TAKUT MANDUL, PANTANG BERTEMU MERTUA
|
"OK! Kita berangkat. Semoga cuaca semakin membaik dalam perjalanan," kata Miller, pilot dari MAF (Missionaire Aviation Fellowship). Kami, Intisari dan Pendeta Otto Kobak, segera bergegas naik ke helikopter yang diparkir di pinggiran bandara Wamena.
Bertiga kami duduk di depan, sementara kursi belakang dilipat agar bisa dimuati bahan kontak (peralatan makanan dan pertanian) dengan Suku Butubonu. Mesin heli mulai dihidupkan. Baling-baling berputar semakin cepat. Peralatan GPS disetel dengan tujuan Tokuni. Tak seberapa lama, heli pun terangkat membelah kabut. Rasa penasaran untuk melihat suku terasing seakan sirna.
Kotekanya dari daun
Kabut masih saja membandel, tetap mengalangi pandangan kami. Meski begitu, samar-samar terlihat kerimbunan hutan tropis Irian yang masih asli. Juga burung-burung yang beterbangan mencari makan di pagi yang berembun.
Memasuki Kecamatan Kurima, timur Kota Wamena, mulai nampak kelokan-kelokan Sungai Baliem dengan delta-deltanya yang subur. Airnya berwarna coklat. Menyusur di atas kelokan sungai inilah penerbangan kami, sebab permukiman suku Butubonu terletak di samping kiri-kanan sungai. Mereka masih mengandalkan jalan sungai sebagai sarana transportasi, selain jalan "setapak" yang menembus rapatnya hutan.
Setelah hampir satu setengah jam terkungkung di dalam heli, kami pun mendarat di pinggir sungai dengan beberapa rumah di sekitarnya. Mendengar deru baling-baling, sejumlah orang bergegas keluar. Mereka berkerumun menunggu heli mendarat. Inikah suku terasing itu? Apakah mereka seperti yang digambarkan oleh beberapa orang, masih liar dan ganas? Ternyata, ketika kami sudah mendarat, mereka langsung mengerumuni kami dan mengajak bersalaman. Jadi, di manakah keliaran dan keganasan mereka?
|
Tidak diketahui apa yang mereka lakukan di dalam rumah, soalnya tidak ada tanah lapang di sekitar rumah tersebut guna mendaratkan heli untuk mengamati lebih dekat. Rumah mereka tak mempunyai halaman yang luas. Perkampungan itu mirip "delta" hutan Irian. Tempat yang kami darati merupakan base camp misionaris.
Suku Butubonu pertama kali ditemukan oleh Less Henson, misionaris dari RBMU. Namun ia hanya melihat dari atas heli. Dari keterangan tersebut, Pendeta Otto Kobak dari Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), melakukan survai darat pada tanggal 27 Oktober 1995 bersama dengan seorang penerjemah. Kebetulan daerah suku Butubonu tinggal dekat dengan daerah pelayanannya. Mereka menemukan 10 orang tetapi tidak banyak yang didapat dari pertemuan itu.
Suku terdekat adalah Seradela di Utara dan Yaniruma di Selatan. Perbedaan yang khas dengan suku-suku Lembah (Dani dan Yali) selain perawakannya yang langsing, mereka menutup bagian kemaluan tidak dengan holim, tetapi hanya dengan daun. Namun, mereka sudah memiliki kesadaran akan kebersihan. Dua kali sehari, pagi dan sore, mereka ganti "celana".
Tapi tidak semua orang bercelana seperti itu. Beberapa orang yang sudah kontak dengan orang luar (Pendeta Otto Kobak sendiri sudah 4 kali kontak dengan mereka) sudah mengenakan pakaian (celana dan baju, atau hanya celana dalam). Meski begitu mereka belum bisa merawat pakaian, terbukti pakaian mereka nampak begitu lusuh dan kumal. Dalam kontak sebelumnya, Pendeta Otto sendiri juga membagikan beberapa lembar pakaian bekas.
Masih sulit untuk menggali lebih jauh seluk beluk suku Butubonu. Bahasa mereka belum banyak dikenal, dan berbeda dengan bahasa suku tetangga yang sudah dimasuki misionaris. Tak pelak komunikasi yang dilakukan harus melalui tiga bahasa, Indonesia, Obeni (bahasa tetangga), baru ke bahasa Tokuni (bahasa setempat). Percakapan menjadi lebih sulit sebab sang penerjemah belum begitu fasih terhadap masing-masing bahasa.
|
Masyarakat suku Butubonu ini tersebar di 11 kampung yang berjauhan satu sama lain. Kampung di sini bisa hanya terdiri atas satu atau dua rumah, mirip suku Lembah dengan yukmo-nya (kampung) yang terdiri atas beberapa sili (unit permukiman). Sama dengan suku Lembah, suku Butubonu juga menganut sistem kekerabatan komunal. Satu rumah bisa didiami oleh beberapa keluarga, bahkan ada yang dihuni oleh 15 keluarga dengan jumlah warga sekitar 45 orang. Ada 7 fam (marga) yang mendiami Desa Tokuni.
Mereka tinggal di rumah-rumah panggung, dengan tinggi lantai bervariasi antara 4 - 10 m di atas permukaan tanah. Selain menghindari binatang buas, tujuan utamanya menghindari serangan musuh yang mendadak. Tak aneh jika di dinding rumah mereka banyak ditemukan lubang pengintip. Mereka masih sering berperang dengan suku tetangga dengan penyebab utama soal wanita. Di dinding mereka juga ditemukan tulisan-tulisan sandi yang tidak memiliki bunyi huruf yang jelas. Tulisan itu terasa aneh mengingat mereka masih mengandalkan budaya lisan.
Rumah mereka termasuk "tipe 21", dalam arti dua rumah digabung menjadi satu. Ada rumah pria dan wanita meski secara fisik bangunan tersebut berujud satu. Bentuk ini mengingatkan kita pada konsep sili suku Dani maupun Yali, yang mengenal honai laki-laki dan honai perempuan. Antarrumah tersebut terpisah oleh dinding penyekat, namun ada celah untuk mengirim makanan. Soalnya, dapur terletak di rumah wanita.
Masing-masing rumah memiliki pintu dan tangga tersendiri, serta tidak ada pembagian kamar. Tangga terbuat dari batang pohon yang ditakik kiri-kanannya. Lantainya sepintas terlihat rata, namun begitu diinjak terasa bergoyang. Tapi jangan khawatir akan angin yang menerpa rumah, sebab tinggi rumah tersebut masih rendah dibandingkan dengan pepohonan di sekitarnya.
Dalam hal cara memasak mereka juga mengenal istilah bakar batu. Tetapi lain dengan bakar batu yang dilakukan masyarakat Dani. Jika masyarakat Dani melakukannya di halaman sili, Suku Butubonu di dalam rumah panggung mereka. Istilah bakar batu bagi mereka tidak lebih dari memanggang sagu yang dibungkus daun pisang di atas batu panas, yang sebelumnya dibakar dengan kayu.
Dijaga buaya
Musuh "abadi" suku Tokuni adalah suku Obeni, yang bermukim di sebelah barat daya, serta suku-suku kecil di sekelilingnya. Dalam berperang, mereka juga memiliki "padang Kurusetra" yang tetap. Berbeda dengan milik suku Lembah yang luas di perbukitan, ajang peperangan suku Butubonu berada di pinggiran sungai dengan areal yang sempit. Mereka mengandalkan senjata panah yang sudah diberi racun. Juga pisau sangkur dari tulang kasuari untuk perkelahian jarak pendek.
|
Suku Butubonu termasuk masyarakat peramu. Kondisi geografis dengan hutan lebat (di Utara) dan rawa (di Selatan), serta peralatan yang masih berasal dari zaman batu menyebabkan mereka sulit membuka ladang. Kegiatan sehari-hari lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan perut. Makanan utamanya sagu yang diambil dari hutan. Peralatan yang digunakan juga masih sederhana, bahkan masih ada yang menggunakan kapak batu.
Oleh sebab itu proses mencari sagu bisa berbulan-bulan lamanya. Pencarian dan pengolahan sagu melibatkan semua penghuni rumah. Karena tempatnya jauh dari rumah, mereka mendirikan rumah sementara di dekat lokasi sagu berada. Setelah selesai - biasanya 2 bulan - mereka kembali ke rumah sembari membawa sagu yang sudah diolah. Jika persediaan sudah habis mereka akan kembali ke hutan untuk mencari sagu lagi.
Selama persediaan sagu masih mencukupi, pria suku Butubonu pergi ke hutan untuk berburu binatang seperti kasuari, babi hutan, kelelawar, dan kuskus tanah. Mereka juga memanfaatkan tulang kasuari sebagai senjata semacam pisau sangkur dan tulang kelelawar sebagai aksesori. Sedangkan para wanita, selain memasak untuk kebutuhan keluarga, juga menganyam noken (keranjang tempat membawa barang atau bayi) dan berkebun di sela-sela pepohonan. Tanaman yang dibudidayakan biasanya tebu dan pisang.
Jika di lembah binatang yang dianggap kerabat adalah babi, maka bagi suku Butubonu adalah anjing. Anjing menempati posisi tertentu dalam strata masyarakat sehingga tulang maupun giginya dianggap memiliki tuah. Selain disimpan, tulang dan gigi anjing dipakai sebagai hiasan tubuh. Bahkan, gigi anjing sering digunakan untuk menyembuhkan orang sakit.
Selain itu, suku Butubonu juga menghormati buaya, yang masih banyak berkeliaran di sungai. Binatang buas ini bermanfaat menjaga masyarakat dari ancaman orang luar. Meski begitu, mereka tidak takut untuk mencari ikan. Jika tidak ada ikan, mereka cukup makan sagu tanpa "teman". Begitu sederhana!
|
Anak yang baru lahir untuk sementara diasingkan di rumah tersendiri, sebab ia tercemar darah ibunya. Ada kepercayaan, darah yang keluar dari wanita itu kutukan dari roh jahat. Bersama ibunya mereka menetap di gubuk di belakang rumah utama. Pengasingan ini juga berlaku bagi wanita yang sedang haid. Selang beberapa bulan (bagi bayi) atau hari (bagi wanita haid), diadakan koub (upacara adat) untuk menerima mereka kembali ke rumah besar. Anak tersebut juga diberi gelang, terbuat dari sejenis rumput, yang dipercayai bisa menghindarkan dari gangguan roh-roh jahat. Sama seperti suku Dani maupun Yali, anak-anak tinggal di rumah ibunya sampai berumur ± 10 tahun.
Bagi wanita yang mengalami haid pertama, itu pertanda ia sudah harus kawin. Tidak banyak yang bisa diungkapkan tentang proses perkawinan mereka, dari mulai pacaran sampai ke pelaminan. Yang jelas mereka tidak mengenal mas kawin seperti suku Lembah, yang berupa babi. Namun sama seperti suku Lembah, suku Butubonu juga mengenal poligami. Padahal jumlah wanita lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah pria.
Yang agak unik dalam sistem kekerabatan setelah perkawinan, menantu lelaki tidak boleh ketemu dengan ibu mertuanya. Meski sang mertua sakit keras sekalipun! Mereka percaya, jika hal itu terjadi, pasangan tersebut akan mandul. Sebelumnya Pendeta Otto sempat terheran-heran melihat kenyataan itu. Dalam suatu pertemuan tiba-tiba saja ada lelaki yang langsung kabur begitu ada wanita tua datang. Ternyata wanita itu ibu mertua sang lelaki!
|
Suku Butubonu juga menghormati benda-benda tertentu dan fenomena alam seperti kimawatu korang (guntur dan kilat), kemari (panah), jemi (bambu), dan kia (ikan). Sebagaimana masyarakat primitif lainnya, mereka masih menyembah dan percaya pada benda-benda mati seperti tulang-tulang dan simbol-simbol dari kulit kayu tertentu.
Penyakit kulit dominan
Masuknya misionaris sedikit banyak telah mengubah kehidupan mereka. Kesediaan untuk menerima orang luar menandakan, mereka pun menginginkan perubahan. Inilah yang dirasakan oleh Pendeta Otto. Meski mendapat tolakan pada pertemuan pertama, tetapi kabar tentang pertemuan tersebut menyebar di antara penduduk suku Butubonu. Tanggal 7 November 1995, 9 orang dari mereka datang ke Dekai, ± 110 km utara Tokuni, meminta Pendeta Otto - melalui radio SSB - untuk mengunjungi mereka kembali.
Kontak yang lebih intensif pun dirancang. Pada tanggal 29 Januari - 2 Februari 1996 dilakukan survai kedua. Pada survai ini ditemui muka-muka baru yang tak nampak pada pertemuan pertama. Belum ada data pasti berapa populasi mereka. Otto memperkirakan ± 600 orang, meski selama survai ia baru menemukan sekitar 100-an orang. Menurut Less Henson, populasinya berkisar antara 800 dan 1.000 jiwa.
Dengan kondisi iklimnya yang cukup panas, lembap dan curah hujan tinggi, penyakit kulit (kaskado) dan malaria menjadi bagian dari kehidupan mereka. Penyakit seperti frambusia juga banyak dijumpai. Kondisi yang lebih memprihatinkan terlihat pada anak-anak yang merupakan generasi penerus. Tingkat sosialisasi mereka sangat rendah mengingat mobilitas mereka yang terbatas. Pergaulan lebih banyak sebatas keluarga batih saja.
|
Jauh dari pusat pemerintahan, suku Butubonu menatap masa depan mereka. Entah telah tertinggal berapa tahun - bahkan abad - kehidupan mereka dengan masyarakat lain di wilayah Indonesia. Mereka belum tersentuh pendidikan, sistem perekonomian pasar, dan ... derap pembangunan. Dengarlah kata mereka, "Kami diam di balik gunung, di dalam hutan, dan rimba yang lebat. Terikat dengan adat dan kebiasaan penyembahan berhala, patung, roh gaib, dan arwah orang mati. Kami hidup tanpa harapan ...." (Yds. Agus Surono)