MAYA, INTISARI NO. 402, JANUARI 1997
PERCAYA atau TIDAK?
KITA TIDAK "SENDIRIAN
"

Kita sering mendengar cerita-cerita aneh; tentang rumah hantu, suara-suara tanpa sumber bunyi, atau kisah-kisah orang yang "dipindah" tidurnya. Pengalaman di bawah ini sekadar menunjukkan betapa fenomena tersebut terkadang dipakai untuk menjelaskan pertanyaan di atas.


Sarang gendruwo, demikian orang menyebut rumah berbentuk limas berukuran 9 x 12 m yang terletak tak jauh dari Pasar Imogiri, Yogyakarta, itu. Meski bentuknya serupa dengan rumah-rumah lainnya, bangunan tua itu sejak tahun 1985-an tak lagi didiami orang, karena kabarnya rumah itu memiliki "penghuni" lain yang menyeramkan.

"Rasanya seperti di neraka, bikin tidak betah," kata Pak Yono Pandoyo (71) yang pernah menempati rumah itu selama 3 tahun pada tiga dekade yang lalu. Menurutnya, setiap malam Jumat Kliwon atau Selasa Legi pada pukul 1 malam di atap rumah sering terdengar suara orang mendengkur, meski setelah dilihat tidak ada siapa pun di sana. Gangguan itu bisa juga berupa bunyi-bunyian seperti denting piring dan sendok beradu, ataupun jebur air di kamar mandi.

Dicemplungkan ke sumur
Karena hanya berupa bunyi-bunyian, Pak Yono sekeluarga pun tidak takut. Namun suatu saat gangguan itu mencapai puncaknya. Waktu itu Pak Yono sedang berbaring di ruang tengah ketika merasakan angin berputar di atasnya yang, "Tiba-tiba berubah menjadi tangan besar yang mencoba mengangkat tubuh saya." Tanpa sadar timbul keberanian untuk melawan, "Tangan itu saya pegang, saya pukul tapi yang kena lemari!"

Perkelahian itu begitu hebat sehingga barang-barang di ruangan menjadi berantakan. Herannya, "Meski tubuh saya kotor karena berguling-guling dan terbentur tanah, jangankan berdarah, sedikit pun saya tidak merasa sakit. Kalaupun pingsan, mungkin karena kecapekan," tuturnya sambil menambahkan bahwa "penunggu" yang jahat itu berdiam di atap rumah.

"Penghuni" tak berujud itu pernah pula menjaili Mbah Wono. Saat itu Mbah Wono yang tengah tidur lelap di teras sekonyong-konyong diangkat lalu dicemplungkan ke sebuah sumur mati tak jauh dari rumah hantu tersebut. Anehnya, hingga keesokan harinya Mbah Wono masih dalam keadaan tertidur pulas saat ditemukan para tetangganya.

Setelah sempat tak berpenghuni selama beberapa tahun, rumah hantu itu kemudian disewa oleh satu keluarga guru. Menurut pengakuan tetangga sekitar, keluarga itupun tak lepas dari keusilan sang gendruwo. Tak hanya bunyi dan suara aneh yang membuat tidak kerasan, tapi juga bayangan makhluk besar yang sering muncul di malam hari. Akibatnya, konon istri guru tersebut mengalami gangguan pikiran. Herannya, setelah mereka pindah ke kota lain, sang istri pun sembuh.

Pada tahun 1990 rumah hantu itu berpindah ke tangan Adi Sudarmo yang hingga kini memanfaatkanya hanya sebagai gudang beras. "Saya memang belum pernah melihat langsung ujudnya, tapi sering kali saya tiba-tiba merasa takut atau mendengar bunyi serupa desir angin," ujar Pak Adi yang hanya sekali sehari masuk ke dalam rumah itu untuk membenahinya.

Namun di malam hari, para tetangga mengaku sering mendengar suara Pak Adi sedang berbincang-bincang di rumah gudang itu, bahkan melalui pintu yang terbuka tampak Pak Adi sedang menyapu atau sekadar duduk-duduk di teras. Padahal pada saat yang sama Pak Adi asli sedang berada di rumah tinggalnya yang berjarak kurang lebih 200 m dari rumah angker itu. "Memang repot bagaimana harus menjawab pertanyaan para tetangga. Kadang saya mengiakan saja, mengaku-aku semalam tidur di rumah tersebut."

Karena keangkerannya, rumah itu sering dijadikan alat uji keberanian di antara sejumlah pemuda desa itu. Belum lama ini, menurut Pak Adi, ada pemuda yang menjajal tidur di rumah tersebut. Namun, belum sampai tengah malam pemuda itu sudah lari terbirit-birit ketakutan, karena katanya ada angin berputar-putar yang mengangkat tubuhnya. Sepengetahuan Pak Adi, hantu penunggu rumah itu berdiam di kuda-kuda kayu atap rumah. "Karena kayu jati tersebut berasal dari sebuah tempat keramat di Imogiri," jelasnya.

Harri S. (40), paranormal dari Kotagede, membenarkan dugaan Pak Adi, "Malah bukan hanya kayu yang berasal dari petilasan keramat, tapi bisa juga pilar-pilar kayu dari pohon yang tumbuh di hutan-hutan angker dekat kuburan."

Terlebih lagi rumah gudang tersebut sudah lama tidak dihuni. Roh halus gemar berdiam di tempat yang sepi, atau tempat jarang dihampiri si pemilik rumah. "Bisa saja kamar yang kosong, atap rumah, pohon di pekarangan jadi sarangnya."

Serupa pendapat Harri, paranormal Marno (37) menyebut selain senang berdiam di tempat-tempat yang sepi, sesungguhnya roh dapat berdiam di segala tempat. Karena keberadaannya tidak terikat oleh ruang. Jadi dinding rumah atau benda apa pun bisa tertembus oleh roh.

Pendapat tersebut sesuai benar dengan kisah yang diceritakan oleh Prof. Dr. James Danandjaja, antropolog dan ahli folklor. Kisah tersebut dialami salah seorang yang mengikuti penataran suatu ketika di Istana Bogor yang jarang dihuni. Alkisah ada peserta penataran yang senang usil. Sewaktu melihat sebuah patung perunggu berujud wanita tanpa busana, dengan tertawa-tawa ia meletakkan bulu-bulu wol rontokan dari karpet di bagian terlarang patung tersebut. Namun esok harinya ia terperanjat sewaktu menemukan bulu-bulu serupa ada di kantung celananya.

Karena menganggap ada orang yang sedang menjailinya, maka ia segera memberi komentar yang tak patut. Sampailah pada saat makan, tanpa sebab yang jelas ia tersedak, hingga terbatuk-batuk. Anehnya, begitu dikeluarkan dari tenggorokan yang tertelan adalah bulu-bulu karpet. Bukannya kapok, ia malah menantang "siapa pun" yang mengganggunya. Benar saja pada malam hari, terdengar ia berteriak-teriak ketakutan. Menurut pengakuannya, ia akan diterkam makhluk yang sangat mengerikan.

Ibu Hartini Soekarno pun membenarkan bahwa di Istana Bogor ada "penghuninya". Ia pernah melihat seorang tamu yang "bersilat" saat memasuki Ruang Raja yang sering kali dianggap angker.

Hantu tak mengganggu
Kalau ulah "hantu" dalam patung Istana Bogor tersebut mungkin reaksi rasa kesal karena terlebih dahulu diusili, lalu bagaimana dengan hantu yang nyata-nyata "nakal" mengganggu orang? Kejahilannya tidak cuma menampakkan diri, mengeluarkan suara, atau berjalan kian kemari. Seperti yang dilakukan Harry, hantu yang menghuni sebuah gedung bioskop di Inggris. Konon Harry adalah hantu seorang pekerja bangunan yang jatuh dan meninggal ketika sedang ikut membangun Classic Cinema tahun 1930. Dengan tangannya yang dingin Harry paling doyan mengusap tengkuk petugas proyektor. Tak hanya itu, ia juga senang menyalakan lampu-lampu dalam ruang bioskop saat pertunjukan berlangsung, atau malah tertawa terbahak-bahak pada puncak adegan dramatis yang justru sesungguhnya memicu tangis penonton. Menjengkelkan, bukan?

Menurut Cassandra Eason, sebenarnya hantu-hantu tersebut tidak bermaksud mengganggu. Masalahnya, hantu tersebut sangat terikat dengan tempat tinggal. "Mereka terus saja melakukan kebiasaan rutin semasa hidup mereka, padahal mungkin rumah itu sudah berubah bentuk atau berganti pemilik. Ia tidak sadar kalau tindakannya itu mengganggu pemilik barunya," paparnya dalam tulisan yang berjudul Hantu pun Membutuhkan Teman.

Dalam tulisannya Cassandra menceritakan kisah pertemanan Cheryl dengan hantu Rob yang juga "menghuni" rumahnya. Sebagai istri yang bersuamikan anggota AL, Cheryl sering ditinggalkan sendiri di rumah bersama anak semata wayangnya, Paul. Hampir semua kegiatan ia lakukan sendiri, termasuk pindah ke rumah barunya yang kosong selama 18 bulan sebelum dibeli Cheryl. Beberapa waktu setelah menghuni rumah baru itu, Cheryl mendengar pintu depan dibuka diikuti langkah berat kaki menaiki tangga. Mengikuti suara langkah kaki itu, Cheryl tahu "makhluk" itu menuju ke kamar belakang yang sudah ia ubah menjadi kamar mandi. Derap kaki yang dimulai dari pintu depan hingga ke kamar mandi atas menjadi rutin di telinga Cheryl.

Ternyata, menurut tetangganya, dulu rumah itu dihuni oleh Rob yang sebatang kara, sedangkan kamar mandi atas dulunya adalah kamar tidur Rob. Terlebih, di masa hidupnya Rob sering diolok-olok karena keadaan kakinya besar meski ia sesungguhnya baik hati. Cheryl tidak tega menolak apalagi menyingkirkannya.

Namun kehadiran Rob ternyata membuat suasana rumah tangga Cheryl kurang harmonis. Suaminya rupanya merasa terganggu dengan kebiasaannya. Akhirnya, saat Cheryl merasa Rob ada di dekatnya, Cheryl mengajaknya untuk menemui seorang spiritualis agar dapat berkomunikasi. Melalui medium, seorang pria berkaki besar mengucapkan terima kasih pada Cheryl yang telah mau menerimanya dan bersikap sangat baik padanya. Sejak itu Cheryl tidak mendengar lagi langkah berat kaki Rob, namun ia mengaku kehilangan Rob.

Paranormal Marno ternyata memiliki pandangan senada, "Kita memang perlu menghormati roh tersebut, istilah Jawanya nguwongke. Tanpa harus takut, kita sapa roh itu dengan sikap persaudaraan. Kita anggap ia bagian dari keluarga kita. Dengan cara demikian, roh halus itu juga akan menghormati kita."

Namun paranormal dari Yogyakarta itu memiliki versi sedikit berbeda dibandingkan dengan Cassandra mengenai gangguan roh halus. "Gangguan dirasakan karena kebetulan penghuni rumah itu memiliki gelombang sinar yang bertentangan dengan gelombang sinar roh tersebut. Akibatnya, ya gangguan itu, karena gelombangnya selalu bertabrakan. Kalau sudah demikian yang terganggu bukan hanya manusia, roh halus juga menderita," tutur Marno sambil menganjurkan untuk lebih baik memindahkan roh tersebut.

Menggendong hantu
Dengan kemampuan supranaturalnya Marno yang mengaku mampu melihat dan berkomunikasi dengan roh halus, sering dimintai tolong orang untuk memindahkan roh halus, "Jadi tidak diusir, tapi diminta untuk pindah."

Pada orang yang datang mengeluhkan adanya gangguan makhluk halus, Marno akan memintanya membuat bagan seluruh bagian rumahnya. Melalui bagan itu, setelah bermeditasi beberapa saat, konon ia mampu mendeteksi ada tidaknya, serta di mana tempat berdiam roh halus itu. Begitu yakin memang ada roh halus yang mengganggu, barulah ia berangkat ke rumah pasien tersebut. "Jadi dari rumah saya sudah siap, sehingga sesampainya di tujuan tidak perlu mencari-cari tempat persembunyian roh itu."

Tanpa berlama-lama, Marno akan langsung mengajak berdialog dan memintanya dengan baik-baik agar mau dipindahkan ke tempat pilihannya. Namun, menurutnya, tak jarang roh itu menolak lokasi pilihannya, "Roh ini punya pilihan sendiri, misalnya pohon-pohon besar, kuburan, atau tempat yang sepi dan gelap. Ini harus kita penuhi, selain syarat-syarat lainnya." Dari pengalamannya, roh halus sering minta syarat yang biasanya berupa air tuk pitu (dari tujuh sumber mata air), bunga, daun sirih, pisang, dan kemenyan.

Jika lokasi pemindahan dan syarat-syarat permintaan sudah disetujui, Marno akan segera memindahkannya dengan cara menggendong roh tersebut menuju ke lokasi yang dimaksud. "Roh halus biasanya suka menggelendot di lengan kanan saya. Beratnya bukan main," ujar paranormal yang mengaku sering membuangnya di sungai.

Namun meski semua persyaratan telah dipenuhi, pernah juga Marno mengalami kesulitan, "Karena roh halus juga mempunyai berbagai watak, ada yang penurut, ada yang membandel menolak dipindahkan."

Hal ini dialaminya saat dimintai tolong oleh seseorang di daerah Cepu, Jawa Tengah. Rumah yang dibangun di atas tanah bekas kuburan kecil tersebut dihuni roh yang sangat bandel. Marno pun terpaksa bersikap keras. "Memang ada unsur paksaan, tapi saya tidak mau berkelahi, hanya menunggu lengahnya. Saat dia lengah itulah, langsung saya tangkap dan bawa ke sungai untuk dibuang."

Kembali Marno menceritakan bagaimana ia harus benar-benar bersabar karena untuk menangkap roh halus semacam ini perlu waktu paling tidak sehari semalam menunggu kelengahan itu. Padahal, "Kalau menangkap roh yang penurut, hanya butuh tidak lebih dari 15 menit."

Menantang duel
Lain lagi dengan Harri, untuk memindahkan makhluk halus pengganggu rumah ia perlu waktu sekitar setengah jam, termasuk mendeteksi langsung kebenaran keberadaan roh halus serta tempat di rumah yang bersangkutan.

Begitu mendengar cerita pemilik rumah tentang gangguan di rumahnya, Harri berangkat menuju rumah tersebut berbekal persyaratan yang hanya berupa kembang, kemenyan, dan uang logam. Segera setelah meletakkan persyaratan itu di atas daun pisang yang kemudian dipasang di depan rumah, Harri bermeditasi dengan tujuan menemukan lokasi roh itu berdiam.

Selanjutnya, ia akan memintanya agar mau dipindahkan ke suatu tempat. "Biasanya mereka punya syarat yang kadang sukar didapat, seperti ayam putih mulus, kepala kambing atau kerbau, dll. Tapi saya akan menawar agar syarat kepala kerbau bisa diganti dengan kepala ayam."

Bila terpaksa berhadapan dengan roh halus yang ngotot tidak mau dipindah, Harri tidak segan untuk bertindak kasar. Bila Marno hanya memanfaat kelengahan roh halus, maka Harri akan benar-benar mengajak berkelahi secara fisik. Seperti yang pernah dilakukannya saat memindahan makhluk halus yang menempati sebuah rumah di daerah Yogyakarta Utara. "Karena makhluk ini keras kepala, saya tantang duel. Sampai-sampai leher saya terpukul."

Selanjutnya, serupa dengan yang dilakukan Marno, Harri akan menggendong roh itu di punggung dan memindahkannya bersamaan dengan sesaji yang diminta di sungai. Berbeda dengan Marno yang memindahkan roh halus dengan berjalan kaki, maka Harri biasa melakukannya dengan bersepeda motor. Menurutnya, sungai adalah tempat terbaik untuk pembuangan roh halus, apalagi sungai yang sedang banjir. "Selama air masih terus mengalir, makhluk halus itu menuju ke perjalanan yang tiada henti-hentinya," katanya.

Langkah terakhir, Harri akan menyebar beras kuning dan garam di lokasi berdiamnya roh itu sebagai upaya untuk mencegah roh itu kembali. (Shinta Teviningrum/B. Soelist)

rumah