YEN NO,
DOLAR YES

Bicara tentang Vietnam, orang langsung teringat akan perang yang menelan banyak korban jiwa. Namun negara yang juga anggota ASEAN itu kini sedang memacu diri mengejar ketertinggalan dari negara lain, termasuk menjual berbagai objek wisatanya. Berikut pengalaman Giyanto sempat menjelajahi negeri yang sempat terbelah dua ini selama 26 hari.

Iring-iringan perahu.
Iring-iringan perahu di Jembatan Hoi.
(Foto: Manh Thurong)
     Dua bulan lalu saya ditugasi perusahaan untuk berangkat ke Vietnam sebagai penasihat di sebuah perusahaan perakitan kendaraan yang baru dibuka di sana.

     Karena tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta menuju Hanoi, maka penumpang harus terbang dulu dengan SQ ke Singapura, baru ganti pesawat menuju Hanoi. Atau alternatif lain terbang dengan Garuda Indonesia menuju Ho Chi Minh City (dulu Saigon), baru ganti pesawat domestik dengan tujuan Hanoi.

Didominasi xe dap dan xe may

     Siang itu pesawat SQ 164 yang membawa saya mendarat mulus di San Bay International Airport, Hanoi. Meskipun diembel-embeli internasional, bandara itu masih sederhana sekali. Tidak ada garbarata atau belalai gajah seperti di Cengkareng atau bandara internasional pada umumnya. Untuk menuju ke gedung utama, penumpang dijemput oleh bus khusus. Pemeriksaan di keimigrasian terkesan agak lambat. Petugas imigrasi memeriksa paspor dan visa dengan teliti. Sebelum membubuhkan cap ke paspor, ia masih mengakurkan wajah saya dengan foto yang ada di paspor.

     Pemeriksaan pabean sebenarnya berjalan lancar, tapi saya mengalami sedikit gangguan. Surat laporan barang bawaan setelah diparaf oleh petugas pemeriksa barang harus ditandatangani oleh kepala pabean. Tetapi karena tidak tahu dan saya pikir sudah beres, maka saya langsung menuju pintu keluar. Tiba-tiba seorang petugas memanggil dan mengejar saya dan ia meminta saya kembali. Karena bahasa Inggris orang ini sulit dipahami, akhirnya saya dibawa menghadap kepala pabean. Setelah si petugas menunjukkan kertas berwarna kuning yang terletak di atas meja, baru saya mengerti apa yang dimaksud. Segera saya keluarkan surat laporan bawaan barang yang berwarna kuning dan saya serahkan kepada kepala pabean, yang langsung ditandatanganinya. Setelah itu saya dipersilakan ke luar karena semuanya sudah beres.

     Di luar, para penjemput antre sambil membawa plakat nama dan perusahaan dari orang yang akan dijemput. Karena memakai jaket seragam perusahaan, saya tak perlu lama menunggu, karena seseorang bernama Han segera mendekati saya dan mengatakan ia ditugaskan untuk menjemput saya.

     "Tieng chao, anh co khoe khong?" katanya. Artinya kira-kira, "Halo, apa kabar? Apakah Anda baik-baik saja?" Orang Vietnam umumnya sangat ramah. Selama perjalanan dari bandara menuju hotel, sopir berusia 25 tahun itu banyak bercerita tentang kehidupan masyarakatnya.

     Sebagai negara yang sedang membangun, setelah diamuk perang sekian lama, kondisi Hanoi belum seramai dan semaju Indonesia. Mungkin kira-kira bisa dibandingkan dengan kondisi Indonesia tahun '70-an, saat industrialisasi baru dimulai di negara kita. Mobil belum memadati jalan-jalan. Sebagian besar mobil yang berlalu-lalang sudah tua-tua. Jalanan masih didominasi pengendara xe dap (sepeda) dan xe may (sepeda motor). Di sana masih terlihat motor 50 cc buatan tahun '60-an, yang berpacu dengan sepeda motor 100 atau 125 cc keluaran mutakhir.

Benci negaranya, cinta uangnya

     Dalam menyiasati hidup, orang Vietnam mirip orang Indonesia. Mereka berusaha mengakali sesuatu untuk bisa dimanfaatkan. Misalnya, sepeda motor tua yang suku cadangnya sudah langka, bisa diperbaiki dengan cara "membandrek" dengan suku cadang yang ada di pasaran. Bahkan di pedesaan banyak ditemukan truk hasil rekayasa; mesinnya bekas mesin traktor pembajak sawah yang sudah dimodifikasi, sementara bodinya terbuat dari kayu. Truk yang dimanfaatkan untuk mengangkut padi, batu bata, pasir dll. itu bebas berkeliaran di jalan-jalan tanpa takut ditilang.

Dermaga perahu Yen.
Dermaga perahu Yen.
(Foto: Manh Thurong)
     Dalam bidang pertanian, padi merupakan hasil utama dan dijadikan komoditi ekspor andalan selain karet, tebu, dan jagung. Untuk membangun dan memperbaiki ekonominya, beberapa tahun belakangan ini Vietnam mulai membuka diri untuk penanaman modal asing. Berbagai pabrik baru didirikan, baik secara patungan ataupun PMA; di antaranya pembangkit tenaga listrik hasil kerja sama dengan Jerman dan pabrik semen yang konon merupakan pabrik semen terbesar di Asia Tenggara. Berbagai sarana penunjang pun dibangun. Jalan-jalan baru terus dibuat, termasuk jalan tol.

     Ada sesuatu yang unik mengenai jalan tol. Sepeda motor  boleh melewati jalan ini. Tak pelak lagi mobil-mobil sering tidak bisa melaju kencang seperti di Jagorawi, karena terhambat serombongan anak muda bersepeda motor yang memenuhi badan jalan. Sudah begitu, mereka terkadang tidak mau minggir walaupun sudah diklakson berulang kali; malah tidak jarang seperti sengaja menghambat dengan melakukan zig-zag.

     Sistem pembayaran tol pun berbeda. Biasanya pembayaran dilakukan di gerbang tol, namun di Vietnam karcis dijual sebelum masuk pintu tol. Kira-kira 100 m sebelum pintu tol, mobil harus dipinggirkan dulu di sisi kanan jalan (karena kendaraan memakai stir kiri). Di pinggir jalan berdiri ada tenda-tenda petugas penjual karcis. Mereka akan mendatangi pengendara yang akan membeli tiket. Di pintu tol, karcis akan diperiksa ulang dan dirobek. Sungguh tidak praktis!

     Mata uang resmi negara ini adalah dong. Lima dong kira-kira sama dengan Rp 1,-. Karena AS lama terlibat dalam Perang Vietnam, tentu saja sedikit banyak ada pengaruh yang tersisa, sampai-sampai di Vietnam ada anekdot "Benci pada negaranya, tetapi sayang pada uangnya". Maksudnya, warga Vietnam benci pada Amerika, tetapi tidak pada uang dolar AS. Maka bukan hanya toko kecil maupun besar, para pedagang kaki lima pun dengan senang hati mau dibayar pakai dolar AS. Tapi mereka menolak mata uang asing lainnya, seperti yen. Dengan halus mereka akan bilang, "No, yen no, but dollar yes." Jadi kalau membawa uang dolar, tak perlu repot menukarkannya dengan mata uang lokal.

     Harga barang-barang umumnya lebih mahal daripada di Indonesia. Barang elektronik, misalnya, harganya 1,5 - 2 kali harga di Glodok, Jakarta. Tapi untuk urusan isi perut, relatif lebih murah. Setiap sore pedagang makanan kaki lima menggelar dagangannya tanpa tenda, cukup di alam terbuka, dilengkapi meja kecil dan bangku pendek. Dengan AS $ 2 kita bisa menikmati udang atau kepiting rebus besar. Untuk steam boat kita bisa memilih daging yang akan disantap: ikan laut, ikan darat atau danau, daging kambing, sapi, atau daging babi. Cara memasaknya hampir sama dengan sukiyaki. Harga satu porsi, cukup untuk 3 - 4 orang, VD 120.000 atau + Rp 25.000,-.

Antre melihat Paman Ho

     Sama seperti orang Jepang, orang Vietnam juga gemar minum bia, yang tidak lain adalah bir. Minuman beralkohol ini dijual bebas, sehingga pada sore hari, sepulang kerja, bukan hal aneh kalau warung-warung pinggir jalan penuh dengan laki-laki maupun wanita yang menikmati bir sambil bersantai. Selain bir botol dan bir kaleng, ada bia hoi, bir khas Vietnam yang disimpan dalam tong kayu besar.

Gua Huong Tich.
Suasana di dalam Gua Huong Tich.
(Foto: Manh Thurong)
     Almarhum Ho Chi Minh, presiden pertama Vietnam, sangat dihormati dan dicintai rakyatnya. Selain hari Senin dan Jumat, lima hari seminggu mausoleum Ho Chi Minh dibuka untuk umum. Masyarakat umum, murid sekolah, maupun turis asing antre untuk melihat langsung jenazah Paman Ho yang diawetkan.

     Untuk bisa masuk ke tempat ini, turis asing harus mengikuti peraturan yang ditetapkan pemerintah. Mula-mula minta surat pas di loket yang sudah ditentukan, dengan memperlihatkan paspor dan membayar uang administrasi VD 4.000. Berbekal surat itu kita menuju ke kompleks mausoleum. Sekitar 300 m menjelang pintu gerbang, ada penjaga (tentara) yang akan memeriksa surat pas. Turis asing harus menunggu sampai terkumpul 20 atau 25 orang lain sebelum diberangkatkan dalam satu rombongan dengan diantar dua orang petugas. Sesampai di pintu gerbang mausoleum, rombongan diserahterimakan kepada petugas jaga dan diantar masuk. Selama kunjungan ini, tas, kamera, dsb. harus dititipkan di tempat yang tersedia.

     Mausoleum yang diresmikan pada 29 Agustus 1975 ini terletak di tengah Lapangan Ba Dinh, tempat Ho Chi Minh dulu membacakan Deklarasi Kemerdekaan Vietnam pada 2 September 1945. Di kompleks ini juga terdapat museum, taman, serta berbagai bangunan bersejarah lainnya, termasuk rumah pribadi Paman Ho saat belum menjadi presiden.

     Objek wisata lain yang sempat saya kunjungi adalah Pagoda Huong Son yang terkenal. Karena mayoritas penduduk Vietnam beragama Buddha, maka banyak peninggalan pagoda yang sudah berumur ratusan tahun. Kompleks Pagoda Huong Son terletak sekitar 60 km selatan Hanoi. Untuk mencapai tempat ini kita bisa naik bus umum atau kendaraan pribadi, melewati Kota Ha Dong, Thanh Oai, Van Dinh, dan My Duc. Dari My Duc perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 15 menit sampai di terminal perahu. Dari situ perjalanan disambung dengan perahu, bisa dengan perahu dayung khas Vietnam atau perahu dengan motor tempel. Mereka yang sedang memadu kasih umumnya lebih suka menggunakan perahu dayung kecil, mungkin terasa lebih romantis.

Berebut air awet muda

     Sepanjang sungai menuju lokasi, panorama alam masih tampak alami. Air sungai sangat jernih, di kiri-kanan tampak rawa-rawa dengan bunga teratai yang mengambang di sana-sini. Burung belibis bergerombol, berenang, dan sesekali menyelam ke dalam rawa untuk mencari makan. Di kejauhan bukit-bukit karang terjal menyembul di atas hamparan perdu yang hijau, menambah indahnya pemandangan.

     Untuk sampai ke Pagoda Huong Son dibutuhkan waktu satu jam berperahu. Begitu mendarat kita akan disambut oleh pedagang asongan yang menawarkan potongan bambu sepanjang 1 m. Bambu itu berfungsi sebagai tongkat saat mendaki bukit tempat pagoda-pagoda berdiri. Di kompleks Pagoda Huong Son terdapat 14 buah pagoda.

     Dari keempat belas pagoda itu, yang paling menarik dan menjadi tujuan utama wisatawan maupun peziarah adalah Pagoda Huong Tich. Masalahnya tempatnya sangat unik, berada di dalam sebuah gua. Konon, menurut kepercayaan orang Vietnam, jika belum mengunjungi gua ini, aktivitas ziarahnya belum afdol. Untuk mencapai pagoda itu kita harus mendaki bukit melalui jalan setapak yang terjal, terbuat dari batu karang yang disusun rapi berkelok-kelok. Walaupun udara sangat dingin, baju saya basah kuyup kena keringat. Saya sempat putus asa dan berniat membatalkan pendakian. Tetapi teman saya yang orang Vietnam membesarkan hati saya. Dengan tertatih-tatih dan diselingi istirahat, sejam kemudian akhirnya kami tiba juga di puncak.

     Untuk menuju Gua Huong Tich, kita masih harus menuruni lagi jalan curam, dengan anak tangga dari semen berukuran 1,5 m. Panorama di situ benar-benar menakjubkan. Di sana-sini tampak stalakmit dan stalaktit berwarna putih keabu-abuan. Di kejauhan tampak altar pemujaan yang diterangi lilin tak terhitung banyaknya, menambah suasana terasa begitu tenang dan damai.

     Di sudut kanan gua terdapat mata air yang menetes dari langit-langit gua setiap beberapa menit sekali. Tetesan air itu dipercaya oleh para penganut agama Buddha setempat sebagai "air susu ibu" yang konon berkhasiat sebagai obat awet muda. Karena itu banyak pengunjung, tua maupun muda, berebut menunggu tetesan air ini. Jika kena tetesan, mereka langsung mengusapkannya ke wajah dan bagian-bagian tubuh tertentu.

     Sebagai kenang-kenangan, saya sempatkan membeli beberapa cenderamata khas Vietnam seperti lukisan kain, lukisan kayu, kotak perhiasan dari batu. Untuk yang senang mengoleksi dasi, dasi sutera yang dilukisi dengan tangan secara langsung, bisa jadi pilihan.

rumah