Perjalanan karier wanita kelahiran Tanjung, Kalimantan Selatan, dalam dunia tarik suara dan mencipta lagu ini sarat dengan kisah-kisah unik dan menarik. Kesetiaannya pada profesi hingga usianya yeng ke-60 pada 1 November 1997 ini pun patut dicatat. Sehari setelah meluncurkan album terbarunya yang bertajuk "Virus Cinta", penerima penghargaan BASF Award ke-10 untuk kategori "Pengabdian Panjang di Dunia Musik" tahun 1994 ini berkisah tentang perjalanan kariernya kepada Intisari di rumahnya.
"Apakah sekarang Tuhan sayang sama aku?" Pertanyaan polos anak gadis berusia sekitar 10 tahun itu terasa mengaduk-aduk perasaan manakala tahu kondisi yang melatarbelakanginya.
Ganti nama tiga kali
"Waktu itu aku masih kelas dua SD," kata Titiek Puspa mengawali kisah tentang masa kecilnya. "Begitu masuk kelas saya ndrodog (gemetaran). Seperti yang sudah-sudah, guru pun menyuruhku pulang. Namun saya berkeras untuk tetap tinggal karena waktu itu hujan deras. Tetapi pak guru tetap berkeras juga. 'Pulang!'" Waktu kecil Titiek memang sakit-sakitan. Tak aneh kalau ia memiliki banyak nama sebab dalam kondisi begitu tradisi Jawa memang mengharuskan untuk mengganti nama. Dari semula Sudarwati menjadi Kadarwati, lalu terakhir Sumarti.
Jarak dari sekolah ke rumahnya jauh. Payung tidak ada. Badan pun semakin gemetaran. Namun semua itu tak membuat Sudarwati kecut. "Aku pun berlari pulang menerjang pekatnya air hujan," kenang wanita yang masih terlihat energik di usianya yang sudah senja ini.
Sepanjang perjalanan ia ngomel-ngomel, "marah" kepada Tuhan. "Sementara anak-anak lain bisa masuk sekolah tanpa gangguan, kenapa saya harus pulang? Bukankah Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang?" teriak Sumarti di sela-sela derasnya hujan. Tiba-tiba saja petir pun menggelegar. "Aku tidak takut! Bunuh saja aku!" teriaknya lagi. Petir dan hujan masih terus menemani Sumarti yang basah kuyup.
Tiba di rumah ia bukannya langsung masuk ke dalam rumah, tapi berlari ke kebun di belakang rumah. Ia memetik berbagai macam buah muda dan bergetah yang tumbuh di kebun. Mangga muda, petai cina, mengkudu, dll. Dikupas, dipotong-potong, dan dicampur dengan cabai kemudian digerusnya dalam lengser, semacam piring berukuran besar.
Ia nekat menyantap rujak buatannya itu. "Aku pikir, dengan makan rujak itu aku akan meninggal. Ternyata cuma air liur yang membanjiri mulut," katanya dengan raut muka orang kepedasan. Tapi setelah itu semua berubah jadi gelap. Blek, Sumarti kecil tak ingat apa-apa lagi. Jatuh pingsan. Begitu bangun hari sudah gelap. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 22.00. "Berarti aku telah pingsan setengah hari! Karena ibuku memiliki 12 orang anak, sehingga tak terasa kalau kehilangan satu anaknya."
Keanehan justru terjadi pada keesokan harinya. "Bangun tidur tubuhku terasa enteng. Semua tugas aku kerjakan dengan tuntas; mencuci piring, menyapu halaman, dan memandikan adik. Berangkat ke sekolah pun ringan saja. Serasa seperti the six million dollar (wo)man. Di sekolah pelajaranku menjadi bagus. Mencongak bagus, menyanyi juga bagus."
|
|
"Improvisasiku kuat. Kata Mus Mualim, |
|---|
Begitulah kepolosan anak kecil yang terbebas dari "siksaan". Gadis kecil itu pun menyambung dengan suatu ungkapan terima kasih dan rasa syukur. "Kalau begitu, sekarang saya akan menyanyi untuk Tuhan," kata Sumarti lagi. Titiek lalu menembangkan beberapa lagu, umumnya lagu Jawa, dengan suaranya yang masih jernih dan bening. Habis itu, menyanyi di atas pohon menjadi sebuah "ritual" bagi Sumarti alias Titiek kecil setiap kali pulang sekolah.
Pakai nama samaran
Cerita pun bergulir dengan peristiwa-peristiwa yang kelak mengubah jalan hidup dan cita-cita Sumarti. Sebuah sukses kecil namun membuat hidupnya mulai berubah.
"Suatu ketika ada perlombaan menyanyi, tapi bukan di sekolah. Aku bingung, antara ikut atau tidak. Soalnya, aku takut dimarahi bapak," tutur Titiek. Dalam pandangan orang tuanya, penyanyi itu ya seperti tukang nembang dalam kelompok kesenian Jawa.
Supaya tidak ketahuan bapaknya, teman-teman sekolahnya pun mengusulkan untuk memalsu namanya. "Kamu 'kan dipanggil Titiek. Bapakmu bernama Puspo. Bagaimana kalau kamu pakai nama samaran Titiek Puspo?" Begitu usul teman sekolahnya saat itu. Awalnya ia kurang setuju karena kata puspo berbau bahasa Jawa. Akhirnya, ia sepakat namun Puspo diindonesiakan menjadi Puspa. "Sejak itu, jadilah Titiek Puspa sebagai nama baruku."
Meski saat itu masih duduk di bangku SMTP, namun ia tidak merasa gentar meski pesaingnya rata-rata murid SMU. Keberuntungan pun berpihak padanya. Titiek Puspa juara! Hatinya berbunga-bunga. Kesenangan itu semakin memuncak manakala tahun 1954 ia menjadi juara di Bintang Radio Jenis Hiburan tingkat Jawa Tengah. "Meski memperoleh juara kedua namun, karena nilainya tinggi, aku berhak mengadu kemampuan di tingkat nasional," katanya bangga.
Terbebasnya dari keadaan sakit-sakitan dan juga kemenangan dalam lomba menyanyi menjadi bagian tersendiri yang selalu dikenang Titiek. Keyakinannya untuk bisa menjadi penyanyi semakin tebal. Lebih-lebih setelah bapaknya meminta maaf atas sikap yang menentangnya terjun dalam dunia tarik suara, sesaat sebelum meninggal dalam pelukan Titiek.
Kesempatan berharga pun dia peroleh. Pada malam pemberian hadiah juara di Stadion Ikada, Jakarta, Sjaiful Bachri - pimpinan Orkes Simphony Djakarta - meminta Titiek ikut menyanyikan lagu. Sebuah kebanggaan mengingat biasanya hanya para juara I yang boleh tampil pada Malam Gembira seperti itu.
Kala itu ia menyanyikan lagu yang bisa jadi tak terlupakan, Chandra Buana, karya Ismail Marzuki. Beberapa hari kemudian, lagu itu sempat mengudara lewat RRI untuk sementara waktu. Keyakinan dan kepercayaan dirinya semakin menggumpal. Suatu tabungan mental yang sangat berguna dalam perjalanan kariernya kelak di kemudian hari.
Dari panggung ke panggung
Bukan jalan tol yang ditemui Titiek dalam meniti karier di jalur musik. Kesempatan rekaman baru dia peroleh pada 1955 di Semarang dari perusahaan rekaman milik negara, Lokananta. Namun setiap kesempatan selalu menciptakan kesempatan lain. Kemampuan untuk menyiasati setiap kesempatan pada akhirnya menentukan apakah rentetan kesempatan itu akan sampai pada kesuksesan.
Pada rekaman kedua ia menyanyikan satu lagu Melayu. Tahun 1956 ia masuk dapur rekaman di perusahaan rekaman Irama, menyusul kemudian rekaman ketiga tahun 1959. Kedua rekaman itu dilakukan di Jakarta karena kebetulan Titiek sedang mengikuti festival Bintang Radio yang menjadi obsesinya.
Sayang sekali, meski berkali-kali ikut lomba Bintang Radio, Titiek tetap gagal juga. Padahal saat itu menjadi juara Bintang Radio sangat berpengaruh dalam dunia musik; bisa jadi batu loncatan untuk semakin dikenal khalayak luas. Setelah gagal dan gagal lagi, Titiek sadar dan tak berharap lagi. Ia lantas menekuni tarik suara langsung di lapangan. Dari panggung ke panggung.
|
|
Di samping Mus Mualim, |
|---|
Panggung dan pentas telah membentuk jiwa menghiburnya. Suara altonya semakin terasah. "Dulu kalau menyanyi di lapangan, mike-nya gede tapi suara yang keluar kecil. Beda dengan sekarang. Makanya, kalau menyanyi harus keras biar kedengaran sampai belakang." Sejak itulah, dunia musik Indonesia terkena efek bola salju dari wanita putri pasangan Tugeno Puspowidjojo - Siti Mariam ini.
Berawal dari not "telanjang"
Selain penyanyi Titiek Puspa juga dikenal sebagai pencipta lagu. Entah sudah berapa ratus lagu lahir dari hasil perenungannya. Sebagai pencipta lagu, Titiek ibarat batu mulia: batu mengkilap setelah digosok. Dulunya ia mengaku sama sekali tak punya pikiran untuk mencoba mengarang. Baginya seorang pencipta lagu itu kalau tidak keturunan dewa, "Ya, orang gila," ujarnya.
Kemampuannya mencipta lagu tak lepas dari dukungan pianis Mus Mualim. "Improvisasiku kuat. Kata Mus Mualim, improvisasi sudah merupakan sepenggal lagu," katanya sambil mendendangkan beberapa lagu tanpa lirik. Ia pun mencoba mengarang lagu dan meminta Mus Mualim menilainya. Mencipta lagu ternyata tak mudah. Sampai coretan lagu ke-8, Mus Mualim masih menolaknya. Baru pada lagu ke-9 Mus Mualim menerima ciptaannya. Itu pun ia hanya berkomentar, "Ya, lumayan."
Tahun 1963 Titiek menggubah Kisah Hidup, lagu pertama ciptaannya. Mus Mualim yang sudah ia kenal beberapa tahun sebelumnya turut membantu mengoreksi notasinya. Maklum saat itu Titiek belum tahu teknik menulis lagu. Ia hanya menulis lagu dengan not angka "telanjang", tanpa birama, maupun tanda-tanda baca musik apa pun. "Saya memang autodidak," akunya terus terang.
Kisah Hidup tak begitu bergaung. Baru pada ciptaan ke-2, Mama (1964), secercah harapan mulai tampak. Selain ia bawakan sendiri, beberapa lagu ciptaannya juga dinyanyikan oleh penyanyi lain, dan sekaligus melambungkan nama penyanyi tersebut. Ambil contoh, Lilies Suryani (Gang Kelinci), Eddy Silitonga (Romo Ono Maling, Rindu Setengah Mati), Acil Bimbo (Adinda), serta Euis Darliah (Apanya Dong).
Tema dan corak lagu-lagunya sangat beragam. Ada lagu cinta (Cinta dan Jatuh Cinta), persahabatan (Bing), empati pada kaum pinggiran (Kupu-kupu Malam), sampai patriotisme (Pantang Mundur dan Ayah). Coraknya mulai dari yang lembut dan syahdu (Adinda) sampai yang mengentak-entak (Marilah ke Mari dan Apanya Dong). Ia pun tak terseret arus dalam mencipta lagu. "Marilah ke Mari, misalnya, tercipta saat lagu-lagu Koes Plus merajalela," ujar Titiek sembari membandingkan nada lagu Marilah ke Mari yang mengentak-entak dengan salah satu lagu Koes Plus dengan gayanya yang centil.
Proses kreativitas Titiek Puspa dalam mencipta lagu mengalir begitu saja, dan bisa muncul di mana saja dan kapan saja. "Asal bukan tempat yang ramai atau sambil diajak ngobrol," selorohnya. Bing, Kupu-kupu Malam, Cinta adalah sebagian lagu yang tercipta dalam kondisi yang berbeda.
Lagu Bing tercipta di atas pesawat terbang sewaktu ia akan mengadakan pertunjukan di Singkep, Riau (1973). Dia akui, Bing Slamet adalah pujaan hatinya. Keinginan untuk bertemu dengan Bing sudah terpupuk sejak ia memenangkan kontes menyanyi di Semarang tahun 1954.
"Mengapa aku terkagum-kagum pada Bing? Semua tak terlepas dari penampilannya. Ia seorang entertainer. Sewaktu tampil di panggung serasa tak memiliki beban. Bicaranya tak menyinggung orang. Bahkan apa yang ia lakukan telah membuat banyak orang senang," ungkapnya dengan nada serius.
Setelah keberangkatan ke Singkep tertunda gara-gara kerusakan pesawat, Titiek pulang ke rumah. Sore itu berita meninggalnya Bing Slamet sangat mengagetkannya. Namun ia tak bisa hadir dalam pemakaman karena harus pergi ke Singkep.
Di atas pesawat menuju ke Singkep, Titiek Puspa mencurahkan perasaan sedih dan haru untuk teman, guru, dan sahabatnya. Sambil menangis sesenggukan, ia mencoret-coretkan "kata-kata" di atas sobekan kertas kantung muntahan. Siang itu surya ... kekasih telah pergi untuk selamanya ... kapan lagi kita kan bercanda; kapan lagi kita bermanja .... Hingga terciptalah lagu Bing hanya dalam waktu setengah jam!
Sementara Kupu-kupu Malam diciptakan sebagai wujud empatinya terhadap seorang wanita pekerja seks. Ketika ia sedang show di luar kota, wanita itu menemuinya di kamar dan mencurahkan segala kepedihan hatinya.
Melewati banyak cobaan
Kejadian lain yang mengesankan dalam hidupnya adalah ketika ia mengajari anaknya untuk bisa "ramah" lingkungan. "Waktu itu tahun 1964. Sangat jarang ada permintaan pentas. Petty, anakku, sakit demam. Sekitar pukul lima sore lewat pedagang mi. 'Ma, Petty ingin mi. 'Kan dua hari belum makan,'" tutur Titiek menirukan rengekan Petty, putrinya. "Saya bingung sebab duitnya nggak ada. Tapi juga merasa kasihan sekali," ucap Titiek dengan nada memelas.
Di dapur masih ada sop dan nasi. Titiek lantas mencoba menjelaskan pada putrinya. "Jika Petty mau beli mi, nanti seluruh keluarga tidak bisa makan karena duitnya pas-pasan sekali," katanya setengah merajuk. Setelah dijelaskan Petty akhirnya mau makan sop. Sungguh aneh! Setelah makan sop, Petty sembuh dari demamnya. "Dengan mengorbankan egonya, Petty menjadi hero bagi keluarga," ujarnya mencoba menganalisis. Kejadian itu membuat Titiek menangis melepas rasa bahagia sekaligus rasa bersalah.
Banyak kejadian tak menyenangkan menimpanya. Selama dua tahun suaranya hilang. Setelah berikhtiar dan berobat ke sana- kemari, akhirnya sembuh di tangan Romo Lukman di Purworejo. Konon, ia "dikerjai" orang. Dari kejadian itu terciptalah Apanya Dong (1982). "Lumayan, hasilnya bisa untuk berobat suami ke Jepang," katanya ringan.
Sepulang dari Jepang ia menerima kenyataan pahit. Rumahnya terbakar tahun 1983. Seluruh dokumen hilang. Namun ia melihat hal itu sebagai peringatan dari Tuhan. "Rumahmu itu kamar mandinya kecil. Padahal cucumu 'kan banyak?" Itulah pesan yang ia tangkap, dan lantas ia merombak rumahnya.
Keterlibatannya yang mendalam dengan sebuah peristiwa atau kejadian sering kali membangkitkan bakat mengarangnya. Ketika ia dimusuhi pers gara-gara salah paham, bersamaan dengan meninggalnya ibunya, lahirlah Mama. Juga ketika harus menghadapi peceraian, gosip, serta mengasuh dua anaknya, Petty dan Ella. Ketenteraman diakuinya baru memayungi hidupnya semenjak menikah dengan Mus Mualim di tahun 1970, sampai Mus meninggal 1 Januari 1990.
Tahun 1991 ia mendapat cobaan lagi ketika membuat kesalahan dengan menyerahkan karangan bunga untuk penyanyi berpenampilan terbaik kepada Utha Likumahuwa dan Trie Utami dalam Festival Lagu Populer Indonesia di Yogyakarta yang disiarkan secara langsung oleh TVRI. Padahal bunga itu mestinya untuk Harvey Malaiholo.
Kejadian di bulan Juli itu masih membekas dalam dirinya. Bukan saja ia menerima rasa tidak suka dari penggemar dan orang tua Trie Utami, banyak yang mengira ia melakukan "lelucon". "Padahal itu kekeliruan," tuturnya tegas.
Toh kehidupan seperti itu yang membuatnya matang, membuatnya berani, tekun, dan jujur. "Sekarang banyak orang yang berani dan tekun, tapi melupakan kejujuran," ungkap nenek 13 cucu yang selalu menjaga kondisi dengan mengembangkan panca usaha, yakni pengaturan makan, tidur, bekerja, olah raga (pernapasan), dan istirahat.
Selain menyanyi dan mencipta lagu, ia sempat pula main film layar lebar maupun sinetron. Keterlibatannya di dunia film diawali dari Minah Gadis Dusun (1965), diambil dari judul lagu ciptaannya. Kemudian Di Balik Cahaya Gemerlapan, Inem Pelayan Sexy (1976), Karminem (1977), Rojali dan Juhela (1980), serta Koboi Sutra Ungu (1982). Sementara sinetron diakuinya sebagai obat kangen.
Meski sempat menjadi guru TK, cita-citanya waktu kecil, dunia musik adalah hidupnya. "Kalau menjadi guru TK paling saya hanya bisa menyanyi untuk murid saya. Kalau jadi penyanyi 'kan banyak yang bisa mendengar suara saya," ungkapnya mencoba menyikapi jalan hidupnya.
Walau bukan guru TK lagi, setidaknya ia telah berbuat bagi dunia TK dengan lagunya Burung Kakaktua. Anak kecil mana yang tak tahu lagu itu? Selamat ulang tahun Mbak Titiek, semoga panjang umur! (Yds Agus Surono/A. Hery Suyono)