KIAT PASUTRI MENGELOLA UANG
"Uang memang masalah nomor satu yang sering dipertengkarkan
para pasangan suami-istri," itulah pendapat Howard Markman,
direktur pusat penelitian perkawinan dan keluarga di Universitas
Denver, Amerika, yang juga turut menulis buku Fighting for Your
Marriage.
Itu berarti, setiap keluarga entah kelompok yang
berkelimpahan atau yang penghasilannya pas-pasan, selalu rawan
terhadap perselisihan gara-gara uang.
Bagi Maria Lasswell, pimpinan lembaga terapi untuk perkawinan
dan keluarga di Amerika, potensi itu cenderung muncul akibat
perbedaan kebiasaan dalam menggunakannya. Kebiasaan yang diperoleh
melalui proses belajar alamiah sepanjang hidupnya, menurut
Lasswell, sudah seperti karakter bawaan yang tidak dapat diubah
seketika.
Drs. Richard Sutrisno, staf pengajar di LPPM, mencoba melihat
lebih ke inti persoalan utama yaitu kegoyahan keluarga. "Sedangkan
penyebabnya, bisa 1001 sumber. Mungkin bersumber dari uang, tapi
bisa juga anak, saudara, tetangga, atau yang lain."
Meski demikian Sutrisno mengakui, pertengkaran suami-istri
gara-gara fulus cukup banyak terjadi. "Malah, khusus pada keluarga
tingkat ekonomi menengah bawah masalah tersebut bisa mengakibatkan
keretakan rumah tangga."
Terbuka dan saling percaya
Namun kelebihan atau kekurangan uang itu relatif. Karena itulah
sejak awal hingga lebih dari seperempat abad menjalani bahtera
perkawinan Ny. Hj. Haryati Arief Rachman tidak pernah lupa
bersyukur, "Alhamdulillah, selama ini kami tidak pernah merasa
berkekurangan. Berapa pun uang yang diberikan oleh Bapak selalu
cukup karena saya berusaha mengelolanya dengan baik."
Perlunya mengucap syukur, menurut Sutrisno, akan mengatasi
sikap pasangan yang selalu merasa kurang. "Repot kalau bicara
masalah kurang. Bila pendapatan bertambah, uang yang dibelanjakan
juga akan melar. Jadi jatuhnya akan kurang terus. Maka, cobalah
mengucap syukur dengan cara membandingkan dengan orang yang
kemampuan ekonominya di bawah kita."
Senjata pamungkas lain adalah keterbukaan, mulai terhadap
jumlah dana yang ada, jenis keperluan, dan cara memenuhinya.
"Sebenarnya, prinsip keterbukaan mempunyai manfaat lain. Bila
sampai ada masalah dari organisasi tempat suami memperoleh gaji,
istri bisa dilibatkan untuk membantu," papar Sutrisno.
Keterbukaan juga dengan telak menepis anggapan bahwa
kebahagiaan rumah tangga hanya ditentukan oleh faktor materi.
"Banyak 'kan terjadi, ketika muncul keributan, suami yang cenderung tidak terbuka membela diri dengan, 'Apa sih kurangnya
saya, semua kebutuhan 'kan sudah saya cukupi!'
Lambat laun keterbukaan akan menggiring pasangan suami-istri
pada satu titik saling mempercayai dan menghargai. "Dengan itu si
istri tidak hanya akan menghargai besar-kecilnya penghasilan, tapi
juga bagaimana usaha, kerja keras sang suami," ujar Sutrisno.
Rasa saling percaya dan menghargai tersebut tidak hanya perlu
dimiliki oleh suami-istri, namun juga setiap anggota keluarga,
sesuai dengan tingkat umur dan kedewasaannya.
Anak yang telah dewasa bisa diperkenalkan pada realitas
mencari dan membelanjakan uang. "Misalnya, mahasiswi tingkat akhir
diberi kesempatan mengatur uang belanja keperluan rumah selama
satu bulan. Selain belajar bertanggung jawab, anak pun merasa
dipercaya oleh orang tua."
Sedangkan untuk yang lebih muda, "Misalnya, anak SMU cukup
diajari tentang nilai uang. Orang yang memiliki uang harus
menggunakannya dengan cara yang baik, karena memperolehnya pun
dengan memeras keringat," ujar Sutrisno.
Dengan bekal pemahaman tersebut, bila suatu ketika keluarga
dibelit kekurangan uang, seluruh anggota keluarga dapat ikut
serta, saling membantu dalam mengatasinya.
Berbeda dengan keluarga tradisional di mana hanya suami yang
berperan mencari penghasilan, maka dalam keluarga "modern" banyak
dijumpai pasangan yang sama-sama bekerja. Tak ayal kondisi dua kantung penghasilan ini pun memerlukan strategi khusus dalam
mengelolanya. Pasangan dr. Hario - Berti Tilarso bisa jadi cermin.
"Sejak belum menikah, Mas Hario sudah menitipkan gajinya pada
saya. Alasannya, untuk keperluan berumah tangga, seperti kontrak
rumah, beli mobil, resepsi," papar Berti Tilarso, instruktur
kebugaran.
Namun setelah menikah kesibukan Berti jadi berlanjut. Mereka
lalu membuka rekening di bank yang, meski atas nama suami, sang
istri tetap bisa menarik dana. "Pertimbangannya sederhana, dengan
profesi dokternya, kalau mau kredit apa-apa 'kan lebih mudah. Jadi
di dalam rekening itu bercampur semua penghasilannya dengan
penghasilan saya."
Sebagai pemegang kendali keuangan rumah tangga, Berti tidak
memuskilkan suaminya menggunakan dana di rekening bersama mereka.
Tapi, "Jangankan menulis cek, bertanya berapa jumlah saldo di
rekening pun tidak pernah dilakukannya," tutur Berti. Bahkan saat
bank tempatnya menabung memberikan jasa modern seperti phone
banking atau ATM, suaminya belum tergerak untuk memanfaatkannya.
"Padahal saya memberi tahu dia nomor-nomor penting seperti nomor
bank maupun rekening. Tapi ya sudah, mungkin memang saking
percayanya, dia pasrah saja pada saya. Untuk kebutuhan sehari-hari
pun, dia akan minta saya, istilah dia 'uang bensin'. Saya sih
senang saja merangkap tugas sebagai istri, sekaligus sekretaris
dan bendahara."
Serupa dengan Berti Tilarso, Ny. Arief Rachman berpendapat,
"Bagi kami tidak ada istilah 'uang saya' atau 'uang kamu', karena yang kami peroleh itu 'kan dipakai bersama-sama. Meski
penyimpanannya bisa di rekening pribadi kami masing-masing. Yang
penting, kalau ada kebutuhan, bisa segera teratasi."
Menyinggung masalah penyimpanan dalam bentuk satu atau dua
rekening pribadi, Richard Sutrisno tidak melihat mana yang lebih
baik. "Yang penting adalah itikad si penyimpan. Bisa saja ia tidak
memberi tahu berapa jumlah uang di rekeningnya, karena akan
disimpan untuk keperluan nanti. Misalnya, memberi kejutan untuk
anggota keluarga yang berulang tahun, atau persiapan anak masuk
universitas, yang kalau harus diambil dari dana sehari-hari bisa
merepotkan," ujarnya.
Namun, menurut dia lagi, ada saja orang yang sengaja
merahasiakan simpanan uangnya untuk memenuhi kepentingan diri
sendiri dengan menerapkan konsep "uang saya atau uang kamu" dalam
kehidupan rumah tangganya. Ini bisa mengindikasikan adanya unsur
niat tidak baik, curiga, atau tidak percaya dari salah satu
pasangannya, yang bisa berkembang menjadi perselisihan.
Karena itu, "Masalahnya bukan disimpan pada satu atau dua
rekening terpisah. Tapi pada tujuannya, untuk membahagiakan
keluarga yang bisa dicapai dengan bermacam-macam cara," tutur
Sutrisno.
Menentukan kebutuhan prioritas
Kebahagiaan keluarga, menurut Richard Sutrisno, akan tercapai
antara lain bila pasangan dapat menata keuangan dengan baik.
"Peganglah motto, banyak yang ditawarkan, beli sesuai kebutuhan."
Untuk menentukan kebutuhan ada beberapa pertanyaan yang bisa
digunakan untuk menguji. Pertama, 'Apa barang yang dibutuhkan?'
Selanjutnya, sebagai penguat, 'Benarkah barang itu benar-benar
kita perlukan?' Pertanyaan berikut akan mencoba mengukur kekuatan
kantung kita, 'Apakah dananya ada?' Nah, kalau sampai dana yang
ada tidak mencukupi, kita perlu menghitung dengan 'Apakah
kuantitasnya bisa dikurangi?' Kalau ternyata tidak bisa, satu-satunya jalan adalah, 'Apakah kualitasnya bisa dikurangi?'
"Untuk menyelesaikan masalah penentuan kebutuhan harus secara
menyeluruh. Dengan mencoba menghitung begini, kita telah berusaha
membuat persiapan untuk cadangan kehidupan esok hari, karena kita
tidak perlu berutang," papar pengasuh Rubrik Ruang Keuangan dan
Rubrik Wiraswasta di sebuah majalah itu lebih lanjut.
Ia pun mengambil contoh sederhana, "Saat orang memutuskan
membeli 5 kg beras Rojolele, tapi ternyata kekuatan kantungnya
tidak memungkinkan, maka ia perlu menghitung, apakah jumlahnya
bisa dikurangi? Ternyata tidak mungkin, karena beras itu
dibutuhkan oleh seluruh anggota keluarganya. Jalan keluarnya,
cobalah membeli beras jenis lain dengan mutu yang lebih rendah dan
harga yang lebih murah."
Mengenai penggunaan dana pada keluarga bersumber penghasilan
ganda bisa didahului dengan kesepakatan bersama. Misalnya, Lina
(40) dan Henry (40) yang telah 15 tahun berumah tangga membagi
tanggung jawab. Bila tagihan listrik ditanggung suami, maka
tagihan telepon wajib dibayar istri. Sedangkan keperluan anak-anak
ditanggung berdua. Namun kunci sebenarnya adalah buku besar tempat pasangan itu mencatat setiap pengeluaran untuk kebutuhan rumah
tangga.
Hal serupa pernah dilakukan oleh Berti Tilarso. "Tapi
kebiasaan tersebut saya tinggalkan sejak bank mengeluarkan billing
statement. Selain itu karena pengeluaran makin banyak, sehingga
pembukuan makin rumit." Jadi, ia mengaku, sekarang ia hanya
mencatat barang bernilai besar yang dibelinya tanpa mencantumkan
harganya.
Ny. Arief Rachman pun mengaku bisa mumet bila membayangkan
pembukuan, "Karena di sekolah saya diajari bagaimana mengatur
belanja, jadi saya tidak sampai kerepotan meski tanpa pembukuan."
Yang ia lakukan adalah, menghitung pemasukan, "Lalu, kami
tentukan, gaji untuk belanja kebutuhan pokok atau rutin, seperti
membayar tagihan rekening, PRT, uang sekolah, dll. Sedangkan
sebagian penghasilan tambahan Bapak dari berceramah digunakan
untuk keperluan sehari-hari, dan sebagian lainnya, ditabung."
Tidak ngoyo
Kesepakatan berdua tak hanya perlu dalam menentukan kebutuhan
sehari-hari, juga saat menentukan prioritas kebutuhan tambahan
lain. Karena keputusan sepihak memungkinkan timbulnya rasa kecewa
pada salah satu pihak. "Pernah suatu ketika seorang istri merasa
sangat sedih karena tidak bisa membeli barang yang sangat ia
inginkan dengan uangnya sendiri. Alasannya, ia tidak ingin ribut
dengan suaminya, karena barang itu bukan termasuk kebutuhan
prioritas," Maria Lasswell mengungkap suatu kasus.
Pendapat Maria pun ternyata telah jauh hari dipraktekkan oleh
Ny. Arief Rachman, "Di luar kebutuhan wajib, kami berdua
bersepakat memprioritaskan pendidikan bagi anak kami untuk bekal
masa depan."
Kalau suatu ketika ada salah seorang anaknya meminta uang, ia
akan melihat tujuan penggunaannya dan seberapa mendesak. Sekiranya
kurang mendesak ia berusaha tidak memberikan jawaban yang
mengecilkan, misalnya, "Bukannya Ibu tidak punya uang, tapi
dilihat dulu ya, karena keperluan kita banyak." Hal ini tak lain
juga untuk menanamkan pengertian pada anak-anak bahwa orang tua
pun tidak mudah dalam mendapatkan uang.
Penentuan prioritas kebutuhan paling terasa manfaatnya bila
ingin membeli barang kebutuhan yang cukup mahal. Bahkan bila
barang tersebut tidak sangat perlu, menurut pengalaman Ny. Arief
Rachman, tidak tertutup kemungkinan pengadaannya ditunda.
"Bagi orang lain mungkin mobil termasuk kebutuhan penting,
namun bagi kami saat itu, memiliki rumah yang cukup baik lebih
mendesak untuk diadakan," ujarnya memberikan contoh.
Pertimbangan yang sama ia berlakukan dalam memenuhi keinginan
pribadinya. "Saya akan pakai barang yang sudah ada saja, tapi
tidak pernah berangan-angan. Kalau memang tidak bisa beli
perhiasan, ya tidak usah beli," paparnya tentang prinsipnya tidak
ngoyo untuk membeli sesuatu yang sanggup dia beli.
Kepentingan pribadi = kepentingan keluarga Namun sebagai pasangan yang terdiri atas individu-individu,
tak jarang setiap individu memiliki keinginan untuk membeli
sesuatu yang bukan bagian dari prioritas kebutuhan keluarga.
Menyikapi keadan tersebut, Ny Arief Rachman berpendapat,
"Harus masuk di akal, jangan sampai membabi buta sehingga
mengganggu urusan sehari-hari. Selain dana yang digunakan harus
berasal dari dana yang semula hanya disimpan, juga dilihat
kesempatan untuk mendapatkannya."
Sering ia diingatkan suaminya karena berpikir berlama-lama
untuk membeli atau tidak sebuah barang, "Kalau uangnya cukup,
barangnya pun tinggal satu-satunya, atau kesempatannya cuma saat
itu, kata Bapak, 'Wis ojo mikir-mikir, beli saja.' Takutnya,
jangan sampai sudah capek mikir, kita tidak bisa beli barang itu
karena kita sudah jauh atau barang itu sudah nggak ada. Kita pun
kecewa sepanjang hari." Kekecewaan itulah yang, menurutnya, mahal
dan sulit ditebus.
Dalam hal membelanjakan uang untuk kepentingan individu suami
atau istri, Sutrisno kembali mengutamakan pentingnya keterbukaan.
"Katakan saja, apa yang diperlukan. Seandainya, istri memerlukan
tata rias, keperluan itu jangan diartikan sebagai keperluan
pribadi istri. Karena, istri cantik dan rapi itu 'kan untuk
menyenangkan keluarga juga." Demikian sebaliknya, bila suatu
ketika suami harus mengeluarkan uang untuk menjamu rekan kantor,
tentu didasarkan untuk kepentingan keluarga.
Kesadaran ini pun harus terus dipertahankan, agar jangan
sampai terjerumus untuk berperilaku boros. Bagi mereka yang cenderung berwatak demikian, "Jangan pernah bosan mengingatkan
akibatnya bila kita mengeluarkan dana di luar kemampuan. Walaupun
lebihnya sedikit, lama-lama jadi besar. Belum lagi kalau
kekurangan itu berusaha ditutup dengan berutang," ujar Sutrisno
menganjurkan untuk menghindari utang yang dipergunakan untuk
memenuhi kebutuhan konsumtif karena bisa menjerat leher semakin
dalam.
Utang tersebut berbeda dengan melakukan kredit pemilikan
rumah di bank. "Biasanya pihak bank sudah memperhitungkan
kemampuan kreditor." Dalam keadaan demikian Sutrisno mengingatkan,
"Jumlah uang yang kita pakai untuk kebutuhan hidup bukan lagi
sebesar seluruh gaji kita, melainkan gaji dikurangi utang terhadap
bank."
Pemotongan langsung terhadap pendapatan tersebut pun, menurut
Pimpinan Proyek S1-D3 LPPM itu, berlaku pada mereka yang tidak
memiliki kredit rumah, "Tapi untuk tabungan yang besarnya bisa
ditentukan sendiri dengan suatu persentase tertentu, tergantung
pada besarnya pendapatan." Untuk mereka yang memiliki pendapatan
yang sekadar cukup, ia menganjurkan, perlu menyisihkan minimal
10%.
Dalam keadaan kurang, nilai yang disisihkan pun tidak
seharusnya dikurangi, "Karena tabungan bukanlah sisa kelebihan.
Tabungan sebenarnya adalah kebutuhan sekarang untuk digunakan
nanti. Jadi sama dengan membeli kebutuhan wajib lainnya, beras
misalnya. Tabungan adalah pengeluaran dana yang wajib kita
sisihkan langsung setelah menerima gaji."
Lambat laun tabungan tersebut akan membesar, sehingga
pemiliknya akan dipaksa berpikir untuk apa uang simpanannya.
"Investasi misalnya. Bentuknya bisa bermacam-macam, emas batangan,
saham, malah kalau cukup besar bisa untuk membeli tanah."
Menurut Ny. Arief Rachman, pembicaraan tentang uang itu
sensitif. Bila ada istri atau suami yang terpaksa ingin tahu
berapa banyak tabungan milik pasangannya, ia menganjurkan untuk
lebih teliti memilih kata-kata.
"Pengalaman saya, selain lagu bahasa yang lembut, kata
'barangkali' bisa menghaluskan pertanyaan, misalnya 'Bapak punya
uang di bank, barangkali?' Sehingga suami tidak merasa seperti
ditodong," ujar wanita berkulit terang tersebut memaparkan
strateginya untuk menghindari perselisihan karena uang. (Shinta
Teviningrum)
Ada uang semua beres. Pemeo tersebut bisa
benar, tapi sering pula tidak, apalagi
bila diterapkan dalam kehidupan berumah
tangga. Persoalan uang malah sering
dituding sebagi biang pemicu perselisihan
dalam keluarga. Bagaimana sebaiknya
pasangan suami-istri (pasutri) mengelola
keuangan keluarga, paparan berikut boleh
diambil manfaatnya.
Perselisihan karena uang, Sutrisno mengamati, bisa dibagi
menjadi 2 golongan berdasarkan penyebabnya, yaitu karena kurangnya
jumlah dana dan tiadanya keterbukaan di antara pasutri. Menurut
pengalamannya sebagai konsultan masalah rumah tangga selama + 20 tahun, masalah kekurangan uang banyak terjadi di kalangan ekonomi
menengah bawah, sedangkan masalah ketidakterbukaan sering muncul
di keluarga kelompok ekonomi atas.
"Uang saya, uang kamu"