Kaum
beruang datang ke Tanjung Churchill di Teluk Hudson, Kanada, untuk
menunggu air teluk membeku. Kalau sudah cukup tebal bekunya, mereka
dapat berpijak di atasnya, dan berjalan sampai jauh ke arah laut
untuk berburu anjing laut, singa laut, dan berbagai jenis ikan
yang muncul di sela-sela gumpalan es batu.
|
|
Menunggu air teluk membeku, sebelum dapat berburu mangsa. |
|---|
Beruang Thalarctos maritimus disebut beruang es karena tinggalnya di padang es. Orang Inggris menyebutnya polar bear, karena binatang itu tinggal di daerah Kutub Utara, sedangkan kita di Indonesia menyebutnya beruang putih karena bulunya memang putih.
Sebenarnya juga tidak putih benar, tetapi agak krem. Dengan bulu itu, mereka jadi sulit dibedakan dari putihnya salju di latar belakang. Mereka bahkan dapat merayap tak terlihat oleh anjing laut yang mau naik ke pantai. Itulah mangsanya.
Kongres beruang itu membuat Kota Churchill sangat terkenal, sampai diolok-olok sebagai ibu kota beruang. Jumlah beruangnya memang sama dengan manusia warga kota yang 1.000 orang "padat"-nya.
Dalam kongres juga ada pertunjukan kesenian beruang, terutama tarian dua pejantan guna membunuh waktu. Beberapa pengusaha yang jeli ada yang kemudian memanfaatkan atraksi itu untuk dijual kepada turis. Dengan buggy tundra sebagai pengangkut, mereka menggiring para wisatawan ke arah beruang. Kalau buggy sudah berhenti di tengah kerumunan beruang, selalu ada yang mendekat tanpa syak wasangka.
"Beruang cem mana ini, bah!" siratan mata si beruang benaran sambil bersandar ke dinding kabin buggy beroda raksasa seperti traktor. Buggy ini juga bertindak sebagai mobil tahanan. Mereka dilarang keluar dari kabin Landrover yang nangkring di atas 4 ban raksasa setinggi 1,5 m. Kalau dipikir-pikir, ya mirip mobil tahanan juga.
|
|
Pura-pura pacaran, sebagai pemanasan. |
|---|
Larangan keluar dari kabin itu memang beralasan. Beruang liar tetap liar, dan sama sekali tidak takut menghadapi manusia. Pernah terjadi, seorang peneliti menembak beruang betina dengan peluru bius untuk dicatat pertumbuhannya. Tiba-tiba saja seekor beruang jantan mendekat. Dihalau dan diancam dengan pistol pun, ia tidak mau pergi, dan terus merangsek. Sesudah binatang itu roboh diterjang peluru, barulah penembaknya menyesal setengah mati. Ia seorang juru masak tim peneliti yang ingin melindungi ilmuwan dari ancaman maut. Beruang itu ternyata tidak mau menyerang orang, tetapi hanya ingin melihat lebih dekat beruang betina yang menggeletak ditembak peluru bius tadi. Ah!
Sejak itu, para peneliti yang mengamati tingkah
laku beruang tidak boleh membawa senjata, tetapi harus tinggal
dalam kerangkeng. Walaah! Mereka malah menjadi tontonan bagi beruang
yang mampir, menonton makhluk aneh dalam kerangkeng.
Korban kanibalisme
Beruang es sudah berabad-abad lamanya tinggal di tempat yang dingin dan terpencil itu. Bulunya yang tebal cukup hangat melindungi tubuh. Kakinya juga bagus diliputi bulu-bulu tebal yang tumbuh rapat, sehingga tidak mungkin terpeleset kalau berjalan di atas salju licin.
Rumahnya berupa gua bawah tanah di kaki gunung. Sampai 3 bulan dalam musim dingin Januari - Maret, mereka tinggal dalam gua yang lebih hangat (karena panas bumi) daripada udara luar di padang salju. Ada yang tidur-tiduran untuk menyusui anak (kalau betina). Ada pula yang tidur beneran lama sekali (kalau jantan). Mereka tahu bahwa di luar gua tidak mungkin ada makanan.
Baru kalau bulan Mei musim semi tiba, dan mulai melelehkan es, para ibu beruang mengajak anaknya keluar. Dasar anak-anak! Mereka tidak lupa main petak-umpet dan kejar-kejaran dulu, sebelum berlari-lari kecil di belakang ibu.
Mereka mencari buah-buahan, burung salju, atau kadang juga kelinci sebagai santapan keluarga. Kadang mereka berhadapan dengan induk beruang lain yang juga mengajak anak-anaknya mencari makan. Lalu timbul pertengkaran kalau tidak ada yang mau mengalah berebut wilayah perburuan. Dua ekor induk yang sedang bertengkar menjadi tontonan yang menarik bagi anak-anak yang tetap diam di belakang induk masing-masing.
|
|
"Beruang cem mana ini bah!". |
|---|
Baru setelah anak itu jelas matilah, induknya
mau pergi meninggalkannya. Dengan tenang, beruang tua kemudian
memakan jenazah anak itu sebagai hidangan kanibal.
Main cinta untuk pemanasan
Berbeda dengan beruang muda yang sudah remaja (umur 2 - 3 tahun). Ia malah diusir oleh induknya, agar mencari makan sendiri. Mula-mula memang bingung, tetapi beberapa hari kemudian ia sudah mampu mencopet makanan sisa beruang besar. Ini benar-benar pelanggaran yang berat terhadap kewibawaan beruang, sampai beruang besarnya bengong! Kok ada, ya, anak beruang kurang ajar begitu!
Lama-kelamaan anak beruang semacam itu juga ketemu batunya (dihajar beruang besar), sehingga kemudian mengenal sopan santun dan hierarki beruang. Menurut Fred Bruemmer, peneliti lingkungan hidup di Kanada, yang meneliti tingkah laku beruang es di Tanjung Churchill selama 20 tahun, puncak tertinggi hierarki ditempati oleh beruang jantan yang berumur puncak 8 - 12 tahun, dengan bobot badan kelas superberat 400 - 750 kg. Kalau berdiri, ia benar-benar tampak meraksasa setinggi 3 m. Inilah binatang karnivora daratan yang paling besar di seluruh dunia saat ini.
Rentang hidup mereka umumnya hanya sampai 35 tahun. Pada umur 15 tahun, kekuatannya sudah merosot, dan boleh dikatakan pensiun karena tidak mampu berburu mangsa lagi seperti rekannya yang lebih muda. Pada umur 20 tahun sudah pol, kalau mereka hidup di alam bebas. Tapi dalam pemeliharaan kebun binatang, beruang tua yang makanannya disediakan dengan teratur, masih dapat hidup sampai 35 tahun.
|
|
Acara menari "adu gulat". |
|---|
Tetapi sebaliknya, mereka juga gila hormat, dan menuntut dari para junior yang lebih pelonco agar tidak melotot dengan kepala congkak yang mendongak, kalau berpapasan dengan para senior.
Tidak selamanya mereka menemukan makanan hidangan
kongres dengan segera. Banyak yang datang terlalu dini, dan harus
menunggu berhari-hari sebelum air laut membeku cukup tebal. Sambil
menunggu itulah, para pemuda beruang membunuh waktu dengan bermain-main.
Ada yang pura-pura berkelahi, dan ada yang pura-pura bermain cinta.
Bukan karena mereka hermafrodit, tetapi karena hobi. Main cintanya
cuma main-main. Untuk pemanasan.
Latihan berkelahi
Baru kalau es di permukaan air teluk benar-benar sudah keras membekulah, mereka tidak bermain-main lagi, tetapi beramai-ramai berburu makanan, sampai jauh ke tengah laut. Dengan berpijak pada gumpalan es yang sudah tebal bekunya, dan mengapung sebagai pulau kecil di tengah air laut, mereka menunggu kemunculan anjing laut, singa laut, atau ikan di permukaan air, untuk ditabok dan diganyang. Kadang mereka harus terjun ke air. Tidak ada masalah. Mereka tidak kagok, meskipun tubuhnya 4 kuintal.
Para calon pejantan yang sudah makan kenyang ada yang berlatih berkelahi satu lawan satu dengan tangan kosong. Dua ekor pemuda beruang yang sama besar dan seumur (rata-rata 7 tahun) saling mendekat, lalu berangkulan, sambil ngos-ngosan seperti pegulat tulen. Mereka berputar-putar seperti menari sambil tetap saling berpegangan, sampai salah seekor ada yang jatuh telentang dengan kaki bergerak terus seperti orang mengayuh sepeda terbalik di udara.
Beruang lawannya menyerang tenggorokan untuk menggigitnya, tetapi kemudian tidak jadi. Hanya pura-pura, kok!
Diduga, latihan berkelahi ini diperlukan untuk
menghadapi rival benaran dalam perebutan pacar nanti, pada musim
kawin bulan April, awal musim semi berikutnya.
|
|
Berburu anjing laut sebagai santapan kongres. |
|---|
Tetapi sementara itu, nona beruang yang sudah kawin pada musim semi sebelumnya, dan kini sudah hamil tua, terpaksa menggali lubang bawah tanah untuk dipakai sebagai kamar bersalin. Menggalinya sendirian. Suaminya tidak mau turut campur dalam urusan rumah tangga.
Pada awal musim dingin bulan Januari, lahirlah bayinya. Biasanya hanya satu ekor, tetapi kadang juga ada yang kembar. Ukuran bayi ini kira-kira sebesar tikus yang tak berdaya dan masih buta.
Berbulan-bulan lamanya mereka tinggal dalam gua bawah tanah yang sumpek untuk menyusu ibunya. Sebagai binatang menyusui, induk beruang terpaksa berpuasa. Tak ada masalah juga, karena dalam musim panas sebelumnya, nona beruang sudah makan sekenyang-kenyangnya selagi masih kuat makan, untuk menimbun lemak di bawah kulit badannya. Lemak inilah yang selain dipakai untuk menyusui anak, juga dibakar dalam tubuh untuk menghasilkan tenaga, meskipun berpuasa .
Pada akhir musim dingin sekitar bulan Maret berikutnya, induk beruang sudah begitu lapar karena hampir habis persediaan lemaknya, sampai tidak tahan lagi tinggal dalam gua. Lalu ia keluar meninggalkan anak-anaknya untuk mencari makanan. Sementara itu, anak-anak sudah dapat berdiri di atas kaki sendiri (dalam gua), sehingga bisalah ditinggal sebentar.
Induk beruang mencari kelinci kutub atau burung salju di pasar swalayan "Semak Belukar" terdekat, untuk dimakan sendirian. Pada musim panas bulan Agustus, anak-anak sudah dapat disuap dengan buah-buahan semak belukar, yang sementara itu sudah berbuah. Menu mereka kadang diselingi dengan kelinci kutub dan burung salju juga.
Akhirnya pada umur 10 bulan, anak-anak sudah dapat diajak berburu ke tempat yang lebih jauh. Mereka harus melihat contoh bagaimana beruang dari keluarga baik-baik mencari nafkah. Makanannya lebih besar, antara lain ikan dan anjing laut (yang masih kecil). Syukur kalau bisa berburu di Teluk Hudson, tempat kaum beruang berkumpul dalam kongres besar nasional. (Slamet Soeseno)