REVOLUSI DOMBA

Tidak pada tahun '97 ini saja, domba Inggris menyulut revolusi dengan kelahiran domba "klon" Dolly. Revolusinya revolusi polemik di koran-koran, karena kekhawatiran kalau-kalau pengklonan akan diterapkan pada manusia. Dalam abad XVIII pun domba nenek moyang mereka membakar revolusi di Spanyol, tetapi revolusinya revolusi jalanan.

Kawanan domba di pinggri kali.
Kawanan domba Blackface digembala di tanah tak bertuan,
seperti bantaran sungai berumput ini.
(Repro: Geo)
     Domba Finn Dorset dan Blackface yang diklon di Inggris baru-baru ini merupakan hasil pemuliaan ras domba nenek moyang yang hidup sebelumnya. Inggris bisa menjadi negeri pengekspor kain wol berkat nenek moyang domba ini, yang terkenal sebagai domba merino.

     Menurut Kamus Umum Bahasa Indnesia, domba memang biri-biri yang bulunya dibuat kain wol, sedangkan kambing itu biri-biri juga yang sejenis dengan domba. (Sebenarnya jelas sekali berlainan jenis).

     Definisi umum dari kamus umum ini tidak umum. Pengertian yang lebih merakyat karena gampang diingat-ingat ialah, domba itu biri-biri berbulu yang tidak berjanggut, sedangkan kambing itu biri-biri berbulu yang memelihara janggut.

Jenggot bapak camat

     Supaya tidak rancu membedakan kambing dari domba, sebaiknya kita renungkan anekdot dari nenek moyang Jawa kita di bawah ini. Ada seorang lurah dari Desa Ngablak (dekat Kopeng, Salatiga) yang dititipi domba oleh camat atasannya. Ki lurah diminta agar menggembalakan domba di padang rumput tak bertuan di desa itu. Jadi bisa gratis.

     Pada suatu hari lurah itu melapor kepada pak camat dengan surat berhuruf Jawa. Carik atau sekkel (sekretaris kelurahan) yang menuliskan surat itu kebetulan salah menempatkan koma. Bunyinya kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ialah:

     "Bapak camat kambing domba, Anda digigit anjing gila."

     Pak camat yang memang sudah lama memelihara janggut

melengkung seperti kambing merasa tersinggung bahwa ia dipanggil bapak camat kambing domba.

     "Edan ane lurah Ngablak ini!" Kontan beliau membalas surat dengan surat pula yang tanda komanya sengaja ditempatkan salah:

     "Lurah Ngablak anjing gila, harap kau bunuh saja."

     "Biar merasakan sebutannya sekarang!" katanya kepada sekkec (sekretaris kecamatan) yang menuliskan surat yang disalah-salahkan itu.

     Dari anekdot itu dapat dipetik 2 pengetahuan. Pertama, orang Jawa rancu menyebut domba itu kambing domba (mendo domba), meskipun kambingnya tidak rancu disebut kambing (mendo). Kedua, kambing mempunyai janggut melengkung seperti bapak camat.

Piaraan semua bangsa

     Bahwa asal usul domba juga Asia, dan bukan Eropa, sudah sejak dulu dicanangkan oleh bangsa-bangsa Asia. Ini tidak mengherankan, karena domba memang biasa dianggap milik nasional setiap bangsa yang agraris, di mana saja mereka menetap.

Peternak berdasi.
Dua peternak berdasi Inggris.
Yang pertama memakai jas wol dari benang gosok (kiri) yang kasar,
dan yang kedua memakai jas dari benang sisir (kanan) yang halus.
(Repro: PM)
     Lama sebelum umat manusia bisa baca-tulis, sudah ada bangsa yang mengawasi domba liar yang mendekati pemukiman dan melindunginya terhadap serangan binatang buas. Penjinakan ini sudah dimulai 6.000 tahun sebelum Masehi, dan sudah disebut-sebut dalam batu tulis bangsa Babilonia (Irak sekarang), Arab, dan Etiopia. Domba piaraan mereka berasal dari 3 jenis domba liar. Argali dari Asia Tengah (yang tersebar dari Turkestan sampai Kamtsjatka), moeflon Eropa (dari Rusia Selatan sampai Pulau Sardinia), dan moeflon Asia yang tersebar dari Kasjmir sampai Iran.

     Akan tetapi ras yang paling berkesan membuat sejarah hanya domba merino yang diternakkan di Spanyol. Dari Spanyol, domba itu disebarluaskan orang Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda ke negeri masing-masing. Dalam abad XIX, ada merino Inggris yang dibawa ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan, dan dikawinkan dengan domba lokal sampai menghasilkan domba Kaap. Kemudian ada yang dibawa ke Pulau Jawa oleh orang-orang Belanda kompeni, dan dikawinkan dengan domba setempat milik bupati Limbangan (Garut) sampai melahirkan domba Garut. Pada tahun 1864, setelah ada domba merino dari Inggris dibawa ke Australia, ada juga yang didatangkan ke Pulau Jawa dan dikawinkan dengan domba Garut, menghasilkan domba Priangan modern. Masing-masing bangsa itu mengatakan bahwa domba yang mereka ternakkan itu domba nasional mereka.

Asal muasal nama merino

     Orang Spanyol sendiri sudah beternak domba rumahan di daerah pegunungan mereka yang sejuk, sejak abad XI. Ketika Spanyol diserbu oleh tentara Arab dari Damsyik untuk dijadikan emirat (semacam propinsi), domba Spanyol juga ada yang dipelihara orang Arab di daerah pendudukan. Mereka menernakkannya sebagai bahan makanan yang hot, di kelab-kelab malam dingin, tapi orang Spanyol menernakkannya sebagai penghasil bulu.

     Pihak Arab menguasai daerah selatan, sedangkan pihak Spanyol bertahan di daerah utara. Akan tetapi para domba tidak turut campur dalam pertikaian politik antar-kedua bangsa. Baik di pihak Arab maupun pihak Spanyol ada domba yang keluyuran dengan kekebalan diplomatik.

     Setiap musim dingin, domba Spanyol dari Utara berbondong-bondong bermigrasi ke wilayah Arab di Selatan yang masih hangat dan hijau ditumbuhi rumput. Baik domba Spanyol maupun domba Arab kemudian bersilaturahmi di daerah Andalusia.

     Akan tetapi ada seorang gubernur militer Arab yang tidak senang melihat domba piaraan rakyat Spanyol enak saja mencari makan di wilayah Arab, walaupun itu wilayah Spanyol sendiri juga dulunya. Ia membuat peraturan untuk mencegah orang Spanyol menggembalakan domba di wilayah pendudukan. Setiap kali domba Spanyol mengungsi ke daerah selatan, mereka dirazia KTP-nya. Para gembala domba terpaksa kucing-kucingan dengan petugas tibum penggusur domba.

     Sesudah para patriot Spanyol berhasil menggusur penjajah, (termasuk tibum itu juga) dalam tahun 1492, mestinya para domba tidak perlu digusur-gusur lagi. Tetapi ternyata tidak! Persoalan "di mana mereka boleh menyikat rumput" agar tidak saling berebut kavling, tetap saja menjadi masalah.

     Untuk mengatur jatah makanan domba seadil-adilnya, setelah perang kemerdekaan, diangkatlah dua jenis pembesar sipil sebagai petugas pembagian rumput. Merinos majores yang diangkat oleh raja, dan Merinos menores yang diangkat oleh gubernur.

     Sayang, bapak-bapak penguasa yang seharusnya berkuasa mengatur ini ternyata bisa diatur oleh kaki tangan pemilik domba yang ingin mendapat jatah padang penggembalaan lebih luas daripada rakyat biasa yang lain. Permainan kongkalikong birokrasi yang melibatkan uang pengertian ini membuat raja Spanyol berang.

     Raja berang ini kemudian mengangkat pejabat baru yang lebih dapat diandalkan kebersihan dan wibawanya, untuk tidak berkolusi dengan domba. Yaitu para konsul (wakil raja). Pangkat Merinos majores dan Merinos menores jatuh nilainya, dan dioperkan ke domba-domba saja.

Belhamel

     Oper-operan nama dari orang ke binatang, atau sebaliknya ini sudah lazim, dan tidak ada yang merasa tersinggung. Seseorang yang semula tidak dikenal sering jadi ngetop karena nama binatang yang diopernya. Seperti Pak Mujair misalnya, yang namanya juga dioperkan ke binatang seperti merinos ke domba. Mujair dioperkan ke ikan yang baru ditemukan di Desa Papungan dekat Blitar. Ke mana pun ikan itu disebarluaskan, nama Pak Mujair dibawa-bawa.

     Juga Mas Pawiro Ketek, yang khusus mengurus monyet percobaan di fakultas kedokteran hewan. Ke mana pun para alumni ditempatkan, nama Mas Pawiro Ketek dibawa-bawa sebagai pakar pemelihara monyet fakultas.

     Atau Engkoh Tan A Su, yang mengusahakan jual-beli anjing trah baru dan bekas. (Berani bayar mahal). Ke mana pun anjing trah itu diperjualbelikan, nama Engkoh Tan A Su dibawa-bawa juga.

     Ciri khas domba merino ialah tanduknya yang besar dan melengkung (pada jenis jantannya), tapi anehnya senjata hiasan ini tidak pernah dipakai untuk berkelahi. Puluhan ribu ekor domba semacam itu, yang lebih banyak betinanya daripada jantannya, digembalakan bersama di padang rumput pangonan milik negara dengan cuma-cuma (cuma membayar uang pengertian kepada bapak konsul).

     Untuk mengendalikan kawanan besar itu dipakai beberapa domba jantan yang bersenjata pajangan itu tadi. Mereka masih lumayan suka menakut-nakuti domba betina agar tetap berkumpul dalam hubungan kelompok. Tugasnya sebagai semacam mandor SDD (sumber daya domba), tetapi harus dikebiri dulu supaya kalau sedang bertugas tidak menyeleweng dengan domba betina yang syuur.

     Biri-biri kebirian ini di zaman Belanda dikenal sebagai hamel. Masing-masing diberi bel di kalungnya, sebagai tanda jabatan. Karena itu mereka pun dipanggil belhamel. Nama ini kemudian sering dioper ke anak-anak bandel yang suka memimpin anak-anak melempem, dalam kampanye melanggar disiplin nasional.

Sic transit gloria mundi

     "Begitulah semua kejayaan di muka bumi ini akan berakhir," kata orang bijak Romawi yang melihat kejayaan negerinya rontok. Semua kejadian (terutama kejayaan) memang ada akhirnya. Orang Romawi yang begitu perkasa menaklukkan semua bangsa Afrika dan Eropa Selatan, akhirnya rontok karena kezalimannya. Orang Arab yang menjajah Spanyol akhirnya juga tamat pada tahun 1492. Pengusaha domba yang kaya raya karena monopoli mengekspor bulu wol ke Inggris, akhirnya juga bangkrut sekitar tahun 1700-an.

     Puncak kejayaan domba merino semula terjadi dalam abad XVII di dataran tinggi Spanyol Utara. Bulu wolnya dipandang paling lembut dan empuk sehingga banyak diminati negara-negara Eropa lainnya, zaman itu. Walaupun pemerintah Spanyol sudah melarang siapa saja membawa domba merino ke luar negeri, namun banyak saja yang diselundupkan tanpa izin (atau izin-izinan) ke Jerman, Prancis, dan Inggris.

     Negeri di luar Spanyol ini kemudian bisa menghasilkan sendiri bulu domba yang bagus itu dengan cukup. Pemasaran wol Spanyol kacau, dan timbullah suara sumbang di Dewan Perwakilan Rakyat. Mengapa kita kebobolan domba? Di mana aparat keamanan kita?

     Situasi ini menyulut revolusi jalanan di kalangan angkatan muda Spanyol. Mereka menggelar demo terhadap aparat keamanan yang melempem, tidak mau menjaga domba.

     Demo digelar komplet dengan spanduk dan poster gelap yang blak-blakan, "Dulu kita kaya karena domba! Sekarang kita miskin karena domba! Menteri Pertahanan/Keamanan harus mundur!"

Tidak basah

     Orang Inggris yang melihat perkembangan politik di Spanyol kemudian "menarik pelajaran daripada sejarah". Bersamaan dengan laju perkembangan ternak domba di Inggris, mereka mengembangkan industri tekstil pengolah bulu wol, komplet dengan bagian litbang (penelitian dan pengembangan)-nya. Mula-mula di Somerset dan Norwich, tapi kemudian di West Riding yang lebih banyak sumber air lunaknya. Air lunak (yang rendah kadar kalsiumnya) bagus sekali untuk mencuci bulu domba. Kalau sewaktu-waktu ada negeri luar yang mencuri domba hasil pemuliaannya, Inggris sudah siap dengan tekstil yang sudah lebih dulu maju dibandingkan dengan tekstil negeri lain. Tidak mungkin tertandingi dan tersaingi!

     Domba itu diternakkan dengan dua cara. Di negeri yang miskin lahan seperti negara-negara Eropa, kawanan domba sebanyak 30 sampai beberapa ratus ekor dipelihara di peternakan terbatas yang padang pengangonannya dipagari. Di musim dingin, mereka dikandangkan dan diberi ransum jerami dan bubur sumsum (penguat) sereal padi-padian. Peternakan semacam ini selalu dibangun di tempat yang jauh dari kota dan kawasan industri, agar bulu domba yang dihasilkan tidak tercemar oleh udara kotor.

     Cara kedua dilakukan para peternak di negeri yang kaya lahan luas, seperti Amerika Serikat, Argentina, Afrika Selatan, dan Australia. Domba digembalakan sampai sebanyak ribuan ekor sekaligus di padang rumput pengangonan alami, baik di peternakan sendiri, di lahan sewaan dari orang lain, maupun di lahan milik pemerintah.

     Sekali setahun bulu domba mereka dicukur di musim panas, lalu dicuci dulu sebelum dipak bal-balan untuk dikirim ke pabrik. Tiba di pabrik ia masih dicuci sekali lagi dengan larutan asam sulfat encer supaya kotoran organik yang lembut bisa dilarutkan bersama lemaknya. Air cucian yang melarutkan kotoran ini tidak dibuang, tetapi dikumpulkan untuk dipisah lemaknya (yang dikenal sebagai degras) dari kotoran yang lain. Degras ini dimurnikan dan dijual sebagai lanolin untuk dasar pembuatan salep obat-obatan dan bahan kosmetik. Dunia modern kita tidak bisa hidup nyaman tanpa obat-obatan dan kosmetik.

Benang wol dan benang gosok.
Benang wol di bawah mikroskop (kiri),
benang sisir yang sejajar serabutnya (tengah),
dan benang gosok yang amburadul serabutnya (kanan).
(Repro: PM)
     Gumpalan bulu bersih kemudian digilas dengan mesin bertekanan tinggi menjadi lempengan gepeng selebar 1,5 m. Dilihat di bawah mikroskop, bulu wol dalam lempengan ini tidak hanya terdiri atas satu helai, tetapi satu berkas, yang terbungkus oleh sisik. Sisik yang masih mengandung lemak (dan tidak bisa 100% terbuang ketika dicuci sebelumnya) itu tersusun rapi seperti susunan genteng. Inilah yang membuat bulu wol tidak terasa basah kalau kena air.

     Dengan mesin pula lempengan bulu itu kemudian dibagi-bagi menjadi potongan panjang. Tiap potongan lalu dipelintir berkali-kali sambil diregang sampai terbentuk kumpulan berkas benang.

     Benang awal ini bisa mengalami dua kemungkinan pengolahan. Pertama, disisir sehingga yang tersisa hanya benang-benang yang panjang dan sejajar. Kedua, digosok dengan setrika raksasa begitu saja, sehingga hasilnya berupa benang campuran amburadul, panjang pendek menjadi satu.

     Hasil yang pertama berupa benang sisir yang terasa halus, dan biasanya ditenun menjadi kain wol untuk dibuat jas lengkap yang klasik biru tua dan hitam polos, atau biru dan hitam bergaris-garis. Hasil yang kedua berupa benang gosok yang terasa kasar, dan biasanya ditenun menjadi kain wol untuk membuat stelan jas yang lebih kasar, dan overcoat.(SS)

rumah