|
Para ahli gizi mengakui, telur (ayam) itu bahan pangan sehat dan bergizi tinggi, tetapi kenapa masih direkayasa lagi? Ia mengandung 162 kalori, 12,8 g protein, 11,5 g lemak, 0,7 g karbohidrat, 900 SI vitamin A, 0,1 g vitamin B1, menurut Daftar Komposisi Bahan Makanan, Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI).
Ceritanya begini. "Ada dua masalah gizi yang cenderung muncul, yaitu undernutrition - tidak cukup gizi. Lalu, malnutrition - salah gizi, secara jumlah ransumnya cukup, tapi gizinya salah," tutur Ibnu Katsir Amarullah.
Salah gizi atau malnutrisi umumnya menimpa mereka yang mengkonsumsi suatu zat makanan secara berlebihan atau melampaui kebutuhan tubuh. Sebaliknya kalau kurang gizi, jumlah pasokan gizi kurang.
Bukan rahasia lagi, mengkonsumsi produk hewani (segala jenis daging, telur, atau hasil olahannya) bisa menimbulkan salah gizi, kalau berlebihan. Secara biologis, lanjut Ibnu Katsir Amarullah, tubuh akan membuang zat makanan yang berlebih itu. Kelebihan itu menjadi beban fisiologis tubuh, terutama jantung, ginjal, dan hati. Organ-organ itu akan bekerja keras untuk memompanya dari dalam tubuh. Untuk amannya, ya makan sesuai kebutuhan tubuh supaya badan sehat secara biologis.
Demikian pula telur. Sebagai massa yang sedikit (50 - 60 g), bagi mereka yang tidak kelebihan gizi, makan telur tidak perlu dikhawatirkan. Sebaliknya bagi yang kelebihan gizi, bisa saja telur menimbulkan beban organ tubuh, karena berlebihan. Berapa butir telur dikonsumsi per hari, belum ada aturan yang pasti. Perhimpunan Ahli Jantung Amerika menyarankan tak lebih dari 3 - 4 butir telur per minggu.
Nah, munculnya telur-telur hasil rekayasa diharapkan bisa mengurangi beban organ tubuh akibat kelebihan gizi. Masyarakat kalangan tertentu (yang cenderung kelebihan gizi) berupaya untuk tidak salah gizi dengan mengkonsumsi produk spesifik itu.
|
Bukan tanpa alasan bila sebagian orang meminati telur omega-3. Omega-3 merupakan asam lemak esensial. Artinya, asam lemak omega-3 sangat dibutuhkan oleh tubuh. Karena tubuh tidak bisa membuatnya, maka harus dipasok lewat makanan.
Penemuan omega-3 sebenarnya berawal dari pengamatan oleh ahli terhadap masyarakat Eskimo. Mereka yang tinggal di kawasan kutub itu diketahui tidak berpenyakit jantung. Sementara orang Eskimo yang tinggal di luar kawasan kutub (misal, di Denmark), banyak yang terserang penyakit jantung. Kenapa bisa begitu? Jawabannya berkaitan dengan pola makan.
Makanan utama masyarakat Eskimo di kawasan kutub sana adalah ikan mentah. Setelah dianalisis, ikan yang mereka makan mengandung asam lemak eikosatinpanoat (EPA), yang kemudian disebut asam lemak omega-3 itu. Penelitian pun berlanjut, untuk mengetahui peranan unsur itu terhadap kesehatan jantung.
Hasilnya, asam lemak omega-3 terbukti mempunyai pengaruh yang baik terhadap tubuh. Orang yang mengkonsumsi omega-3, jelas Dr Fadilah Supari, ahli jantung RS Harapan Kita, Jakarta, keping-keping darahnya (platelet) tidak mudah pecah ataupun menggumpal. "Asam lemak omega-3 menjadikan dinding pembuluh darah (endotil) kuat, tidak rapuh, tidak mudah ditembus zat yang bisa memecahkan dinding pembuluh darah, dan tidak gampang mengkerut."
Asam lemak omega-3, lanjutnya, menurunkan parameter biokimia sebagai faktor risiko aterosklerosis, seperti kolesterol, LDL, dan trigliserida. Asam lemak ini juga mampu memperbaiki tekanan darah ataupun menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi.
"Kelebihan lain adalah sebagai pencegahan penyakit jantung. Omega-3 juga mempengaruhi pembentukan enzim yang berperan pada kesembuhan penyakit jantung koroner. Pun meningkatkan daya tahan seluler otot jantung dalam menghadapi serangan jantung."
Bahkan ada yang menyebutkan omega-3 bisa mencegah diabetes, membuat mata menjadi lebih awas, meningkatkan kemampuan belajar dan mengingat, meningkatkan kekebalan tubuh, menghilangkan gejala penyakit radang sendi, menghilangkan gangguan tulang belakang dan otak (multiple sclerosis), serta menghambat pertumbuhan kanker.
|
Di Jakarta (terutama populasi di daerah Jakarta Selatan), menurutnya, rasio omega-6 : omega-3 dalam plasma mencapai angka 40-an. "Angka itu cukup memprihatinkan. Kalau ingin mengurangi tingkat kematian akibat penyakit kardiovaskuler, angka itu tidak boleh diremehkan. Idealnya, nilai rasionya adalah 4 - 8," katanya.
Tersedia secara alami
Asam lemak, tempe, dan antioksidan, kata Dr. Fadilah Supari, merupakan bahan makanan "sehat" untuk kesehatan jantung. Asam lemak tak jenuh jamak (polyunsaturated fatty acid - PUFA) bisa dibedakan atas asam lemak omega-3 dan omega-6. Keduanya memiliki fungsi utama yang berbeda.
Asam lemak omega-3 meliputi asam linolenat (pada minyak nabati, seperti bunga matahari, kedelai, dan biji-bijian), asam eikosapentaenoat (EPA), dan asam dokosaheksaenoat (DHA). Asam lemak omega-6 meliputi asam linoleat dan asam arakhidonat. Bahan makanan yang kaya akan omega-6 antara lain daging, telur, ikan air tawar, dan minyak nabati (kelapa, jagung, kelapa sawit).
Selain pasokan tambahan berupa makanan yang mengandung omega-3, asam lemak omega-3 bisa ditemukan dalam bahan makanan sehari-hari. Contohnya, ikan lemuru (Sardinella longiceph), ikan yang hidup di perairan dalam, dsb.
Dua porsi (@ 300 g) ikan lemuru dalam seminggu, menurut Dr Fadilah Supari, cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Ikan lemuru sebaiknya tidak digoreng, tapi cukup ditim, karena omega-3 mudah menguap. "Minyak ikan lemuru kaya kandungan omega-3 yang dalam jumlah optimal bisa menurunkan kadar superoksida yang merusak jaringan otot jantung," katanya.
Asam lemak omega-3 penting dikonsumsi sedini mungkin. Namun, katanya, mengkonsumsi terlalu banyak pun kurang bijaksana. Efek asam lemak omega-3, kalau kebanyakan, bisa terjadi perdarahan otak, khususnya pada masyarakat Eskimo yang menunya serba ikan. "Tapi untuk kondisi kita tidak mungkin kebanyakan, karena omega-6 yang dikonsumsi juga banyak."
Makan telur omega-3 akan meningkatkan kadar asam lemak omega-3 dalam darah. Kondisi ini, menurutnya, bisa memperkecil rasio asam lemak omega-6 dengan omega-3. Makin tinggi kadar omega-3 dalam darah, makin menjauhkan dari risiko penyakit jantung.
Pemberian telur omega-3 sebanyak 2 butir/hari selama sebulan, menurut pengamatan Dr Fadilah Supari, belum menunjukkan perubahan kolesterol dan trigliserida, juga HDL dan LDL, tapi mengubah kadar asam lemak dalam plasma darah. Sebutir telur omega-3 berisi asam lemak omega-3 (618 mg), dan asam lemak omega-6 (999 mg), seperti yang tercantum pada kemasan telur yang diperdagangkan.
|
Menurutnya, telur omega-3 tidak cocok untuk menurunkan kadar kolesterol. Ia juga tidak bisa untuk mengobati hipertensi, tapi penderita hipertensi boleh mengkonsumsi telur omega-3 karena tidak berisiko bagi mereka.
Munculnya telur hasil rekayasa diharapkan bukan cuma taktik bisnis belaka. Agar tidak terkecoh, konsumen pun mesti waspada. Lebih-lebih terhadap produk yang tidak disertai daftar kandungan zat makanan. Sebab, secara fisik sulit dibedakan antara telur "biasa" dengan telur hasil rekayasa. Warna kuning telur hasil rekayasa yang memang tampak lebih tua daripada telur "biasa" bukan jaminan bahwa telur tersebut berkandungan omega-3. "Ukuran, tekstur cangkang, dan warna kuning telur tidak spesifik. Tak bisa dijadikan patokan. Yang paling akurat, ya dilakukan uji lab," jelas Dr. Ibnu Katsir Amarullah. (A. Hery Suyono)