NASIBNYA DI UJUNG BELUT

Sesuai dengan yang tertulis di papan depan, MADAME WU'S CURIO EMPORIUM, toko cendera mata yang terletak di salah satu jalan kecil di kawasan timur Bangkok ini dikelola oleh Madame Wu, putri keluarga imigram Cina. Semula oleh orang tuanya ia diberi nama Anna Leonowens, yang diambil dari nama seorang wanita Inggris yang datang ke Bangkok tahun 1862 untuk mengajar putra-putri raja Thailand. Namun setelah kedua orang tuanya meninggal, tak ada lagi orang yang memanggilnya dengan sebutan Anna kecuali Sidney Crawford, seorang pria berkebangsaan Amerika yang sejak 10 tahun lalu tinggal bersamanya menyusul berakhirnya Perang Vietnam.

Sementara Madame Wu "membesarkan" toko cendera mata, Crawford menghidupi dirinya dengan mengikuti kompetisi olahraga tradisional Bangkok, adu layang-layang yang berlangsung dari bulan Februari - Juni setiap tahunnya di Pramane Ground dekat Grand Palace.

Ilustrasi kriminal. Sore itu sebelum Crawford bertanding, seperti biasa Madame Wu pergi ke Klong Maha Nak, kanal dekat tokonya, untuk melepaskan sembilan belut tradisional. Sembilan dipercaya masyarakat Thailand sebagai angka keberuntungan dan melepas sembilan belut ke kanal akan memberi keberuntungan bagi yang bersangkutan. Ini merupakan ritual yang selalu dilakukan Madame Wu setiap kali Crawford mau bertanding. Belut-belut dalam kantung plastik berair itu dibelinya dari anak miskin jalanan yang sengaja menjualnya untuk keperluan tersebut. Lantaran sudah rutin, Wu sering mencurigai anak-anak itu menangkap kembali beberapa belut dari kanal untuk dijual lagi. Tapi ia tak peduli. Yang penting, ritus itu baginya bisa menjadi semacam jaminan kemenangan bagi Crawford.

Setelah selesai membuang belut-belut tersebut ke dalam kanal, ia kembali ke apartemen kecil di atas tokonya. Ketika memasuki ruangan dilihatnya Crawford sedang melakukan persiapan akhir terhadap layang-layang miliknya.

"Saya telah melepas belut-belut itu," ujarnya kepada Crawford. "Semoga kamu mendapat kemenangan."

Crawford memandangnya dengan tersenyum. Dalam usia paruh 40-an, pria ini masih terlihat langsing meski semburat uban sudah merusak rambut hitamnya. Ketika pertama kali datang ke Bangkok ia terkenal dengan sebutan lelaki Amerika yang tampan. Namun seiring dengan perjalanan waktu dan usia, ketampanannya kian memudar. Hal serupa bisa dilihat pula pada wajah Madame Wu yang meski tak lagi mulus, masih menampakkan sisa-sisa kecantikannya di masa muda.

"Sebenarnya saya tak begitu percaya dengan ritual yang kau lakukan. Tapi kalau hal itu membuatmu senang, ya tidak apa-apa. Apakah kamu mau turut serta malam ini?" tanya Crawford.

"Tentu saja. Saya akan menutup toko lebih cepat."

"Terima kasih Anna," katanya sambil menempelkan lagi sebuah kait ke tali layang-layang bintangnya.

Menang karena belut

Ketika mereka tiba di Pramane Ground, banyak orang mengelu-elukan Crawford. Mereka berdua berjalan melewati kerumunan penggemar seperti layaknya juara. Hal ini bisa dimaklumi karena hampir pada setiap pertandingan bisa dipastikan Crawford muncul sebagai pemenangnya.

Pramane Ground secara berkala digunakan untuk menyelenggarakan berbagai event seperti pasar mingguan, upacara kremasi anggota kerajaan, dan upacara pembajakan tanah oleh raja sebagai pembukaan musim tanam setiap bulan Mei. Tapi pada musim semi ketika angin selatan berembus kencang, tempat ini berubah fungsi menjadi arena adu layang-layang.

Madame Wu sudah lupa bagaimana awal mula ia berjumpa dan berkenalan dengan pria bernama Crawford. Saat itu ia bekerja sebagai pramuria kelab malam Cafe of Floating Lights. Malam itu ada seorang pemuda mabuk menegurnya. Pria tersebut nyerocos tentang taruhan uang dalam jumlah besar dalam adu layang-layang. Selanjutnya mereka pergi menyeberang ke ruang terbuka dekat istana. Ia menarik lengan baju Crawford dan menunjuk ke seberang jalan sambil berkata, "Di sanalah berdiri rumah kedua Anna, ketika ia mengajar anak-anak raja."

Sejak kejadian itu hubungan kedua insan semakin dekat. Bagaikan dewa penolong, Crawford akhirnya mengentaskan hidupnya dari lembah hitam. Bahkan memberinya modal untuk berusaha.

Crawford ditantang seorang pemuda Pakistan yang dikenal punya reputasi cermerlang dalam adu layang-layang. Ditilik dari pengalaman dan kepandaian para pelakunya, pertandingan kali ini bakal seru. Meski demikian Crawfoed berani bertaruh uang tunai dalam jumlah besar. Penonton membanjir, melambaikan segumpal uang.

"Apakah kau yakin akan menang?" tanya Wu, menyiratkan keragu-raguan.

Crawford menebarkan pandangan ke kerumunan orang dan mengamati satu per satu wajah-wajah penonton, seperti yang biasa ia lakukan. "Mengapa tidak? Kamu telah melepas belut-belutmu 'kan?"

"Ya, tapi ...."

"Saya akan menang," ujarnya dengan senyuman. "Itu telah tertulis di langit."

"Ah, sekarang kamu mengolok-olok saya."

Satu hal kembali menggangu pikiran Madame Wu setiap kali Crawford akan bertanding. Seperti yang sudah bertahun-tahun dilakukan, Crawford selalu mempelajari wajah-wajah di antara kerumunan penonton dengan hati-hati. Beberapa tahun lalu Wu pernah menanyakan hal itu. Mengapa ia selalu melakukan itu? Apa yang dicarinya?

"Sebab," jawabnya, "... suatu hari, seseorang akan datang membunuh saya." Jawaban itulah yang kemudian menghantui Wu, dan sepanjang malam ia sering terbangun karena mimpi buruk. Sambil terisak-isak ia berharap agar peristiwa itu tak menjadi kenyataan. Itulah sebabnya, Wu tak pernah bertanya lagi tentang hal itu, meskipun Crawford masih memandang ke kerumunan orang sebelum pertarungan seolah-olah ia siap mengantisipasi bahaya yang tak pernah datang.

Malam itu angin selatan beembus sempurna. Pemuda Pakistan terlihat dengan mudah menerbangkan layang-layangnya diikuti sorak-sorai penonton. Madame Wu sadar, kerumuman massa itu pasti berharap melihat Crawford kalah. Maklum, selama ini belum ada nama lain yang tercatat sebagai pemenang. Wu mengatakan hal itu kepada Crawford, tapi ia terlihat tak terusik.

Dengan mengukur kekuatan angin melalui gerakan layang-layang lawan, kini giliran Crawford melepaskan layang-layang bintang miliknya dan berlari dengan tali berkail yang berat sampai ia memperoleh posisi yang bagus untuk bertempur. Untuk beberapa menit, layang-layang lawan melakukan manuver mendekat berusaha menjerat bintang Crawford dengan ekor panjangnya. Madame Wu menarik napas dalam dan menunggu sementara Crawford merenggut tali kailnya lagi dan lagi. Ia berusaha melepaskan dari jepitan lawan, agar tidak dijatuhkan ke bumi. Madame Wu teringat belut-belutnya yang bergerak cepat melewati air yang tertutup bunga lili di kanal.

Kemudian Crawford memberikan tarikan terakhir terhadap layang-layangnya dan penonton pun bersorak. Kini ia bebas. Bahkan mereka yang bertaruh melawannya pun juga memberikan aplaus atas keahliannya. Sekarang masih ada harapan untuk menang. Crawford terus mengulur talinya dan membiarkan layang-layang bintangnya menjulang ke angkasa dengan gagahnya. Layang-layangnya sekarang sudah berada di atas layang-layang musuh, dalam posisi klasik untuk bertarung. Tali berat berkail dari Crawford mulai mematuk, tapi nampaknya anak muda Pakistan tersebut masih menyimpan beberapa trik yang belum diperlihatkan. Untuk menghindar dari guntingan Crawford, layang-layangnya bergerak menukik nyaris menyentuh bumi. Perang manuver terjadi silih berganti. Penonton pun ikut tenggelam dalam ketegangan. Sesaat Crawford melihat ada kesempatan untuk menyerang, digerakkannya layang-layangnya menyambar ke bawah memutar talinya mengelilingi musuh. Kemudian ia menarik tali itu masuk dan kail mengiris dengan mudah tali layang-layang anak muda Pakistan. Layang-layang kecil, terlepas dari tambatannya, terbang bersama angin dan melayang di atas pepohonan diiringi sorak-sorai petaruh.

Crawford membiarkan senyum tipis bertengger di mulutnya setelah ia menurunkan layang-layangnya. Dengan tenang ia berkeliling mengumpulkan uang taruhan, diikuti Madame Wu di belakangnya. "Crawford, kamulah yang terbaik di sini. Kamu lebih baik dibandingkan dengan anak-anak lokal sini, juga dengan anak muda Pakistan tadi," ujar Bates, seorang pedagang asal Inggris yang sering bertaruh dalam jumlah besar dalam pertarungan adu layang-layang. Mereka bertemu di klub malam ketika Crawford dan Madame Wu merayakan kemenangan itu dengan minum-minum. Crawford hanya tersenyum dan berkata, "Belut-belut Madame Wu-lah yang melakukan itu semua."

"Saya bisa lihat itu," ujar Bates seraya menghabiskan minuman dalam gelasnya dan memesan minuman lain. "Omong-omong ada anak muda Amerika di kota ini," kata Bates sambil lalu. "Apakah kamu pernah bertemu dengannya?"

"Siapakah gerangan dia?" tanya Crawford.

"Namanya Michael Fleet. Ia bilang dari Vietnam, seperti kamu."

Mendengar itu Crawford hanya menggerutu. Siapa pun tahu, di tahun-tahun terakhir ini banyak anak muda Amerika berkeliaran di Bangkok. Rupanya Madame Wu merasakan ada tujuan lain dalam pernyataan lelaki Inggris itu. "Apa istimewanya anak muda Amerika ini?" tanyanya.

Bates memainkan gelas kosongnya sementara menunggu diisi. "Ia mengaku ingin belajar adu layang-layang. Saya rasa ia akan menemuimu."

"Mungkin saja," Crawford menjawab sekenanya. Ia menaruh gelasnya dan berdiri. "Mari Anna. Waktunya kita pulang."

"Kapan kamu akan bertarung lagi?" tanya Bates penuh rasa ingin tahu.

"Kalau angin selatan benar-benar bertiup dan taruhannya besar," jawab Crawford sambil mengambil layang-layang bintangnya yang menempel di tembok dan keluar diikuti Madame Wu.

Bayangan lelaki di seberang jalan

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Madame Wu kepada Crawford yang sedang berbaring di ranjangnya.

"Banyak hal. Bagaimana kembali ke rumah ... dan tentang Vietnam."

Madame Wu menghela napas dalam-dalam. "Kamu pernah berkata suatu kali, beberapa waktu yang lalu, suatu hari seorang laki-laki akan datang untuk membunuhmu. Ingatkah kamu akan hal itu?"

"Ya, ... aku ingat," ujarnya.

"Kamu kelihatan beda malam ini, semenjak lelaki Inggris menyebutkan anak muda Amerika itu. Takutkah kamu kepadanya?"

Ia berpaling kepadanya, "Saya tak mau membicarakan hal itu."

Madame Wu mendesah dan mengalihkan pokok pembicaraan. "Berapa uang yang kau menangkan malam ini?"

"Sekitar 6.000 baht," katanya tersenyum sambil berpaling kembali kepada Madame Wu. "Itu sekitar AS $ 300. Sangat bagus untuk kerja satu jam."

Madame Wu tersenyum juga. Sangat bagus, pikirnya. Tapi hal itu mengingatkannya bahwa ia belum mengecek kuitansi-kuitansi toko hari ini. "Saya akan kembali," ujarnya. Crawford mengangguk dan mengisap pipanya.

Turun ke bawah Madame Wu pergi cepat-cepat mengecek keuangan toko dan membereskan pembayaran melalui kartu kredit. Sambil bekerja, sekilas melalui jendela besar ia melihat bayangan seorang lelaki berdiri di seberang jalan. Meski tak bisa melihat wajahnya, ia merasa lelaki itu sedang mengamati apartemennya.

Ketika kembali ke apartemen, ia tidak menceritakan lelaki tadi kepada Crawford.

Pagi keesokan harinya setelah sarapan Wu bertanya, "Mengapa kita menetap di Bangkok, Crawford? Kita bisa pergi ke Australia dan saya bisa membuka toko baru di sana."

"Australia? Apa yang membuatmu mempunyai ide seperti itu?"

"Mungkin inilah saatnya kita memulai sebuah permulaan."

Crawford menggerutu dan menyeruput kopinya.

"Sebaiknya aku segera turun dan membuka toko," kata Wu untuk mencairkan suasana.

Toko cendera mata itu semula hanya sebuah warung kecil. Kehadiran Crawford dalam kehidupan Wu pun berpengaruh besar pada usahanya. Terbukti dengan bantuan keuangan dari pria Amerika inilah tokonya bisa dikembangkan menjadi besar. Bahkan nama toko ini pun pemberian Crawford. Wu tak pernah bertanya tentang asal usul uang tersebut. Entah bagaimana, yang jelas uang itu datang bersama lelaki itu keluar dari belantara Vietnam. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia belajar untuk menerima tanpa pertanyaan apa pun kehidupan yang ditawarkan olehnya.

Lamunan Wu buyar ketika mengetahui ada seorang lelaki berdiri menunggu di luar toko. Nalurinya mengatakan, pria inilah yang terlihat di seberang jalan tadi malam. Ia berusaha tersenyum setelah kunci pintu terbuka. "Silakan masuk. Kami sudah buka."

"Apakah Sidney Crawford tinggal di sini?" tanya lelaki itu.

Ia mempelajari sekilas wajah coklat lelaki itu. Masih muda dengan ekspresi tak berdosa. Ia yakin wajah seperti ini tak menimbulkan bahaya bagi Crawford. "Ya. Ia tinggal di sini. Siapakah Anda?"

"Nama saya Michael Fleet. Mike Fleet. Saya ingin belajar tentang adu layang-layang."

Madame Wu teringat dengan ucapan Bates beberapa hari lalu. "Apakah Anda ada di sana kemarin malam?" tanya Wu.

"Ya! Tetapi waktu itu kalian menghilang di kerumunan pengunjung kelab malam dan saya tak ingin mengganggu. Seorang lelaki Inggris bernama Bates mengatakan saya harus bertemu dengan Crawford. Ia bilang, Crawford-lah jago layang-layang terbaik di kota ini."

"Saya kira memang begitu adanya," jawab Madame Wu. "Tetapi mengapa kamu ingin belajar olahraga macam layang-layang ini? Bukankah masih banyak olah raga tradisional kami lainnya yang lebih menarik seperti tinju, takraw, atau duel pedang? Bukankah beberapa orang malah menyebut olahraga adu layang-layang hanyalah mainan anak-anak yang tak pernah tumbuh menjadi dewasa?"

"Ada uang di dalamnya. Saya menang AS $ 5 semalam dengan memegang Crawford."

Sorot mata tulus anak muda ini membuat Wu bersedia menerima pemuda ini. "Tunggulah di sini sebentar," ujar Wu. Ia segera menghilang di belakang toko dan naik tangga menuju apartemennya.

Ketika hal itu diceritakan kepada Crawford, mata pria ini menatap penuh curiga. "Pemuda yang diceritakan oleh Bates," gumamnya.

"Ya. Kulihat tak berbahaya. Ia hanya ingin tahu tentang adu layang-layang dan ingin belajar dari ahlinya. Ia menang AS $ 5 atas kemenanganmu semalam."

Crawfod mendengus. "Seharusnya ia tak menganggapku seorang master kalau alasannya hanya untuk bertaruh." Sambil mengancingkan baju dan memasukkan ke dalam celana panjangnya, ia berkata, "Baiklah, suruh ia ke sini." Ketika turun, selintas Wu melihat Crawford mendekati laci tempat ia menyimpan pistol Baretta di bawah tumpukan pakaian dalam.

Percobaan pembunuhan

Mike Fleet yang berasal dari Kalifornia ini baru berumur 26 tahun. Ia dikirim ke Vietnam setelah beberapa tentara Amerika ditarik. "Saya tidak sempat melihat negara lain. Maka saya memutuskan untuk tinggal di sini selama beberapa tahun," kata Fleet setelah di atas.

"Itu beberapa tahun silam," Crawford menjelaskan. "Perang telah selesai tahun 1975".

Sejenak pikiran Madame Wu melihat topeng lugu terlepas. Pikirannya pulih ketika kemudian anak muda itu berkata, "Saya ingin belajar adu layang-layang sepertimu, Tuan Crawford."

Crawford memandangnya sejenak sebelum menjawab. "Boleh." Ia kemudian beranjak. "Ikutilah saya. Akan saya bawa kamu ke Pramane Ground sementara saya mencoba layang-layang baru."

Berdua mereka akhirnya keluar rumah menuju ke arena adu layang-layang. Wu melihat Crawford memberikan tali layang-layang ke Mike Fleet, yang menerbangkan layang-layang dengan baik, memperhatikan arahan Crawford untuk setiap gerakan.

Ketika Madame Wu menonton bagaimana Crawford mengajari Fleet, ia ketemu Bates yang ternyata sudah lebih dulu berada di pinggir lapangan.

Dua orang Amerika itu menyelesaikan permainan layang-layangnya dan berjalan menuju Wu dan Bates. "Ia pantas menjadi juara," puji Crawford, sambil menepuk pundak Fleet. "Kembalilah besok, Fleet. Kita akan menerbangkan kedua jenis layang-layang dan sedikit bertarung."

"Sungguh?"

"Ya!"

Mike Fleet pergi dengan senyum gembira terlukis di wajahnya. Yang aneh, sesampainya di apartemen Crawford nampak gelisah. Bahkan ketika Wu menawarinya rokok seperti yang biasanya dilakukan, Crawford menggeleng.

"Ke sini Wu, saya ingin bicara. Saya ingin menceritakan kisahku di Vietnam."

"Kalau cerita itu justru membuatmu sedih, tak perlulah."

"Aku ingin kamu tahu apa saja yang terjadi pada diriku selama di Vietnam."

"Baiklah. Ceritakan padaku."

"Saat itu saya masih dinas di militer." Crawford mulai, "Pada tahun 1970, jauh sebelum datang ke sini dan bertemu denganmu, saya dibekali banyak sekali uang Amerika, dan dikirim ke belantara Vietnam untuk sebuah misi. Saya harus menemui seseorang yang mau dibayar untuk membunuh pemimpin Vietnam Utara. Pembunuhan itu akan dilakukan dengan bom yang bisa pula merenggut nyawa banyak orang tak bersalah. Maklum, ini perang, mereka yang tak berdosa pun bisa ikut terbunuh."

"Saya tahu hal itu benar. Apalagi beberapa minggu sebelumnya, saya pernah menjumpai sebuah desa yang hancur oleh bom napalm. OK, saya pun berangkat menjalankan misi, tapi entah di mana saya sampai pada keputusan untuk menghentikan pembunuhan. Saya tidak pernah bertemu dengan orang yang dimaksud di hutan, malah kemudian saya menyeberang ke Kamboja dan terus berjalan sampai Thailand. Saya bergerak sepanjang pantai dan kadang-kadang nebeng nelayan asing dengan bayaran."

"Tapi mengapa mereka ingin membunuhmu?" tanya Madame Wu. "Apa yang kamu lakukan itu suatu hal yang baik, bukan buruk."

"Tergantung pada bagaimana kamu memandang hal itu. Saya membayangkan orang-orang yang pulang ke Amerika mengira saya berkhianat terhadap negara dan lari dari perang demi kepentingan sendiri."

"Tapi itu sudah lama, Crawford."

"Hampir sepuluh tahun sekarang," jawabnya.

"Mengapa kamu membicarakan hal ini sekarang? Karena kau takut anak muda ini yang datang mencarimu?"

"Ia tak lagi remaja. Umurnya sudah 26 tahun. Cukup tua untuk dilatih sebagai pembunuh."

"Mengapa mereka harus menugaskan pembunuh terlatih, kalau orang biasa pun bisa melakukannya dengan mudah saat kau bermain layang-layang di lapangan?"

"Saya sendiri juga tidak tahu," aku Crawford.

"Jika kau amat takut terhadap pemuda ini, mengapa engkau bersedia mengajari adu layang-layang."

"Mungkin saya mendapat ide gila untuk memberi kemenangan atasnya. Siapa tahu sesudah mengenal lebih banyak tentang saya ia mengurungkan niatnya."

"Bisa jadi kau salah menilai tentang ia."

"Kita lihat saja," kata Crawford lirih.

Tanding ulang

Hari berikutnya mereka berlatih lagi. Kali ini Crawford dan Fleet melakukan simulasi pertarungan. Meskipun Crawford menggunting layang-layang Fleet dengan kasar, anak muda ini mampu bertahan hampir satu jam. Langkah berikutnya, mereka berganti layang-layang dan Crawford mendemonstrasikan teknik meluncur dan membubung. Dengan teknik tersebut, ekor layang-layang kecil pun bisa digunakan menjerat layang-layang yang lebih besar. Kemampuan Fleet belajar dengan cepat membuat semua orang kagum termasuk Wu.

Selesai latihan, Wu bertanya pada Fleet, "Malam sebelum paginya kamu datang ke toko saya, aku melihat bayangan di seberang jalan. Kamukah itu?"

"Ya," katanya. "Saya berusaha untuk meneguhkan hatiku. Akhirnya, aku memutuskan untuk menunggu sampai pagi."

"Aku mengerti."

"Crawford orang yang hebat."

"Aku pikir begitu," kata Wu. "Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan seandainya terjadi sesuatu atas dirinya."

"Bahasa Inggrismu baik sekali," untuk pertama kali Fleet mengamati secara dekat. "Crawfordkah yang mengajari?"

"Orang-orang Amerika yang mengajariku. Crawford merupakan yang terakhir. Tapi yang paling penting bagiku, setelah Crawford, saya tak lagi memerlukan guru."

"Bagaimana dengan Bates?"

"Ia pernah menjadi dokter, tapi ketika datang ke sini beberapa tahun lalu, ia mengaku bekerja pada sebuah perusahaan Inggris. Ia tidak bicara banyak tentang masa lalunya. Tak seorang pun melakukan hal itu di Bangkok."

"Termasuk juga Crawford?"

Mata Wu meneliti wajah Fleet. "Kalau Crawford lain, ia mau menceritakan kisahnya padaku. Mengapa kamu ingin tahu tentang dia?" Mike Fleet mengangkat bahu.

Entah dari mana tiba-tiba Bates muncul, memberitahukan bahwa pemuda Pakistan kemarin menginginkan pertarungan ulang.

"Itu sudah kebiasaan. Satu tanding ulang - seperti dalam kejuaraan tinju," jelas Crawford.

"Kapan?" tanya Madame Wu.

"Besok malam."

"Kalau demikian, saya akan melepas belut lebih banyak lagi."

Crawford tersenyum pada Fleet. "Itulah Wu. Selama ini telah kuajarkan segala hal tentang bisnis, tapi ia masih tidak bisa memutuskan sesuatu atau menghadapi adu layang-layang tanpa melepaskan belut-belutnya."

"Ia seorang wanita yang baik," kata Fleet. "Saya harap dapat menemukan yang serupa di kota ini."

Setelah mereka berpisah, Madame Wu bertanya kepada Crawford. "Apa yang kaupikirkan tentang dia?" tanya Wu.

Crawford merenung sejenak. Kemudian ia berkata dengan lirih, "Saya rasa ialah yang dikirim untuk membunuh saya."

Tertembak di pinggang

Selepas sarapan keesokan paginya Crawford mulai menyusun rencana. "Saya perlu membetulkan sedikit kerusakan layang-layang untuk nanti malam. Fleet akan di sana dan saya harus memberikan pertunjukan yang bagus bagi dia."

"Meski ia berencana membunuhmu?"

"Bisa jadi perkiraanku keliru. Mungkin ia sejujur yang kau kira. Apa pun, saya tidak dapat mengisi sisa-sisa hariku dengan dengan berdiam diri saja."

Mereka turun berbarengan. Wu ingin membuka toko sementara Crawford ingin membeli beberapa tali layang-layang yang besar. Waktu belum juga menunjuk pukul 09.00 dan jalan kecil di depan toko masih sepi. Ketika Crawford berada di luar pintu, tiba-tiba ia mengerang. Sekejap kemudian Crawford kembali masuk toko dan mengempaskan pintu. Ia memegangi pinggangnya dan ketika tangannya terangkat, terlihat darah menetes.

"Crawford, apa yang terjadi?" tanya Wu dalam kepanikan.

"Seseorang menembakku dari seberang jalan. Kalau tidak menggunakan peredam, mungkin ia menggunakan pistol kaliber kecil."

"Apa kau melihat seseorang?" tanya Wu sambil membuka baju Crawford dan melihat lukanya.

"Tidak. Jangan pikirkan hal itu. Saya hanya terserempet."

"Lihatlah, kau berdarah. Saya harus bawa kamu ke dokter."

"Jangan. Sedikit balutan akan menutup luka."

"Kamu akan kehabisan darah dan mati!", kata Wu bersikeras. Meski tidak banyak darah, wajah Crawford nampak pucat. Ia membantunya naik tangga dan membawakan beberapa perban, tapi setelah memeriksa melalui cermin Crawford setuju dengan usul Wu.

"Baiklah," katanya. "Panggil Bates. Ia bekas seorang dokter."

"Mengapa tidak ke rumah sakit?"

"Jangan. Dengan tidak ke rumah sakit, si pembunuh tidak bakalan tahu kondisi saya sebenarnya. Situasi ini amat menguntungkan kita."

Madame Wu mencoba menghubungi Bates tiga kali sebelum ada jawaban. Ketika Bates sendiri yang mengangkat ia berujar, "Tuan Bates, seseorang berusaha membunuh Crawford. Bisakah Anda ke sini segera?"

"Apa? Seberapa parah lukanya?"

"Saya segera ke sana."

Dalam kondisi seperti ini Wu terpikir tentang belut-belut. Sekarang ini, baginya lebih penting menyelamatkan nyawa Crawford, daripada mengurus layang-layang. Wu segera menemui Crawford, "Bertahanlah, sebentar lagi Bates datang. Aku harus pergi mencari belut."

Ia segera turun dan menunggu Bates. Beberapa saat kemudian Bates datang membawa tas dokter kecil berwarna hitam yang belum pernah dilihat Wu sebelumnya. Untuk pertama kali Wu percaya cerita yang didengar dari Crawford bahwa Bates pernah menjadi dokter.

"Siapa yang menembak dia?" tanya Bates tibat-tiba.

"Kami tak tahu. Kita tak lihat seorang pun. Cepatlah pergi ke atas Bates dan rawatlah Crawford. Saya harus berbelanja tapi akan segera kembali."

Madame Wu segera turun ke jalan melewati beberapa toko lain yang baru saja dibuka. Pagi itu kabut cepat menghilang dan sinar mentari langsung menghangatkan udara. Di pasar yang terbuka tak terlihat anak kecil yang menjual belut dan untuk sementara ia panik. Kemudian ia melihat bocah langganannya di seberang lapangan dekat salah satu kapal yang sedang dikeringkan. Ia membawa kereta dorong yang penuh berisi tas plastik coklat berisi belut. "Cepatlah, Nak!" ia berteriak. "Saya beli 9 belut keberuntungan!"

Wu mendekap erat bungkusan belut di dada. Gerakan belut amat terasa. Seolah-olah cemas dengan kebebasan yang akan mereka dapatkan, Wu tergoda untuk segera pergi ke Klong Maha Nak. Tapi kemudian sesuatu menggerakkan ingatannya. Crawford berada dalam bahaya!

Diselamatkan oleh belut

Wu segera kembali ke toko sambil mendekap belut-belutnya. Dari lantai bawah ia mendengar Bates dan Crawford sedang berbicara di ruang tidur. Tak lama kemudian Bates keluar ke dapur dengan tas hitamnya. Melihat Madame Wu berdiri dekat meja ia berkata, "Jangan khawatir, Crawford akan segera pulih ke kondisi semula. Aku telah menjahit lukanya dan membalutnya."

"Bagus."

"Sekarang saya mau pulang. Biarkan ia istirahat sebentar," sarannya.

"Tuan Bates ...."

"Ya."

"Ketika Anda tiba, Anda bertanya siaya yang menembak Crawford. Padahal di telepon saya hanya bilang bahwa seseorang telah mencoba membunuh Crawford. Bagaimana Anda tahu itu disebabkan oleh tembakan?"

"Saya ...."

"Saya kira Andalah penembaknya, Tuan Bates! Anda pasti bersembunyi di seberang jalan ketika Crawford keluar pagi tadi."

"Apa? Apa yang kau bicarakan?" Tas hitamnya terbuka dan ia meraih sesuatu dari dalamnya.

Madame Wu melihat pisau roti di atas meja, tapi sayang di luar jangkauan tangannya. Wu sadar dengan berondongan kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya, ia telah membuat kesalahan fatal. Sesaat ia ingin meralat kata-katanya, tapi mulutnya terkunci begitu melihat Bates mengangkat pistol berperedam dan langsung menembak ke arahnya tiga kali.

Mendengar suara ribut-ribut Crawford terbangun. Bates datang kembali ke kamarnya. "Suara apa itu?" tanya Crawford.

Mantan veteran perang Vietnam itu dalam sekejap bisa mengenali jenis pistol dalam genggaman Bates, kaliber .22 dengan peredam.

"Saya telah membunuh Wu, Crawford, maka saya harus menghabisimu juga. Saya dapat membuat seolah-olah kalian saling membunuh."

"Jadi kau yang berada di seberang jalan pagi tadi!"

"Ya," ujar Bates sambil mengacungkan pistol ke arah

Crawford. "Kau 'kan selalu tahu seseorang yang akan datang, bukankah begitu?"

"Kau datang ke sini tiga tahun lalu. Mengapa mesti menunggu begitu lama untuk membunuhku?"

"Posisi saya sudah aman di sini. Saya tidak ingin membahayakan posisi itu dengan tindakan bodoh. Setelah tahu orang yang saya cari adalah kamu, aku menghabiskan banyak waktu untuk mencari tahu apa yang kau lakukan dengan uang itu."

"Ada di toko cendera mata di bawah."

"Aku tahu itu sekarang."

"Apa pedulimu atas nasib saya, hidup atau mati?"

Bates mengangkat bahu. "Tidak ada, secara pribadi. Itu bukanlah perangku, bagaimanapun. Tapi saya pedagang senjata, mensuplai ke berbagai golongan partai di Asia Tenggara. Ada beberapa di antara mereka masih ingat padamu. Mereka bilang saya harus membunuhmu jika ingin meneruskan bisnis ini. Maka saya menunggu kesempatan baik - kemunculan anak muda Amerika bisa saya manfaatkan. Itulah sebabnya saya mengobatimu asal-asalan. Sebenarnya saya tidak akan membunuhmu sekarang. Saya punya rencana lain setelah kamu adu layang-layang nanti malam. Namun ulah Wu memaksaku - maka kalian akan mati bersama."

"Tunggu ...," Crawford berusaha bangkit dari ranjang.

"Saya akan kehilanganmu, Crawford," kata Bates. Jari-jari putihnya menyentuh pelatuk. "Saya akan mendapat uang banyak darimu."

Saat itulah tiba-tiba Madame Wu bergerak dan dengan cepat menusuk punggung Bates dengan pisau roti.

"Apa yang kau lakukan Wu. Lihat, darah ada di mana-mana."

Madame Wu duduk menggigil di kursi sambil menunggu polisi. "Saya belum pernah membunuh orang sebelumnya. Seperti itukah membunuh?"

"Ya ... seperti itulah. Tapi kau telah menyelamatkan nyawa saya Anna."

"Semua berkat belut-belut itu," ujarnya. "Saya mendekap mereka di dada ketika Bates menembak saya. Pelurunya menuju ke saya tetapi mengenai belut-belut."

"Ya. Kini saya percaya bahwa belut-belut itu membawa keberuntungan."

"Apa yang akan kau lakukan sekarang?"

Ia meraba pinggangnya dan mengerenyit. "Rasanya saya tak bisa menerbangkan layang-layang malam ini. Akan saya lihat apakah Fleet dapat melakukan untuk saya."

"Akankah ada orang seperti Bates lagi yang datang untuk membunuhmu?"

"Mungkin." (Edward D. Hoch/Yds)

rumah