|
|
Memanjat tebing harus selalu |
|---|
"Mau ke mana, Mas? Pantai Prigi?" tanya mereka.
"Tidak, Pak! Mau ke Trenggalek, manjat tebing Watu Lingga," jawab kami.
Dari Tulungagung, perjalanan diteruskan dengan naik kendaraan carteran selama dua jam menuju Trenggalek, tepatnya ke Desa Nglebo, Kecamatan Karangan, sekitar 17 km sebelah selatan Trenggalek atau 105 km sebelum Pacitan. Dari jalan utama ke kaki tebing, perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki sekitar 30 menit melewati rumah dan ladang penduduk.
Di Desa Nglebo inilah dua orang anggota tim pendahulu yang mengurus perizinan bergabung, sehingga lengkaplah seluruh tim kami yang berjumlah 13 anggota plus dua orang mentor pendamping, Agung Sutiastoro dan Ari Nuriwan. Tiap orang rata-rata menggendong ransel seberat 20 kg ditambah 4 koli alat-alat panjat dan sebuah generator.
Menurut Drs. Tatut Pawitro, camat Karangan, yang berkunjung ke kemah induk, tebing ini termasuk tebing kaliber internasional. Pada tahun 1988, tiga orang pemanjat dari Prancis yang diundang kantor Menpora dan Kedutaan Besar Prancis melakukan eksibisi panjat tebing di situ. Dua jalur panjat bebas dirintis ketika itu. Consul Straight dan Bupati Straight nama jalurnya. "Wilayah Nglebo ini sedang disurvai PT Aneka Tambang, karena katanya banyak kandungan emasnya," lanjut pak camat sambil menunjukkan tumbuhan unik yang akarnya beraroma balsam.
Dinding selatan Watu Lingga adalah sisi tebing yang paling sering dipanjat. Kemiringannya bervariasi antara 60 - 1000 dengan overhang besar (bagian tebing yang menggantung ke luar) pada ketinggian 230-an m.
Beberapa rekan segera orientasi jalur dan membandingkan dengan referensi yang kami miliki. Yang lainnya, karena tidak sabar, langsung melakukan penjajakan dan mulai mencoba memanjat. "Batuannya rontok!" teriak mereka.
Informasi tentang kondisi batuan yang demikian itu sudah kami dapatkan di Jakarta. "Di sini try out teman-teman untuk mendapatkan pengalaman panjat pada tebing yang lebih besar. Bukan hal teknis saja yang harus diperhatikan. Faktor nonteknis juga harus diperhatikan!" ujar Ari, selaku mentor pendamping sebelum briefing malam pertama dimulai.
Rock! Rock! ... darah mengucur
Pemanjatan dimulai esok paginya. Kesempatan pertama untuk Nadira, diamankan Asmar dan saya. Pukul 07.30 Nadira merayap memanfaatkan rekahan miring sepanjang 135 m. Baru beberapa menit, Nadira berteriak, "Rock! Rock!"
Asmar merapatkan tubuh ke tebing. Hampir bersamaan dengan itu, beberapa batu meluncur deras ke bawah. Yang terbesar seukuran kepalan tangan. Kami sempat tertegun. Sadar, bahwa bukan jalur pemanjatan saja yang harus disiasati, tapi juga kondisi batuan yang cukup berbahaya.
Yang paling berisiko terkena runtuhan batu adalah belayer dan siapa saja yang berada di bawah ketika sedang merintis jalur. Sedapat mungkin perintis jalur harus menghindari batuan tebing yang goyang kalau dipegang karena sewaktu-waktu bisa terlepas dan mencederai orang di bawahnya. Helmet lalu menjadi keharusan untuk dipakai.
Hingga saat makan siang, jalur yang diselesaikan baru satu pitch (perhentian sementara) sepanjang 45 m. Kemudian tim kedua menambah satu pitch lagi mengikuti rekahan hingga melewati pohon besar yang jadi target minimal hari itu. Pukul 17.00 semuanya turun kembali ke kemah induk.
Kami baru mengadakan pemanjatan kedua pada hari Jumat sesudah salat. Siangnya, tujuh pemanjat sudah berada di atas tebing. Dari pitch 3 dicoba naik lurus ke atas. Kelihatannya memang sulit. Ricard memasang sebuah pengaman friend (pengaman sisip berpegas yang fleksibel di celah tebing). Kemudian, lewat lensa binokular dari kemah induk, terlihat Dodot, Moa, dan Maya bergantian mencoba naik. Moa sempat terjatuh tapi tidak cedera.
|
|
Watu Lingga, berbatu andesit, |
|---|
Kemah induk kontan gaduh melihat kejadian tersebut. Tak lama terdengar suara Ricard di handy talkie. "Tenang, situasi aman terkendali!" Dia mencoba mencairkan ketegangan. Soalnya, Maya mengalami luka di tiga jari tangan kanan dan kaki tergesek permukaan tebing. Untung kepalanya terlindung helm.
Yang sial justru Giri, ketua pemanjatan kami yang berada satu pitch di bawah Maya. Ia terkena runtuhan batu. Batu pertama dan kedua bisa dielakkan, tapi yang ketiga kena lengan kanan sebelah atas. Darah kontan mengucur deras dari bahunya.
Kedua orang yang cedera itu segera dievakuasi. Sisanya terus berusaha menambah ketinggian hingga pukul 17.00. Di pacu teriakan-teriakan pemberi semangat dari kemah induk, Adam, salah seorang pemanjat, naik beberapa meter untuk memasang sebuah piton (pasak tebing). Hari itu praktis tidak banyak hasil yang didapat.
"Pemanjatan dimulai dari pitch 2, bergerak agak ke kanan untuk menghindari kesulitan siang tadi," ujar Giri pada evaluasi malam. Itu berarti satu pitch yang tadi dikerjakan dianulir. Maya dan Giri istirahat total dari tugas di tebing keesokan harinya.
Tali putus ....
Hari ketiga ada dua tugas. Adi dan Lola membersihkan jalur sebelumnya. Sementara Nadira, Asmar, dan saya meneruskan pemanjatan. Nadira merintis jalur satu pitch traverse (bergerak menyamping) ke kanan. Sebagai orang kedua, saya membersihkan jalur, Nadira mengamankan dari atas. Lalu ganti saya merintis jalur. Sekali saya jatuh karena batu pegangan rontok. Pitch 4 sudah saya tambat. Ini pitch menggantung. Di bawah, Adi cepat sekali membersihkan jalur kemarin bersama Kiki. Karena itu saya memutuskan turun setelah mengamankan Kiki naik. Nadira dan Asmar sudah turun lebih dulu. Lola kini menjadi orang ketiga. Fix rope (tali tetap) habis terpasang sampai pitch 3, lalu dipasang fix rope baru.
Di sinilah terjadi peristiwa menegangkan. Tali yang dipakai Lola putus dihantam batu. Batu besar yang menghantam tali itu lepas dari tebing karena terbebani badan Adi saat merintis jalur 30 m di atas.
Saya baru tiba di bawah mendengar suara desingan batu-batu beradu dengan tebing disusul kepulan asap debu. Setelah itu sepi dan berganti dengan teriakan sahut-menyahut untuk mengetahui keadaan Lola. Untung ia selamat karena fix rope lama yang putus terbelit fix rope baru. Adi sempat melihat Lola terduduk di sebuah teras kecil yang lebarnya tidak lebih dari 0,50 m!
Hari keempat, Dodot dan dan Ricard mulai merintis jalur dari pitch 5. Sedikit ke kiri menghampiri ujung overhang besar di ketinggian 230-an m. Adam dan Moa bertugas membenahi fix rope yang mulai terkelupas bagian mantelnya antara pitch 1 dan pitch 2. Tengah hari, Andri naik membawa makan siang untuk pemanjat. Tim hari itu menyelesaikan pitch 6, persis di bawah overhang besar.
|
|
Kecelakaan kecil bisa saja terjadi. |
|---|
Sepayung bertiga
Selepas magrib, empat orang dari kami mengunjungi Mbah Saidi (95), orang tua yang konon menjadi juru kunci Watu Lingga. Menurut penduduk Nglebo, setiap tim yang hendak memanjat tebing Lingga harus meminta restu dari Mbah Saidi yang dulunya menjabat sourodo (pengantar surat) kelurahan. Ia konon bisa berhubungan dengan Dewi Rengganis yang menjaga gunung batu itu. Pulangnya, kami diberi potongan-potongan kemenyan yang telah diberi mantra. Saat itu yang ada di benak kami hanya niat menghormati kebiasaan setempat. Tak ada salahnya minta keselamatan.
Hari kelima, cuaca tak secerah sebelumnya. Gerimis disertai kabut menyelimuti lembah. Pagi-pagi sekali, Adi dan Kiki naik dengan jumar dan mulai memanjat dari pitch 8. Adi mencoba memanjat overhang dengan aid climbing (menambah ketinggian mengandalkan bantuan alat) serta membuat pitch 7 dan pitch 8 yang relatif pendek.
Jalur ini kemudian dianulir lagi karena keterbatasan waktu dan pertimbangan untuk bergerak ke kanan menuju dinding timur yang lebih memungkinkan dimulai dari pitch 5. Menurut Giri, overhang besar itu dapat dilewati, tapi tidak kali ini. Bersama Asmar dan Ricard yang bertugas membawa barang dan membenahi pitch 4, mereka pun turun.
Di hari keenam, Kiki ditugaskan merintis jalur bersama Adam. Setelah itu ganti Adi merayap ke kanan membuat pitch 7 dengan pengaman perantara chock dan friends masing-masing satu. Dari pitch 7 dia memanjat lurus ke atas dan membuat pitch 8 di bawah dinding vertikal. Daerah rerumputan menuju ke puncak berada di atas bagian ini. Dalam pemanjatan tebing, pengaman perantara berfungsi mengurangi risiko jatuh hingga jauh ke bawah. Makin banyak pengaman perantara, makin aman. Bayangkan bila jalur sepanjang hampir 30 m hanya diberi sebuah pengaman.
Hingga hari ini panjang jalur pemanjatan sudah lebih dari 260 m karena dua buah fix rope sepanjang 125 m sudah habis di pitch 6. Dari situ digunakan dua buah tali baru sepanjang 45 m hingga pitch 8.
Adi dan Kiki akan menginap di tebing malam ini untuk mempercepat pemanjatan keesokan harinya. Saya diminta membawa makanan serta peralatan tidur. Di atas sana ada teras kecil untuk menginap.
Pukul 20.00 saya tiba di pitch 2. Di sini saya mendapat kesulitan dengan ransel berat di pundak. Saat ke pitch 3, ransel saya kaitkan ke sebuah jumar. Gerimis mulai turun saat menuju pitch 5. Overhang kecil menyulitkan saya, sehingga sisa tenaga terpaksa dikeluarkan. Jarum jam menunjukkan pukul 22.00. Hanya dengan ditemani sinar lampu kepala, saya terus memaksa meniti tali walau makin lambat. Tiba di pitch 7 yang berteras 0,50 m, saya membuat kecerobohan. Hukum yang berlaku dalam panjat tebing, bahwa setiap barang harus dikaitkan ke pengaman agar tidak jatuh, saya abaikan.
Ketika sedang memindahkan jumar ke tali yang menuju pitch 8, ransel saya taruh dekat kaki tanpa pengaman. Ada sedikit dataran berumput di situ. Tapi, sekonyong-konyong ransel bergeser dan hilang dari pandangan. Hanya sekali terdengar bunyi gesekan sebelum dentuman keras dari 200 meteran di bawah sana.
Adi turun ketika mendengar teriakan saya. Kami berdua naik dan bertemu Kiki di pitch 8 yang ada teras kecilnya. Terpaksa kami bertahan hingga esok pagi dengan kondisi seadanya. Saya hanya berkaos lengan panjang tipis dengan celana sebatas lutut. Untung pakaian Adi dan Kiki masih lengkap dan masih ada sisa makanan.
Gerimis turun sepanjang malam. Bertiga kami berlindung di bawah sebuah payung. Agak miris rasanya tidur dengan kaki dilipat dan sebentar-sebentar terbangun karena tetesan air hujan sambil berharap adzan subuh segera terdengar.
Dikira mencari emas
Pukul 09.00 keesokan harinya, Ricard sudah tiba di tempat kami disusul Agung. Kami pun dapat tambahan air minum dan makanan kecil. Kiki merintis jalur meskipun tidak berhasil dan digantikan Adi. Saya masih belum kebagian merintis jalur.
Adi membuat pitch 9 dan 10 dengan pengaman perantara 4 friend dan 4 piton. Saya naik setelah Kiki naik dengan jumar, sementara Rocard turun ke pitch 6 membantu Asmar naik dengan fix rope ke atas. Dari pitch 2, Moa dan Dodot menarik sisanya ke bawah. Praktis hubungan kami di atas dengan kemah induk terputus.
|
|
Tali kecil tapi sanggup menahan |
|---|
Tawaran itu diterima. Bukan karena ingin sampai ke puncak, tetapi akan berbahaya apabila menunggu tiga teman lain bersama-sama ke puncak sementara tali belum terpasang. Hari akan segera gelap dan merangkak di kemiringan sekitar 400 dengan ilalang setinggi pinggang amat berbahaya. Tergelincir sedikit saja bisa jatuh ratusan meter ke arah mana saja. Kami tak mau mengambil risiko. Tali perintis jalur tetap dibawa dengan tambatan pada beberapa pohon. Chock dan friend sempat terpakai. Untuk sampai ke hutan kecil di puncak ternyata dibutuhkan tiga buah tali.
Hari telah pukul 16.30 ketika Adi berhasil naik. Tidak ada sorak kegembiraan. Wajar saja. Sekitar pukul 19.00 kami berenam sudah berkumpul di puncak Watu Lingga yang berupa hutan kecil seluas 1 ha. Selain beberapa pohon besar, semak-semak berduri tumbuh amat rapat. "Kita memanjat tebing atau naik Gunung Salak?" seloroh Agung melihat pohon-pohon tinggi di puncak. Malam itu kami menginap di atas, karena riskan untuk memaksa turun walau lewat dinding barat yang relatif lebih mudah.
Paginya, beberapa potong kue kelapa sisa tadi malam dan sekaleng kornet kami lahap. Semua tetap tersenyum, meski sedikit getir. Setidaknya itu menyisakan sense of humor yang menandakan kondisi mental kami masih baik. Setelah itu kami langsung bergerak mencari jalan turun di sebelah barat.
Pukul 13.00 semua telah tiba di bawah. Lima gulung tali dipakai turun. Penduduk desa mulai berkerumun. Ada yang bertanya apakah kami habis mencari emas. Pak camat memang pernah cerita bahwa dari gunung batu itu tak sengaja ditemukan bebatuan dengan urat emas.
Kami tak peduli. Yang penting, kami bisa turun dengan selamat. Senang rasanya bisa belajar di tebing besar ini. Tak ada alasan untuk menepuk dada. Tiba-tiba ucapan pendaki terkemuka Walter Bonatti terngiang, "Aku percaya bahwa alam memiliki pelajaran dan dapat mengajar kita. Karena itu aku percaya bahwa gunung dengan segala keindahan serta hukum-hukumnya merupakan sekolah terbaik bagi manusia, karena seorang pendaki gunung sejati hanya berjuang menaklukkan diri sendiri!" (Reynold Sumayku, anggota tim panjat tebing Mapala UI)