JAKARTA ITU
MILIK
GUNTHER W. HOLTORF



Peta Jakarta Tidak percaya, tanya saja pada Gunther W. Holtorf yang orang Jerman itu. Pelosok Jabotabek mana yang tidak ia kenal. Sejak 20 tahun lalu, lelaki berusia 59 tahun itu sudah menyusuri setiap gang, melewati jalan, bulevar, dan jalan tol, juga permukiman dan padang golf di kawasan itu sendirian. Suatu pekerjaan yang melelahkan dan "gila". Bermodalkan hobi seni kartografi, ia pindahkan hasil kegilaannya itu ke atas kertas. Jadilah buku peta Jabotabek hingga edisi ke-11, setebal 353 halaman.

     Betapa kesal Amat, seorang sopir taksi, saat mengantarkan George, turis warga Amerika yang juga insinyur bangunan, keliling Kota Jakarta. Bagaimana tidak! Setiap jawaban yang ia berikan tentang lama pembangunan suatu bangunan selalu dilecehkan. Kurang kreatiflah, terlalu lama, bangsa pemalas, dll. Ketika suatu ketika melewati jalan layang yang panjang sekali, George terkagum-kagum. Seperti biasa ia langsung tanya, "Lamakah untuk membikin jalan ini?"

     Amat menjawab sekenanya, "Maaf Tuan, saya tidak tahu. Barusan saya lewat sini, jalan ini belum ada!"

Malah disuruh bikin peta

     Anekdot di atas sekadar gurauan untuk menggambarkan betapa cepatnya perubahan yang terjadi di Jakarta. Jawaban Amat yang mungkin terinspirasi oleh legenda Bandung Bandawasa langsung menohok kesombongan George. Boleh jadi George tidak percaya. Tapi bagi Gunther W. Holtorf, jawaban Amat di atas setidaknya mewakili kekagumannya atas pesatnya pembangunan di kawasan Jabotabek. Unbelievable! Itulah komentar yang sering terlontar dari mulut Gunther soal pembangunan di kawasan Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Karawang) ketika ngobrol dengan Intisari pada suatu sore di bulan Maret 1997.

     Nama Gunther W. Holtorf memang tak populer bagi warga Jabotabek; bahkan mereka yang sering menggunakan peta terbitan FALK-Verlag AG sekalipun. Padahal, dialah orang di balik buku peta berukuran 19,5 x 27 cm2, berwarna kuning dan biru dengan sketsa tugu Monas itu.

Gunther W. Holtorf
     Berbicara dengan Gunther kita seperti dibawa menyusuri relung-relung gang sempit di kawasan Tanah Abang maupun Tanjung Priok, serta keteduhan jalan-jalan kecil di Bogor yang rumit. Setiap tutur katanya seakan melemparkan pendengarnya ke hamparan realestat maupun padang golf yang semakin membengkak jumlahnya. Dari gerak tubuh dan mimiknya terpancar riuh-rendahnya Jabotabek memulas wajahnya. Sorot matanya menyiratkan "mimpi-mimpi" Jabotabek yang akan diwujudnyatakan. Sementara itu, jerih payahnya membuat kita tidak akan tersesat ketika ingin menyusuri jalanan di Jabotabek.

     Bagi Jakarta Gunther bukan orang asing. Antara tahun 1973 - 1979 ia tinggal di sana sebagai manajer kantor perwakilan penerbangan Jerman, Lufthansa, di Indonesia. Latar belakang pendidikannya memang bidang ekonomi dan pernah mengikuti pendidikan penerbang. Satu hal yang ia hadapi begitu menginjakkan kaki di sini adalah kesulitannya menghafal nama-nama jalan. Padahal waktu itu Jakarta belumlah serumit sekarang.

     Ia pun kemudian mendatangi Dinas Tata Kota untuk mencari peta Jakarta yang lengkap. Bukan peta yang ia dapat. "Petugas Dinas Tata Kota malah menganjurkan saya untuk membuatnya," tutur Holtorf (Tempo, 16 November 1991). Dari dinas itu ia hanya mendapatkan peta tua peninggalan Belanda. Di situ hanya ada Jatinegara, Menteng, Kota, dan sedikit daerah Kebayoran. Kemang, tempat ia tinggal, belum tercantum.

     "Perintah" dari petugas Dinas Tata Kota itu seakan mengusik Holtorf. Terlebih sewaktu mengadakan hajatan, ia terpaksa membuat sket peta untuk menunjukkan lokasi rumahnya, berhubung banyak yang tidak kenal daerah tersebut. Berangkat dari hal itu, juga keluhan teman maupun wisatawan akan tiadanya peta Jakarta, Gunther mulai menggagas untuk membikinnya. Kebetulan hobinya bidang kartografi yang urusannya memang membuat peta.

     Holtorf juga melihat kota-kota di negara lain, semisal Buenos Aires, Manila, Bangkok, maupun di Jerman sendiri sudah memiliki peta yang kualitasnya sangat baik. Niat ini ternyata didukung Gubernur DKI Jakarta (waktu itu) Ali Sadikin.

Pertama di Indonesia

     Mulailah ia bergerilya di dalam Kota Jakarta, menyusuri gang dan jalan menggunakan mobilnya dari pukul 06.00 - 09.00 setiap hari sebelum masuk kantor. Tak pelak hari-hari weekend-nya yang semestinya ia nikmati habis tersita.

     Tak gampang ternyata melakukan kegiatan survei itu. Betapa pun ia telah berbekal peta buatan Pemda DKI Jakarta, banyak jalan yang namanya belum tertera dalam peta tersebut. Tak heran jika tiga tahun kemudian, tahun 1977, peta itu baru beredar, bertepatan dengan ulang tahun ke-450 Kota Jakarta. Dalam pesannya, Ali Sadikin menyatakan, ini peta pertama untuk Indonesia yang memberikan gambaran menyeluruh dan nyata tentang ibu kota Jakarta.

     Peta pertamanya hanya berupa lembaran kertas berukuran sekitar 40 cm2 dan hanya satu sisi. Bentuknya masih "lucu", sampai Holtorf sendiri mengoloknya sebagai peta anak-anak. Meski begitu Ali Sadikin sangat gembira, mengingat sebelumnya belum ada peta. Daerah yang dipetakan membentang dari Ancol hingga Kebayoran (sedikit Kemang tapi Pasar Minggu, Fatmawati, dan Kalibata belum masuk) dan dari Grogol hingga Sunter. Peta itu dicetak di Hungaria.

Peta2 Gunther
     Jika kemudian sampai tahun 1997, saat diluncurkan edisi ke-11, ia masih berkutat dengan peta Jakarta, apakah yang menyebabkan itu semua? Tantangan! "Masalah utama, Jakarta berkembang sangat pesat, sehingga situasinya berbeda kalau membuat peta di kota lain, semisal Eropa," ujarnya (Kompas, 28 November 1991).

     Di Eropa, kota-kota tidak berkembang terlalu pesat. Di samping itu, pemerintah daerah setempat sudah memiliki cetak biru peta yang baik dan akurat sekali. Dengan pesatnya perkembangan Kota Jakarta tersebut, peta yang sudah susah payah dibuat menjadi basi. "Ibaratnya seperti koran," Holtorf menambahkan.

     Tantangan lain, ada perbedaan ekstrem di antara jejalanan di Jakarta. Ada yang terlalu kecil untuk dicantumkan (gang) atau terlalu besar untuk digambarkan (jalan tol). Untuk membuat komposisi yang bagus harus ada kompromi. Ambil contoh simpang susun Cawang yang merupakan gerbang timur Kota Jakarta. Di situ terdapat jembatan dengan dua jalur jalan tol, sekaligus terdapat jalan biasa. Bagaimana menggambarkannya dalam satu lokasi dan menuliskan nama-namanya agar mudah terbaca saja sudah menjadi tantangan tersendiri.

Dirampok preman

     Jika harus membalik kenangan saat pertama ia membuat peta sampai peluncuran edisi ke-11, banyak cerita menarik yang terkuak. Setidaknya Holtorf menjadi saksi mata berubahnya fisik Jakarta yang mulai kemayu dengan ingar bingarnya "gincu" dan polesan "bedak" di sana-sini. Mungkin ia juga tahu, wajah asli Jakarta sudah terkubur oleh "bedak" pembangunan.

     Holtorf juga menyimpan pengalaman-pengalaman lucu dan mencekam selama ia "jalan-jalan", istilah baginya dalam kegiatan survai. Ia menceritakan betapa sulitnya "jalan-jalan" di kawasan Tanah Abang dan Tanjung Priok, yang katanya memang full preman. Suatu ketika tiba-tiba saja ban mobilnya kempis oleh paku yang sengaja disebar oleh sejumlah orang yang berniat jahat. Walhasil, ia harus merelakan tas dan peralatannya digondol pergi para penjahat itu.

     Namun tak jarang keramahan penduduk pinggiran membuatnya rindu untuk menemui mereka. Saat ia harus mengecek kembali nama jalan, apakah sudah berubah atau malah sudah hilang papan namanya, penduduk dengan ramah menyapanya. "Halo, ini bule yang tahun kemarin ke sini 'kan?" kata mereka. Mungkin karena sikapnya yang ramah dan supel, juga tampang bule-nya. Beberapa di antara mereka yang kebetulan bisa berbahasa Inggris atau Jerman mengajaknya bercakap-cakap. Sebuah ajakan yang akan ditanggapi dengan senang hati oleh pria yang mahir berbahasa Inggris dan Spanyol, selain Jerman.

     Yang jelas, Jakarta masih dalam proses menuju kemapanan seperti kota-kota di Eropa. Untuk itu, pada setiap edisi ia tidak hanya melakukan koreksi, tetapi disusurinya kembali Jakarta dengan lika-liku gang-gangnya, lekuk-lurus jalan-jalannya, sebaran perumahannya, bertambahnya realestat, maupun luasnya padang golf. "Inilah yang membuat Jakarta semakin unik. Tidak ada kota lain yang situasinya seperti ini," kata ayah dari Sabine (35) ini.

     Bahkan dibandingkan dengan Bangkok, menyusun peta di Jakarta lebih sulit. Di ibu kota Thailand itu permukiman dan jalannya mengikuti kanal-kanal kuno sehingga sudah ada polanya. Kalau di Jakarta, dengan kampungnya sekitar 170, jalan-jalan yang ada rapat dan tidak berpola. Tak jarang, setiap tahun ada pembongkaran atau penggantian nama jalan.

Myself, me, I, dan saya

     Sejak diterbitkan pertama kali tahun 1977, sampai sekarang telah 11 edisi dilempar ke pasaran. Mengamati setiap edisi seperti melihat semangat dan dedikasi Holtorf. Tak ada kata lelah dalam wajahnya. Yang ada hanyalah raut sumringah dan bungah meski tantangan yang dihadapi semakin bertambah, seiring dengan mekarnya permukiman dan gedung baru.

Peta Jakarta lembaran.
     Membandingkan peta setiap edisi juga seperti melihat tumbuh berkembangnya Jakarta menjadi kota metropolitan. Menggemuknya Jakarta dengan menelan daerah sekitar dan tergabungnya Bogor dan Karawang membuat jarak yang disusuri Holtorf semakin panjang. Inilah sebabnya, mengapa antara edisi 10 dan 11 ada masa "istirahat" selama hampir 4 tahun.

     Dengan cakupan daerah yang luas itu dan banyaknya entri yang harus disurvai, berapa orang yang terlibat dalam pembuatan peta tersebut? "First was myself, then me, and then I, ... and then ... saya," kelakar Holtorf tanpa berniat menyombongkan diri. Bukan menolak bantuan, namun menurut Holtorf, masalahnya yang tahu persis tentang wilayah Jakarta termasuk daerah yang akan dikembangkan hanyalah dia. Jadi relatif lebih mudah mengerjakannya sendiri daripada bersama-sama. "Kalau orang lain ikut, barangkali dia harus memulai dari awal lagi," tambahnya.

     Untuk survai lapangan memang ia sendirian, meski tak jarang ditemani istrinya, Christine (42). Tentu juga dengan mobil setianya. Christine pula yang membantunya memasukkan nama-nama jalan, kompleks perumahan, hotel, lapangan golf, dan item-item lainnya. Di sinilah pekerjaan yang melelahkan dan menyita banyak waktu. Bayangkan saja, ada sekitar 1.150 realestat komersial yang harus ia cek satu per satu. Kemudian 600-an kompleks perumahan. Belum ratusan gedung perkantoran.

     Itu baru bangunan; masih ada jalan maupun gang. Sedangkan untuk pengerjaan gambarnya ia dibantu oleh kartografer Agnes G. Hegedusne dan teman-temannya di Cartographia, Budapest, Hungaria. "Semua gambar yang ada dalam peta, 100% hasil goresan tangan (hand made). Bukan dengan komputer yang tinggal mengkopi untuk gambar yang sama," katanya.

Tak ada Jl. Palmerah Selatan

     Hubungan yang terjalin dengan pihak terkait adalah kunci baginya dalam setiap pembuatan peta. Setidaknya ia mengunjungi Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Tata Kota, Bina Marga, Jasa Marga, para lurah dan camat, pengembang, maupun pemilik-pemilik gedung jangkung di kawasan segi tiga emas. Tak heran kalau Holtorf pun hafal dengan pejabat atau orang yang terkait dalam tugasnya. "Mereka sangat kooperatif karena mereka nantinya akan memerlukan peta itu juga," katanya.

     Satu hal yang menjadi kendala dalam menyiapkan edisi 11 ini, kemacetan! "Sangat menghambat dan membuang banyak waktu," jawabnya mengomentari parahnya kemacetan di Jakarta. "Seandainya jalan tidak macet, banyak waktu dan tenaga yang bisa saya hemat," tambahnya. Edisi terbaru itu ia selesaikan dengan menyisihkan waktu hampir 400 hari "kerja" dengan "jadwal" dari, "Early morning sampai late evening," akunya.

     Dalam edisi 11, Holtorf harus memelototi ratusan foto udara. Pemanfaatan foto udara baru dimulai sejak 1992, saat menyelesaikan edisi 9, dan mulai memasukkan Tangerang dan Bekasi. "Saya bekerja sama dengan Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survai dan Pemetaan Tanah Nasional - Red.) dalam membikin foto udara tersebut," ucap Holtorf. Masing-masing foto tersebut kemudian ia pindahkan ke kertas dan kemudian ia cek ke lapangan.

     Selain memindahkan nama jalan ke atas kertas, Holtorf juga mengecek penulisan nama yang benar. Ia memberi contoh Cileduk, padahal yang benar Ciledug (dengan g). Juga penulisan Jl. Pattimura dengan dua "t". Tanpa ragu sedikit pun, ia kritik kantor Gramedia yang masih menggunakan alamat Jl. Palmerah Selatan. "Padahal yang benar Jl. Gelora VII," paparnya. Pada edisi 11 (juga edisi 9 dan 10) memang tak ada indeks Palmerah Selatan; jika ada orang mencari kantor Gramedia dengan alamat Jl. Palmerah Selatan menggunakan peta edisi 11, siap-siaplah untuk kecewa.

     Dengan begitu banyaknya pekerjaan yang harus ditangani, ia terkadang dilanda kebosanan. "Ya, saya tak bisa mengelak soal itu. Ingin rasanya menyudahi hobi ini. Tapi begitu mentari bersinar di pagi hari, tiba-tiba muncul semangat lagi." Jika kebosanan menderanya, Holtorf berhenti dulu dan mencoba bersikap santai. "Toh, waktu tak mengejar saya," jawabnya diplomatis. Ia pun menyadari, akan ada banyak orang yang terbantu dengan hasil karyanya. "Tak jauh-jauh, saya sendiri untuk pergi ke pelosok Jakarta pun menggunakannya, ha .. ha .. ha ...," akunya.

     Sabine, putri dari istri pertamanya pun menyarankannya untuk berhenti. "Ia menyuruh saya melakukan 'jalan-jalan' yang lain," kata Holtorf. Putri semata wayangnya itu juga menganggap ayahnya "gila" dengan pekerjaannya tersebut. Tapi ia menjelaskan kepada Sabine, pembuatan peta ini bukan semata-mata demi uang tapi mencari kesibukan setelah pensiun.

     Kesuksesannya "memindahkan" Jabotabek ke dalam buku setebal 353 halaman dengan cetakan yang mewah membuat ia ditawari untuk melakukan hal yang sama untuk Kota Surabaya, Semarang, dan Bandung. Namun ia mengakui, waktunya sudah tidak ada. Selain itu, tingkat kebutuhan penduduk daerah tersebut akan peta belum setinggi Jakarta. Namun ia bercita-cita untuk membuat peta jalan seantero Jawa.

Percepat jalan lingkar

     Dengan kadar pengenalan jalan-jalan di Jakarta dan sekitarnya yang di luar kepala ini, ketika ditanya solusi untuk mengatasi kemacetan Holtorf hanya menjawab, "Yes ... yes ... yes ... yes ...." Lalu meluncurlah ide-idenya yang sudah menggantung di benaknya.

     "Untuk jangka pendek, percepat penyelesaian pembangunan jalan lingkar," usulnya. Ia mengalami sendiri terjebak kemacetan hampir 1 jam di pintu keluar tol Grogol, saat menuju ke kantor Intisari. Kemacetan itu bisa dikurangi seandainya jalan lingkar sudah berfungsi. Dengan begitu, orang yang mau ke daerah timur tak harus melewati Grogol.

     Untuk jangka panjang Holtorf mengimbau Pemda Jakarta agar mengoperasikan MRT (Mass Rapid Transportation). "Itu suatu hal yang sudah tak perlu dibahas lagi," katanya. Transportasi dalam kota harus berbasiskan kereta api, bukan bus atau mobil seperti saat ini. Holtorf memberikan contoh kota-kota di Eropa, Buenos Aires, maupun New York di mana kereta bawah tanah sudah membudaya.

     Selain itu juga perlu adanya ketua atau "bapak" Jabotabek. Tak bisa dipungkiri, Jakarta sekarang bukanlah DKI saja, tapi juga Cinere, Ciputat, dan lebih luas lagi Tangerang, Bekasi, Karawang, dan Bogor. Keadaan sekarang membuat koordinasi di antara pemda-pemda se-Jabotabek menjadi kurang mulus. Ia memberi contoh kasus Cinere. Secara administratif milik Bogor. Namun Pemda Bogor bilang, penduduk Cinere adalah orang Jakarta. "Lihat saja telepon maupun alamat surat yang mereka pakai," kilah Pemda Bogor.

     Ketakjelasan status kewilayahan itu menimbulkan kebingungan bagi Cinere sendiri. Di sini hanya ada jalan-jalan tikus, yang sempit dan rusak. Ketika Cinere berteriak-teriak minta diperbaiki, kedua "pemilik" tak mengakui keberadannya. "Nah, dengan adanya ketua atau bapak Jabotabek, masalah itu bisa diatasi dengan cepat karena koordinasi berada dalam satu tangan," papar Holtorf.

     Selain macet, kesan lain yang membayang dalam pikiran Holtorf adalah "kecuali". "Jakarta adalah kota kecuali," sindirnya. Ia melihat begitu banyak diskriminasi terhadap angkutan maupun jam tertentu untuk melewati suatu jalan. Menyebut beberapa contoh kecuali itu antara lain, dilarang belok kanan antara pukul 10.00 - 17.00, dari pukul 06.30 - 10.00 hanya mobil yang berpenumpang 3 boleh masuk kawasan ini, maupun jalur khusus bus dan angkutan umum.

     Dengan beredarnya peta edisi 11 yang rencananya akan dicetak sebanyak 80.000 eksemplar dengan harga Rp 58.000,- (edisi sebelumnya dicetak sebanyak 90.000 dengan harga Rp 34.000,-) pekerjaan Holtorf belumlah usai. Ia masih akan menerbitkan peta-peta baru tiap tahun. Edisi 12 direncanakan terbit April 1998 serta edisi 13 tahun 1999. Padahal ia sudah mengakui, "Very very very tired," ungkap penerima piagam penghargaan dari Gubernur DKI Tjokropranolo ini dengan jujur.

     Pekerjaan Holtorf juga termasuk mengawasi pencetakan dan penjilidan petanya. "Saya tak ingin ada kesalahan yang membingungkan pemakai. Setiap detail saya cek lagi," katanya. Harus diakui, seperti Eiko Atnakusumah (Intisari, Februari 1997), Gunther W. Holtorf menambah panjang deretan perbendaharaan jumlah orang-orang asing yang peduli terhadap negara kita. Ia hanya "berdiam diri" ketika hasil karyanya dikagumi melalui sebuah penjiplakan tanpa izin. Toh, bukan uang yang dicarinya. Tapi bagaimana hidup ini bisa berarti! Sebuah jawaban yang membuat kita malu dan meninggalkan sebuah pertanyaan, "Dengan kondisi begitu, kapan kita bisa mandiri?" (Yds. Agus Surono/L.R. Supriyapto Yahya/G. Sujayanto)

rumah
Converted by WPAHTML
Created With HTML Assistant Pro - 5/11/97