NATA DIBUAT,
LINGKUNGAN SEHAT

     Sejak dulu, pabrik tahu terkenal sebagai sumber pencemaran sungai dan bau busuk. Limbahnya sering menimbulkan protes penduduk, sedangkan sungai yang dibuangi limbah turun mutu airnya.

     Pada tahun 1990 ditemukan cara pemanfaatan limbah tahu itu menjadi nata de soya yang kalau dilakukan beramai-ramai secara nasional, bisa mengurangi limbah yang mengganggu lingkungan sekitar pabrik. Kalau nata de coco (sari kelapa) sudah lama diusahakan orang untuk mengurangi limbah air kelapa, nata de soya baru akhir-akhir ini tersiar berita pemanfaatannya. Nata de coco yang seperti agar-agar tapi lebih kenyal itu setelah dipotong menjadi bentuk dadu kecil-kecil banyak dipakai sebagai campuran fruit cocktail, es krim, atau es teler.

Limbah tahu jadi nata
     Seperti itu pula bentuk nata de soya yang dibuat dari limbah cair pabrik tahu. Disebut soya, karena bahan baku tahu itu kedelai yang dulu pernah disebut Glycine soya dan Glycine max, tapi belakangan diaduk-aduk menjadi Soya max.

     Dirintis oleh Balai Besar Industri Hasil Pertanian Bogor, pembuatan nata de soya ini sudah menyebar luas ke kalangan pengrajin bahan makanan seperti tahu-tempe di Sukabumi, Bandung, Sumedang, dan Majalengka. Di kota lain yang ada pabrik tahunya belum! Padahal lumayan banyak, kota-kota ini!

     Kalau pengrajin tahu-tempe sudah kehabisan waktu dalam industrinya sendiri masing-masing, maka untuk usaha nata ini diperlukan barisan pengrajin baru. Itu berarti akan tercipta lapangan kerja baru, untuk mengurangi pengangguran.

     Pengolahan limbah tahu menjadi nata itu melibatkan bakteri Acetobacter xylinum, yang memakai protein dan karbohidrat dalam limbah itu sebagai sumber energi untuk hidup dan berbiak. Dalam proses itu dihasilkan nata berupa lapisan padat seperti agar-agar di dekat permukaan cairan pemeliharaan. Kalau nata de coco dari kelapa diedarkan sebagai sari kelapa, nata de soya barangkali boleh dipanggil sari tahu. Sayang tidak laku, karena kurang keren.

     Bibit bakteri Acetobacter xylinum dapat diperoleh dari Balai Besar Industri Hasil Pertanian, Bogor. Dianjurkan oleh Balai itu agar setiap membeli 10 botol, hendaknya menyisihkan 2 botol untuk membuat kultur bakteri sendiri, sebagai persediaan untuk usaha berikutnya. Jadi kalau nanti persediaan dari Balai habis, pengusaha nata de soya masih mempunyai biang bakteri yang masih bagus, untuk meneruskan pembuatan nata.

     Mula-mula, limbah tahu cair yang sudah disaring dan terbebas dari limbah padat, dicampur dulu dengan gula pasir, urea, dan amoniumfosfat, lalu direbus selama seperempat jam. Sesudah ditambah asam asetat (cuka) pekat, agar pH larutan turun sampai 4, larutan dituang ke dalam bak fermentasi setinggi 2 cm, lalu didinginkan. Tetapi harus ditutup dengan kertas bersih dan diikat, supaya tidak tercemar kotoran dari luar.

     Sesudah dingin, larutan dituangi bibit bakteri dalam larutan, sebanyak 10 - 20% volume larutan sari tahu, lalu dibiarkan menjalani fermentasi selama 8 - 10 hari. Di dekat permukaan cairan akan terbentuk lapisan nata setebal lk 2 cm. Inilah yang dipanen, yang setelah direndam dalam air bersih yang baru selama 3 hari, akan bersih dari sisa-sisa asam cuka dan zat kimia lainnya.

     Dengan mengolah limbah tahu menjadi nata de tahu, pencemaran lingkungan dapat dikurangi. Pengurangan ini hanya kecil memang, tapi kalau orang yang bertindak mengurangi ini banyak sekali, maka secara nasional pengurangan pencemaran itu sangat berarti. (SS)

rumah
Converted by WPAHTML
Created With HTML Assistant Pro - 5/5/97