|
ARIEF RACHMAN: TAWURAN PELAJAR DAN GURU MERANGKAP Dunia pendidikan sering kali menjadi alamat kritikan kiri-kanan. Bagaimana sebenarnya syarat seorang guru yang lengkap? Inilah komentar seorang Arief Rachman, yang sudah menjadi bagian dari dunia ini.
|
Pejabatkah orang itu? Atau konglomerat? Bukan, tetapi seorang dosen dan kepala sekolah sebuah SMU. Namanya: Drs. H. Arief Rachman, M.Pd.
Jangan terbalik
Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Agaknya seperti itulah "nasib" Arief Rachman selama ini. "Ayah saya kepala sekolah, sementara ibu juga mempunyai latar belakang pendidikan. Mungkin dari sana turun minat saya untuk menjadi guru," katanya membuka pembicaraan mengapa ia tertarik terjun ke dunia pendidikan.
Anak ketujuh pasangan R.A. Rachman dan Siti Kursilah ini menamatkan SD - SMA-nya di Bogor. "Tapi saya memastikan diri untuk menjadi guru setelah mengikuti program AFS (American Field Service) tahun '59 - '60. Di sekolah saya di sana (setingkat SMA) hubungan antara murid dan guru saya anggap ideal. Murid dan guru mampu mempersiapkan watak-watak yang diperlukan untuk masa depan," katanya.
Dalam benak Arief saat itu sudah tertanam keyakinan bahwa ada hal-hal yang perlu dikembangkan pada anak-anak di Indonesia. "Mereka harus mempunyai kemampuan berencana, keberanian untuk mengambil risiko, mau berkomunikasi terbuka dengan segala heterogenitas manusia, lebih tegas, inovatif, dan kreatif. "Itulah yang membuat saya terobsesi dalam kehidupan perguruan," paparnya.
Sebenarnya Arief itu pengajar atau pendidik? "Mengajar itu sebagian dari mendidik," katanya. Kalau begitu, guru bagaimanakah yang bisa dianggap sebagai pendidik yang memenuhi syarat? Menurut pria kelahiran Malang, 19 Juni 1942 ini, seorang guru itu harus memenuhi 5 kompetensi.
|
Menurut Arief, sekarang ini ada guru yang pandai, tapi idealismenya rendah. Ada yang idealismenya tinggi, tapi kepribadiannya labil. Jadi tidak bisa jalan. "Kelima kompetensi itu sebenarnya ada pada setiap orang, tetapi persentasenya berbeda-beda."
Setiap guru tentu memiliki cara mengajar yang berbeda-beda, meskipun pada dasarnya sama. "Mengajar itu 'kan ada metode-metodenya. Mengajar kimia dan bahasa Inggris itu lain. Jadi ada yang disebut metode khusus dan metode yang bersifat umum. Umpamanya, kita ingin membuat seseorang itu mempunyai sikap terhadap sebuah ilmu. Pertama, guru harus bisa mengenalkan ilmu itu apa dan mengapa diberikan. Seorang guru harus bisa membuat anak menyadari bahasa Inggris, kimia, matematika itu perlu untuk ini-ini," tegas Arief.
Selain itu, guru juga harus bisa membuat anak terbiasa terhadap apa yang tidak ia kenal itu, dengan memberinya latihan yang kontinyu, konsisten, dan konsekuen (3K). Jika sudah kenal dan terbiasa, akan timbul apa yang disebut sense of regularity (suatu kesadaran keteraturan), bahwa tatanan kehidupan itu teratur. Baru setelah itu murid diberikan pemahaman. "Jangan terbalik, mengenalkan langsung dengan pemahaman, baru dibiasakan," Arief mengingatkan. Pemahaman ini bisa melalui dua cara. Bisa guru yang memberitahukan inilah yang benar, bisa juga anak itu yang menemukan. Hal ini merupakan tahap ketiga.
Yang terakhir adalah mengamalkan (sense of harmony). "Kehidupan di dunia ini adalah suatu sandiwara harmoni dari Tuhan yang maha hebat. Antara matahari - bumi, angin - laut, air - api, bunga - daun. Itu semua merupakan simfoni yang bersatu di dalam sebuah makna," kata Arief memberikan contoh. Keberhasilan seorang guru amat tergantung pada kemampuannya memberikan keempat hal ini. Dengan empat hal itu, menurutnya, anak akan mendengar (observing). Kemudian mau meniru, lalu mencoba. Setelah mencoba akan tahu ini kok panas, ini kok dingin. Kalau sudah mencoba, dia sudah bisa mengamalkan. "Jadi metode ini jangan dilangkahi. Jangan langsung mengharapkan si anak mengamalkan sebelum membiasakan. Pengetahuan itu dimiliki oleh semua guru," kata Arief yakin.
Nah, bagaimana dengan kualitas anak didiknya? Maraknya perkelahian pelajar belakangan ini membuat lembaga pendidikan banyak mendapat sorotan.
"Sejak dulu juga ada perkelahian antargeng. Jadi bukan sesuatu yang baru. Hanya sekarang ekspos media makin meningkat, seakan-akan lebih sering terjadi. Jadi seperti fashion. Tawuran itu adalah agresivitas. Sifat agresif ini timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi, seperti kebutuhan diri, kehidupan berkeluarga, adanya kesenjangan kehidupan di masyarakat, manajemen sekolah yang tidak baik, adanya informasi media cetak ataupun elektronik yang terekam oleh mereka dan tanpa alasan mereka tiru, atau hanya sekadar ikut-ikutan. Jadi, you have got to check di mana itu," kata Arief.
Arief berpendapat, seorang anak harus mempunyai 3 kesadaran: kesadaran bertujuan (sense of goal), kesadaran berprestasi (sense of achievment), kesadaran berefleksi terhadap diri sendiri, menyadari kekurangan dan kelebihan dirinya. Hal itu harus dimunculkan di dalam sekolah.
Sering kali orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya di sekolah, sehingga para guru pulalah yang acap kali kena tuding, jika si anak tidak menunjukkan prestasi yang baik atau melakukan berbagai kenakalan seperti tawuran. "Orang tua itu kontribusinya meletakkan batu landasan terhadap pembangunan rumah di atasnya," kata Arief memberikan perumpamaan. "Kalau sejak balita ibu-bapaknya sudah menyentuhkan nuansa-nuansa harmonis, maka anak itu akan lebih tahan banting. Tapi kalau dari kecil anak itu sudah nervous, banyak konflik, sensitif, maka ia tidak bisa adjust. Bisa saja penyalahan dari pihak orang tua merupakan refleksi bahwa orang tua itu tidak melihat pendidikan tersebut seharusnya dilakukan bersama-sama. Bisa saja pendidiknya yang salah, tapi sebetulnya kontribusi kesalahan orang tua terhadap tabiat anaknya juga harus diakui," jelas Arief tanpa bermaksud membela diri.
Senjatanya agenda
Itulah sebabnya, guru itu harus tetap bersemangat untuk bersikap sabar terhadap murid. "Contohnya, tadi staf saya menghukum anak yang terlambat. Dia tahu jika terlambat harus push-up. Jadi dia tahu bahwa harmonitas atau keserasian dan keselarasan kehidupan itu because every body is playing the roll well," kata Arief yang dikenal sangat disiplin.
|
Saat ini selain menjadi dosen jurusan bahasa Inggris di almamaternya, Arief juga sibuk menjadi kepala sekolah SMU IKIP Jakarta (Lab School), dosen luar biasa di Fakultas Psikologi UI, penatar P4 DKI Jaya, dll. Belum lagi berbagai kegiatan yang bersifat keagamaan. "Menjelang akhir dan awal tahun biasanya banyak orang akan pergi umroh, sehingga Mas sering diminta berceramah. Pada bulan Puasa banyak kegiatan di pesantren. Begitu pula saat musim haji tiba," jelas Haryati. Sejak tahun 1995 Arief aktif memandu acara Hikmah Fajar di RCTI. Selain itu ia juga sering menjadi pembicara berbagai seminar, aktif di masjid Betawi, yang terletak tak jauh dari rumahnya. Meskipun giat di bidang keagamaan, Arief menolak disebut juru dakwah. "Dakwah saya 'kan selalu berhubungan dengan pendidikan," katanya merendah.
Kegiatan Arief sehari-hari dimulai sejak matahari belum terbit. Selesai sembahyang subuh, sekitar pukul 06.15 WIB dengan memakai training pria bertubuh langsing ini langsung lari ke tempat tugasnya di Rawamangun.
"Agenda," katanya enteng sambil tertawa, ketika ditanya caranya membagi waktu. Untuk memudahkan aktivitasnya, Arief melengkapi diri dengan telepon genggam.
Dalam mengimbangi aktivitas suaminya, Haryati pun tidak tinggal diam. "Selain menjadi dosen luar biasa di IKIP Jakarta, saya menekuni bisnis interior yang belum lama saya rintis. Pokoknya, saya ingin dinilai orang karena kemampuan sendiri, bukan karena suami," kata wanita yang senang bercanda ini.
Di sela kesibukannya, menurut sang istri, Arief tetap memberi prioritas dalam pertemuan keluarga, sementara untuk melayat pun diusahakan untuk bisa datang. Untuk kumpul keluarga secara lengkap, makan malamlah yang dimanfaatkan.
Untuk menjaga kedekatan dengan anak-anaknya, tiap malam Arief menyempatkan diri mendatangi mereka satu per satu di kamar masing-masing. "Anak-anak setelah dewasa lebih dekat kepada ayahnya daripada kepada saya. Sebagai pendidik Mas 'kan terbiasa menangani masalah yang dihadapi anak-anak, sehingga lebih terampil. Selain itu mereka juga lebih terbuka kepada Mas," aku Haryati.
Harus punya idealisme
Sepintas jalan hidup dan karier Arief terlihat mulus-mulus saja. Padahal beberapa kali ia harus berurusan dengan pihak yang berwajib.
Tahun '66 Arief beberapa kali keluar-masuk tahanan. Tahun '78 ia juga kembali ditahan selama 8 bulan. Otomatis kegiatannya sebagai pembawa acara pelajaran bahasa Inggris di TVRI sejak tahun 1970 terhenti. "Karena suatu kasus kegiatan kemahasiswaan," katanya singkat. "Tetapi saya anggap itu suatu kewajaran di dalam kehidupan bernegara dan berbangsa," sambungnya.
Menurut Haryati, tahun 1978 itu anak-anaknya masih kecil, sehingga belum mengerti apa yang menimpa ayahnya. "Sebagai istri saya bersikap tenang, karena yakin Mas tidak bersalah. Saat itu kami masih tinggal di Bogor. Untung, mental Mas Arief stabil. Seorang psikolog menyarankan saya untuk mencari tokoh pengganti Mas Arief di rumah. Perhatian keluarga kepada kami pun sangat besar," katanya mengingat-ingat kejadian yang mewarnai kehidupan mereka. Sama seperti keyakinan Haryati, akhirnya Arief dibebaskan tanpa jelas kesalahannya apa. "Itu benar-benar pengalaman berharga bagi kami," kata Haryati.
Ketiga anak Arief tahu masalah ini dari orang tua teman-temannya, bukan dari orang tuanya langsung. "Tentu saja mereka terguncang. Setelah dewasa, mereka justru appreciate terhadap apa yang dikerjakan ayahnya, selain juga merasa prihatin. Tapi mereka tahu bahwa ayah mereka bukanlah penjahat dan tidak jahat," jelas Haryati. Sebaliknya, mereka pun tak menepuk dada, saat banyak orang memuji ayahnya.
Arief mengakui istrinya berperan besar dalam menunjang kariernya. "'Kan ada pepatah di belakang seorang suami yang sukses pasti ada seorang istri yang hebat," katanya. "Ah, nggaklah yauw," kata Haryati sambil bercanda menanggapi pujian suaminya.
"Sekarang ini hampir tidak ada guru yang tidak mengajar di dua tempat alias merangkap dan itu mengurangi kadar kemampuan konsentrasi, kadar mengajar di satu tempat. Idealnya, suatu waktu guru itu ada di satu posisi saja," kata Arief mengomentari para guru yang nyambi mengajar di sekolah lain. "Bagi guru yang punya idealisme, hal-hal seperti gaji dsb. menjadi hal sekunder. Dia tidak akan memikirkannya. Orang 'kan idealis, seperti zaman revolusi, merdeka atau mati. Gitu. Itulah yang penting. Guru-guru seperti itu masih banyak. 'Kan sama juga seperti profesi seorang wartawan, yang tak mungkin bertahan jika ia tidak punya idealisme. Saya tidak pernah pesimistis terhadap pemotongan gaji, meski itu menunjukkan manajemen yang bobrok dan tidak baik," ujarnya mantap.
Soal sistem pendidikan yang selalu berubah, menurut Arief, "Sistem yang tertuang di dalam kurikulum itu memang seperti manusia berumur. Dia tidak pernah konstan, selalu berada di dalam keadaan progresif dan bisa berubah. Jangan kaget kalau kurikulum itu berubah-ubah. Untuk saya hal itu merupakan sebagian dari kehidupan pendidikan. Orang yang menganggap kurikulum harus konstan itu orang konservatif." Di lain pihak bagi mereka yang tak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, kata Arief, tak perlu berkecil hati, "Karena sekarang ini kebutuhan di masyarakat 'kan berbeda banyak. Sekarang ada kurikulum yang diakui oleh pemerintah dengan adanya kursus-kursus modelling, tata rambut, dsb. Karena tuntutan masyarakat ke arah itu besar. Jadi, kalau melihat dunia pendidikan jangan hanya sekolah formalnya, tapi sampai kepada kursus-kursus. Manfaat kursus-kursus itu sangat besar, unbelieveable. Kursus-kursus seperti itu bukan cukup bisa diandalkan, tapi cukup bisa dimanfaatkan. Sekomersial-komersialnya tempat kursus, tapi pasti ada isinya. Isinya itu harus pandai ngambil-nya.
Pendidikan memang merupakan dunia yang mengasyikkan bagi Arief. "Pengalaman saya yang paling menyenangkan, jika melihat perubahan watak seorang anak didik dari A menjadi A plus, dari B menjadi B plus," katanya. Demikian bertanggung jawabnya Arief terhadap dunianya ini, terlihat di sela kesibukannya ia masih menyediakan waktu untuk anak-anak asuhannya ataupun orang tua anak didiknya yang membutuhkan dirinya untuk berkonsultasi. Bahkan untuk konsultasi kadang kala ia "rela" diganggu melalui telepon pukul 05.00. (L.R. Supriyapto Yahya)