KUCING LIAR
UNTUK FAUNATURISME

Lingkungan hidup yang nyaman terwujud antara lain dengan keharmonisan hubungan antara manusia dan semua makhluk hidup di sekitarnya. Karena itu, upaya pelestarian lingkungan tidak hanya ditujukan pada pelestarian aneka tumbuhan hijau, tetapi juga aneka satwa. Sayang, di beberapa kota besar mulai terlihat berkurangnya keharmonisan hubungan itu. Salah satu di antaranya ialah terusiknya ketenteraman hidup penduduk kota oleh makin banyaknya kucing liar. Meskipun ada yang kelihatan lucu, tetapi pada umumnya mereka sangat mengganggu.

Nenek moyang kucing liar itu dulu bukan penduduk liar, tetapi pasti mempunyai majikan yang menyediakan tempat tinggal yang memadai berikut makanan yang cukup. Mungkin karena jumlahnya bertambah, sementara jatah makanannya tetap, maka ada di antaranya yang protes, lalu minggat dan mencari makan sendiri di luar rumah. Kemungkinan lain ialah ada pemilik kucing yang memang tipis rasa kasihannya, lalu menelantarkannya setelah rupanya jelek, tidak lucu lagi.

Jumlah kucing yang bernasib malang seperti itu bukan seekor dua, tetapi ribuan bahkan puluhan ribu, kalau dikumpulkan. Karena merasa senasib sepenanggungan, mereka kemudian membentuk keluarga liar dan melahirkan anak kucing yang liar juga. Umumnya mereka bermukim di tempat umum, seperti pasar lokal, warung nasi, bagian belakang restoran, hotel, dan dapur asrama, bahkan ada yang tinggal di rumah sakit gila.

Tampaknya tidak sekedar gangguan kecil-kecil seperti mencuri tulang ikan asin dari dapur yang merisaukan orang. Ada gangguan yang lebih mengerikan, yaitu menularkan penyakit zoonosis, seperti toksoplasma, yang menyebabkan kemandulan dan keguguran kandungan pada ibu-ibu yang hamil muda. Meskipun kita tidak pernah melakukan kontak langsung dengan kucing liar itu, namun bisa saja kucing peliharaan kita bergaul dengan mereka, lalu diam-diam ikut menularkan toksoplasma pada kita.

Kucing liar berpesta.

Ilustrasi: Anton Nugroho

Sebagai penduduk kota yang cinta lingkungan, tentu bukan langkah pemusnahan berupa pembunuhan masal yang akan kita tempuh. Idealnya, kucing liar itu ditangkapi lalu divaksinasi agar bebas penyakit. Setelah itu diberikan kepada para penyayang binatang yang mau mengadopsinya. Habis perkara!

Tetapi pengalaman selama ini menunjukkan, bahwa mendapatkan keluarga yang secara sukarela mau mengadopsi kucing liar itu sulitnya bukan main. Tanggung jawab mengadopsi ini lalu diambil alih oleh Pondok Pengayom Satwa, yang sebelumnya sudah kebanjiran titipan kucing. Apa daya, maksud hati ingin memeluk gunung kucing, tapi tangan tak sampai?

Ada akal! Kucing liar itu ditangkapi saja semua, lalu dibuang ke suatu pulau terpencil. Di sana mereka tetap diperlakukan secara manusiawi seperti di Pondok Pengayom Satwa. Memang perlu biaya besar, tetapi dalam jangka panjang dapat mendatangkan uang, kalau bisa dijadikan kawasan wisata kucing. Kira-kira seperti kawasan wisata Pulau Komodo.

Langkah serupa yang lebih sederhana bisa juga dilakukan oleh pihak pengelola hotel, dengan membuat ruangan mejeng kucing sebagai objek wisata di halaman kompleks hotel. Para tamu yang sedang malas ke luar hotel mendapat hiburan dengan menikmati kucing show. Acaranya boleh diberi nama keren: faunaturisme, tetapi skalanya skala gurem. (Khairul Amri)

rumah