MANUSIA SUPER
SEBATAS FANTASI
Sebagai ilmuwan beken Prof Sangkot Marzuki M.D. Ph.D. sebenarnya
sudah hidup sebagai peneliti mapan di Australia. Tetapi nasib
berkata lain, ia dipanggil Habibie untuk memimpin Lembaga Biologi
Molekuler Eijkman. Bagaimana pendapatnya tentang dampak
keberhasilan kloning domba pada manusia, rekayasa manusia super,
dan pemetaan DNA manusia? Berikut obrolan Intisari dengannya di
ruang kerjanya yang antik dan asri.
|
|
Penampilannya selalu necis. (Foto: Gde.) |
|---|
Menurut Sangkot, rambu-rambu dalam sains memang kukuh. Seorang ilmuwan tidak mungkin melakukan penelitian kalau tidak punya uang. Sementara uang yang berupa hibah didapat kalau ia punya publikasi ilmiah yang baik. Publikasi ini baru bisa diterbitkan jika penelitian itu bisa diterima oleh masyarakat.
Ia juga mengganggap kemungkinan menciptakan manusia super seperti yang dikhawatirkan orang hanyalah sebatas fantasi. "Karena orang harus merekayasa kode genetika sebanyak 3 x 109. Itu mungkin baru bisa dilakukan selama ribuan tahun sepanjang evolusi manusia. Jadi saya melihatnya sebagai fantasi belaka, seperti cerita film Jurrasic Park, Flash Gordon," katanya.
Nilai tertinggi kebidanan
Sejak domba Dolly lahir, Sangkot, kelahiran Medan 2 Maret 1944 memang banyak dimintai pendapat ihwal dampak penemuan itu pada manusia. Ia memang alamat yang tepat untuk membahas banyak hal yang berhubungan dengan rekayasa genetika. Menyelesaikan pendidikan kedokteran di Universitas Indonesia tahun 1968, ia malahan lebih suka menekuni bidang biokimia pada Mahidol University, Bangkok, ketimbang harus berpraktik di rumah sakit. Usai menggondol gelar master, Sangkot berangkat ke Monash University, Melbourne, dan merampungkan doktornya tahun 1975 dengan tesis Biogenesis of Mitochondria: Effects of Variation in the Unsaturated Fatty Acid Content of the Mitochondrial Membrane. "Sejak tingkat 4 di kedokteran minat saya memang sudah ke ilmu, biokimia atau neurologi. Tapi karena sudah telanjur, ya jadi dokter dulu," kata Sangkot yang nilai terbaiknya justru didapat pada mata pelajaran kebidanan.
Beruntung dalam perjalanan meraih kepakarannya itu, pria yang selalu tampil necis ini berada di tempat yang betul-betul bisa mengasah keahliannya. Di Monash ia bergabung dengan sebuah kelompok peneliti utama dunia yang mempelajari bagaimana suatu sel makhluk hidup membangun aparatus sel yang diperlukan untuk transduksi energi. Ia juga mendapat kesempatan untuk ikut mengalami perkembangan DNA (asam deoksiribonukleat) buatan sejak awal sehingga dapat memanfaatkan ilmu baru itu untuk menganalisis DNA. "Saya beruntung dapat memanfaatkan teknologi mutakhir biologi dan biologi molekuler segera setelah teknologi itu lahir," katanya.
Ketekunannya di bidang biologi molekuler selama puluhan tahun telah mengangkat bapak dua putra ini sebagai ilmuwan yang disegani di mancanegara. Ia menyandang gelar profesor di tiga tempat, Monash University, University of Queensland, dan tentu Universitas Indonesia. Ia juga tercatat sebagai anggota Human Genome Organization, Asia- Pasifik Society of Bioscientists, Australian Society for Biochemistry and Molecular Biology, The New York Academy of Science, dan beberapa organisasi profesi lainnya.
|
|
(Foto: Dokumen Eijkman) |
|---|
Mengidolakan Eijkman
Karena ketekunan pada ilmu biologi molekuler pulalah ia kini dipercaya menjabat direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME). Lembaga yang didirikan tahun 1888 ini pada zamannya merupakan lembaga riset prestisius yang pernah ada di bumi Indonesia. Di laboratorium pertamanya yang menempati bekas bangsal rumah sakit militer (kini RS Gatot Subroto), Christiaan Eijkman, menemukan hubungan antara kekurangan vitamin B1 dengan beri-beri. Penemuaan itu mengantar Eijkman meraih hadiah Nobel pada tahun 1929.
"Penemuan itu menjadi cikal bakal bagi perkembangan ilmu vitamin modern. Konsep penyakit defisiensi lahir dari sini dan membuka tabir baru, penyakit bukan hanya disebabkan oleh infeksi tetapi juga karena defisiensi. Itu sebabnya ia memenangkan Hadiah Nobel," ungkap Sangkot yang tak bisa menyembunyikan rasa hormatnya pada Eijkman.
Sangkot yang juga wakil ketua Komite Nasional Pengembangan Bioteknologi Indonesia ini mengaku merasa sangat kagum dengan Eijkman yang warganegara Belanda itu. Jauh sebelum dipercaya memimpin lembaga ini ia tak pernah lupa mengumpulkan guntingan koran dan potret Eijkman setiap kali berkunjung ke Belanda. "Kalau mau dibilang hero, ya dia itu hero saya. Ia pintar sekali, doktornya yang magna cum laude ia raih sebelum jadi dokter," kata Sangkot.
Selama puluhan tahuan menimba ilmu di Thailand dan Australia bapak berputra dua ini hanya bisa menyimpan mimpi untuk bisa kembali membuka dan memimpin LBME. Sampai ketika di suatu siang di bulan Juli tahun 1990, Sangkot menerima faksimili dari Prof Dr Habibie. "Padahal saya nggak kenal pak Habibie dan Pak Habibie nggak kenal saya, ia mungkin tahu saya dari orang lain," jelas Sangkot. Dalam faks itu salah satu stafnya menulis atas nama Pak Habibie. "Bapak menteri ingin tahu apakah Prof. Sangkot ada kemungkinan untuk berminat kembali ke Indonesia. Kalau kemungkinan itu ada, bapak menteri ingin mengundang Prof. Sangkot untuk datang menemui beliau di Indonesia."
Segera Sangkot menulis surat jawaban balik langsung ke Habibie. Katanya "Kalau saya diminta pulang hanya untuk pulang saja, saya bisa berbuat banyak untuk Indonesia dengan tetap tinggal di Melbourne, tetapi kalau Pak Habibie menginginkan saya pulang untuk sesuatu yang lebih besar, seperti membangun lembaga penelitian biologi molekuler misalnya IMCB (Institute of Molecular and Cell Biology) yang ada di Singapura, kemungkinan saya berminat."
Saat Sangkot menghadap Habibie di bulan Agustus ia tak membicarakan secara langsung ihwal faks yang pernah dikirimkan Habibie. Ia mengingatkan Habibie kalau ia pernah berkirim surat meminta dukungan atas akan dilangsungkannya simposium internasional Biochemistry in the Tropics: from Vitamins to Molecular Biology di Jakarta memperingati 100 tahun Eijkman menerima Hadiah Nobel atas penemuan defisiensi B1 sebagai penyebab beri-beri. Dalam pertemuan itu Sangkot yang menjabat ketua panitia simposium menyayangkan penemuan besar itu terasa dilupakan di Indonesia. Padahal lembaga yang kemudian lahir adalah lembaga yang sangat terkenal di seluruh dunia.
"Saya belum selesai bicara, Pak Habibie langsung menyahut, 'That's the way to do it'. Kita buka kembali lembaga Eijkman, kita punya sejarah, punya tradisi. Waktu Pak Habibie bilang begitu sepertinya mimpi saya terkabul. Saya kontan bilang ya tanpa mikir ha ... ha ... ha ...," ungkap Sangkot bahagia.
Karena takdir
Ia percaya kepulangannya ke Indonesia karena takdir. "Ketika saya sedang berpikir tentang IMCB, kok Pak Habibie justru memanggil saya pulang." Pada kesempatan lain di tahun 1989 secara kebetulan Sangkot juga berjumpa dengan kenalannya seorang ahli biokimia asal Belanda di Tokyo. Orang Belanda itu bercerita bagaimana tingginya ilmu kedokteran di Indonesia sebelum perang kemerdekaan.
|
|
(Foto: Dokumen Eijkman). |
|---|
Sejak dibuka kembali pada 1 April 1993 di kompleks Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo banyak orang mengakui LBME mengalami perkembangan yang mengagumkan. "Sekarang kalau orang berbicara tentang biologi molekuler di Asia Tenggara ya Eijkman dan IMCB," kata Sangkot dengan mata berbinar.
Memimpin 50 orang peneliti, dengan sepertiganya bergelar PhD Sangkot tampak amat menikmati pekerjaannya. Ia tetap berusaha melanjutkan tradisi ilmiah di Lembaga Eijkman agar mampu bersaing di tingkat global. Salah satu usaha menuju ke sana adalah dengan penggunaan bahasa Inggris dalam setiap pertemuan dan setiap laporan tertulis. Manual harus tetap dalam bahasa aslinya. "Tujuannya melatih para peneliti berbicara di forum internasional dengan istilah Inggris yang tepat," ungkap Sangkot memberikan alasan.
Dengan motto From Vitamin To Molecular Biology, LBME mengemban tugas utama melakukan penelitian mendasar guna meletakkan dasar bagi perkembangan bioteknologi modern.
Untuk itu seperti dijelaskan Sangkot, Lembaga Eijkman dibagi dua bagian. Satu bagian meneliti tentang berbagai penyakit infeksi, salah satunya malaria. Di sini parasit malaria dipelajari di tingkat molekul bagaimana mekanisme parasit itu sampai bisa masuk ke dalam sel darah merah. "Walaupun prospek ekonomi penemuan obat malaria tidak tinggi, karena pembelinya rakyat kecil di negara-negara yang terbelakang. Tapi itulah problem Indonesia," ungkap Sangkot yang memasang gambar Einstein dan Eijkman di ruang kerjanya.
Satu bagian lagi mengkonsentrasikan penelitian genetik dan genom. Menurut Sangkot, penelitian ini berskala global, kendati kasus-kasus yang diteliti ada di Indonesia. Misalnya saja molekul yang bertanggung jawab pada kelainan genetik beta thalasemia. Ada juga penelitian untuk mengetahui kemampuan sel dalam membentuk energi.
Penelitian lain yang dikerjakan Eijkman adalah penelitian keanekaragaman human genom di Indonesia. Untuk itu telah dikumpulkan 18 etnik grup, dengan 30 orang per etnik grup. Sasaran awalnya adalah melihat kedekatan kekerabatan di antara etnik grup itu. Sasaran jangka panjangnya untuk mengetahui ketahanan atau kerentanan suatu penyakit pada setiap kelompok etnik.
Penelitian ini seperti dijelaskan Sangkot merupakan pelengkap dari sebuah proyek besar yang dicanangkan oleh pemerintah AS pada tahun 1989 dengan nama Human Genom Project. Dengan jangka waktu lima belas tahun dan menelan biaya AS $ 3 miliar diharapkan seluruh kode informasi genetika yang dibawa dalam pita DNA bisa dibaca. "Banyak orang menyamakan skala proyek ini dengan proyek pendaratan manusia di bulan yang dicanangkan oleh Presiden Kennedy. Padahal waktu itu teknologinya belum ada. Justru proyek itu menyebabkan ledakan teknologi sehingga target itu tercapai," tutur penyandang ASEAN Achievement Award (Science-Biology) 1992 ini.
Kini setelah Human Genom Project itu berjalan 8 tahun menurut Sangkot, memang benar terjadi ledakan teknologi dalam bidang biologi molekuler. Bahkan banyak orang yakin pada tahun 2003 pengkodean genetik akan selesai atau dua tahun lebih cepat daripada yang direncanakan.
Apa yang didapat dari proyek itu? Untuk pertama kalinya manusia akan mendapat informasi total mengenai kode genetik yang menentukan sifat orang per orang. Juga gen yang bertanggung jawab pada munculnya sifat manusia yang abstrak, misalnya gen mana yang memberikan predisposisi seseorang menjadi alkoholik atau tidak. Juga didapat gen yang memberikan predisposisi apakah seseorang akan menderita kanker payudara atau tidak, gen predisposisi seseorang mendapatkan serangan jantung. "Penemuan ini makin lama makin besar dan total, sehingga di masa depan saya memperkirakan akan lahir predictif medicine, ilmu kedokteran prediksi. Orang secara persentil bisa diketahui kemungkinan menjadi alkoholik atau mendapatkan kanker payudara," tutur Sangkot.
Bolak-balik Jakarta Australia
Sebagai direktur LBME, Sangkot mengakui tugasnya tidaklah ringan. Diakuinya seorang pemimpin seperti dia harus berkualifikasi sebagai ilmuwan, manajer, sekaligus wiraswasta. Sebagai ilmuwan ia harus dikenal di tingkat dunia karena ia harus memberikan kepemimpinan ilmiah. Sebagai manajer ia juga harus bisa memimpin anak buahnya. Dan karena bidang biologi molekuler relatif baru ia harus bisa menjual institusinya ke Bappenas atau perusahaan. "Kombinasi tiga kemampuan ini di satu orang 'kan susah sekali," kata Sangkot. Untuk membantu pekerjaan yang menyangkut 3 bidang itu ia dibantu oleh manajer resource yang mengurus lembaga dan manajer proyek yang membantu mengelola proyek.
Sesibuk apa pun, Sangkot yang baru meninggalkan kantor selepas pukul 18.30 selalu meng-update pengetahuan terbaru dengan membaca jurnal ilmiah hingga pukul 23.00. Kesibukannya juga terasa meningkat karena ia juga bolak-balik ke Australia untuk mengajar dan menengok keluarga di sana. Istrinya paling tidak selama 6 kali setahun juga datang ke Indonesia. "Dulu istri saya masih sempat mengajar di sana, tetapi setelah ia harus bolak-balik ke Jakarta kegiatan mengajar itu terpaksa harus ditinggalkan. Ia jadi ibu rumah tangga," ungkap Sangkot.
Seusai kuliah Sangkot sekeluarga memang sudah memutuskan untuk menjadi imigran di negeri Kanguru dan tidak merencanakan kembali ke Indonesia. "Jadi anak-anak itu tidak pernah kita siapkan untuk kembali ke Indonesia. Ketika saya ditakdirkan kembali ke Indonesia anak-anak tidak siap dan saya tidak bisa memaksa. Apalagi kalau dalam pola Barat mereka punya kehidupan sendiri," tutur Sangkot.
Kendati tak satu pun putranya mengikuti jejaknya sebagai ahli biologi molekuler, ia tetap merasa bangga karena keduanya tahun ini akan menyelesaikan pendidikannya di ilmu informatika dan robotting. (G. Sujayanto/I Gede Agung Yudana)