Kini, hukuman badan justru sering digugat efektivitasnya oleh
kalangan orang tua, para pendidik, maupun psikolog. Hukuman badan
ada kalanya memang berdampak positif. Namun, terbuka pula peluang
untuk melahirkan dampak negatif.
Secara filosofis, orang tua merasa bertanggung jawab untuk mendisiplinkan
dan menghukum anak demi kebaikan si anak sekarang dan kelak. Bahkan,
secara tradisional pun, hukuman badan telah diterima sebagai salah
satu metode sangat efektif untuk mengendalikan dan mendisiplinkan
anak. Hal ini didukung oleh masyarakat yang percaya bahwa hukuman
badan penting untuk mencegah degradasi moral, baik dalam kalangan
rumah tangga maupun masyarakat.
Di sekolah, hukuman badan masih sering digunakan. Banyak guru
atau para pendidik berpendapat, ketakutan murid pada hukuman fisik
akan menambah kekuatan atau kewibawaan guru. Dengan demikian sang
murid akan lebih mudah dikendalikan. Namun, ini bukanlah satu-satunya
cara untuk mengendalikan murid atau anak. Ada banyak metode yang
bisa dipilih untuk menumbuhkan kepatuhan atau kedisiplinan. Namun,
jika semua metode tersebut sudah tidak mempan, hukuman badan bisa
dijadikan jalan terakhir untuk menumbuhkan kepatuhan.
Bisa berakibat buruk
Terhadap hukuman yang diterima, si anak bakal memberikan reaksi
aktif atau pasif. Rekasi aktif dapat dilihat saat hukuman berlangsung.
Umpamanya, berteriak, mengentak-entakkan kaki, dll. Sedangkan
reaksi pasif pada umumnya tidak ditunjukkan di depan orang tuanya.
Contohnya, menyalurkan kemarahan kepada adiknya atau pembantu
rumah tangganya.
Sebenarnya secara psikologis, manusia mempunyai kapasitas dan
kemampuan untuk berbuat baik atau buruk. Hukuman badan mungkin
akan mendukung perbaikan perilaku buruk mereka. Jika digunakan
secara tepat, hukuman badan akan menjadi cara paling tepat untuk
menurunkan atau mengurangi kelakuan yang tidak bisa diterima.
Contohnya, acap kali orang tua memberikan hukuman badan bila anak
tidak mau melakukan aktivitas tertentu macam membuat PR atau melakukan
latihan-latihan lain. Dalam kasus ini, hukuman badan dapat merusak
keinginan atau motivasi anak untuk mengerjakan aktivitas tersebut.
Sehingga aktivitas berikutnya dilakukan karena paksaan atau rasa
takut, bukan karena keinginannya sendiri, dan dilaksanakan semata-mata
hanya untuk menghindari hukuman. Pekerjaan yang demikian akan
dirasakan anak tidak nikmat.
Hukuman fisik, menurut Neil A.S. Summerheil asal AS dalam bukunya
A Radical Approach to Children Rearing, merupakan suatu usaha
untuk memaksakan kehendak. Walaupun tujuan utamanya untuk menegakkan
disiplin anak, tindakan ini dapat berakibat sebaliknya. Anak menjadi
frustrasi. Selanjutnya, anak hanya merespons pada tujuan hukuman
itu sendiri. Banyak anak merasa bahwa menerima hukuman badan tidak
terhindarkan, sehingga mereka menjadi resisten (kebal) terhadap
hukuman tersebut. Hukuman badan tidak membuat mereka melaksanakan
suatu aktivitas dengan baik. Sebaliknya, anak akan cenderung membiarkan
dirinya dihukum daripada melakukannya.
James Dobson asal Illinois, AS, dalam bukunya Dare to Dicipline
menekankan, hukuman badan tidak akan mencegah atau menghentikan
anak melakukan tindakan yang salah. Ganjaran fisik ini justru
bisa berakibat buruk. Bahkan, dapat mendorong anak untuk meneruskan
dan meningkatkan tingkah lakunya yang salah. Riset ahli lain,
Leonard D. Eron, menunjukkan hukuman fisik dikhawatirkan malah
mendorong anak untuk bertingkah laku agresif. Celakanya, orang
tua sering kali malah bereaksi terhadap agresivitas ini dengan
menggunakan cara yang salah, misalnya dengan meningkatkan intensitas
serta frekuensi hukuman badan. Tidak heran kalau anak kemudian
malah meniru tingkah laku agresif orang tua atau orang dewasa
yang menghukumnya. Di sini secara tidak sadar orang tua telah
mengajarkan anak untuk berperilaku agresif.
Gunakan hukuman variatif
Hukuman badan secara fisiologis dan psikologis memiliki dampak
jangka pendek dan panjang. Efek fisik jangka pendek misalnya luka
memar, bengkak, dll. Sedangkan dampak fisik jangka panjang misalnya
cacat seumur hidup. Efek psikologis jangka pendek, misalnya merasa
marah, sakit hati, jengkel untuk sementara waktu. Dampak ini tentu
lebih ringan dibandingkan dengan efek psikologis jangka panjang,
seperti merasa dendam yang mungkin sampai bertahun-tahun. Bahkan,
Philip Greven dalam bukunya Spare the Child: The Religious Roots
of Punishment and the Psychological Impact of Physical Abuse menyatakan,
efek psikis jangka panjang itu termasuk disasosiasi bermacam bentuk
seperti represi atau amnesia, pikiran terbelah serta kekurangpekaan
perasaan.
Hukuman yang muncul karena orang tua khawatir kehilangan kewibawaan,
bukan upaya untuk menunjukkan kasih sayang atau melatih anak agar
disiplin pada aturan, akan menimbulkan reaksi negatif. Menurut
Neil, anak akan merasa hukuman sebagai lambang kebencian orang
tua kepada mereka. "Tidak heran kalau kemudian anak bereaksi
negatif," tegasnya.
Arnold Buss seorang psikolog dalam bukunya Man in Perspective
mengingatkan, bila hukuman diberikan terlalu sering dan anak merasakan
hal ini tidak dapat dihindarkan, anak akan membentuk rasa ketidakberdayaan
(sense of helplesness). Anak tidak belajar apa pun dari hukuman
tersebut, tetapi cenderung menerimanya tanpa merasa bersalah.
Konsekuensinya, menurut ahli dari Kanada ini, hukuman tidak mempunyai
arti apa-apa bagi mereka. Rasa tidak berdaya ini dapat dikurangi
dengan menggunakan hukuman yang variatif, tidak monoton.
Kondisi bertambah parah apabila anak mempunyai pandangan negatif
terhadap dirinya sendiri sehingga anak tidak dapat memisahkan
antara perilaku dengan kepribadian mereka yang sebenarnya. Mereka
lalu menganggap dirinya memang bukan anak yang baik, tidak lagi
memandang bahwa kelakuan mereka yang salah. Akibatnya, anak akan
merasa rendah diri. Bila rasa tidak berdaya terhadap rasa rendah
diri ini terbentuk, maka anak akan terus memandang diri mereka
sebagai anak yang tidak baik. Akibatnya, mereka akan terus berperilaku
buruk. Mereka pikir memang begitulah orang lain memandang dirinya.
Dalam kasus ini kemungkinan untuk memperbaiki keadaan itu sangat
sulit.
Tanpa hukuman badan
Menurut Debby Campbell, seorang pendidik asal Ottawa, Kanada,
dalam bukunya About Dicipline and Punishment, efektivitas hukuman
badan lebih tergantung pada metodenya ketimbang frekuensinya.
Setiap kali menerima hukuman, memang anak akan jera untuk melakukan
kesalahan yang sama. Namun setelah menerima hukuman, pada umumnya
anak akan berusaha menarik perhatian orang tuanya untuk memperlihatkan
penyesalan mereka atas perbuatan buruknya. Setelah situasi emosional
berakhir, sering kali anak ingin berada dalam pelukan orang tuanya.
"Saat ini orang tua harus menyambut dengan pelukan hangat,
penuh kasih sayang. Di sini pembicaraan dari hati ke hati antara
anak dan orang tua perlu dilakukan," tambah Dobson. Di sinilah
hukuman berdampak positif karena dapat meningkatkan perasaan cinta
kasih antara anak dan orang tua.
Sebenarnya ada berbagai cara untuk mendidik anak agar mereka menaati
suatu aturan atau melaksanakan suatu aktivitas. Tidak perlu harus
dengan hukuman badan. Sekali lagi, hukuman badan harus dipandang
sebagai jalan terakhir.
Jalan terbaik antara lain dengan memberikan teladan yang baik.
Dengan demikian si anak akan mempelajari tentang apa yang boleh
dan tidak boleh mereka perbuat. Metode non-hukuman badan bentuk
lain adalah metode time out dengan mengisolasi si anak dalam ruangan
kurang nyaman baginya selama beberapa menit. Atau, anak diminta
mengerjakan sesuatu yang kurang menyenangkan baginya, misalnya
membersihkan kamar mandi, menyapu, dilarang menonton TV seharian,
dll. Namun hendaknya anak diberi peringatan sebelum hukuman dilaksanakan.
Jika hukuman badan tidak dapat dihindarkan, A.M. Cooke dalam bukunya
Family Medical Guide memberikan beberapa saran hukuman badan seperti
apa yang patut dilakukan:
Kita masih ingat, pada tahun 1960-an atau 1970-an, masih banyak
orang tua yang menghukum anak dengan sabetan gagang kemucing atau
sapu, hanya gara-gara anak memecahkan piring murahan, tidak mau
disuruh ke warung atau mengerjakan PR. Atau kalau di sekolah,
ada guru yang menghukum anak push up sampai pucat pasi lantaran
terlambat datang. Pikir mereka, si anak bakal jera melakukan kesalahan
yang sama.
(Suprayetno Wagiman)