TERAPI AMPUH
SENGAT LEBAH
"Kalau perut kosong, pasien yang tidak tahan sengatan lebah
akan merasakan pusing. Ada juga yang muntah-muntah. Sedangkan bagi
penderita komplikasi jantung kronis dan lever, tidak boleh diberi
terapi sengat lebah," lanjut ahli terapi sengatan lebah yang
berpraktik hari Senin - Sabtu (pukul 08.00 - 15.00) di Istana
Lebah, Bumi Perkemahan Cibubur, sekitar 100 m dari pintu keluar
Tol Cibubur.
Dengan mengenakan "baju dokter" warna putih, Hardiman yang
sejak tahun 1980 aktif menekuni terapi sengatan lebah itu mulai
menangani pasiennya. Ujung jemarinya sibuk mencari titik-titik
sengatan di bagian tengkuk lalu memberinya tanda lingkaran kecil.
Dengan pinset diambilnya lebah unggul Apis mellifera dari dalam
stoples, lalu makbles ujung sengat menancap tajam pada titik yang
sebelumnya sudah diolesi alkohol.
Bagaimana rasanya? "Biasa-biasa saja. Tapi nanti malam tidur
saya bisa langsung enak!" aku Endang Rukmana, pasien yang sudah
sering "berobat" sengat lebah. Sementara itu Margono (33), pasien
yang mengeluh masuk angin kasep merasakan tubuhnya hangat dan
sedikit gatal setelah diberi tiga sengatan pada punggungnya.
268 Sengatan untuk Kelumpuhan
"Pasien yang datang kemari kebanyakan penderita rematik dan
darah tinggi. Ada juga penderita asma, asam urat tinggi, stres,
maag, lumpuh, dsb. Mereka rata-rata sudah berusia lanjut. Tapi ada
juga yang berusia muda, 21 tahun. Pasien usia di bawah sepuluh
tahun tidak diterima, karena belum tahan sengatan lebah," jelas Hardiman di ruang praktiknya yang jarang sepi pasien, apalagi pada
hari Sabtu yang mencapai belasan orang.
Titik mana yang disengat, menurutnya, bisa mengikuti titik-titik akupungtur. Bisa juga penentuan titik sengatan didasarkan
pada penyakitnya, yakni dengan mencari biang sakitnya.
Untuk rematik, lanjut Hardiman yang sempat belajar apipungtur
(gabungan terapi sengat lebah dan akupungtur) dari orang Jepang,
titik yang disengat adalah daerah persendian. Kalau kejang karena
asam urat tinggi, titik sengat ada pada bagian urat yang kaku.
Untuk stres yang disengat bagian atas kepala. Kepala pusing
disengat bagian pelipis atau tengkuk.
"Penderita darah tinggi yang disengat bagian tengkuk kanan-kiri dan bahu kanan-kiri. Bagi yang belum pernah disengat lebah,
cukup dua titik sengatan di bahu. Tapi kalau pasien sudah hilang
keseimbangan, empat sengatan bisa diberikan sekaligus - dua titik
di tengkuk dan dua titik di bahu," jelas pria yang tidak pasang
tarif pengobatan ini. Pasien membayar sukarela sekadar pengganti
lebah yang mati sehabis menyengat itu.
Berapa "dosis" sengatan? Bagi pasien baru yang belum pernah
menerima terapi sengatan lebah, menurut Hardiman, cukup sekali
sengatan. Tiga sampai lima hari berikutnya diberikan dua sengatan.
Selang 4 - 5 hari, tiga kali sengatan. Kalau belum juga sembuh
selanjutnya bisa saja diberikan 6 - 10 sengatan secara bertahap.
"Bila kondisi pasien cukup baik dan dirasakan ada banyak
kemajuan, tiap tahapan bisa ditambah 1 - 10 kali sengatan pada
titik-titik yang tepat disesuaikan dengan keadaan penyakitnya," tuturnya. Jadi, "dosis" sengatan selain tergantung ketahanan tubuh
pasien terhadap racun sengat, juga tergantung kondisi dan jenis
penyakit yang diderita.
Terhadap penderita lumpuh akibat darah tinggi, ia memberikan
terapi 268 sengatan. Sengatan sebanyak itu tentu tidak diberikan
sekaligus. "Tiga hari sekali datang. Setiap kali datang beberapa
sengatan. Ada yang kurang dari seratus sengatan, pasien sudah bisa
berjalan tanpa tongkat. Memang perlu ketelatenan. Tapi ada juga
yang baru beberapa kali sengatan sudah kapok," tuturnya.
Sehabis diberi terapi, pasien dianjurkan tidak minum obat-obatan apotek pada hari itu. Sebaiknya pasien minum madu untuk
menangkal racun sengat lebah. Bagi yang badannya panas-dingin
karena sengatan, bisa pula menenggak air kelapa hijau sebagai
penawarnya. Kalau tiap kali disengat timbul alergi, terapi tidak
diteruskan lagi.
Menyadap Metode Akupungtur
Di Indonesia, apipungtur bukan sama sekali baru. Prof HM
Hembing Wijayakusuma, pakar akupungtur yang berpraktik di Jl.
Petamburan, Jakarta, sudah 20-an tahun menerapkannya sebagai alternatif pengobatan penyakit. Kini, selain di Jakarta, praktik
terapi sengat lebah juga ada di Sukabumi dan Yogyakarta.
Karena prinsip terapi apipungtur (The Acupuncture Bee Venom
Therapy) menyadap metode akupungtur, pelaku mesti mengerti betul
titik-titik pengobatan menurut metodologi akupungtur. Siapa saja,
menurut Hembing, bisa melakukan pengobatan dengan cara ini, dengan
syarat menguasai teori dan praktik akupungtur itu tadi. Di samping
juga mesti mengenal jenis lebah dan dosis sengatan yang dibutuhkan
untuk setiap jenis penyakit.
Sebelumnya calon pasien mesti menjalani "diagnose" untuk
diketahui jenis penyakit yang diderita serta tes alergi. Sebab,
tidak setiap pasien cocok dengan terapi sengat lebah. Ada yang
kontra indikasi dengan terapi sengat lebah, yaitu penderita
hiperalergi, TBC, diabetes, penyakit ginjal yang berat, jantung,
penyakit kencing nanah. Pasien demikian, menurut Hembing, tidak
diperkenankan menerima terapi sengat lebah, karena bisa berakibat
fatal.
Terapi apipungtur berupa rangsangan pada titik akupunktur
(ada 360 titik dasar pengobatan akupungtur) dengan menggunakan
sengatan lebah. Rangsangannya lebih kuat dan tahan lama, terutama
untuk beberapa kasus penyakit. Rangsangan sengatan lebah mampu
bertahan sampai 4 x 24 jam. Jauh lebih lama daripada rangsangan
akupungtur jarum yang hanya 15 menit.
Bagi pasien yang hipersensitif terhadap racun sengat lebah,
Hembing memanfaatkan tusukan jarum sebagai gantinya. Antara lain
untuk penyakit saluran pernapasan, gangguan pembuluh darah dan jantung, saluran pencernaan, saluran kencing, ketergantungan obat,
rokok dan alkohol, obesitas, dan peremajaan kulit muka.
Untuk penyakit rematik, nyeri saraf, keseleo, dan sebagian
kasus lumpuh, menurutnya, sengatan lebah lebih efektif. Penyakit
lain yang efektif diobati dengan sengatan lebah, meliputi rematik
persendian dan otot, salah urat karena olahraga, ngilu karena hawa
dingin, dan bengkak sendi.
Paling manjur untuk rematik
Bukan saat ini saja sengat lebah diakui "berkhasiat obat".
Dua ribu hingga 3.000 tahun lalu apiterapi (pengobatan menggunakan
produk lebah, seperti madu dan racun lebah) telah dikenal di Timur
Tengah dan Cina. Dalam buku kuno Cina pun ditemukan teori "Yi Du-Gong Du" (racun melawan racun) dengan media sengat lebah untuk
mengobati penyakit. Bahkan, Hippocrates - dikenal sebagai bapak
kedokteran modern - juga menggunakan sengat lebah.
Malahan pada Konferensi Terapi Akupungtur Sengatan Lebah
Sedunia ke-II di Nanjing, RRC, pada pertengahan September 1993,
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakui apipungtur sebagai
alternatif pengobatan. Kini, terapi sengatan lebah (bee venom
therapy - BVT) diterapkan di sekitar 12 negara, antara lain Cina,
Korea, Rumania, Bulgaria, dan Rusia.
Dalam buku Bee Venom Therapy, seperti dikutip Susan Wilkinson
dalam BeeOnline, racun sengat lebah mampu menyembuhkan artritis
(radang sendi). Berdasarkan penelitian oleh Monmounth Pain of New
Jersey, dari 108 pasien artritis yang diberi terapi racun sengat lebah menunjukkan tanda-tanda perbaikan setelah 12 kali perlakuan
(2 kali per minggu selama 6 minggu). Lalu disimpulkan bahwa terapi
racun lebah dinilai aman, efektif, sepanjang pasien tidak alergi
racun sengat lebah.
Di AS, diperkirakan ada sekitar 4.000 penderita MS (multiple
sclerosis) diobati dengan BVT. Di Brasil, BVT juga digunakan untuk
penyakit asma. Di Cina, BVT dilaporkan untuk mengobati penyakit
saraf, kejang otot, tumor kulit, impotensi, dan sakit saraf.
Racun lebah, menurut Drs. Hartono Hdw., seorang apoteker,
memang bermanfaat untuk rematik. Bahkan, dapat juga dipakai
sebagai obat luar (Intisari, April 1990).
Dengan sengatan lebah, kulit di sekitarnya menjadi merah dan
terasa hangat karena darah banyak mengalir ke permukaan. Setelah
diserap ke dalam tubuh berkat bantuan enzim-enzim dalam racun itu,
kelenjar pituitary terangsang untuk menghasilkan ACTH (adrenal
corticotrophic hormone). Hormon ini lalu merangsang cortex adrenal
untuk memproduksi hormon kortison lebih banyak. Hormon kortison
inilah yang sangat berguna untuk membasmi penyakit rematik.
Racun sengat lebah, seperti ditulis Susan Wilkinson dalam Bee
Online, berupa campuran kompleks dari protein (enzim dan peptida)
yang memiliki aktivitas farmakologikal yang unik. Enzim (protein
yang mempercepat reaksi kimia dalam tubuh) utama dalam racun lebah
adalah hyaluronidase dan fosfolipase A. Hyaluronidase memecah asam
hyaluronic (cairan antarsel) sehingga racun lebih cepat menyebar
di antara sel. Fosfolipase A merusak fosfolipid (komponen utama selaput sel) dan menyebabkan kematian sel. Dua komponen tersebut
menyumbang terjadinya reaksi alergi gara-gara sengatan lebah.
Secara keseluruhan racun sengat lebah terdiri atas 40-an
komponen, yakni 11 peptida, 5 enzim, 3 amine, karbohidrat, lemak,
dan asam amino. Peptida yang paling berperan adalah melittin,
apamin, Mast Cell Degranulating Peptida, dan adolapin. Mereka
sebagai antiperadangan, antijamur, antibakteri, antipyretic, dan
merangsang ACTH.
Selain itu, melittin, apamin, dan peptida 401 mempunyai peran
lain pula. Melittin dan apamin merangsang kelenjar adrenalin dan
kelenjar pituitary untuk menghasilkan hormon cortison dan steroid.
Sedangkan peptida 401 berperan sebagai antigen.
Bisa saja pengobatan tidak langsung lewat penyengatan lebah,
tapi dengan cara menyuntikkan racun sengat lebah yang diawetkan.
Cara ini, menurut Hembing, selain mahal, juga daya penyembuhannya
berkurang. Lagi pula efek racun lebah yang disuntikkan di bawah
kulit tidak berlangsung lama.
Dari alergi hingga mati
Dampak dan reaksi jaringan tubuh terhadap zat racun sengat
sangat beragam. Mulai dari sedikit merasakan sakit hingga bengkak,
demam, dan gatal-gatal sekujur tubuh karena reaksi alergi dari
tubuh terhadap sengatan.
Bagi yang hipersensitif terhadap racun sengat lebah, sekali
sengatan dapat menyebabkan reaksi yang serius. Bahkan bisa juga
menyebabkan kematian, terutama akibat sengatan lebah Apis dorsata dan Apis mellifera Afrika. Rasa sakit bisa berlangsung beberapa
menit hingga beberapa hari, tergantung titik sengatan. Ujung jari
dan ujung hidung merupakan titik paling sakit.
Bagi yang tidak hipersensitif, 1 - 5 kali sengatan sekaligus
pun tidak masalah. Seperti ditulis Mihaly Simicc dalam BeeOnline
berjudul "The Effect of Bee Stings on The Human Body". Paling-paling merasakan sedikit sakit dan hangat, kemudian kulit
membengkak, memerah, dan gatal.
Lima puluh sampai seratus sengatan bisa menyebabkan kejang,
sesak napas sementara, kulit membiru atau nadi berdenyut cepat,
diikuti gejala kelumpuhan sementara. Di atas dua ratus sengatan
menyebabkan gangguan sistem pernapasan. Namun, ada laporan 100 -
300 sengatan bisa menyebabkan fatal. Ada juga yang tahan dengan
1.000 sengatan.
Sengat lebah merupakan penetrasi benda asing ke dalam tubuh,
sehingga secara alami tubuh akan melawannya, yang dimotori oleh
antibodi imunoglobin, yakni IgM, IgD, IgA, dan IgE. Dalam serum
penderita sengatan lebah akan ditemukan IgE spesifik, juga IgG,
yang berfungsi menetralkan racun. Sehingga IgG diduga berperan
dalam pertahanan tubuh terhadap sengatan lebah, atau dikenal
sebagai agen reaksi kekebalan. Jadi, semakin tinggi frekuensi
sengatan, semakin tinggi pula daya kekebalan seseorang. (Rye/Als)
Sengatan lebah bukan cuma bikin sakit, bengkak, dan
tubuh panas-dingin. Kalau sengatan dilakukan pada
titik-titik tertentu oleh orang yang "tahu",
beberapa penyakit, seperti rematik, darah tinggi,
asma bisa sembuh. Tapi jangan coba-coba disengat
kalau hiperalergi atau menderita komplikasi
penyakit jantung kronis dan lever, karena bisa
berakibat fatal.
"Untuk kepala puyeng, cukup dua titik sengatan saja," ujar
Hardiman. Sebentar kemudian sengat yang masih menempel di kulit
tengkuk dilepasnya. Titik-titik bekas sengatan itu diketuk-ketuk
pelan pakai ujung jemari lalu diolesi minyak tawon. Selanjutnya
untuk mengobati kaki rematik, ia memberikan sengatan pada tiga
titik di kaki itu.
(Foto: Rye)
Lain lagi terapi sengat lebah untuk menurunkan berat badan.
Bagi mereka yang ingin langsing, menurutnya, ada 18 titik sengatan
mulai dari tulang ekor hingga kepala. Kalau pasien bisa tahan tiga
sengatan sekaligus, berarti cukup datang ke "klinik sengat lebah"
enam kali.
racun sengat lebah, Prof HM Hembing
Wijayakusuma memanfaatkan tusukan jarum.
(Foto: Als)