WARISAN KASIH
DARI DIANA

Diana di Brazil.

Mengunjungi pasien anak-anak di Brasil.
(Foto: Repro)

Jangan terpaku ratapi makamku
Aku tak tidur di situ

Kini kuhidup dalam angin seribu
Dalam kilauan salju

Ku hidup dalam sinar mentari yang subur
Dalam guyuran lembut hujan musim gugur

Aku hidup saat kau bangun di pagi hening
Dalam embusan angin segar yang menggesek ranting

Bersama burung aku terbang
Pandanglah aku dalam kedip cahaya bintang

Jangan terpaku di makamku dan menangis
Aku tidak di situ, aku tak mati.

Puisi indah itu mengawali sebuah homepage di Internet bagi ungkapan duka cita atas berpulangnya Putri Diana.

Reaksi dunia menunjukkan betapa pesona Diana tidak mengenal batas usia, bangsa, profesi, kelas sosial. Apa yang membuat warga dunia demikian terpaut oleh pesona Diana? Adiknya, Earl Spencer IX, menawarkan sepotong jawaban dalam eleginya,

"Diana ...adalah wanita yang tidak mengenal kelas, yang tahun lalu telah membuktikan tanpa gelar Her Royal Highness pun ia tetap dapat memancarkan binar magisnya."

Diana, pribadi yang hidup dalam dua dunia. Di balik glamor, jepretan lampu kilat, wajah penuh senyum, dan sorot mata birunya, tersembunyi sesosok wanita yang kesepian, yang merasa terlantar dan tidak berharga.

Terlahir sebagai The Honorable Diana Frances Spencer, di suatu sore 1 Juli 1961, putri ketiga, anak keempat dari Viscount dan Viscountess Althorp ini "jatuh" ke dunia dengan berat 3,5 kg. Meski diakui secara fisik ia amat sempurna, Diana adalah kekecewaan. Orang tuanya mengharapkan anak laki-laki sebagai penerus keturunan.

Cikal-bakal kekayaan keluarga Spencer berasal dari abad XV, ketika nenek moyang Diana termasuk salah satu pedagang domba terkaya di Eropa. Dengan kekayaan itu, mereka memperoleh gelar "Earl" dari Raja Charles I (1600 - 1649), masa kehidupan pujangga Shakespeare. Althorp House pun dibangun di Northamptonshire.

Turun-temurun anggota keluarga Spencer melayani raja dan ratu Inggris. Mereka masih terkait persaudaraan dengan Raja Charles II dan ... tujuh presiden AS, termasuk Franklin D. Roosevelt, salah satu pahlawan PD II. Bahkan masih ada hubungan dengan gembong Mafia Al Capone dan aktor beken AS zaman '50-an, Humphrey Bogart!

Garis keturunan Diana dari pihak ibu, keluarga Fermoy, tak kurang dekatnya dengan keluarga kerajaan dan politik. Namun garis keturunan yang panjang dan cukup mengesankan ini, bagi Diana malah terasa mengerikan. Althorp House bukan rumah penuh kehangatan. Banyak sudut-sudut seram dan dindingnya dipenuhi lukisan potret nenek moyang.

Orang tuanya bercerai

Masa kanak-kanak mereka lewatkan di Park House, kediaman keluarga Spencer yang lain. Tentu bukan sembarang rumah. Kamarnya saja 10 buah, dengan kolam renang, garasi yang luas, asrama untuk staf rumah tangga, lapangan tenis dan lapangan bermain cricket. Ada enam staf rumah tangga termasuk koki, penjaga pintu, guru privat. Namun ketika ayah mereka meneruskan posisi sang kakek sebagai Earl Spencer VIII, terpaksalah mereka pindah ke Althorp House pada tahun 1975.

Diana di Angola.

Mengunjungi daerah yang telah
dibersihkan dari ranjau, Angola 1997.
(Foto: Repro)

Diana kecil pemuja neneknya, Countess Spencer, pribadi hangat yang dikenal setia mengunjungi orang sakit dan cacat. Toh masa kecil Diana dan saudara-saudaranya jauh dari kehidupan keluarga yang ideal. Wajah ibu jarang tampak, apalagi ayah. Bahkan Charles mengaku baru makan bersama ayah setelah berusia 7 tahun.

Dengan segala privelese itu, anak-anak Spencer tetap diusahakan tidak menjadi snob. Sejak kecil mereka diajari budi pekerti baik, mengutamakan kejujuran, dan menerima orang lain apa adanya. Sampai sekarang, anak-anak Diana pun dilatih ibunya untuk setiap hari menyediakan waktu menulis surat ucapan terima kasih.

September 1967, Diana ditinggalkan kedua kakaknya, Sarah (idolanya) dan Jane, yang masuk asrama, sementara kedua orang tuanya yang sudah 14 tahun menikah memutuskan berpisah. Bukan pengalaman yang ringan untuk seorang gadis berusia 6 tahun.

Tiga tahun kemudian, giliran dia dan Charles yang lebih muda 3 tahun dikirim ke asrama, dua jam jauhnya dari Park House. Diana yang kesayangan ayah ini mulanya protes keras, karena kalau dulu ia merasa "ditinggalkan", kini merasa "dibuang" oleh ayahnya.

Di lingkungan asrama, Diana dikenal suka bercanda dan ketawa keras-keras. Tapi di kelas, dia pemalu. Malah ia baru mau berpartisipasi main drama setelah diberi peran boneka, karena tak usah bersuara. Toh ia tetap populer, meski anehnya selalu merasa terasing. Sejak kecil ia sudah merasa, hidupnya bakal rumit. "Saya selalu merasa 'lain' dan bakal menjalani kehidupan yang berbeda (dari orang lain)," ujarnya.

Di sekolah, Diana pun mengukir citra rangkap. Di mata teman sekelas, ia tenang dan serba terkontrol. Tetapi meski tampaknya pemalu dan pendiam, pada dasarnya, menurut Carolyn Bartholomew, "Diana punya karakter yang kuat. Ia mampu mengatasi pengalaman buruk dengan cepat, di samping lincah dan hangat."

Prestasi akademik Diana, terus terang, jauh dari membanggakan. Sementara Charles, adik lelakinya, bisa masuk Oxford University, ujian SMTA Diana gagal. Namun ia punya spesialisasi lain. Ia senang melayani.

Sebagai idola, Sarah-lah salah seorang yang menikmati layanan setia Diana kecil. Setiap kali Sarah yang lebih tua 6 tahun itu pulang berlibur ke rumah, kopernya dibukakan, air mandinya disediakan, kamarnya dibereskan oleh Diana. Dari kepala SD Riddlesworth Hall, Diana sampai mendapat penghargaan Legatt Cup untuk sikap senang membantu.

Kepekaannya pada manusia sudah tampil sejak kecil. Misalnya, ia pernah memberikan salah satu hadiah Natal yang dia peroleh kepada seorang penjaga malam yang menyebalkan. Alasannya, di mata Diana, orang itu cuma kesepian, bukan benar-benar pribadi yang brengsek. Benar juga, si penjaga malam sampai menitikkan air mata haru ketika menerima hadiah itu. Di sekolah menengah West Heath, ia mendapat Miss Clark Lawrence Award untuk pelayanan bagi sekolah di semester terakhir tahun 1977.

Diana di Korea.

Mengobrol dengan murid-murid
British School di Korea, November 1992.
(Foto: Repro)

Menuruti jejak Sarah, Diana melanjutkan sekolah di Gstaad, Swis. Pelajaran yang dipilih sesuai dengan minatnya: ilmu kerumahtanggaan, menjahit, dan memasak. Sayang, ternyata ia tak betah. Dari Swis ia pulang tanpa ijazah dan keterampilan khusus. Yang terbayang hanyalah ingin bekerja untuk anak-anak. Maka demikianlah, pendidikan resmi Diana cukup sampai usia 17 tahun saja.

Dengan lega ia keluar dari lingkungan sekolah. Diana yang tadinya remaja kikuk pelan tapi pasti kecantikannya semakin terpancar. Sebagai permulaan hidup mandiri, Diana dititipkan pada keluarga Mayor Jeremy Whitaker, seorang fotografer, yang tinggal di Hampshire. Ia tinggal di sana selama 3 bulan dengan tugas mengurus anak perempuan mereka, membersihkan rumah, dan memasak.

Setelah merengek berkepanjangan, akhirnya Diana diizinkan juga tinggal di London, di flat ibunya. Untuk tambahan uang saku, Diana menjual jasa sebagai pramusaji di pesta-pesta dan petugas kebersihan. Meski tingal di metropolitan London, ia tidak terbawa arus kota besar dengan berfoya-foya, merokok, atau minum alkohol. Waktu senggangnya dilewatkan dengan sederhana saja: membaca, menonton TV, ke rumah teman, atau makan di luar.

Bagi Charles, cinta no. 2

Diana ikut les memasak, lalu mengajar balet untuk anak-anak. Masing-masing hanya selama 3 bulan. Ketika usia 18 tahun tercapai, sebagai hadiah masuk kedewasaan, orang tuanya membelikan apartemen seharga 50.000. Di sana ia menerima anak kos: Carolyn Bartholomew, Anne Bolton, dan Virginia Pitman. Dengan ketiga orang inilah Diana melewatkan masa-masa bahagianya sebagai remaja yang tanpa beban.

Teman pria tentu saja banyak. Apalagi karena iba, ia selalu siap sedia menawarkan diri menemani para "korban" Sarah, para pengagum yang sudah "gugur". Maklumlah, Sarah memang "kembang" yang sedang mekar-mekarnya. Beberapa bahkan menikmati privelese khusus, seperti yang dialami William van Straubenzee. Pakaiannya sering dicucikan atau diseterikakan oleh Diana.

Namun tak satu pun yang menjadi pacar. "Saya harus menjaga diri tetap bersih untuk takdir yang tersedia bagi saya," katanya. Malah Carolyn menambahkan, "Saya yakin Diana memang ditakdirkan untuk menjalani apa yang sedang ia jalani. Ia sepertinya selalu dilindungi oleh aura tertentu yang membuat para pria tidak berani sembarangan."

Sementara itu, tak lama setelah mendapat apartemen sendiri, Diana mendapat pekerjaan yang pas benar. Menjadi guru di TK Young England, di Pimlico. Ia mengajar melukis, menggambar, menari, dan bermain. Di samping itu tiap Selasa dan Kamis ia mengasuh anak lelaki seorang eksekutif Amerika, Patrick Robinson.

Sarah juga mempekerjakan Diana di flatnya sebagai tukang cuci dan bersih-bersih. Bahkan Sarah menyarankan teman seflatnya agar tak perlu sungkan menyuruh adiknya mencuci dan lain-lain. Meski honornya tak banyak, 1 per jam, Diana menikmati pekerjaan rumah tangga, di samping berteman dan bercanda. Peran pembantu rumah tangga ini tetap berlangsung meski hubungannya dengan Charles semakin berkembang.

Namun sebenarnya perkenalannya pertama kali dengan perjaka paling dihebohkan di Inggris itu November 1977, dalam acara berburu. Waktu itu usianya baru 16 tahun.

Diana, William dan Harry.

Bersama Pangeran William dan Harry, Natal 1996.
(Foto: John Swannell)

Di tahun 1980, Pangeran Charles (33) berkilah, "Perkawinan itu jauh lebih penting daripada jatuh cinta. ... Kalau dua orang yang bersangkutan sudah bersahabat, cinta pasti tumbuh," katanya.

Di kesempatan lain ia berkata, "Karena saya memilih pasangan hidup untuk 50 tahun, saya harus sungguh-sungguh menggunakan kepala saya, bukan hati." Nyatalah, bagi Charles, yang sudah didesak waktu, perkawinan lebih merupakan pemenuhan kewajiban kepada keluarga dan bangsa. Cinta dan kebahagiaan nomor dua.

Menurut Diana kepada teman-temannya, minat khusus Charles tumbuh sejak Juli 1980, setelah Diana mengungkapkan simpati atas tewasnya Lord Mountbatten, paman juga figur ayah bagi Charles.

Begitu hubungan mereka tercium pers, serta-merta Diana mulai menjadi incaran tak berkesudahan. Teleponnya bisa berdering pagi-pagi. Papparazi sudah mulai mencengkeramkan cakar mereka pada kehidupan Diana.

Tanggal 6 Februari 1981 Charles melamar Diana dan pertunangan mereka diumumkan delapan belas hari kemudian. Malam sebelumnya, saat membereskan barang-barang untuk pindah ke istana, Inspektur Kepala Paul Officer yang bertugas jadi pengawal sudah memperingatkan, "Malam ini malam terakhir kemerdekaanmu. Nikmatilah."

Barangkali kita masih ingat betapa ingar-bingarnya liputan media massa terhadap mereka, sampai ratu sendiri merasa harus mengingatkan agar perkawinan dilakukan secepat mungkin, karena ia tak tahan pada rongrongan media massa.

Selama tiga bulan tinggal di istana Buckingham, bobotnya terus melorot. Lingkar pinggangnya terus mengecil dari 72,5 cm saat pengumuman pertunangan menjadi 57,5 cm di hari pernikahan, 29 Juli 1981. Upacara perkawinan di Katedral St. Paul itu disebut-sebut sebagai perkawinan abad ini.

Pandai bersiasat

Tidak ada yang tahu bahwa Diana tidak hanya stres karena menghadapi pesta perkawinan, tekanan pers, tapi juga karena beberapa temuan serius yang membuatnya ragu apakah perkawinannya pantas diteruskan.

Pertama, selama berkencan dengan Pangeran Charles, ia merasa Ny. Camilla Parker-Bowles, salah seorang teman calon suaminya, selalu mengetahui isi pembicaraan pribadi antara dia dan Charles. Kedua, bagaimana Camilla dapat memberikan banyak tip tentang cara memperlakukan sang pangeran. Ketiga, saat ia tertekan oleh pers, Charles tak pernah menggubris. Tapi begitu Camilla mengeluhkan soal yang sama meski per telepon, Charles segera menghibur penuh simpati. Puncaknya, beberapa hari sebelum hari H mereka, Diana menemukan paket berisi gelang rantai emas dari Charles untuk Camilla.

Kisah selanjutnya bagaikan kisah Cinderella yang telah banyak terpatri di benak orang. Diselingi peristiwa-peristiwa bahagia, seperti kelahiran utra mahkota Pangeran William Arthur Philip Louis 21 Juni 1982, kemudian lahirnya Pangeran Harry atau Henry Charles Albert David 15 September 1984, perkawinan yang dilandasi dengan kecurigaan dan kepentingan meneruskan dinasti ini bagaikan meluncur dalam alur spiral ke bawah.

Konflik terus memuncak sampai ketika untuk pertama kalinya dunia membaca tentang keroposnya rumah tangga Wales lewat Diana: Her True Story (1992) karya Andrew Morton. Di dalam buku yang oleh pihak Istana Bunckingham dinilai amat memihak itu, dibeberkan gangguan bulimia dan anorexia nervosa yang pernah menghantui Diana. Pelbagai upaya Diana untuk mendekati Charles bagai gayung tak bersambut.

Pertentangan Diana dan Charles, dengan berjalannya waktu seperti mengasah kepribadian Diana. Gadis yang lugu itu telah menjadi matang. Ia lihai membaca siasat dan mengatur "serangan balasan". Namun alangkah rumit bila cekcok suami-istri, yang notabene lumrah adanya, juga menjadi konsumsi bacaan sarapan seluruh negeri. Industri pers Inggris telanjur menganggap Diana sumber penggenjot tiras. Juru foto diharuskan mencari foto Diana yang terbaru setiap hari.

Perburuan berita terhadap Diana semakin gencar, sementara pertarungan di rumah tetap menguras tenaga dan pikiran Diana. Ketegangan yang dia rasakan pada masa-masa itu pernah terungkap juga di depan umum. Pertengahan Juni 1992 misalnya, saat seru-serunya kontroversi rumah tangga Diana - Charles digunjingkan, tangis Diana meledak saat berkunjung ke klinik kanker Queenscourt.

Berselingkuh

Demikianlah, setelah "bom" buku Andrew Morton meledak, rakyat Inggris dikagetkan lagi oleh terbitnya transkrip pembicaraan Diana dengan seorang pria, yang kemudian ternyata bernama James Gilbey, di tabloid The Sun. Situasi keluarga Wales semakin runyam, mirip panggung sirkus, semrawut dengan segala macam spekulasi dan kabar berita dari mulut kedua bahkan ketiga. Charles yakin Diana berada di belakang buku Andrew Morton. Bahkan dari kubu Charles terbit buku tandingan, sampai perpisahan Charles - Diana diumumkan oleh PM Inggris John Major, 9 Desember 1992.

Transkrip pembicaraan Diana dengan Gilbey boleh dikata "tidak ada apa-apa"-nya, dibandingkan dengan "dinamit" berikutnya yang diledakkan oleh, lagi-lagi, The Sun. Hanya 1 bulan setelah pengumuman perpisahan pasangan tersebut, 12 Januari 1993 The Sun menurunkan transkrip pembicaraan antara seorang pria dan wanita, yang kata mereka adalah Charles dan Camilla. Yang pasti, sekitar 1,5 tahun kemudian, 29 Juni 1994, Charles mengaku ia memang berselingkuh dengan Camilla.

Sementara itu, untuk menutup kebutuhannya akan cinta dan simpati dari masyarakat, Diana semakin membenamkan diri dalam kegiatan amal. Tak hanya itu rupanya. Awal Oktober 1994 terbit Princess in Love karangan Anna Pasternak. Di situ diceritakan perselingkuhan Diana dengan James Hewitt, instruktur berkudanya, selama 5 tahun.

Dalam masa-masa sulit ini Diana bukannya tak kurang kritik. Namun Diana kini cukup cerdik untuk memanfaatkan daya tariknya. Misalnya pernah secara kebetulan ia berjumpa dengan John Junor, kolumnis yang dikenal keras terhadap Diana, di Kensington High Street. Dengan segala daya tarik dan keramahannya, Diana mendekati Junor dengan hasil, komentar-komentar Junor terhadap Diana setelah itu bernada lunak.

Diana di RS Middlesex.

Dengan pasien AIDS di RS Middlesex, 1991.
(Foto: Repro)

Dengan wartawan pun tak kurang akalnya. Kalau perlu ia mengirimkan sampanye kepada wartawan tertentu yang termasuk "galak", saat si wartawan mengikuti rombongannya keliling dunia. Ini dilakukannya terhadap Richard Kay dari Daily Mail, dalam perjalanan pulang dari kunjungan ke Nepal.

Agustus 1995, Diana dihubung-hubungkan menjalin cinta pula dengan bintang rugby Will Carling, yang akhirnya bercerai dari istrinya. Setahun lebih kemudian, November 1995, dalam wawancara dengan Martin Bashir, wartawan BBC, Diana mengakui perselingkuhannya dengan James Hewitt, meski sekaligus merasa dikhianati karena Hewitt membeberkan kisah cinta mereka. (Menurut versi Hewitt, ia telah minta izin sebelumnya pada Diana.)

Wawancara itu sepertinya merupakan senjata pamungkas Diana, yang sudah hampir 3 tahun terkatung-katung dalam status tidak jelas. Di dalam wawancara itu Diana jelas-jelas mengatakan Charles tidak cocok menjadi raja, dan bahwa ia pun tidak pernah merasa bakal menjadi ratu Inggris. Diana juga menyatakan keinginannya untuk menjadi "ratu di hati semua orang".

"Serangan" Diana ternyata ditanggapi. Desember tahun itu juga melayanglah sepucuk surat dari meja Ratu di Istana Buckingham untuk sang Putra Mahkota, menganjurkannya agar perceraian dilakukan.

Baru sekitar 2 bulan kemudian Diana menyatakan persetujuan, dan baru setengah tahun kemudian, setelah media massa asyik mempergunjingkan perceraian itu dari segala sudut sampai habis tuntas, perjanjian perceraian Diana dicapai. Hasilnya: gelar HRH (Her Royal Highness) dicopot dan sebutan Diana yang resmi adalah, Diana, Princess of Wales. Uang gono-gini yang dia peroleh lebih dari AS $ 20 juta (+ Rp 60 miliar) di samping tunjangan AS $ 600.000 (+ Rp 1,8 miliar) per tahun dan akses yang seimbang dengan Charles pada kedua anak mereka.

"Panggil saja saya Diana."

Dalam proses pergumulan pencarian jati dirinya, Diana ternyata tak ragu memanfaatkan apa saja. Stephen Twigg melakukan terapi pijat plus konsultasi kejiwaan untuk menghilangkan ketegangan sejak Desember 1988. Terapi hipnotis oleh Roderick Lane, terapiaroma, atau akupunktur oleh Oonagh Toffolo. Di samping masih sekali-sekali berlatih balet di London City Ballet, setiap hari ia berenang di Istana Buckingham. Bahkan ia punya pelatih khusus untuk tai chi chuan.

Diana juga menimba ilmu, perenungan dan kedalaman jiwa lewat bacaan. Meski ia tetap penggemar novel karya Danielle Steele, Diana, yang agaknya mulai memasuki tahap perenungan, tertarik pada olah pikir para filsuf, misalnya Mikhail Ivanov, filsuf Bulgaria, juga membaca karya filsuf kuno dari Libanon, Khalil Gibran. Bahkan buku Facing Death pun dilalapnya, sampai-sampai Charles berkomentar, untuk apa ia membuang-buang waktu membaca buku itu. Lagu-lagu paduan suara semakin ia sukai, karena "Menyentuh kedalaman jiwa kita," katanya. Karya klasik kontemplatif Mozart dan requiem dari Faure dan Verdi menjadi favoritnya.

Dipilihnya tema-tema sulit untuk program kemanusiaan yang digelutinya, seperti AIDS, wanita korban kekerasan suami dan tema-tema yang lebih berkaitan dengan kesehatan, mencerminkan jiwanya yang makin matang. Ketika para eksekutif perusahaan balet di mana Diana menjadi pelindung, mengajukan keluhan, bahwa Diana kurang menyediakan waktu bagi kepentingan perusahaaan itu, Diana cuma menyahut, "Banyak yang lebih penting daripada balet. Tak sedikit orang meninggal di jalanan."

Bakat dan minat Diana dalam menyentuh kaum yang menderita pernah dirasakan benar oleh keluarga Peter Hickling di Bulan Juni 1990. Saat itu, kebetulan Charles dirawat di rumah sakit yang sama dengan istri Peter, Freda, yang koma karena menderita pendarahan otak. Charles sendiri saat itu menderita patah tangan karena polo. Begitu melihatnya, Diana secara spontan minta izin kepada Peter Hickling untuk ikut menunggui Freda. Itu benar-benar dilakukan Diana selama dua jam, sampai Freda dinyatakan meninggal.

Setelah itu, ia menemani keluarga Hickling di kamar tersendiri. Sue, pacar putra Peter, menuturkan, "Mulanya saya hanya ingat ia tokoh yang suka muncul di TV. Ia bilang, 'Panggil saja saya Diana.'"

Kesan Peter sendiri, "Untuk seseorang yang sama sekali belum pernah mengenal kami, ia sungguh-sungguh profesional. Ia berhasil membesarkan hati kami. Bahkan ketika berpisah, anak saya Neil bercanda dengan dia dan memberi cium di pipi, seperti kenalan lama saja."

Perhatian Diana tak berhenti di situ. Saat mempersiapkan pemakaman bagi Freda, datang surat bercap Istana Kensington bertanggal 4 September 1990, berisi penghiburan disertai cendera mata.

Akhirnya mandiri

Di AS, Juli 1991, rasa iba Diana tampil lagi secara spontan saat mengunjungi pasien AIDS di RS Middlesex. Ketika seorang pasien pecah tangisnya, spontan Diana merengkuhnya, mendekapnya dalam pelukan, tanpa ngeri sedikit pun. Simpati Diana terhadap pasien AIDS memang mengundang kritik yang tak sedikit, tapi justru inti tema-tema yang dipilihnya memang orang-orang yang terbuang. Karena itu pula ia mencurahkan perhatian pada penderita kusta, ketagihan obat, tuna wisma, anak-anak korban pelecehan seksual. Semuanya tema-tema yang sulit dicari pemecahannya.

Perhatian dan komitmennya terhadap AIDS pernah melibatkan Diana dalam pengalaman yang amat emosional. Selama 5 bulan, diam-diam ia ikut memperhatikan, menghibur, merawat Adrian Ward-Jackson, seorang tokoh di dunia kesenian Inggris, berjuang melawan AIDS sampai ajalnya. Bahkan ia pernah membawa kedua anaknya, Pangeran William dan Harry, menengok Adrian.

Ketika Adrian mendekati ajal, Diana yang jauh di Balmoral, Skotlandia, (acara liburan keluarga kerajaan) memerlukan turun ke London, meski harus lewat perjalanan darat yang lamanya 7 jam dan tiba di rumah sakit pukul 04.00.

Kenyataan bahwa ia berani "kabur" dari acara liburan keluarga kerajaan di Balmoral, tanpa seizin Ratu, memberi kepuasan tersendiri. Ternyata ia sudah bisa mandiri.

Menjelang akhir hidupnya, Diana seperti mengalami pemenuhan. Ia berdamai dengan soal-soal paling krusial yang selama ini menjadi pokok masalah dalam hidupnya. Menurut kawan dekatnya, Lady Bowker, ia akhirnya berhasil membuang semua rasa bencinya. Kini ia dapat mengasihi Charles, sebagai ayah dari anak-anaknya. Bahwa Camilla adalah pautan hati Charles juga sudah diterimanya. Kecemburuannya terhadap pengasuh kedua anaknya, Tiggy Legge-Bourke, juga sudah dapat diatasinya. Kalau dulu ia meradang karena Legge-Bourke menyebut William dan Harry "my babies", beberapa bulan ini ia sudah bisa berkata, "Ia amat sayang kepada anak-anak (William dan Harry) dan mereka juga kepadanya. Ia memberikan kebahagiaan kepada mereka. Kini saya menerimanya."

Menurut Lady Bowker, semua ini mungkin terjadi, karena Diana dalam keadaan bahagia. Bersama Dodi Al Fayed (41), "Saya merasa dilindungi dan saya merasakan cinta sejati," ujar Diana kepada Lady Bowker. Pancaran kebahagiaan Diana ternyata ditangkap juga Louise Reid-Carr, mantan asisten pribadinya, yang mengatakan, "Akhir-akhir ini wajah Diana tampak bercahaya," dalam wawancara di CNN.

Memang patut disayangkan, saat sang putri semakin tahu arah tujuan hidupnya, maut malah menjemput dengan sangat melodramatis. Mati bersama pacar, dalam kecelakaan lalu lintas mengerikan, dini hari 31 Agustus lalu, di kota cinta Paris. Dodi seperti menggarisbawahi jalinan drama yang menenun kehidupan Diana.

Akankah Diana, bahkan setelah kematiannya, terus menjadi buruan media massa? Ataukah kini terbuka sudut pandang lain bagi Diana? Pernahkah kita heran, betapa seorang perempuan dengan latar belakang akademik cukup sederhana, mampu mengaduk-aduk emosi dan mengundang respek dunia?

"Gunung" bunga di Istana Kensington

Melalui kematiannya Diana menarik tak cuma simpati, tapi dana tak berkesudahan dalam hitungan jutaan dolar untuk proyek-proyek amal yang ia lindungi, yang sampai artikel ini diturunkan jumlahnya terus berkembang.

Hillary Clinton berujar, "Diana terlalu muda untuk mati." Tapi benarkah? Dengan komitmennya yang makin tegas bagi tugas-tugas kemanusiaan, Diana telah memastikan panggilannya. Penerimaannya akan hubungan cinta Charles - Camilla telah menghapus sumber obsesi dan deritanya selama ini. Penghargaannya akan cinta Legge-Bourke kepada anak-anaknya, menunjukkan kematangan cinta seorang ibu yang mendahulukan kepentingan anak-anaknya. Diana seperti telah mengukir sebuah lingkaran yang bulat dan lengkap dalam hidupnya.

Kini setelah ia menghadap Tuhan, kita bertanya-tanya apakah kematiannya semacam shock therapy bagi dunia? Bahwa tema terpenting dalam kehidupan manusia tak lain adalah kasih, seperti yang tercermin di sepanjang kehidupan Diana? Betapa ia berjuang untuk mendapatkan kasih dan menemukan kebahagiaan dalam membagi kasih? Bukankah ia berkata, "Di tengah-tengah orang yang menderita, itulah tempat saya berada"?

Ternyata dalam hidupnya yang singkat, Diana telah mengambil peran yang jauh lebih berarti daripada sekadar menjadi putri Cinderella yang elok dipandang. Bunga yang menggunung di depan Istana Kensington menjadi bukti.

"Sejuta manusia macam Diana akan membuat dunia ideal," ungkap seorang penelepon dari Jerman kepada wartawan Riz Khan di CNN. Diana, yang sejak kecil kehilangan dan merindukan kehangatan kasih, ternyata telah menjadi sumber pancaran kasih yang dahsyat. Dengan warisan itu, tanpa jasad pun, Diana akan tetap hadir di sini, di dalam hati orang-orang yang peduli. (Lily Wibisono)

BOKS

Komentar dari pembaca dan kontributor Intisari

rumah