PULAU SIBERUT,
"IBU KOTA" YANG MERANA

Orang Mentawai - yang merupakan orang pertama bangsa Indonesia - ternyata nasibnya sangat menyedihkan dibandingkan dengan saudara-saudaranya di daerah lain. Mereka berada di persimpangan jalan; antara ingin mengejar ketertinggalan dan mempertahankan budaya asli dari gempuran budaya global. Pulau Siberut sebagai "ibu kota" Mentawai pun cemberut, semakin merana.

Sosok asli orang Siberut.
Pasangan suami-istri sikerei
dengan tato di sekujur tubuh
yang merupakan ciri khas budaya
tradisional suku Mentawai.
(Foto: Bubin Lantang)

     Amantajuilebbo berhenti menyantap toktuk, durian khas Mentawai dengan durinya yang panjang dan mempunyai aroma cempedak. Lelaki suku Mentawai, warga Dusun Rorogot, Muarasiberut itu segera melepas arloji yang melingkar di tangannya. "Ini turis kasih. Sudah dua tahun. Harganya mahal, seratus dolar!" ujarnya bangga.

     Saya terperangah melihat merek arloji tersebut. Tag Heuer! Namun setelah lama saya amati, justru rasa iba yang menyelusup di relung hati. Di kaki lima Tanah Abang, Jakarta, arloji sejenis banyak dijual dengan harga yang sangat jauh dari seratus dolar. Paling-paling Rp 20.000,-. Entah turis mana yang tega membohongi lelaki lugu, yang sehari-harinya hanya memakai kabit (cawat dari kulit kayu sebagai penutup aurat). Entah ucapan apa yang harus saya lontarkan untuk mengomentari ungkapan lelaki yang bertato di sekujur tubuhnya serta selama 2 tahun berbangga dengan arloji "seratus dolar"-nya. Saya berpikir, jangan-jangan ia tak tahu apa-apa tentang dolar.

     "Bagus?" Amantajuilebbo masih saja meminta saya berkomentar terhadap arloji tersebut. Dalam sorot matanya terbersit harapan akan pujian yang meluncur dari mulut saya. Saya jadi serba salah!

Orang pertama bangsa Indonesia

     Kepulauan Mentawai yang terletak di sebelah barat Sumatra Barat terdiri atas tiga pulau besar (Siberut, 4.097 km2, Sipora, 840 m2, serta Kepulauan Pagai, 1.870 km2, yang terdiri atas 2 pulau) dan sekitar 40 pulau kecil. Namun di pulau-pulau besar itu sajalah ada penghuninya. Kepulauan yang menghadap Samudera Hindia itu termasuk dalam daerah administrasi Kabupaten Padangpariaman dengan jumlah penduduk sekitar 53.000 jiwa, tersebar di 4 kecamatan: Siberut Utara, Siberut Selatan, Sipora, dan Pagai.

     Konon, orang Mentawai pertama diciptakan oleh Simatalu (Yang Mahatinggi) di daerah yang juga bernama Simatalu, P. Siberut. Adanya perpecahan dalam kekerabatan mengakibatkan satu per satu mereka meninggalkan uma (rumah induk komunal) dan menyebar ke pulau-pulau sekitar. Berangkat dari kisah tersebut, P. Siberut dianggap sebagai "ibu kota" Mentawai, pusat budaya suku yang berumpun Melayu Polinesia.

Obrolan dua generasi.
Dua generasi yang berbeda.
Sudah gagalkah suksesi budaya tradisional
suku Mentawai?
(Foto: Bubin Lantang)
     Secara historis, etnis Mentawai (termasuk yang tinggal di Pulau Siberut) merupakan gelombang pertama bangsa Indonesia yang datang dari Asia daratan. Mereka terisolasi di Pulau Siberut akibat mencairnya es menjadi lautan beberapa ribu tahun yang lalu. Kehidupan etnis ini sebenarnya merupakan contoh pelaksanaan keseimbangan dalam mengolah alam.

     P. Siberut terbentuk dari endapan lumpur yang menonjol ke permukaan laut. Tanah yang ada saat ini merupakan endapan lumpur yang mengeras dan bukan tanah sungguhan. Tak heran jika hujan turun selama 15 menit saja, jalanan menjadi licin dan membenamkan kaki sampai ke "mata". Apa yang disebut jalan hanyalah jalan setapak yang sempit, turun-naik, bahkan dilewati sepeda motor saja tak bisa. Tebasan batang-batang pohon lurus dijadikan titian kala hujan. Makanya, transportasi yang ada hanyalah lewat sungai dengan menggunakan sampan atau speedboat berkekuatan rata-rata 15 PK.

     Penduduk hulu (pedalaman) umumnya memiliki sampan. Sampan ini mereka gunakan untuk membawa dan menjual rotan, manau, serta hasil ladang lainnya ke muara yang bisa memakan waktu seharian penuh. Penduduk yang tidak memiliki sampan bisa menyewa dengan tarif Rp 5.000,- untuk hari pertama, dan Rp 2.500 untuk setiap hari berikutnya. Di Muarasiberut terdapat bipak (aula) yang disediakan oleh pastoran setempat bagi penduduk hulu yang kemalaman di muara tanpa perlu biaya dan izin menginap.

     Speedboat yang lalu-lalang di sungai hanya melayani borongan dengan tarif sekitar Rp 20.000,- per jamnya. Dibandingkan dengan sampan, menggunakan speedboat akan sangat menghemat waktu. Semisal, untuk bersampan dari Matotonan, desa paling hulu di Sungai Sarareiket, memakan waktu sampai 2 hari (malam hari beristirahat). Jika menggunakan speedboat, jarak ± 70 km itu hanya ditempuh selama 7 jam, dengan ongkos Rp 150.000,- sekali jalan.

     Ada dua masalah utama yang dihadapi Siberut. "Transportasi yang pertama," kata Thomas Sabolak, tokoh masyarakat di Muarasiberut, seorang pensiunan polisi yang juga pendeta. Masalah kedua, belum masuknya listrik.

Tato mulai menghilang

     Kondisi yang ada di P. Siberut cenderung stabil, baik perekonomian, pendidikan, kesehatan, serta jumlah penduduk. Keadaan sekarang ini tak beda jauh dengan kondisi 10 atau 15 tahun silam. Justru dinamika perubahan terjadi dalam kehidupan sosial-budayanya, terutama budaya asli Mentawai.

Mangan ora mangan kumpul....
Mukom bersama, bentuk kekerabatan yang masih dipertahankan,
menyantap kapurut (pepesan sagu berbungkus daun pisang) dan
siobuk (sagu yang dibakar dalam bambu).
Sagu mereka olah sendiri karena tak menyukai bikinan pabrik.
(Foto: Bubin Lantang)
     Sekitar 1,5 tahun yang lalu, banyak pihak merisaukan kelestarian budaya asli suku Mentawai, yaitu menato sekujur tubuhnya (baik lelaki maupun perempuan) dan meruncingkan gigi. Saat itu dikatakan, tato di sekujur tubuh hanya dijumpai pada penduduk asli yang berusia di atas 40 tahun. Padahal, saat itu penduduk yang berusia di atas 40 tahun hanya berjumlah sekitar 5% dari jumlah penduduknya yang berkisar 50.000-an jiwa. Diperkirakan, dalam jangka waktu 10 atau 15 tahun ke depan, seni rajah tubuh suku yang masih termasuk masyarakat terasing itu akan punah. Untuk saat ini, masih relatif mudah menemukan penduduk bertato, yang memang rata-rata berusia di atas 40 tahun.

     Tato, bagi masyarakat tradisional Mentawai memiliki banyak makna, tanda, serta simbol. Derajat seseorang, apakah kepala suku, hulubalang, atau rakyat biasa, bisa dilihat dari tato di tubuhnya. Rajah juga bisa menunjukkan kesukuan seseorang, berapa jumlah keluarganya, serta prestasi yang telah dicapainya. Tato Mentawai yang bentuknya statis dan proporsinya aneh itu merupakan kekayaan diri dan termasuk salah satu, selain suku Dayak, budaya etnis tertua bangsa Indonesia.

     Dari goresan-goresan di tubuh itu tercermin bentuk yang jantan, kuat, berani, dan erat kaitannya dengan unsur kepercayaan untuk memperoleh keselamatan dan kerukunan dalam keluarga dan masyarakat. Perkawinan dapat terlaksana bila kedua pengantin ditato secara memadai di seluruh badan.

     Sayangnya, budaya rajah tak mampu bertahan melawan desakan arus perubahan zaman. Entah kenapa anak muda sudah tak berminat menato seluruh tubuhnya. Untuk menunjukkan jati diri sebagai anak Mentawai, mereka hanya menato sebagian kecil tubuhnya. Apakah ini ada hubungannya dengan larangan pemerintah tahun 1970 ataukah memang citra tato sendiri yang jelek (dekat dengan kejahatan atau preman)?

     Ada beberapa adat kebiasaan yang masih melekat pada masyarakat Mentawai. Kawin muda pada umur belasan, misalnya, masih berlanjut. Hanya kebiasaan merokok tembakau yang dilinting menggunakan daun nipah atau daun pisang kering maupun rokok merek Kaiser dan Soery Mas mulai terbatas pada penduduk generasi tua. Sedangkan para ABG (anak baru gede) lebih menyukai rokok modern bungkusan. Soal nama juga mengalami kelunturan, sejak pemerintah giat menghapus kepercayaan adat arat sabulungan dan mengharuskan penduduk memeluk salah satu dari 5 agama yang diakui pemerintah. Berhubung mayoritas penduduk memeluk agama Katolik dan Kristen, maka nama baptis hampir dominan pada kalangan generasi muda.

Generasi tengah.
Generasi tengah suku Mentawai,
masih berkabit tetapi menolak tato.
(Foto: Bubin Lantang)
Mengobral ritual

     Sama dengan suku-suku asli di Indonesia, kesederhanaan yang melekat mulai menjadi rumit. Dalam suku Mentawai, kesederhanaan dalam berbusana sudah jarang ditemui, terutama pada kalangan anak muda. Kabit dari kulit kayu maupun rok anyaman dedaunan serta dada-dada perempuan yang terbuka sudah mulai tergusur oleh celana, baju, maupun lilitan kain. Pun itu di daerah hulu.

     Kayu gaharu yang menjadi primadona Kepulauan Mentawai dekade '80-an juga mulai terengah-engah mempertahankan hidup. Bisa dikatakan sudah habis sama sekali sehingga cerita penduduk yang kaya dari penjualan gaharu hanya menjadi dongengan dan impian bagi kalangan muda. Kini mereka harus mewarisi pekerjaan awal nenek moyang, mengumpulkan rotan dan manau serta berladang.

     Sebagai daerah pariwisata, persinggungan dengan uang menyebabkan mereka menjadi masyarakat konsumtif. Hal yang wajar dan terjadi di beberapa suku di Indonesia. Makanya, jangan heran manakala mereka memasang tarif tertentu kepada turis yang mengabadikan mereka, baik dalam foto maupun seluloid (film).

     Uang pada akhirnya menjadi kartu truf bagi turis yang ingin minta apa saja dari kebudayaan asli mereka. Pange Sakukuret, misalnya, seorang sikebukat uma (rimata yang mengepalai sebuah uma) yang juga menjabat sikerei (dukun) di Dusun Madobag, adalah salah seorang penduduk asli yang bisa mengadakan punen - yang merupakan ritual suci adat sehingga hanya waktu-waktu tertentu dilaksanakan - kapan saja demi keinginan turis. Asal ya itu tadi, bayarannya bisa kena di hatinya.

     Demikian juga dengan tengkorak-tengkorak rusa, babi hutan, bokkoi, simakobu, dan joja (tiga terakhir merupakan jenis kera endemik langka yang terus saja diburu) yang dipajang di depan uma Pange, hanya bisa dipotret atau direkam setelah Pange memberi izin. Dengan sejumlah imbalan uang tentunya.

Dijadikan taman nasional

     Sampai saat ini, Kepulauan Mentawai masih dianggap sebagai "tempat pembuangan", terutama bagi pegawai intansi pemerintah maupun guru. Bahkan para pejabat yang ingin melakukan inspeksi hanya sudi melihat daerah muara yang memang lebih layak dibandingkan dengan daerah di hulu.

Sungai Sakukuret.
Sungai Sakukuret, "urat nadi" P. Siberut.
(Foto: Bubin Lantang)
     Kemeranaan kepulauan ini menjadi semakin pilu jika menyangkut bantuan, terlebih berujud uang. Selester Sagurujuw, kepala Desa Madobag yang meliputi Dusun Rogdog, Madobag, dan Ugai, memaparkan, akibat lokasinya yang terpencil, pengawasan tidak berjalan dengan baik dan jarang ada kunjungan. Mengenai bantuan dana yang ditujukan ke Mentawai, "Sampai di sini bersisa sebesar seperempat bagiannya saja sudah bagus betul," akunya. Tiga perempatnya tercecer di sana-sini sejak masih di Pariaman, ibu kota Kabupaten Padang Pariaman.

     Ironisnya lagi, ada penduduk asli yang tega "makan tulang kawan". Seorang putra asli Mentawai yang ditunjuk dan telah mendapat SK sebagai pendamping kelompok IDT Dusun Madobag (semestinya pendamping kelompok IDT ditentukan melalui musyawarah anggota kelompok IDT itu sendiri) dengan enteng menyunat dana sebesar 62% dari total Rp 20 juta. April 1996 lalu, dengan alasan sebagian dari dana sudah dibelikan bibit unggul jagung dan kacang serta pestisida (yang dilakukan tanpa berembuk lebih dahulu dengan anggota), dana yang diteruskan kepada anggota hanya Rp 325.000,-.

     Belakangan hari baru ketahuan jika bibit tersebut tidak unggul. Buktinya, itik mereka tetap sehat meski makan bibit tersebut. Padahal, semestinya tidak begitu karena itik dan ternak tak akan mau memangsa bibit unggul yang sudah diberi ridomil, sejenis obat antihama.

     Sang pendamping tersebut, yang notabene adalah seorang guru SDN 08 Rogdog itu pun tak pernah menengok anggota yang didampinginya dengan bermacam alasan. Ternyata, keterpencilan dan ketertinggalan Kepulauan Mentawai bisa dimanfaatkan untuk memperoleh uang juga. Inikah sebuah sisi dari globalisasi?

     Pemberdayaan Kepulauan Mentawai tidak hanya dilakukan melalui pemberian bantuan IDT. Salah satu cara adalah dengan mengembangkan hutan atau taman nasional sebagai hutan wisata (ecotourism). Akan tetapi jika penduduk sekitar tidak turut aktif berperan serta, tentunya mereka hanya bisa menjadi penonton. Pelibatan mereka pun akhirnya bisa meredam penghantam-kromoan ritual-ritual budaya mereka sehingga tidak diobral begitu saja. (Bubin Lantang/Yds)

rumah