PEDET PANGGANG, PURI &
CAPPUCINI

Peta sekitar Danau Maggiore.
Pedet (anak sapi) memang bukan makanan khas Italia, namun boleh dicoba. Santapan ditutup dengan segelas anggur merah dan secangkir kopi khas Italia, cappucini, sebelum atau sesudah menikamti sejumlah obyek wisata Danau Maggiore dengan tiga pulau indahnya dan puri. Selain ikut menghadiri simposium, wartawati Intisari Nanny Selamihardja sempat membawa oleh-oleh dari Stresa dan Milan, Italia.

     Buana sera, welcome to our restaurant...., demikianlah sambut ramah Giovanna Callegari, wanita cantik usia 40-an, pemilik restoran di atas tanah seluas 2000 m2 itu kepada rombongan pembicara serta peserta simposium para ahli obat Canesten produk perusahaan Bayer AG malam awal Maret lalu. Bangunan restoran anggun abad 18 di desa Lesa, di tepi Lago atau danau Maggiore, barat laut Italia dengan 12 ruangan di bawah dan 10 kamar tidur serta ruang keluarga di atas ini, didirikan oleh nenek moyang Giovanna sekitar tahun 1700, direnovasi tahun 1860 dan sekali lagi tahun 1980-an. Kapasitas tamunya 150 orang. Dari interior dan mebelnya kelihatan rumah ini bukan gaya abad sekarang, semuanya serba antik mulai dari tempat lilin, vas bunga, lampu, jam meja, pigura, lukisan, dll.

     Memasuki restoran L'antico Maniero ini, kita harus melewati kebun nan luas penuh pepohonan, hanya diterangi cahaya lilin kerkedip-kedip yang diletakkan di atas piring-piring kecil di samping kanan kiri jalan. "Agar terkesan lebih romantis," tutur ibu dua anak remaja ini. Angin semilir dingin menusuk tulang sekitar 2 - 6 Celsius malam menjelang musim semi itu menambah keromatisan suasana restoran megah ini.

     Makanannya yang dihidangkan khas tradisionil Italia. "Semua dengan cita rasa abad lalu," tambah Giovanna yang cukup mempunyai 7 tenaga pembantu saja. Diiringi piano dan suara merdu seorang penyanyi tua menyanyikan lagu-lagu Itali, rombongan simposium yang berasal dari pelbagai negara seperti Jerman, Inggris, Italia, Yunani, Swiss, AS, Kanada, Jepang dan Indonesia, mencicipi 3 macam hidangan utama dan dua hidangan ringan: dada bebek asap diolesi minyak zaitun dan keju parmesan, crepes, semacam pancake dengan saus rasa truffle (jamur langka berwarna coklat muda, tumbuh di bawah tanah yang konon hanya bisa ditemukan dengan bantuan hewan tertentu) dicampur keju, anak sapi panggang (cara memanggang secara utuh seperti kambing guling) lengkap dengan perkedel rasa keju. Sedangkan untuk hidangan penutup, puding busa dengan saus rasa stawberry dan tentu tak ketinggalan segelas anggur merah dan secangkir kopi khas Italia, Cappucini. Kalau Anda suka makanan berkeju pasti semua makanan ini terasa sedap. Sebaliknya, bagi lidah anti keju, jangan coba-coba!

Katedral Duomo.
     Mengintip harga makanan di restoran ini, tentu terlalu mahal bagi ukuran kantong kaum menengah. Hidangan ala carte komplet (7 hidangan) sekitar L 148.000 (= Rp + 250.000,- 1 L = Rp 1,7). Kurang jelas hidangan ini bisa untuk berapa orang. Seorang tamu berbisik:"Makanan di sini memang mahal, orang satu jatuhnya bisa hampir L 250.000." Sedangkan hidangan paket kecil, sekitar 2 - 3 macam, harga mulai dari L 75.000 s/d L 95.000,- (+ Rp 127.000 s/d Rp 161.000,-). Rumah makan yang kata si pemilik hampir selalu penuh terutama pada malam hari, hanya dibuka dari bulan Maret sampai Oktober. "Kami tidak buka setiap musim dingin dari bulan November hingga Februari, karena kurang pendatang, disamping cuaca terlalu dingin," tutur Giovanna yang pernah berbulan madu ke Bali sekitar 20 tahun lalu. Dalam waktu dekat restoran ini akan dikembangkan merangkap sebagai tempat penginapan. Dapat dibayangkan berapa sewa kamarnya nanti!

     Selain makan di restoran mewah ini, wisatawan yang datang ke Lesa dapat menikmati hari libur dengan memancing, berolahraga air atau berenang. Kota kecil ini katanya dulu pernah digunakan sebagai tempat pengadilan keuskupan Milan.

Puri bergaya Barok

     Kenikmatan berlibur di tepi danau Maggiore atau Verbano ini tidak cukup hanya berkunjung ke Lesa. Sekitar 5 km dari situ, kita bisa mampir di Stresa, yang sejak pertengahan abad lalu terkenal sebagai kota rekreasi sekaligus ajang pertemuan para pejabat atau pimpinan perusahaan. Simposium Canesten ini pun dilaksanakan di sebuah hotel di kota ini. Kota berpenduduk 4.850 orang yang pada setiap musim panas jumlah turis bisa dua kali jumlah penduduknya ini, tahun 1935 pernah dipakai sebagai tempat konferensi antara Italia, Inggris dan Perancis yang gagal berembuk dengan Adolf Hitler pimpinan Nazi Jerman itu agar tidak mempersenjatai tentaranya kembali berdasarkan keputusan pakta Versailles.

Danau Maggiore
      Stresa hanya mempunyai 1 stasiun kereta api kecil, 1 bank, 1 jalan besar, 1 gereja, museum, serta daerah pertokoan kecil. Namun puluhan hotel berbintang dengan interior anggun abad lalu memenuhi Jl. Corso Umberto, di kota kecil di tepi danau terbesar nomor dua Italia ini. Bila Anda ingin menukar uang lembaran ratusan dolar AS tidak bisa di bank, tapi ke hotel atau stasiun KA karena bank hanya menerima penukaran tidak lebih dari lembaran 50 dolaran atau Anda harus membeli Lire dengan kartu kredit. Ke kota ini kita tidak dapat naik pesawat, melainkan lewat darat dari pelabuhan udara Linate yanng memakan waktu sekitar 1 jam. Menjelang musim semi awal Maret ini sayang bunga-bunga baru sedikit bermunculan. Rata-rata pohon masih gundul. Sebab Stresa juga merupakan tempat yang terkenal indah karena bunga-bunganya di musim semi dan panas.

     Kenikmatan berlibur di Stresa yang langka penduduk ini tidak hanya di kota itu sendiri, tapi kita bisa naik kapal motor/jetfoil dengan membeli karcis seharga L 30 - L 50 /orang (tergantung pulau mana yang dituju) untuk mengunjungi 3 pulau yang bertebaran di danau luas ini: Isola (=pulau) Bella, Isola Pescatori atau Isola Madre. Dengan luas 212,2 km dan kedalaman 370 m, danau Maggiore terletak antara Lombardy di sebelah Timur, Piedmont di sebelah Barat dan di utara, berakhir di perbatasan Swiss. Dari kejauhan tampak jajaran pegunungan Alpen dengan puncak esnya, seolah-olah menutupi perbatasan antara Italia dan Swiss. Sayang menjelang musim semi gunung es tidak terlihat jelas karena tertutup awan.

     Di Pulau Bella, kita dapat menikmati keindahan sebuah puri bergaya Barok yang didirikan tahun 1670 oleh seorang bangsawan bernama Vilaliano Borromeo. Di dalam istana ini terdapat peninggalan berupa sejumlah lukisan dan mebel kuno. Atau kita bisa bersantai sambil menikmati keindahan danau serta berbelanja cinderamata di puluhan kios suvenir. Namun berbelanja suvenir hendaknya jangan terburu nafsu. Harga di satu kios sedikit berbeda dengan kios lain. Ketika kita menaksir suatu barang yang mahal di sebuah kios, si penjual yang sangat minim bahasa Inggrisnya, terus membujuk dengan iming-iming bonus suvenir-suvenir kecil. Tapi begitu barang mahal tadi tidak jadi dibeli, ia menghentikan pemberian bonus dan langsung menaikkan harga barang-barang lain seenaknya.

Biara pertapa Mater Ecclesia.
     Di Pulau Pescatori atau pulau nelayan, kita dapat menikmati aneka makanan ikan atau belut. Restoran kelas tinggi Verbano  buka dari siang sampai tengah malam. Hidangan khasnya a.l. fillet ikan sturgeon yakni ikan yang menelurkan caviar, kedoyanan para bangsawan Eropa. Sekali lagi harganya pasti juga selangit! Hidangan lain, nasi ala Italia atau risotto dimakan dengan saus keju, bawang dan sedikit ayam rebus. Bagi orang Indonesia pasti lebih menikmati makan nasi dengan sambel dan lalap daripada makan risotto yang hambar dan sangat mengenyangkan ini. Ada lagi fillet ikan lavaret goreng dimakan dengan sayur artichoke dan wortel mini rebus. Yang ini mungkin lebih cocok untuk lidah kita.

     Sayang kami tidak sempat mengunjungi Pulau Madre yang lebih luas dari kedua pulau tadi. Menurut seorang pengemudi kapal yang ganteng dan berpakaian rapi, di musim semi pulau ini penuh dengan berbagai bunga seperti azalea dan camelia. Pada tahun 1978, sebuah puri abad 16 di sini juga dibuka untuk umum, dengan interior antik, koleksi keramik serta boneka antik abad 18 dan 19.

Biara pertapa

     Kenikmatan rekreasi di barat laut Italia ini tidak berhenti di sini. Selain danau Maggiore yang indah tadi, kita bisa berkunjung ke danau Orta (luas 140 m x 340 m, dalam 140 m) sekitar 25 km atau perjalanan selama 45 menit dengan bis dari Stresa. Di tengah danau ini terdapat pulau Giulio yang konon ditemukan oleh Santo Giulio sekitar abad 4 - 5. Sejak itu didirikan bangunan-bangunan berbau kristiani. Bangunan satu dengan yang lain dipisahkan oleh lorong-lorong kecil. Antara abad 17 - 18 didirikan sebuah biara dan kapel (gereja kecil) oleh seorang uskup yang makam dan kerangkanya kini dapat dilihat di ruang bawah tanah kapel tersebut. Biara Mater Ecclesia ini sampai sekarang didiami sekitar 40 biarawati berusia antara 26 - 43 tahun yang seumur hidup menjalani kehidupan bertapa, tidak berbicara atau pun bergaul dengan orang luar. "Di zaman modern seperti ini masih ada gadis-gadis yang mau hidup membiara seperti itu?," komentar heran seorang dari rombongan Bayer  yang selesai bersimposium diajak bersantai ke pulau ini. "Yah, mungkin saja gadis-gadis ini jenuh atau kecewa dengan kehidupan zaman sekarang,"jawab seorang pramuwisata."Menurut kepercayaan Kritiani di pulau ini, jiwa orang mati bisa disucikan dengan menjalani pelbagai macam penderitaan di kala masih hidup, agar mencapai kebahagiaan kekal di akhirat nanti."

Biara pertapa Mater Eclesia.
     Di Pulau Giulio yang sunyi ini kita juga bisa membeli sedikit cinderamata untuk oleh-oleh dibawa pulang.

     Kurang lebih 1 jam dari Orta kita bisa mampir ke sebuah pabrik minuman keras Bianchi, tidak jauh dari daerah industri Borgomanero, yang sejak tahun 1785 memproduksi anggur putih, merah serta anggur putih terkenal Italia, Grappa (harga L 17.000 - L 22.000/botol= +Rp 28.900 - Rp37.400,-). Rombongan  Bayer sore itu mendapat prioritas mencicipi minuman gratis serta membeli minuman ini dengan harga korting. Seorang peserta dari Kanada yang membawa oleh-oleh pulang sebotol besar minuman keras ini berkomentar:" Di Kanada minuman seperti ini harganya bisa dua kalinya." Sepanjang jalan menuju pabrik kita melewati gunung-gunung granit yang menghasilkan marmer putih dan merah jambu, salah satu penghasil utama negara ini.     

     Kembali ke seputar danau Maggiore, di musim semi dan panas kita bisa menikmati keindahan kebun bonatik, kebun binatang, berkemah di 43 daerah berkemahan atau menaiki bukit dengan pemandangan nan indah. Atau duduk-duduk di taman samping danau sambil menikmati es krim Italiano yang terkenal sedap!.

Milan kota terkaya

     Sudah sampai di barat laut Italia, sayang kalau kita tidak ngelencer sebentar ke Milan atau Milano, kota berpendapatan tertinggi di negara ini. Kita bisa menyewa taksi atau naik kereta api dari Stresa. Perjalanan dengan mobil atau kereta api kota yang berjarak 87 km dari Stresa ini memakan waktu sekitar 1 jam. Tentu naik kereta api (pulangnya naik kereta jurusan Domodossola) jauh lebih murah, hanya L 14,80 PP/orang (+Rp 25.150,-) Sedangkan naik taksi bisa menghabiskan L 190 - L 300/isi 1-4 orang (Rp 300,000 s/d Rp 500.000,-) untuk sekali jalan.

     Tidak seperti kota-kota kecil di seputar Danau Maggiore, kota Milan yang terletak di pertengahan dataran Po yang subur, antara sungai Po dan kaki pegunungan Alpen ini terkesan sibuk dan lalu lintasnya agak semrawut. Banyak jalan-jalan kecil di pusat kota dilewati trem sekaligus mobil. Untung di setiap penyeberangan selalu terdapat lampu lalu-lintas sehingga keamanan menyeberang terjamin. Seperti juga kota-kota besar lain di Italia, Roma atau Florence, rupanya bangunan-bangunan kuno serta jalanan di sekitarnya tidak banyak diubah.

     Salah satu daya tarik Milan adalah Katedral Duomo, terbesar ke tiga di Eropa. Sangat megah bergaya arsitektur Gotik, gereja ini didirikan pada abad ke 14 (1386) oleh kelompok arsitek Lombard serta tukang batu terkemuka pada zamannya. Tinggi katedral ini sekitar 108,50 m. Luas seluruh bangunan sekitar 12.000 m2. Katanya bagian dalam gereja kalau diisi truk kontainer bisa memuat sekitar 9.350 buah. Bangunan yang bahan utamanya bata ini, diperkuat oleh batu, besi dan marmer ini sungguh mengagumkan. Memuat lebih dari 20.000 orang, pendirian gereja ini seluruhnya memakan waktu sampai 5 abad sampai penambahan serta renovasi gereja dihentikan tahun 1980-an. Bagian luar gereja dihiasi dengan menara-menara kecil, puncak-puncak yang cantik serta lebih dari 3.000 buah patung bidadari dan orang kudus. Dari jauh gedung ini bagaikan dihias dengan renda-renda warna gading. Lebih mengesankan lagi adalah jendela-jendelanya yang dihiasi ornamen halus marmer gaya Gotik serta kaca-kaca mozaik bergambar orang kudus. Pada pucuk gereja tampak patung besar Madonnina (Bunda Maria) pelindung kota Milan yang tingginya 4,16 m. Di bagian dalam terdapat 52 buah pilar, tingginya sekitar 80 feet (2400 cm), berdiameter lebih dari 10 feet (300 cm) serta patung-patung orang kudus dalam ukuran besar. Pintu-pintunya pun berukir-ukir, warna keemasan. Halaman depan katedral terdapat halaman luas penuh ratusan burung dara yang sangat akrab dengan pengunjung.  Untuk mengamati satu persatu secara detail katedral ini tentu bisa menghabiskan waktu sampai berjam-jam.

Restoran romantik berusia 300 tahun.
     Di sebelah utara Piazza Duomo (lapangan dan daerah pertokoan Duomo) adalah Galleria Vittorio Emanuelle II, penuh dengan cafetaria, retoran serta pertokoan besar. Dekat situ tampak gedung konser La Scala yang didirikan oleh arsitek neo-klasik, Giuseppe Piermarini tahun 1778. Salah satu gedung konser terbesar di dunia ini mengingatkan penyanyi kondang Pavarotti yang acapkali menyumbangkan suara emasnya di situ. Di sebelah utaranya, ada Palazzo di Brera, dimana kita dapat menikmati koleksi seni para seniman terkemuka keluaran Lombard. Berjalan sekitar 30 menit dari sini ada sebuah puri Castello Sforzesco dari bata merah, dibangun tahun 1450 sebagai rumah kediaman dan benteng. Kini puri ini menjadi museum, penuh dengan karya-karya seni, sedangkan halaman luasnya yang dikelilingi tembok digunakan sebagai taman rekreasi. Masih ada lagi peninggalan zaman Renaissance seperti gereja San Satiro, Gereja Santa Maria delle Grazie dimana terdapat lukisan dinding Perjamuan Terakhir karya Leonardo da Vinci serta puluhan museum, gedung pertunjukkan, dan gereja kuno lain.

     Milan yang diduduki Roma sejak 222 SM kini merupakan kota industri dan dagang dengan pelbagai macam produk seperti barang kimia, mobil, alat listrik, perlengkapan kereta api, tekstil, kayu, kertas, kulit dll, dan sebagai kota pusat mode di Itali.

     Dengan + 1,7 juta penduduk dan luas seluruh daerah Milan 182 km2, kota terkaya di Italia ini juga menghasilkan pemain-pemain sepakbola dan atlet sepeda terbaik Italia. Stadion bola terkenalnya adalah San Siro, di sebelah barat laut kota ini. Juga terdapat sirkuit balap mobil Grand Prix dekat Monza.

     Hari Sabtu sampai dengan Senin pagi merupakan hari-hari libur bagi orang Italia yang sebagian besar beragama Katolik ini. Berbelanja atau berkunjung ke museum pada hari Senin, kita harus menunggu sampai pukul 15.00. Dalam buku Ensiklopidi Britannica disebutkan, rata-rata kaum pria Itali lebih senang meluangkan waktu berekreasi di luar sambil mengobrol santai dari pada kaum wanitanya. Hampir sekitar 2 jam per hari, 60% penduduk meluangkan waktu dengan berkunjung ke teman atau sanak saudara. Dibandingkan kaum prianya, kaum wanitanya lebih getol mencari uang, juga senang berkunjung ke sanak saudara atau berbelanja. Tahun 1980-an jumlah wanita kerja di Italia naik lebih dari 4%, sedangkan prianya sedikit menurun. Kalau wanitanya rata-rata perhari meluangkan 4 jam untuk urusan rumah tangga, prianya hanya sekitar 50 menit saja. Jumlah gadis remaja usia 14-an ke atas yang rajin belajar pun 5 kali lebih banyak daripada remaja prianya.

     Rata-rata orang Itali yang makanan utamanya pasta ini lebih tertarik pada untuk urusan politik, sosial atau agama ketimbang urusan intelektual. Sikapnya terhadap orang asing terkesan cuek.

Giovanna Cellegari.
     Namun industri pariwisata Italia belakangan semakin maju terutama di kota-kota pusat kebudayaan seperti Roma, Florence (Firenze), Naples, dan Venisia. Walaupun dibandingkan ke empat kota ini jumlah turis lebih rendah, Milan cukup banyak dikunjungi pendatang asing untuk keperluan bisnis atau memperdalam ilmu. Apa salahnya kalau ke Italia utara kita sekalian mampir Milan, mungkin untuk berbelanja tas tau sepatu kulit atau pakaian karya terbaru para pendisain Itali?  Arrivederci Milano....

rumah
Converted by WPAHTML
Created With HTML Assistant Pro - 5/5/97