HALAMAN HIJAU MARET 1997

TERNAK KENYANG,
LIMBAH HILANG

Pengolahan limbah tidak hanya dapat dilakukan oleh industri tekstil atau pabrik kimia yang peduli lingkungan. Di kalangan petani yang tinggal jauh di pinggang gunung pun timbul keinginan untuk itu.

Dataran tinggi Dieng yang terkenal sebagai daerah wisata sejuk yang bersih lingkungannya, sudah lama tercemar oleh limbah usaha pemeliharaan jamur merang. Jerami bekas media tanam jamur ditumpuk begitu saja di suatu tempat. Akibatnya, banyak binatang kecil yang bersarang, seperti tikus, ular, dan kutu yang menghamai tanaman para petani di sekitarnya.

Persoalannya tidak akan pelik kalau jumlah petani jamur merang tidak menjamur. Belasan perusahaan (baik perorangan maupun kongsi) terjun ke bidang usaha ini. Sebuah perusahaan jamur yang besar menghasilkan limbah sampai 72 ton setiap hari. Kalau ada angin bertiup, bau busuk menyebar ke segala penjuru angin. Jelas ini merisaukan banyak orang yang tinggal di daerah yang semula sejuk menyegarkan itu.

Entah siapa yang memulai. Ada beberapa petani jamur yang mencoba mengolah limbah itu menjadi pakan ternak sapi, kerbau, dan kambing (ternaknya sendiri). Ternyata berdasarkan hasil penelitian, nilai gizi limbah ini jauh lebih tinggi daripada jerami segar. Kandungan abu, protein kasar, dan BETN (bahan ekstrak tanpa nitrogen) juga lebih tinggi. Sebaliknya, jumlah serat kasarnya lebih rendah.

Peningkatan gizi dalam jerami bekas ini sudah tentu sangat menarik karena diperkirakan lebih menguntungkan, dibandingkan dengan pemakaian jerami biasa. Karena ada proses fermentasi bahan polisakarida menjadi glukosa oleh jasad renik dalam jerami limbah itu, maka kandungan VFA (volatile fatty acid)-nya meningkat. Zat ini merupakan sumber energi bagi ternak yang memakannya.

Tetapi sayang, limbah yang kaya gizi itu tidak dapat serta merta diberikan langsung kepada ternak, karena masih berbau (dan tentunya juga mengandung) formalin. Racun ini sebelumnya memang disemprotkan oleh petani jamur ketika panen terakhir untuk membunuh kutu pengganggu jamur. Limbah itu harus dijemur dulu agar formalinnya menguap.

Sesudah kering (sampai kadar airnya tinggal 10%), jerami dipisahkan dari tanah dan bahan pencampur lainnya, sehingga diperoleh jerami bersih yang belum hancur, tetapi strukturnya sudah lebih remah atau bahkan lunak.

Agar sapi atau kerbau dapat menyantapnya dengan lahap, para petani pemakai jerami bekas ini tak kurang pula akalnya. Jerami bekas dicampurnya dengan garam, tetes tebu atau dedak, sebagai semacam saus perangsang nafsu makan. Penambahan garam dan tetes juga bertugas meningkatkan kandungan mineral.

Agar sapi tidak terkejut mengalami perubahan menu, pemberian pakan model baru ini dilakukan secara bertahap. Mula-mula 1/4 bagian dulu dari jumlah pakan rumput biasa. Lalu ditingkatkan setiap hari sampai maksimal 4 : 6 (4 bagian jerami limbah dan 6 bagian rumput hijau). Sapi yang diberi pakan ini tumbuh bongsor semua badannya.

Dampak positif dari akal-akalan ini ialah, lingkungan di sekitar tempat penanaman jamur merang jadi tidak berbau busuk lagi. Bau yang semula mengganggu, terutama pada musim hujan, tidak lagi membuat penduduk atau para wisatawan harus menutup hidung rapat-rapat.

Keuntungan lain, tanaman sayur-mayur milik petani lain di sekitar tempat bertanam jamur tidak diganggu tikus lagi.

Membebaskan lingkungan dari pencemaran limbah ala petani jamur ini patut diberi acungan jempol, dan diteladani. (Khairul Amri)

rumah
Created With HTML Assistant Pro - 3/14/97/ by: Yds. Agus Surono/ Redaksi Intisari/ agussur@hotmail.com