebo) yang terbuka, yang
dibangun pada masa pemerintahan Raja Rama I. Kini paviliun itu dimanfaatkan para pengunjung untuk duduk melepas lelah atau berteduh. Di sebelah utara atau sisi kiri ubosoth dapat dinikmati empat buah bangunan indah, berupa stupa Phra Si Ratana setinggi 15 m berwarna emas, perpustakaan (Phra Mondop), miniatur Angkor Wat, dan royal pantheon (tempat pemujaan pada para dewa bagi raja). Di depan bangunan ini berdiri dua stupa berlapis emas sebagai monumen peringatan bagi orang tua Raja Rama I.
Keempat bangunan itu berada dalam satu kompleks berlantai tinggi sekitar 1,5 m dari permukaan tanah. Lalu di sisi utara atau kiri kompleks itu tegak tiga bangunan, yakni dua buah wihara dan sebuah perpustakaan pelengkap (Ho Phra Monthien Tham).
Lokasi tempat berdirinya perpustakaan Phra Mondop dulu merupakan kolam. Oleh Raja Rama I
diperintahkan dibangun sebuah perpustakaan di tengah kolam untuk menjaga agar sejumlah kitab suci di dalamnya tidak dimakan rayap. Namun perpustakaan di tengah kolam itu kemudian dibongkar, diganti dengan bangunan seperti yang sekarang berdiri.
Ada yang nyleneh di bangunan perpustakaan baru itu. Keempat sudutnya dihiasi 4 buah arca Buddha dari batu andesit. Arca-arca ini menjadi lain sendiri karena selain dari batu arca itu tidak bersepuh emas. Menurut pemandu, arca-arca itu merupakan cendera mata dari Indonesia bagi raja Thailand, sekitar 100 tahun lalu.
Dalam catatan sejarah tentang Borobudur memang tertulis, pada tahun 1896 C.L. Hartmann, residen Kedu, memberikan cendera mata kepada raja Siam (yang kini bernama Thailand), yakni Raja Chulalongkorn (Rama V; 1868 - 1910), antara lain berupa 5 buah arca Buddha yang diambil dari reruntuhan Candi Borobudur sebelum pemugaran.
Kompleks Kuil Buddha Hijau sungguh mencerminkan adanya perilaku yang mengacu pada nilai-nilai
kehidupan modern pada bangsa Thailand di masa lalu. Dibangunnya perpustakaan di kompleks kuil itu salah satu contohnya.
Nampaknya, kesadaran akan pentingnya arti sebuah warisan budaya leluhur pada bangsa Thailand masa kini cukup tinggi. Ini antara lain terlihat pada betapa terawatnya kompleks kuil Buddha Hijau yang sudah berumur ratusan tahun itu. Dalam hal ini kita boleh mencontoh mereka. (Al. Heru Kustara, dari Bangkok)