FLONA/MARET 1997
wijaya1
WIDJOJOKOESOEMO ZAMAN DOELOE
BUKAN WIJAYAKUSUMA ZAMAN SEKARANG

Ada kepercayaan yang tak lekang oleh waktu, bahwa raja Mataram yang baru dinobatkan tidak akan sah diakui dunia kasar dan halus, kalau belum berhasil memetik bunga Widjojokoesoemo sebagai pusaka keraton. Mengapa harus memetik bunga itu, dan mengapa kini beredar bunga wijayakusuma yang lain?


Tradisi memetik bunga itu didasarkan atas kepercayaan, bahwa pohon yang menghasilkan bunga itu jelmaan pusaka keraton Batara Kresna. Batara titisan Wisnu ini kebetulan menjadi Raja Dwarawati. Letaknya di dunia pewayangan sana.

Menurut kisah spiritual yang diteruskan dari mulut ke telinga, dan dari mulut ke telinga yang lain, pusaka keraton itu dilabuh (dihanyutkan) ke Laut Kidul oleh Kresna, sebelum beliau mangkat ke Swargaloka, di kawasan Nirwana.

Bunga penerus spirit
Apa yang terjadi?

Pusaka atribut Raja Kresna itu setelah dilabuh menjadi pohon di atas batu pulau karang. Letaknya di ujung timur Pulau Nusakambangan di selatan Kota Cilacap.

Secara fisik, pulau yang terkenal sebagai Karangbandung itu dikuasai oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia, tetapi secara spiritual ia dikuasai oleh ratu siluman, Nyai Roro Kidul. Ratu ini sering mengadakan rapat pleno di pulau itu.

Karena menurut silsilah dalam Babad Tanah Jawi raja-raja Jawa itu keturunan Bre Widjaye dari Majapahit (yang titisan Wisnu juga), maka sudah sepantasnyalah kalau para baginda mewarisi pusaka keraton Dwarawati yang kini tumbuh di Karangbandung. Maka, raja Mataram yang baru dinobatkan juga wajib hukumnya untuk mengambil bunga pusaka yang keramat itu.

Untuk memetiknya jelas sulit sekali. Tidak hanya karena tempatnya yang terpencil, tetapi juga karena pulau itu angker dijaga ketat oleh garnisun tentara siluman. Diperlukan seorang paranormal agar dapat berhasil. Ini menurut para abdi dalem petugas pengambil bunga.

Pada zaman Mataram dulu mereka berjalan kaki dari Kartosuro (ibu kota kerajaan waktu itu) ke Magelang lewat Boyolali dan menyusuri lereng Gunung Merapi. Dari Magelang melalui Temanggung dan Wonosobo, mereka turun ke Cilacap. Lalu menyeberang ke Pulau Karangbandung dengan perahu. Sudah bersusah payah mendekat, ternyata pohonnya tidak mau berbunga pada sembarang waktu. Berbunganya sesudah diminta oleh paranormal yang berwajib dengan bersemedi.

Kalau sudah ndelalah (semacam Que sera sera), bunga akan jatuh sendiri dalam bokor yang segera ditutup dengan kain kerajaan. Inilah yang kemudian dibawa kembali ke Kartosuro, dan disimpan dalam kamar pusaka keraton. Tak seorang pun boleh melihat bunga di bawah kain penutup itu. Hanya raja yang boleh mengintip, untuk memastikan bahwa yang dipersembahkan itu betul-betul bunga.

Itulah yang akan meneruskan spirit kebijakan bestari dari Betara Kresna ke raja Mataram yang kini berkuasa. Jadi caranya memerintah kerajaan dapat sama bijak dan adilnya dengan Raja Kresna Dwarawati.

Kurus kurang gizi
Bagaimana ujud bunga yang misterius itu, dan bagaimana sosok pohon yang menghasilkannya?

Setiap orang yang ingin melihat pohon itu dari dekat harus minta izin khusus dari Menteri Kehakiman RI agar dapat memasuki Pulau Karangbandung yang masih termasuk wilayah hukum Nusakambangan. Pulau ini dijaga sebagai tempat lembaga pemasyarakatan para narapidana kelas kakap yang berat.

wijaya2
Pohon jelmaan pusaka keraton Batara Kresna itu ternyata tumbuh bekek seperti bonsai raksasa, dengan akar yang mencengkeram batu karang. Tingginya hanya 3 m, padahal di tempat lain yang lebih subur, pohon sejenis dapat sampai 13 m tingginya.

Bunganya berupa bunga majemuk, sebanyak 10 malai. Tiap malai tumbuh menjadi 20 kuntum bunga berbentuk terompet. Kalau dihitung, jumlahnya bisa sampai ratusan yang semuanya kecil (hanya 6 mm). Tetapi pohon itu jarang berbunga. Menurut para paranormal, berbunganya memang hanya untuk raja yang sudah direstui naik tahta.

Tetapi menurut logika para pakar botani, pohon itu tumbuh di atas batu karang yang gersang kekurangan gizi, sehingga jarang berbunga. Persis seperti tanaman bonsai, yang dibatasi makanannya dan dikekang pertumbuhannya. Hanya kalau musim hujan dan cukup tersedia air pelarut zat hara dari tanahlah, pohon itu mempunyai cukup gizi dan semangat untuk berbunga.

Sampai tahun 1894, Susuhunan Paku Buwono dari Kartosuro masih menjalani tradisi ini. Sesudah itu, tidak lagi, tetapi mitos bahwa Baginda wajib memetik bunga langka itu masih saja dituturkan turun-temurun dari mulut ke telinga generasi penerus.

Dari segi botani, pohon itu masih keponakan dekat dengan kol banda Pisonia alba, yang banyak dipelihara orang sebagai pohon hias. Tajuk daunnya yang masih muda berwarna kuning lembut, bagus sekali. Apa lagi kalau disinari bulan purnama.

Berbeda dengan kol banda ini, wijoyokusumo yang Pisonia sylvestris itu hijau semua daunnya, baik yang tua maupun yang muda.

Ternyata kemudian, di beberapa pulau karang Kepulauan Seribu, Karimun Jawa, Puteran (dekat Madura), Bali, dan Ambon, pohon itu tumbuh membludak. Di Bali ia ditanam di halaman rumah sebagai pagar hidup, dan malah sering berbunga. Daunnya dipakai untuk memepes ikan (di Karimun Jawa), sedangkan pucuk daunnya disayur (di Ambon).

Tentu saja, wijoyokusumo yang bukan jelmaan pusaka keraton Batara Kresna ini tidak ada apa-apanya!

Wijayakusuma Keng Hwa
Kalau bunga wijoyokusumo dari Karangbandung dipercaya sebagai jelmaan pusaka keraton Batara Kresna, wijayakusuma dari Cina dipercaya sebagai bunga pembawa hoki. Di kalangan masyarakat Indonesia keturunan, bunga itu terkenal sebagai keng hwa (bunga indah nan anggun).

Negeri asalnya sebenarnya Amerika Selatan, tetapi kemudian ada yang dimasukkan ke negeri Cina sebagai Epiphyllum oxypetalum. Dari sana ia menyebar ke Indonesia sejak zaman Hindia Belanda. Mula-mula hanya terbatas di kalangan para Hoa Kiau yang kaya-raya, tetapi sesudah zaman Orba tersebar di kalangan penggemar bunga yang lain. Biasanya ia ditanam dalam guci keramik di pojok ruangan yang teduh.

Epiphyllum itu sejenis kaktus, yang karena ketika ditemukan pertama kali di hutan belantara dulu tumbuh menempel pada batang pohon lain sebagai epifit seperti anggrek, ia diedarkan dalam berbagai jurnal ilmiah sebagai Orchid Cactus. Memang ia tanaman kaktus, tapi dari marga yang tidak berduri.

wijaya3
Akan tetapi karena bunganya mekar di tengah malam, ia juga diperdagangkan di kalangan awam sebagai Night Flower.

Bersamaan dengan itu juga beredar beberapa jenis lain yang berbunganya pada malam hari juga, seperti Selenicereus macdonaldiae dan S. grandiflorus. Semuanya disebut Queen of the Night, dan timbullah kerancuan. Mestinya ada pemilihan Ratu Malam lagi yang benar.

Para hobiis tanaman hias Indonesia lebih bijaksana. Mereka tidak memakai nama Queen of the Night atau keng hua, tapi wijayakusuma. Tak tercantum dalam sejarah, apa alasannya memakai nama itu.

Tetapi ribut-ribut tentang nama ini agaknya tidak ada gunanya, karena sementara itu sudah tercipta lagi ratusan hibrida bunga itu yang lain, hasil silangan para penangkar tanaman hias di Inggris, Amerika, dan Jerman. Bunganya serupa tapi tak sama dengan Queen of the Night sebelumnya. Antara lain Epiphyllum 'Cooperi'. Inilah yang sebenarnya beredar di Indonesia sekarang, tetapi namanya sudah telanjur dipromosikan sebagai Epiphyllum oxypetalum.

Di bawah bayang-bayang mitos yang menyertai bunga itu, semua pemilik keng hwa, ratu malam, dan wijayakusuma rata-rata rela begadang sampai tengah malam, untuk menunggu mekarnya bunga. Prosesnya begitu cepat sampai dapat diikuti tahapan penampilannya yang elok. Dengan warna putih sebesar bunga teratai, bunga itu menyebar bau harum seperti vanili. Tetapi esok harinya ia sudah layu. Keindahannya hanya dapat dinikmati beberapa jam menjelang subuh.

Barang siapa berhasil melihat mekarnya bunga itu akan menerima hoki dari yang berwajib. Ia boleh membeli lotere hwa hwe (undian zaman dulu) atau mengirim bungkus sabun (tulis nama dan nomor KTP) sebanyak-banyaknya, untuk disertakan dalam undian berhadiah mobil nasional dan internasional. Atau rumah idaman. (Slamet Soeseno)

Lihat juga:
Wijayakusumo Dapat Distek
Wijayakusumo Memerlukan Tempat Teduh.

rumah


Created With HTML Assistant Pro - 3/12/97
by: Yds. Agus Surono
      Redaksi Intisari
      E-mail: agussur@hotmail.com