LANG-LANG/MARET 1997


Acara bulan madu bagi 160 pasangan di akhir tahun lalu terasa istimewa. Mereka didandani habis-habisan, disambut bak raja, dan menikmati bulan madu di atas kapal pesiar mewah Awani Dream I selama tiga hari melayani rute Tanjung Priok - Lampung.

Tak seperti biasa, kali ini Awani Dream tampil dengan wajah lain. Di pinggir sepanjang buritan terdapat hiasan berupa rangkaian bunga serta pita warna putih dan merah jambu. Kapal yang didominasi warna putih ini jadi makin kelihatan anggun.

Adakah yang istimewa di balik penampilannya yang berbeda dari biasanya? Kapal berbendera Panama ini memang sedang menyongsong puluhan pasangan bulan madu yang akan mereguk romantisme di masa-masa awal pernikahan.

"Kami ingin mencoba bagaimana sih rasanya berbulan madu di atas kapal pesiar mewah," ujar Oot memberi alasan keikutsertaannya didampingi Atiek, pasangannya yang baru saja dinikahinya. Bukan cuma pasangan gres yang berminat mencoba, termasuk pasutri manula Budiarto Pramana dan Yuliati Susana tak mau ketinggalan. "Kami mau menikmati sebagian masa pensiun dengan ikut paket ini," ujar Budiarto sembari mengandeng mesra istrinya yang sudah 50 tahun mendampinginya.

Foto lima belas menit
Pasangan Oot dan Budiarto termasuk 158 pasangan pengantin lain yang ikut melayari rute Tanjung Priok - Lampung - Pulau Putri. Kocek yang harus dirogoh oleh peserta berkisar Rp 800.000,- - Rp 2 juta per pasang, tergantung kelas kamar yang dipilih. "Lumayan kok, nggak mahal-mahal amat," ujar Oot.

awani3
Soal besarnya biaya barangkali memang relatif bagi tiap-tiap orang. Namun satu hal acara ini merupakan salah satu alternatif baru untuk berbulan madu. Diselenggarakan oleh PT Pelayaran Awani Dream, bekerja sama dengan Johnny Andrean Bridal dan Hotel Travelodge Ancol atas gagasan Samadikun Hartono, pemilik kapal Awani Dream, pelayaran sesi bulan madu ini semarak.

Jadilah waktu tiga hari itu, 6 - 8 Desember merupakan saat-saat istimewa buat mereka. Untuk menggugah romantisme, pasangan pengantin yang bersedia didandani dengan busana pengantin bergaya internasional. Pengantin wanita bergaun putih panjang, sedang prianya bersetelan jas warna dengan hiasan bunga pada bagian dada. Tapi pasangan Oot dan Atiek termasuk yang memilih busana biasa. "Malu! Lagi pula tujuan kami 'kan untuk bulan madu," ungkap Atiek.

Nampaknya, cukup banyak pasangan yang berminat didandani busana pengantin. Tak heran kalau pihak perias dibuat sibuk. Belasan tukang rias dan puluhan penata rambut yang disiapkan bekerja ekstra keras sejak pukul 08.00 untuk menuntaskan hajatan itu sebelum tiba santap siang.

Suasana yang muncul kemudian jadi semacam perkawinan massal. Puluhan pasangan berderet-deret, masing-masing menggayut mesra pada pasangannya. Ketika satuper satu berjalan ke luar untuk acara pemotretan di tepi kolam renang dapat dilihat aneka macam corak gaun pengantin. Meriah sekali.

Siang itu angin bertiup cukup kencang. Gaun pengantin wanita yang umumnya panjang-panjang itu berkibar-kibar ke sana-kemari, membuat si ratu sehari sibuk menjaga gaun agar tetap pada posisinya. Hujan yang turun beberapa saat sebelumnya juga sedikit merepotkan, terutama bagi para suami. Mereka harus berjalan di belakang sang istri sambil membantu mengangkat gaun agar tidak kotor dan basah oleh genangan air.

Usai beristirahat para peserta berangkat menuju Pelabuhan Tanjung Priok menggunakan limusin dan dikawal oleh 20 motor Harley Davidson. Di sana kapal Awani Dream telah siap menyambut prosesi para pasangan menaiki tangga kapal diiringi musik rancak sebuah marching band.

Acara kolosal ini tentu mengundang kerepotan tersendiri. Untuk sekali foto berbarengan saja makan waktu 10 - 15 menit. Sebagian tersita untuk mengumpulkan orang dan mengatur posisi.

Tepat pukul 18.00 para peserta meniup terompet dan melemparkan bunga pada handai taulan dan pengantar sebagai tanda dimulainya pelayaran bulan madu selama tiga hari dua malam menuju Lampung.

Resep kelanggengan perkawinan Untuk acara-acara macam ini Awani Dream agaknya memang alamat yang tepat. Jumlah kamarnya saja 270, dua ratus tiga puluh menghadap ke laut lepas, sedang 40 buah menghadap ke dalam. Kamar-kamar itu terbagi dalam beberapa dek dari atas sampai bawah dengan nama-namanya mengingatkan orang akan jenis-jenis batuan. Ada Diamond, Emerald, Ruby, Sapphire, Opal, Topaz, dan Amethyst.

awani2
Fasilitas pendukungnya pun seabrek. Ada bioskop, bar - karaoke, salon, toko, ruang sauna, kolam renang, tempat mainan anak, dsb. Beragam fasilitas ini membuat perjalanan laut yang umumnya membosankan menjadi menyenangkan, dan lebih mengentalkan suasana romantis yang diembuskan sejak awal.

Ajang kumpul-kumpul tempat acara pokok digelar di Blue Moon Lounge pada dek Emerald, yang sanggup menampung 400 orang sekaligus. Kursi-kursi empuk warna oranye ditata apik mengarah ke panggung. Di bagian belakang diletakkan lampu-lampu sorot warna-warni. Sementara sembari menikmati acara permainan, musik, sulap, dsb. siapa pun bisa memesan makanan kecil atau minuman di kantin yang ada di bagian belakang.

Para penumpang sama sekali tak merasakan guncangan kapal atau suara mesin yang menderu. Dengan panjang 155 m, lebar 25 m, serta berat 12.000 ton Awani Dream tampak tenang kendati pertunjukan dilakukan sambil terus berlayar.

Dalam acara keakraban para pasangan muda nampaknya tak sabar menunggu untuk mendaulat pasangan emas Budiarto Pramana dan istri membuka rahasia kelanggengan perkawinan mereka. Bersama istrinya, Pramana tak keberatan berbagi cerita. Jujur, sabar, dan patuh, itu resep awet perkawinannya. "Kalau jujur, mujur. Sabar juga penting. Kalau salah satu marah lainnya sebaiknya sabar. Saya harap pasangan pengantin bisa seperti saya, bahkan melebihi," katanya disambut tepuk tangan meriah para pasangan muda.

Tepuk tangan kembali membahana di Blue Moon Lounge, tatkala pasangan Oot - Atiek dinobatkan sebagai pasangan paling serasi. Pengantin berumur seminggu ini memang terlihat kompak. Dengan setelan kembar, batik warna oranye yang dikombinasikan dengan bawahan hitam, mampu mencuri perhatian juri maupun penonton. "Kami tak menyangka terpilih, padahal batik ini sudah agak lama. Itung-itung ini hadiah perkawinan kami," ujar Atiek bangga tentang penobatan itu.

Kebahagiaan pasangan ini nampak semakin lengkap karena hadiah dari kemenangan itu adalah berlayar gratis ke Pulau Bali selama 5 hari menggunakan kapal Awani Dream II pada kesempatan lain.

Meneguhkan komitmen
Toh pasangan lain juga selalu menampakan wajah-wajah ceria. Bukan saja karena suasana yang menyenangkan, namun lantaran cuaca cukup mendukung. Pelabuhan Panjang, Lampung, tempat kapal berlabuh yang dikelilingi bukit kecil jadi tampak indah. Semilir angin pantai yang bertiup pelan membuai siapa saja yang ada di situ. Sambil bersantap pagi di anjungan belakang para pasangan menikmati suasana indah itu.

Tak henti-hentinya pasangan bulan madu mengabadikan suasana khusus ini di lokasi-lokasi strategis di atas kapal. Kamera menjadi barang yang amat berharga. Dalam paket istimewa ini banyak hal yang mengesankan. Setiba di Pelabuhan Panjang, misalnya, peserta disambut dengan tarian selamat datang di bawah tangga kapal. Diawali oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Arief Kusharyadi beserta istri, yang kebetulan juga salah satu peserta tur bulan madu, satu per satu pasangan dikalungi bunga oleh penyambut berbusana pengantin tradisional Lampung sebagai tanda persaudaraan.

awani1
Agenda siang itu adalah menikmati objek-objek wisata di sekitar Kota Bandarlampung. Di antaranya ke restoran yang terletak di puncak bukit di kawasan Bukit Randu. Di tempat ini disuguhkan: peragaan busana yang dibikin dari kain tapis Lampung, demonstrasi layang-layang hias, dan festival buah durian. Sebelum kembali ke kapal peserta diantar menuju ke Taman Batu Putu menyaksikan rumah dan pelaminan pengantin adat Lampung.

Kesempatan lain yang dinanti-nanti adalah menyaksikan dari dekat Gunung Anak Krakatau yang masih aktif dengan latar belakang matahari terbenam. Ketika kapal mulai mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau, peserta tertumpah ruah di anjungan. Dengan menggandeng pasangannya hampir sebagian besar menenteng kamera yang siap jepret.

Di kawasan ini kapal memang sengaja berjalan amat perlahan di antara Gunung Krakatau dan Anak Krakatau. Menurut keterangan awak kapal, hal ini untuk menghindari tumbukan dengan dasar laut yang sering berubah, di samping memberi kesempatan para penumpang untuk melihat gunung lebih jelas.

Sayangnya mendung menggantung di atas Gunung Anak Krakatau sehingga keindahan matahari terbenam tidak sempat terlihat, namun aktivitas gunung tampak jelas. Asap tipis keluar dari kawah, dan pada bagian puncak nampak gundul tanpa tetumbuhan, menandakan lava panas masih sering dimuntahkan dari lubang kepundan.

Meski perjalanan mengarungi Laut Jawa dan Selat Sunda cukup melelahkan, wajah para penumpang tetap berbinar-binar ketika tiba kembali di Pelabuhan Tanjung Priok.

Seperti diungkap Atiek, "Perjalanan ini menyenangkan, kita bisa sama-sama kompak dengan pasangan pengantin lain, kendati belum pernah kenal."

Agaknya misi paket kali ini memang untuk membina persaudaraan. Di samping mengingatkan kembali pada para pasangan akan komitmen yang sebelumnya telah mereka buat dan saat-saat bahagia perkawinan mereka. (G. Sujayanto/I Gde Agung Yudana)

rumah


Created With HTML Assistant Pro - 3/13/97
by: Yds. Agus Surono
      Redaksi Intisari
      E-mail: agussur@hotmail.com