Betapa kesal Amat, seorang sopir taksi, saat mengantarkan
George, turis warga Amerika yang juga insinyur bangunan, keliling
Kota Jakarta. Bagaimana tidak! Setiap jawaban yang ia berikan
tentang lama pembangunan suatu bangunan selalu dilecehkan. Kurang
kreatiflah, terlalu lama, bangsa pemalas, dll. Ketika suatu ketika
melewati jalan layang yang panjang sekali, George terkagum-kagum.
Seperti biasa ia langsung tanya, "Lamakah untuk membikin jalan
ini?"
Amat menjawab sekenanya, "Maaf Tuan, saya tidak tahu. Barusan
saya lewat sini, jalan ini belum ada!"
Malah disuruh bikin peta
Anekdot di atas sekadar gurauan untuk menggambarkan betapa
cepatnya perubahan yang terjadi di Jakarta. Jawaban Amat yang
mungkin terinspirasi oleh legenda Bandung Bandawasa langsung
menohok kesombongan George. Boleh jadi George tidak percaya. Tapi
bagi Gunther W. Holtorf, jawaban Amat di atas setidaknya mewakili
kekagumannya atas pesatnya pembangunan di kawasan Jabotabek.
Unbelievable! Itulah komentar yang sering terlontar dari mulut
Gunther soal pembangunan di kawasan Jabotabek (Jakarta, Bogor,
Tangerang, Bekasi, Karawang) ketika ngobrol dengan Intisari pada
suatu sore di bulan Maret 1997.
Nama Gunther W. Holtorf memang tak populer bagi warga
Jabotabek; bahkan mereka yang sering menggunakan peta terbitan
FALK-Verlag AG sekalipun. Padahal, dialah orang di balik buku peta
berukuran 19,5 x 27 cm2, berwarna kuning dan biru dengan sketsa
tugu Monas itu.
Berbicara dengan Gunther kita seperti dibawa menyusuri
relung-relung gang sempit di kawasan Tanah Abang maupun Tanjung
Priok, serta keteduhan jalan-jalan kecil di Bogor yang rumit.
Setiap tutur katanya seakan melemparkan pendengarnya ke hamparan
realestat maupun padang golf yang semakin membengkak jumlahnya.
Dari gerak tubuh dan mimiknya terpancar riuh-rendahnya Jabotabek
memulas wajahnya. Sorot matanya menyiratkan "mimpi-mimpi"
Jabotabek yang akan diwujudnyatakan. Sementara itu, jerih payahnya
membuat kita tidak akan tersesat ketika ingin menyusuri jalanan di
Jabotabek.
Bagi Jakarta Gunther bukan orang asing. Antara tahun 1973 -
1979 ia tinggal di sana sebagai manajer kantor perwakilan
penerbangan Jerman, Lufthansa, di Indonesia. Latar belakang
pendidikannya memang bidang ekonomi dan pernah mengikuti
pendidikan penerbang. Satu hal yang ia hadapi begitu menginjakkan
kaki di sini adalah kesulitannya menghafal nama-nama jalan.
Padahal waktu itu Jakarta belumlah serumit sekarang.
Ia pun kemudian mendatangi Dinas Tata Kota untuk mencari peta
Jakarta yang lengkap. Bukan peta yang ia dapat. "Petugas Dinas
Tata Kota malah menganjurkan saya untuk membuatnya," tutur Holtorf
(Tempo, 16 November 1991). Dari dinas itu ia hanya mendapatkan
peta tua peninggalan Belanda. Di situ hanya ada Jatinegara,
Menteng, Kota, dan sedikit daerah Kebayoran. Kemang, tempat ia
tinggal, belum tercantum.
"Perintah" dari petugas Dinas Tata Kota itu seakan mengusik
Holtorf. Terlebih sewaktu mengadakan hajatan, ia terpaksa membuat
sket peta untuk menunjukkan lokasi rumahnya, berhubung banyak yang
tidak kenal daerah tersebut. Berangkat dari hal itu, juga keluhan
teman maupun wisatawan akan tiadanya peta Jakarta, Gunther mulai
menggagas untuk membikinnya. Kebetulan hobinya bidang kartografi
yang urusannya memang membuat peta.
Holtorf juga melihat kota-kota di negara lain, semisal Buenos
Aires, Manila, Bangkok, maupun di Jerman sendiri sudah memiliki
peta yang kualitasnya sangat baik. Niat ini ternyata didukung
Gubernur DKI Jakarta (waktu itu) Ali Sadikin.
Pertama di Indonesia
Mulailah ia bergerilya di dalam Kota Jakarta, menyusuri gang
dan jalan menggunakan mobilnya dari pukul 06.00 - 09.00 setiap
hari sebelum masuk kantor. Tak pelak hari-hari weekend-nya yang
semestinya ia nikmati habis tersita.
Tak gampang ternyata melakukan kegiatan survei itu. Betapa
pun ia telah berbekal peta buatan Pemda DKI Jakarta, banyak jalan
yang namanya belum tertera dalam peta tersebut. Tak heran jika
tiga tahun kemudian, tahun 1977, peta itu baru beredar, bertepatan
dengan ulang tahun ke-450 Kota Jakarta. Dalam pesannya, Ali
Sadikin menyatakan, ini peta pertama untuk Indonesia yang
memberikan gambaran menyeluruh dan nyata tentang ibu kota Jakarta.
Peta pertamanya hanya berupa lembaran kertas berukuran
sekitar 40 cm2 dan hanya satu sisi. Bentuknya masih "lucu", sampai
Holtorf sendiri mengoloknya sebagai peta anak-anak. Meski begitu
Ali Sadikin sangat gembira, mengingat sebelumnya belum ada peta.
Daerah yang dipetakan membentang dari Ancol hingga Kebayoran
(sedikit Kemang tapi Pasar Minggu, Fatmawati, dan Kalibata belum
masuk) dan dari Grogol hingga Sunter. Peta itu dicetak di
Hungaria.
Jika kemudian sampai tahun 1997, saat diluncurkan edisi ke-11, ia masih berkutat dengan peta Jakarta, apakah yang menyebabkan
itu semua? Tantangan! "Masalah utama, Jakarta berkembang sangat
pesat, sehingga situasinya berbeda kalau membuat peta di kota
lain, semisal Eropa," ujarnya (Kompas, 28 November 1991).
Di Eropa, kota-kota tidak berkembang terlalu pesat. Di
samping itu, pemerintah daerah setempat sudah memiliki cetak biru
peta yang baik dan akurat sekali. Dengan pesatnya perkembangan
Kota Jakarta tersebut, peta yang sudah susah payah dibuat menjadi
basi. "Ibaratnya seperti koran," Holtorf menambahkan.
Tantangan lain, ada perbedaan ekstrem di antara jejalanan di
Jakarta. Ada yang terlalu kecil untuk dicantumkan (gang) atau
terlalu besar untuk digambarkan (jalan tol). Untuk membuat
komposisi yang bagus harus ada kompromi. Ambil contoh simpang
susun Cawang yang merupakan gerbang timur Kota Jakarta. Di situ
terdapat jembatan dengan dua jalur jalan tol, sekaligus terdapat
jalan biasa. Bagaimana menggambarkannya dalam satu lokasi dan
menuliskan nama-namanya agar mudah terbaca saja sudah menjadi
tantangan tersendiri.
Dirampok preman
Jika harus membalik kenangan saat pertama ia membuat peta
sampai peluncuran edisi ke-11, banyak cerita menarik yang terkuak.
Setidaknya Holtorf menjadi saksi mata berubahnya fisik Jakarta
yang mulai kemayu dengan ingar bingarnya "gincu" dan polesan
"bedak" di sana-sini. Mungkin ia juga tahu, wajah asli Jakarta
sudah terkubur oleh "bedak" pembangunan.
Holtorf juga menyimpan pengalaman-pengalaman lucu dan
mencekam selama ia "jalan-jalan", istilah baginya dalam kegiatan
survai. Ia menceritakan betapa sulitnya "jalan-jalan" di kawasan
Tanah Abang dan Tanjung Priok, yang katanya memang full preman. Suatu ketika tiba-tiba saja ban mobilnya kempis oleh paku yang
sengaja disebar oleh sejumlah orang yang berniat jahat. Walhasil,
ia harus merelakan tas dan peralatannya digondol pergi para
penjahat itu.
Namun tak jarang keramahan penduduk pinggiran membuatnya
rindu untuk menemui mereka. Saat ia harus mengecek kembali nama
jalan, apakah sudah berubah atau malah sudah hilang papan namanya,
penduduk dengan ramah menyapanya. "Halo, ini bule yang tahun
kemarin ke sini 'kan?" kata mereka. Mungkin karena sikapnya yang
ramah dan supel, juga tampang bule-nya. Beberapa di antara mereka
yang kebetulan bisa berbahasa Inggris atau Jerman mengajaknya
bercakap-cakap. Sebuah ajakan yang akan ditanggapi dengan senang
hati oleh pria yang mahir berbahasa Inggris dan Spanyol, selain
Jerman.
Yang jelas, Jakarta masih dalam proses menuju kemapanan
seperti kota-kota di Eropa. Untuk itu, pada setiap edisi ia tidak
hanya melakukan koreksi, tetapi disusurinya kembali Jakarta dengan
lika-liku gang-gangnya, lekuk-lurus jalan-jalannya, sebaran
perumahannya, bertambahnya realestat, maupun luasnya padang golf.
"Inilah yang membuat Jakarta semakin unik. Tidak ada kota lain
yang situasinya seperti ini," kata ayah dari Sabine (35) ini.
Bahkan dibandingkan dengan Bangkok, menyusun peta di Jakarta
lebih sulit. Di ibu kota Thailand itu permukiman dan jalannya
mengikuti kanal-kanal kuno sehingga sudah ada polanya. Kalau di
Jakarta, dengan kampungnya sekitar 170, jalan-jalan yang ada rapat dan tidak berpola. Tak jarang, setiap tahun ada pembongkaran atau
penggantian nama jalan.
Myself, me, I, dan saya
Sejak diterbitkan pertama kali tahun 1977, sampai sekarang
telah 11 edisi dilempar ke pasaran. Mengamati setiap edisi seperti
melihat semangat dan dedikasi Holtorf. Tak ada kata lelah dalam
wajahnya. Yang ada hanyalah raut sumringah dan bungah meski
tantangan yang dihadapi semakin bertambah, seiring dengan mekarnya
permukiman dan gedung baru.
Membandingkan peta setiap edisi juga seperti melihat tumbuh
berkembangnya Jakarta menjadi kota metropolitan. Menggemuknya
Jakarta dengan menelan daerah sekitar dan tergabungnya Bogor dan
Karawang membuat jarak yang disusuri Holtorf semakin panjang.
Inilah sebabnya, mengapa antara edisi 10 dan 11 ada masa
"istirahat" selama hampir 4 tahun.
Dengan cakupan daerah yang luas itu dan banyaknya entri yang
harus disurvai, berapa orang yang terlibat dalam pembuatan peta
tersebut? "First was myself, then me, and then I, ... and then ...
saya," kelakar Holtorf tanpa berniat menyombongkan diri. Bukan
menolak bantuan, namun menurut Holtorf, masalahnya yang tahu
persis tentang wilayah Jakarta termasuk daerah yang akan
dikembangkan hanyalah dia. Jadi relatif lebih mudah mengerjakannya
sendiri daripada bersama-sama. "Kalau orang lain ikut, barangkali
dia harus memulai dari awal lagi," tambahnya.
Untuk survai lapangan memang ia sendirian, meski tak jarang
ditemani istrinya, Christine (42). Tentu juga dengan mobil
setianya. Christine pula yang membantunya memasukkan nama-nama
jalan, kompleks perumahan, hotel, lapangan golf, dan item-item
lainnya. Di sinilah pekerjaan yang melelahkan dan menyita banyak
waktu. Bayangkan saja, ada sekitar 1.150 realestat komersial yang
harus ia cek satu per satu. Kemudian 600-an kompleks perumahan.
Belum ratusan gedung perkantoran.
Itu baru bangunan; masih ada jalan maupun gang. Sedangkan
untuk pengerjaan gambarnya ia dibantu oleh kartografer Agnes G.
Hegedusne dan teman-temannya di Cartographia, Budapest, Hungaria.
"Semua gambar yang ada dalam peta, 100% hasil goresan tangan (hand
made). Bukan dengan komputer yang tinggal mengkopi untuk gambar
yang sama," katanya.
Tak ada Jl. Palmerah Selatan
Hubungan yang terjalin dengan pihak terkait adalah kunci
baginya dalam setiap pembuatan peta. Setidaknya ia mengunjungi
Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Tata Kota, Bina Marga, Jasa Marga,
para lurah dan camat, pengembang, maupun pemilik-pemilik gedung
jangkung di kawasan segi tiga emas. Tak heran kalau Holtorf pun
hafal dengan pejabat atau orang yang terkait dalam tugasnya.
"Mereka sangat kooperatif karena mereka nantinya akan memerlukan
peta itu juga," katanya.
Satu hal yang menjadi kendala dalam menyiapkan edisi 11 ini,
kemacetan! "Sangat menghambat dan membuang banyak waktu," jawabnya mengomentari parahnya kemacetan di Jakarta. "Seandainya jalan
tidak macet, banyak waktu dan tenaga yang bisa saya hemat,"
tambahnya. Edisi terbaru itu ia selesaikan dengan menyisihkan
waktu hampir 400 hari "kerja" dengan "jadwal" dari, "Early morning
sampai late evening," akunya.
Dalam edisi 11, Holtorf harus memelototi ratusan foto udara.
Pemanfaatan foto udara baru dimulai sejak 1992, saat menyelesaikan
edisi 9, dan mulai memasukkan Tangerang dan Bekasi. "Saya bekerja
sama dengan Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan
Tanah Nasional - Red.) dalam membikin foto udara tersebut," ucap
Holtorf. Masing-masing foto tersebut kemudian ia pindahkan ke
kertas dan kemudian ia cek ke lapangan.
Selain memindahkan nama jalan ke atas kertas, Holtorf juga
mengecek penulisan nama yang benar. Ia memberi contoh Cileduk,
padahal yang benar Ciledug (dengan g). Juga penulisan Jl.
Pattimura dengan dua "t". Tanpa ragu sedikit pun, ia kritik kantor
Gramedia yang masih menggunakan alamat Jl. Palmerah Selatan.
"Padahal yang benar Jl. Gelora VII," paparnya. Pada edisi 11 (juga
edisi 9 dan 10) memang tak ada indeks Palmerah Selatan; jika ada
orang mencari kantor Gramedia dengan alamat Jl. Palmerah Selatan
menggunakan peta edisi 11, siap-siaplah untuk kecewa.
Dengan begitu banyaknya pekerjaan yang harus ditangani, ia
terkadang dilanda kebosanan. "Ya, saya tak bisa mengelak soal itu.
Ingin rasanya menyudahi hobi ini. Tapi begitu mentari bersinar di
pagi hari, tiba-tiba muncul semangat lagi." Jika kebosanan
menderanya, Holtorf berhenti dulu dan mencoba bersikap santai. "Toh, waktu tak mengejar saya," jawabnya diplomatis. Ia pun
menyadari, akan ada banyak orang yang terbantu dengan hasil
karyanya. "Tak jauh-jauh, saya sendiri untuk pergi ke pelosok
Jakarta pun menggunakannya, ha .. ha .. ha ...," akunya.
Sabine, putri dari istri pertamanya pun menyarankannya untuk
berhenti. "Ia menyuruh saya melakukan 'jalan-jalan' yang lain,"
kata Holtorf. Putri semata wayangnya itu juga menganggap ayahnya
"gila" dengan pekerjaannya tersebut. Tapi ia menjelaskan kepada
Sabine, pembuatan peta ini bukan semata-mata demi uang tapi
mencari kesibukan setelah pensiun.
Kesuksesannya "memindahkan" Jabotabek ke dalam buku setebal
353 halaman dengan cetakan yang mewah membuat ia ditawari untuk
melakukan hal yang sama untuk Kota Surabaya, Semarang, dan
Bandung. Namun ia mengakui, waktunya sudah tidak ada. Selain itu,
tingkat kebutuhan penduduk daerah tersebut akan peta belum
setinggi Jakarta. Namun ia bercita-cita untuk membuat peta jalan
seantero Jawa.
Percepat jalan lingkar
Dengan kadar pengenalan jalan-jalan di Jakarta dan sekitarnya
yang di luar kepala ini, ketika ditanya solusi untuk mengatasi
kemacetan Holtorf hanya menjawab, "Yes ... yes ... yes ... yes
...." Lalu meluncurlah ide-idenya yang sudah menggantung di
benaknya.
"Untuk jangka pendek, percepat penyelesaian pembangunan jalan
lingkar," usulnya. Ia mengalami sendiri terjebak kemacetan hampir 1 jam di pintu keluar tol Grogol, saat menuju ke kantor Intisari.
Kemacetan itu bisa dikurangi seandainya jalan lingkar sudah
berfungsi. Dengan begitu, orang yang mau ke daerah timur tak harus
melewati Grogol.
Untuk jangka panjang Holtorf mengimbau Pemda Jakarta agar
mengoperasikan MRT (Mass Rapid Transportation). "Itu suatu hal
yang sudah tak perlu dibahas lagi," katanya. Transportasi dalam
kota harus berbasiskan kereta api, bukan bus atau mobil seperti
saat ini. Holtorf memberikan contoh kota-kota di Eropa, Buenos
Aires, maupun New York di mana kereta bawah tanah sudah membudaya.
Selain itu juga perlu adanya ketua atau "bapak" Jabotabek.
Tak bisa dipungkiri, Jakarta sekarang bukanlah DKI saja, tapi juga
Cinere, Ciputat, dan lebih luas lagi Tangerang, Bekasi, Karawang,
dan Bogor. Keadaan sekarang membuat koordinasi di antara pemda-pemda se-Jabotabek menjadi kurang mulus. Ia memberi contoh kasus
Cinere. Secara administratif milik Bogor. Namun Pemda Bogor
bilang, penduduk Cinere adalah orang Jakarta. "Lihat saja telepon
maupun alamat surat yang mereka pakai," kilah Pemda Bogor.
Ketakjelasan status kewilayahan itu menimbulkan kebingungan
bagi Cinere sendiri. Di sini hanya ada jalan-jalan tikus, yang
sempit dan rusak. Ketika Cinere berteriak-teriak minta diperbaiki,
kedua "pemilik" tak mengakui keberadannya. "Nah, dengan adanya
ketua atau bapak Jabotabek, masalah itu bisa diatasi dengan cepat
karena koordinasi berada dalam satu tangan," papar Holtorf.
Selain macet, kesan lain yang membayang dalam pikiran Holtorf
adalah "kecuali". "Jakarta adalah kota kecuali," sindirnya. Ia melihat begitu banyak diskriminasi terhadap angkutan maupun jam
tertentu untuk melewati suatu jalan. Menyebut beberapa contoh
kecuali itu antara lain, dilarang belok kanan antara pukul 10.00 -
17.00, dari pukul 06.30 - 10.00 hanya mobil yang berpenumpang 3
boleh masuk kawasan ini, maupun jalur khusus bus dan angkutan
umum.
Dengan beredarnya peta edisi 11 yang rencananya akan dicetak
sebanyak 80.000 eksemplar dengan harga Rp 58.000,- (edisi
sebelumnya dicetak sebanyak 90.000 dengan harga Rp 34.000,-)
pekerjaan Holtorf belumlah usai. Ia masih akan menerbitkan peta-peta baru tiap tahun. Edisi 12 direncanakan terbit April 1998
serta edisi 13 tahun 1999. Padahal ia sudah mengakui, "Very very
very tired," ungkap penerima piagam penghargaan dari Gubernur DKI
Tjokropranolo ini dengan jujur.
Pekerjaan Holtorf juga termasuk mengawasi pencetakan dan
penjilidan petanya. "Saya tak ingin ada kesalahan yang
membingungkan pemakai. Setiap detail saya cek lagi," katanya.
Harus diakui, seperti Eiko Atnakusumah (Intisari, Februari 1997),
Gunther W. Holtorf menambah panjang deretan perbendaharaan jumlah
orang-orang asing yang peduli terhadap negara kita. Ia hanya
"berdiam diri" ketika hasil karyanya dikagumi melalui sebuah
penjiplakan tanpa izin. Toh, bukan uang yang dicarinya. Tapi
bagaimana hidup ini bisa berarti! Sebuah jawaban yang membuat kita
malu dan meninggalkan sebuah pertanyaan, "Dengan kondisi begitu,
kapan kita bisa mandiri?" (Yds. Agus Surono/L.R. Supriyapto
Yahya/G. Sujayanto)