ANDAIKATA SIMPANSE
PUNYA PITA SUARA

Jika begitu, binatang primata ini bisa bicara seperti manusia. Tapi apakah binatang memiliki inteligensia? Banyak orang meragukannya. Namun kalau menilik beberapa kenyataan yang disuguhkan oleh pasangan Gardner dengan simpansenya, mau tidak mau kita harus rela menangguhkan keraguan bahwa manusia tampaknya bukan satu-satunya makhluk yang memiliki inteligensia.


Washoe yang jago bahasa.

Washoe, menguasai 130
bahasa isyarat.
(Foto: Repro TXF)

Petugas kebun binatang kecil di Idaho kebingungan. Beberapa ekor binatang hilang sementara tapi muncul kembali di suatu tempat. Konon mereka ditangkap oleh pengunjung yang tak kasat mata yang bukan berasal dari bumi kita (dan tak dapat membaca peta) dalam rangka program pengembangbiakan.

Sama misteriusnya dengan kasus raibnya beberapa binatang, pemberi informasinya juga unik. Sophie, seekor gorila betina, bercerita dalam bahasa isyarat kepada penyelia kebun binatang, Willa Ambrose.

Ini memang fenomena unik. Saat manusia masih membahas masalah inteligensia, makhluk lain di luar ras manusia seperti makhluk ET (extra-terrestrial) justru memperlihatkan inteligensia yang luar biasa. Itu dikisahkan dalam film Fearful Symmetry, salah satu judul serial TV The X-files.

Tak punya pita suara

Untuk membuktikannya, pada 21 Juni 1966 dua ilmuwan dari Universitas Nevada, Allen dan Beatrix Gardner, lalu mengadakan penelitian. Seekor simpanse berusia 14 bulan bernama Washoe ditaruh di sebuah kandang di halaman belakang rumah Gardner. Ia diberi makan, mainan, pohon untuk memanjat, dan teman saat terjaga. Terakhir, ia diajari berbahasa meskipun bahasa itu berupa bahasa isyarat standar Amerika (ASL).

Sebelumnya, beberapa ahli telah mencoba mengajari kera besar untuk berbicara. Sayangnya, konsentrasinya saat itu pada bahasa lisan. Padahal, mana mungkin, sebab bangsa primata ini tak memiliki pita suara.

Inovasi Gardner mengajari Washoe bahasa isyarat tentulah akan dikritik dan dikupas habis-habisan oleh para ilmuwan. Maka tak heran bila Gardner mendesain parameter yang ketat untuk memonitor perkembangan Washoe. Catatan harian secara detail dibuat. Patokannya, kata yang dianggap dikuasai harus bisa digunakan Washoe secara spontan dan dipakai paling tidak sekali sehari dalam 15 hari.

Kata "lagi" (more) dikuasai setelah tujuh bulan berlatih. Pada bulan ke-22, ia telah menguasai 34 isyarat, dan dalam 40 bulan menguasai 92 isyarat. Kecepatan belajarnya pun makin hari makin meningkat.

Saat baru menguasai delapan isyarat, ia mulai menemukan kombinasi, misalnya kombinasi kata "buka-makan-minum" untuk makna "kulkas". Washoe juga menemukan isyarat baru. Ia menggoreskan jemarinya di dada, meniru skema kain penadah liur untuk menyatakan "kain tadah liur". Ternyata isyaratnya itu memang sudah ada dalam perbendaharaan kata ASL. Ia menanyakan nama seorang pengunjung, dan ketika si pengunjung mengatakan ia tak mempunyai isyarat buat namanya, Washoe membuatkan isyaratnya.

Ternyata Washoe juga memiliki daya duga yang baik berdasarkan contoh-contoh yang pernah diajarkan di kelas. Ia langsung mengisyaratkan "anjing" jika ia melihat gambar anjing atau mendengar suara gonggongannya.

Makin hari Washoe makin baik mempergunakan bahasa isyarat sampai-sampai pengetes yang tidak tahu-menahu soal proyek ilmiah yang meneliti Washoe tapi ahli ASL, dapat mengerti semua isyarat yang dikemukakan Simpanse ini. Padahal Washoe belajar bahasa isyarat agak terlambat dan dari guru yang benar-benar kurang profesional dalam bahasa isyarat.

Washoe tidak sama dengan anjing yang bisa duduk saat diperintah. Ia memiliki kecerdasan. Ini memang terobosan besar yang seharusnya mengguncangkan dunia ilmu pengetahuan. Sayangnya, kenyataan bahwa simpanse dan kera besar memang berperasaan, punya warna favorit, suka menggoda, bisa bersedih hati, tak juga diakui oleh dunia ilmu pengetahuan. Mereka lebih suka memperlakukan simpanse sebagai hewan eksperimen. Ironisnya, justru karena mereka dipandang amat mirip dengan manusia.

Tatu dan gurunya.

Roger dan Debbie Fouts dengan Tatu,
salah simpanse yang belajar bahasa isyarat.
(Foto: Repro TXF)

Simpanse bersih

Meskipun demikian dana untuk proyek ini menemui banyak hambatan. Tahun 1970 dananya habis. Nasib Washoe terancam. Bagi dunia luar, primata yang telah menguasai paling sedikit 130 isyarat ini hanyalah seekor "simpanse bersih". Maksudnya, belum dicemari penyakit atau diinjeksi toksin atau racun. Itu berarti ia potensial untuk dijadikan kelinci percobaan biomedis!

Pasangan Gardner berusaha keras mencari tempat berteduh yang aman bagi Washoe. Setelah mengalami berbagai macam ketidakpastian (Washoe bahkan pernah hampir jadi penghuni kebun binatang), ia akhirnya masuk Institut Studi Primata pada Universitas Oklahoma untuk diamati oleh Roger dan Debbie Fouts.

Di situ ia dicampur dengan 15 ekor simpanse yang lain untuk diamati bagaimana ia berkomunikasi dengan bahasa isyarat. Sayang sekali usahanya sering nihil. Pernah ia berada di sebuah pulau bersama beberapa simpanse. Tiba-tiba ada seekor ular muncul dan membuat mereka lari cerai-berai kecuali seekor simpanse. Washoe memberi isyarat "mari-cepat-dear" kepada simpanse itu, namun usahanya sia-sia.

Washoe juga memperlihatkan rasa jengkel terhadap kera-kera rhesus yang tak paham bahasa isyarat dengan menyebut mereka dirty monkey alias kera kotor. Kata dirty sebelumnya digunakan hanya untuk tinja dan barang-barang yang kotor lainnya. Kini ia mempergunakannya dalam berbagai situasi, termasuk hal-hal yang tak "berkenan" di hatinya.

Perkembangan selanjutnya dari proyek membahasakan Washoe tampaknya tidak hanya membuatnya bisa berkomunikasi, tetapi juga mengajarkan yang lain untuk bisa berkomunikasi dengannya.

Saat bersama keluarga Gardner, Washoe suka sekali bermain boneka, mencuci, mencium, bahkan "mengobrol" dengan bahasa isyarat pada boneka-bonekanya. Setelah meninggalkan Universitas Nevada, ia sempat dua kali melahirkan anak, tetapi anaknya meninggal tidak lama setelah lahir.

Saat melahirkan anak kedua, bayinya sempat dibawa ke ruang gawat darurat untuk diberi pertolongan medis namun tetap tak tertolong. Roger Fouts menceritakan bagaimana upayanya memberi tahu berita sedih tersebut kepada Washoe.

"Saya menengoknya pada keesokan harinya. Washoe kelihatan amat sedih dan merasa kesepian. Sebelumnya ia tidak berkomunikasi dengan siapa pun. Begitu saya masuk, ia mendekati saya. Matanya bersinar. Ia mendekati saya sambil berisyarat, 'bayi-gendong- gendong'. Kata itu merupakan pertanyaan. Secara baku ia bertanya, "Di mana bayiku?" Saya pun mengatakan padanya bahwa anaknya sudah meninggal. Bersamaan dengan berita itu, tangan yang mengisyaratkan 'bayi' pelan-pelan turun ke pangkuannya. Kepalanya ditundukkan dan ia berjalan gontai ke pojok ruangan dan tak mau berkomunikasi lagi," cerita Roger Fouts.

"Oleh karena itulah kami lalu mencari penggantinya. Sepuluh hari sejak kematian anak Washoe, kami baru menemukan penggantinya. Simpanse jantan bernama Loulis, usianya 10 bulan."

Keesokan harinya Roger ke tempat Washoe dan memberi isyarat "punya bayi". Segera Washoe bangkit dan dengan antusias memberi isyarat, "Bayi, bayi, bayi." Ia bertepuk tangan, berdiri di atas dua kaki, bulunya berdiri, amat gembira.

Ketika ia memberi isyarat "bayiku", Roger sadar Washoe salah paham. Roger keluar ruangan untuk mengambil Loulis. Roger masuk ke tempat Washoe sambil menggendongnya. Washoe pelan-pelan mendekat. Pada jarak dua atau tiga kaki, ia tampak mengamati bayi yang dipegang Roger. Ia lalu memberi isyarat, "Bayi, bayi, bayi, bayi!" Memandang sejenak bayi simpanse itu, tapi ia tetap duduk. Lalu ia memandang lagi ke atas dan memberi isyarat, "bayi". Rupanya ia menyadari bahwa itu bukan bayinya! "Mana bayiku?" begitu ia bertanya.

Gajah melarikan diri.

Gajah yang hilang dari kebun binatang.
(Foto: Repro TXF)

Ibu asuh yang mengajari

Tapi malam itu Washoe berusaha ngeloni Loulis. Tapi tak mudah. Setiap kali Washoe mendekat, ia menjauh. Akhirnya pada pukul 04.00 dini hari, Washoe bangkit, berjalan di atas dua kakinya, memukul-mukul jeruji sambil memberi isyarat, "Mari peluk". Ia juga bertepuk tangan dan membuat keributan. Ternyata Loulis tanggap juga. Ia langsung meloncat dari tidurnya ke pelukan Washoe! Si ibu mendekapnya dan menidurkannya. Sejak itu ibu dan anak angkat itu tak terpisahkan.

Loulis lahir di sebuah kandang pada The Yerkes Regional Primate Center, Georgia, salah satu tempat penangkaran simpanse untuk kepentingan laboratorium. Induknya dijadikan binatang eksperimen untuk pencangkokan otak, sehingga tak mampu mengasuhnya.

Meskipun kehilangan masa kecil yang bahagia, seperti simpanse yang dibesarkan di laboratorium, Loulis tumbuh baik di bawah asuhan Washoe. Untuk mengevaluasi apakah simpanse mengajar anaknya berbahasa, para peneliti tidak pernah memakai bahasa isyarat di hadapan Loulis selama 5 tahun pertama awal kehidupannya.

Delapan hari setelah bersama Washoe, Louis mulai berkata dengan isyarat. Tidak lama kemudian ia pun mulai "mengoceh" (dengan bahasa isyarat tentunya) seperti ibu asuhnya.

Proyek penelitian membahasakan simpanse ini menemui banyak hambatan. Dana dan penangkaran simpanse selalu menjadi masalah utama. Beberapa simpanse yang sudah dapat berbahasa isyarat ada yang malah menjadi binatang percobaan medis lagi. Lebih-lebih saat AIDS jadi perhatian dunia. Untunglah simpanse kemudian dianggap tidak cocok untuk tes AIDS setelah ratusan simpanse ditulari HIV namun tidak juga berkembang menjadi AIDS. Hanya saja, para simpanse yang telah ditulari HIV itu juga merupakan masalah lagi. Akan dikemanakan mereka?

Ada upaya untuk melepaskan simpanse ke kehidupan bebas di hutan. Namun muncul beberapa kendala. Simpanse yang telah ditangkap sudah tak terbiasa hidup mandiri.

Pasangan Fouts yang prihatin akan masa depan Washoe dan Loulis lalu membawa keduanya pindah pada tahun 1980 ke Institut Komunikasi Simpanse dan Manusia di Central Washington University di Ellensberg, Washington.

Lima simpanse dewasa yang bisa berbahasa isyarat tinggal di tanah seluas 7.000 kaki kuadrat. Para simpanse, kira-kira bertinggi tubuh lima kaki dengan berat 150 pon kini dilindungi haknya oleh Yayasan Teman-teman Washoe, sebuah organisasi nirlaba yang bermaksud memelihara kehidupan simpanse. Mereka beruntung, karena tidak perlu bergabung dengan 1.400 saudara mereka yang tersebar sebagai binatang percobaan di Amerika Serikat, yang menanti kematian di kerangkeng sempit atas nama ilmu pengetahuan.

Eksperimen bahasa oleh kera besar juga terus dijalankan di Amerika Serikat dan Jepang. Beberapa mempergunakan ASL, namun ada juga yang mempergunakan variasi kode bahasa yang lain termasuk komputer dan leksigram. Washoe dan keluarganya telah membuktikan, ternyata bukan cuma manusia makhluk cerdas di bumi. (TXF/Als)

rumah