POTRET INTISARI MARET 1997
PROF. DR. H. SARDJONO O. SANTOSO, D.S.F.K.
Tablet Daun Katuk dan ASI

Bagi bayi, sumber gizi paling sempurna adalah ASI. Padahal, tidak setiap ibu bisa menghasilkan ASI yang cukup. Guru besar FKUI bersama timnya itu meneliti manfaat daun katuk dan membuat tabletnya untuk para ibu yang sedang menyusui.

Kalau ada dokter yang lebih mementingkan pekerjaan meneliti daripada praktik mengobati pasien, mungkin dialah salah satu orangnya. Sampai-sampai ia diolok-olok koleganya sebagai dokter "abnormal"; seperti yang tidak doyan duit saja, malah cari susah. Kafilah pun tetap berlalu. "Ya, biar saja," kilahnya enteng.

Selain mengajar, dokter spesialis farmakologi kedokteran dan guru besar di Bag. Farmakologi dan Terapeutik, Fak. Kedokteran Universitas Indonesia, itu memang lebih banyak menghabiskan waktunya di bidang penelitian farmakologi, terutama tanaman obat. Bukan berarti ia sama sekali tidak melayani pasien pelanggannya di kamar praktik pribadinya sebagai dokter umum. Hanya saja dalam sehari, dia mengaku cuma "ngamen" tiga jam sehari di kamar praktiknya, dan "ngasong" di sebuah rumah sakit swasta di Jakarta.

Secara finansial-material ia memang tertinggal. "Tapi sebagai dokter umum, saya sudah merasa cukuplah. Keluarga tidak keleleran dan bisa menyekolahkan anak-anak," aku ayah 4 orang anak dari istrinya Ny. Harningsih, serta kakek seorang cucu ini.

Ia memang bersikap cuek dengan olok-olok itu. Dalam kamus hidupnya tak ada kata setengah-setengah dalam bekerja. Apa pun bidang pekerjaan, mesti ditekuni dengan penuh rasa pengabdian supaya tidak terasa berat. Juga, menurutnya, harus melahirkan kepuasan batin. "Namun, yang saya harapkan, kepuasan batin itu muncul dari suatu pekerjaan yang spesifik dan unik. Di tempat praktik ada juga kepuasan batin, tetapi cenderung membosankan." Mengapa?

"Saya terjebak pada rutinitas yang monoton. Ibaratnya, batuk, pilek, mencret ... batuk, pilek, mencret. Itu saja pasien yang saya hadapi. Saya ingin pekerjaan yang lebih menantang," ujar Sardjono.

Namun di balik segala kesederhanaan sikapnya itu, beberapa tahun belakangan ini ia berkerja tak kenal lelah mewujudkan impiannya guna ikut meningkatkan kualitas generasi mendatang. Bersama tim peneliti yang dia pimpin, ia meneliti daun katuk (Sauropus androgynus Merr), yang secara empiris mampu meningkatkan air susu ibu (ASI), dan kemudian menyajikannya dalam bentuk tablet agar praktis dikonsumsi para ibu yang sedang menyusui.

"Saya pikir ASI merupakan sumber makanan paling sempurna untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia. Percobaan preliminary yang saya lakukan pada para pasien saya, bidan, dan juga menantu saya menunjukkan adanya peningkatan ASI dengan mengkonsumsi daun katuk," kata guru besar ini.

Setelah melampaui berbagai tahap pengujian, Sardjono bersama timnya sudah berhasil mengolah ekstrak daun katuk menjadi tablet. Dalam waktu tidak lama lagi uji klinis terhadap tablet daun katuk akan dilakukan. Kini tinggal menunggu hasil pencarian zat aktifnya untuk kemudian diupayakan hak patennya. Lalu, diproduksi masal untuk digunakan ibu-ibu yang sedang menyusui.

Obat asli Indonesia
Namun perjalanan ke arah sana harus menyusuri jalan yang berliku. Banyak pihak meragukan upayanya akan berhasil. Bahkan tim penilai dari Dewan Riset Nasional (DRN) BPPT, yang membantu pendanaan penelitian produksi lewat Riset Unggulan Terpadu (RUT), mempertanyakan keunggulan tanaman itu.

Tapi Sardjono berhasil meyakinkan mereka. "Ini 'obat' asli Indonesia," tegasnya. Sumbernya melimpah, dan tidak perlu diimpor. Menurut dia, di dunia farmasi (Indonesia) belum ada obat paten pemacu kuantitas produksi ASI. Tapi dalam dunia empiris daun katuk sudah dikenal dan digunakan sejak zaman nenek moyang untuk memperbanyak ASI. "Penelitian epidemiologis dan survai membuktikan adanya orang-orang yang makan daun katuk," ungkapnya. Di samping sebagai bahan sayur, katanya, juga untuk meningkatkan produksi ASI.

"Kenapa tidak kita coba?" katanya kepada tim penilai dari DRN. Dia menambahkan, bila kelak usaha para peneliti itu berhasil sepenuhnya, tablet daun katuk akan memenuhi syarat sebagai fitofarmaka, dengan kriteria MAREM: Mudah dibuat, Aman, Rasional, Efektif, dan Murah.

Alasan lain yang dia kemukakan, "Kalau bukan kita sendiri orang Indonesia yang melakukan, siapa lagi? Dalam konteks globalisasi, kalau tidak meningkatkan diri, kita akan tergilas. Jika masih dijual dalam bentuk jamu, akan kalah. Kenapa di Jerman, di Cina, di Korea, misalnya, obat-obatan fitofarmaka bisa laku, karena ada dasar ilmiahnya. Sedangkan di kita belum (ada dasar ilmiahnya)." Sementara itu, katanya, alam Indonesia kaya dengan sumber bahan obat-obatan fitofarmaka.

"Kalau yang di atas (senior - Red.) masa bodoh, yang di bawah (yunior - Red.) akan kencing berlari. Nah, ini saya kasih contoh," tuturnya ketika ia ditanya oleh para pengevaluasi proposal penelitiannya yang sempat heran mengapa guru besar kok masih juga ikut melakukan penelitian.

Ketika akhirnya proposal disetujui, Sardjono lalu membentuk tim yang terdiri atas 11 orang dari berbagai disiplin ilmu. Ia sendiri bertindak sebagai ketua dan peneliti utama. Anggotanya meliputi 2 farmakolog yang memeriksa toksikologi, 2 peneliti farmakodinamik pada tikus, 2 ahli formulasi, 2 peneliti farmakologi pada kambing, seorang agronom untuk budi daya daun katuk, dan seorang dokter. "Sekarang tambah seorang lagi, ahli kimia terapan dari Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) yang bertugas mengisolasi zat aktifnya," tambah guru besar yang masih suka mengemudi mobil sendiri ini.

Penelitian ini, kata Sardjono, sebenarnya memerlukan dukungan dana untuk 4 tahun, termasuk untuk uji klinisnya. "Ternyata hanya disetujui untuk dua tahun, jadi hanya sampai produksinya, belum termasuk untuk uji kliniknya. Besarnya Rp 200 juta," ujarnya.

Dana untuk uji klinik, katanya, bisa berasal dari program Riset Unggulan Kemitraan (RUK), yang melibatkan pengusaha. "Tapi itu pun tidak gampang. Mereka (pengusaha yang menjadi mitra penelitian - Red.) tidak mau keluar uang banyak begitu saja kalau belum jelas hasilnya. Sebab, belum ketahuan untungnya berapa. Karena itu diperlukan entrepreuneur yang jiwa altruismenya (sikap mendahulukan kepentingan orang lain) besar. Ini betul-betul sebuah inovasi dan perlu dedikasi," ungkapnya.

Empat tablet sehari
Penelitian itu sendiri dimulai pada tahun 1994. Budi daya tanaman katuk dikembangkan di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro), Bogor. Hasil panennya kemudian diekstraksi untuk melakukan uji toksikologi, uji akut, dan uji subkronik. "Jadi bahannya seragam. Kalau beli di pinggiran 'kan bisa macam-macam," jelas Sardjono.

Hasil-hasil pengujian itu ternyata positif. Sehingga mulai diujicobakan pada kambing percobaan. Ekstrak daun katuk dimasukkan dengan kateter lewat abomasum (lambung ke-4 pada binatang pemamah biak). Dari penelitian selama 12 - 21 hari itu diperoleh hasil, kualitas air susunya tetap, tapi kuantitasnya naik menjadi 1,5 kalinya. "Tadinya saya pikir kualitasnya juga meningkat, tetapi ternyata tidak," katanya.

Selain itu tidak dijumpai efek sampingan selama pemakaian. "Diharapkan nantinya pada manusia juga begitu. Sekarang tinggal melanjutkan lagi dengan uji klinik pada manusia," tambahnya. Untuk keperluan itu dibikinlah formulasi untuk tablet, dan pada Juni 1996 ekstrak daun katuk tersebut berhasil ditabletkan.

Diameter tablet itu + 1,4 cm. Memang relatif besar. Pasalnya, pil itu masih merupakan fraksi, serat-seratnya banyak, tidak murni. "Kalau nanti berhasil ditemukan zat aktifnya, ukurannya akan bisa lebih kecil. Barangkali tinggal seperempat atau sepertiganya. Daun katuk itu ibaratnya orang pakai singlet, sedangkan tabletnya orang yang sudah pakai dasi, tapi belum pakai jas," tutur Sardjono yang sampai menamai cucu pertamanya dengan unsur nama Latin daun katuk, Ramadhani Ayu Saurovia (1).

Pasalnya, pil berwarna hijau muda itu baunya masih langu. "Bau langu itu masih belum bisa dihilangkan. Nanti kalau sudah ketemu senyawa aktifnya pil itu bisa diberi coated (dilapisi gula) sehingga bau langunya hilang. Tapi tentu harganya jadi lebih mahal, sehingga kriteria MAREM agak kurang terpenuhi."

Menurut Sardjono, harga tablet itu sekitar Rp 300,- per tablet. Namun, kalau BUMN - dalam hal ini PT Kimia Farma atau PT Indo Farma - mau memproduksinya, harganya bisa ditekan sampai Rp 200,- per tablet. "Harapan saya PT Kimia Farma mau. Pembuatan tablet yang sekarang masih dalam taraf uji ini pun sebenarnya merupakan hasil kerja sama secara personal dengan BUMN itu," ungkapnya.

Kalau dikonsumsi, dosisnya 3 - 4 tablet per hari, yakni 2 x 2 tablet atau 3 x 1 tablet. Tiap butirnya kira-kira setara dengan satu ikat daun katuk yang di pasar harganya sekitar Rp 500,- - Rp 600,-. "Jadi dengan peningkatan teknologi, perbedaan harganya cuma sedikit. Bagi para wanita karier, makan daun katuk jadi tidak repot lagi. Pagi langsung menelan dua butir, sore dua butir. Ibu-ibu di kota 'kan relatif susah cari daun katuk segar?" jelasnya.

Memperbesar payudara
Uji klinik pada manusia rencananya dimulai April 1997, selama 1 tahun dengan dana sekitar Rp 50 juta. "Idealnya, responden atau manusia percobaan itu harus berada di rumah sakit supaya mudah dikontrol. Tapi hospitalisasi responden itu sulit. Karena itu dicari jalan lain dengan mengirim suster perawat ke rumah para ibu menyusui untuk mondok di sana guna mengontrol agar mereka tidak makan dengan sembarangan. Untuk spying (mengontrol - Red.) ini, para suster mendapat tips, dan ini artinya biaya."

Sarjono juga sudah merintis agar hasil penelitiannya itu bisa diproduksi secara masal dan secara komersial juga menguntungkan. Bahan bakunya tidak menjadi masalah. "Kami sudah memikirkannya, lahan pun sudah disurvai, dan nantinya perlu bernegosiasi dengan petani. Bagi petani barangkali mendingan menanam katuk daripada menanam padi. Karena nilai ekonomi katuk lebih tinggi," ungkapnya.

Selama ini memang sudah ada investor yang berminat menanamkan modalnya untuk memproduksi tablet daun katuk. Cuma kalau sudah bicara bisnis, dia mengaku kesulitan, karena persoalannya menjadi rumit. "Karena itu, obat ini harus sudah dipatenkan dulu. Itu pun tidak gampang. Untuk fitofarmaka, apa yang dipatenkan? Paling-paling rumus kimia atau reaksi kimianya," katanya.

Kalau mau main tabrak, bisa saja. Artinya, setelah diuji pada hewan percobaan hasilnya positif, ia bersama dengan investor bisa langsung mendaftarkannya ke Departemen Kesehatan untuk segera dipasarkan. Tapi itu tidak dilakukannya. Seluruh tahapan yang mesti dijalankan sebelum suatu obat fitofarmaka dipasarkan tetap dia tempuh. Padahal, menurutnya, saat ini sudah ada perusahaan farmasi yang memproduksinya dalam bentuk kaplet, dan sudah mendapat pengesahan Depkes untuk dijual bebas, meskipun produk itu belum melalui uji klinik.

"Bahkan konon pemanfaatannya lebih dari itu. Tidak hanya untuk menambah produksi ASI, tapi juga untuk kosmetik: membesarkan payudara," ungkapnya.

Memilih sekolah ketimbang rumah
Lahir di Tegal, 2 Mei 1940, sejak SMTP Sardjono hijrah ke Jakarta mengikuti orang tua yang berpindah tugas di ibu kota. Setamat kuliah di Fakultas Kedokteran UI tahun 1965, ia mulai buka praktik di Bukitduri, Jakarta.

Suatu ketika, ia dihadapkan pada dua pilihan, memperoleh rumah tinggal atau tugas belajar ke Amerika Serikat selama 2 tahun untuk memperdalam bidang neuropsikofarmakologi. Dia memilih untuk sekolah lagi. Maka, tahun 1971 dia berangkat ke AS dan meninggalkan pasien pelanggannya yang sejak 1968 mulai membludak.

Waktu itu, kajian tentang obat tradisional memang mulai marak. Obat-obat tradisional mulai didaftarkan. "Saya sebenarnya ahli sih nggak. Tapi karena FKUI dianggap center of excellent, saya sering ditanya soal tanaman obat. Ya sudah, karena kadung di situ, saya terus belajar saja," katanya.

Orasi ilmiahnya ketika dikukuhkan sebagai guru besar pada 1993 berjudul Perkembangan Obat Tradisional di Indonesia dan Pengembangannya Sebagai Obat Alternatif. Ini memang sejalan dengan keinginan pemerintah saat itu untuk mengilmiahkan dengan mengkaji, meneliti, dan mengembangkan obat-obatan tradisional sesuai dengan amanat GBHN.

Khasiat obat tradisional atau jamu yang beredar sekarang ini, katanya, boleh dikatakan empirik saja, menurut pengalaman nenek moyang. Mungkin benar, bisa pula tidak. "Sebagai farmakolog saya ingin melihat efektivitasnya ada atau tidak, dan benar atau tidak. Ada yang mengatakan itu sugesti saja, plasebo. Ada juga yang bilang tidak ada efek sampingan pada penggunaan obat tradisional. Itu tidak sepenuhnya benar. Namanya obat, meski tradisional 'kan mengandung zat kimia. Bahwa efek sampingannya kurang nyata, karena barang itu masih crude, sedangkan zat kimia 'kan murni, jadi lebih jelas. Lalu kalau terjadi tumor, kanker, sakit lever, itu terjadi karena aflatoksin. Proses pengolahannya yang mungkin tidak benar. Karena itu bersama peneliti lain, saya mengkaji toksisitasnya dan efek farmakodinamiknya," jelasnya.

Dalam Perhimpunan Peneliti Bahan Obat Alami (Perhipba) Sardjono duduk sebagai sekretaris umum. Kali ini periode ke-3. Anggota organisasi ini terdiri atas orang-orang farmasi, pertanian, peternakan, dokter hewan, biologi, dan dokter. Selain itu, kini Sardjono juga menjadi ketua Kelompok Kerja Obat Tradisional FKUI dan anggota Panitia Nasional Penelitian dan Pengembangan Obat Nasional di bawah BPPT.

Minatnya di bidang neuropsikofarmakologi dan obat tradisional ada kaitannya dengan seringnya membantu dosen melakukan penelitian jamu-jamuan secara ilmiah sejak mahasiswa. Ketika duduk di tingkat 3 dia menjadi asisten dosen di bagian farmakologi. Makanya, setelah menjadi dokter dia tidak ditempatkan di daerah tapi di Bagian Farmakologi dan Terapeutik. Di sanalah dia berkarya hingga saat ini.

Selain daun katuk, Sardjono juga meneliti tumbuhan obat untuk penyakit kanker, nyeri, keputihan, wasir, dan hiperlipidemi. Penelitian itu masih dalam tahap uji terhadap hewan coba. "Saya maunya meneliti bahan yang bisa dipasarkan," katanya.

Menurut Sardjono, kualitas penelitian ditentukan oleh kerja sama tim yang baik. Meski dananya cukup, kalau keseriusan para peneliti kurang, penelitian tak bisa berlangsung baik. "Oleh karena itu anggota tim saya, yang berasal dari berbagai disiplin ilmu, adalah mereka yang betul-betul serius. Banyak orang pintar, tapi kemauannya kurang. Pekerjaan meneliti perlu kesabaran dan keuletan," jelas Sardjono.

Ia tidak menyalahkan para dokter yang kurang atau tidak tertarik untuk melakukan penelitian. "Barangkali kalau kondisinya bisa lebih baik seperti taruhlah di Malaysia atau Singapura, ada daya tarik bagi mereka. Untuk peneliti yang bukan dokter, tunjangan penelitian Rp 300.000,- mungkin ada artinya, sedangkan bagi yang dokter .... Tapi itu kembali pada tujuan hidupnya," ujarnya. (I Gede Agung Yudana/Al. Heru Kustara)

rumah


Created With HTML Assistant Pro - 3/14/97
/by: Yds. Agus Surono/Redaksi Intisari/agussur@hotmail.com