POTRET:
Ade Rai
TERAWANG: Lupa
LANG-LANG: Maluku
HALHI: Nata de cacao
LEPAS 1: KKN
KES 1: Makanan suplemen
KES 2: Susu kedelai
KES 3: Viagra
PSI 1: Ogah makan
CERKRIM:Mayat
Boks :
Klinik Memory
Master of memory
Suplemen Otak
|
Sungguh keterlaluan sifat pelupa Peter
(27). Setiba di rumah kontrakannya sehabis berbelanja, ia kaget setengah mati. Soalnya
mobilnya tak terparkir digarasi. Ia lalu bertanya kepada teman-temannya, apakah ada yang
melihat siapa yang memakai mobilnya. Ia semakin bingung karena tak memperoleh jawaban.
Mereka baru saja pulang dan mobilnya sudah tidak ada di garasi. Ketika seorang teman
bertanya, ia dari mana dan Peter menjawab baru dari BIP (sebuah pusat perbelanjaan di
Bandung), ia langsung disambar dengan pertanyaan, "Naik apa?" Peter langsung
memukul jidatnya. Segera ia balik ke BIP untuk mengambil mobilnya yang masih berada di
tempat parkir BIP.
Bukan sekali itu Peter melakukan hal yang membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.
Ada kejadian yang lebih menggelikan dan fatal akibatnya. Waktu itu ujian akhir semester.
Entah karena capai atau pusing mengerjakan soal, sepulang ujian ia langsung tidur. Malam
harinya ketika ingin mengecek jawaban, kontan ia teriak-teriak. Ternyata lembar jawaban
soal tidak terkumpul bersama soalnya. Justru kertas corat-coret dan kerpekan yang
terkumpul. Seketika ia langsung lemas dan pasrah kalau tidak lulus.
Lain lagi dengan David Moobs. Ia juga seperti Peter, sering lupa di mana memarkir
mobilnya. Gawatnya lagi, hampir setiap hari ia menduga mobilnya telah dicuri. Suatu kali
pernah ia pergi ke toko membeli susu, tapi yang terbawa sampai rumah malah roti dan
coklat. Tak jarang ia lupa memperbarui paspornya padahal kopor sudah siap menemani ia
berlibur.
Menyerang manula
Mungkin Peter atau David bertanya-tanya, mengapa memori sering mengkhianati mereka?
Seseorang mengalami lupa jika informasi yang masuk tidak mendapat perlakuan sebagaimana
mestinya. Lupa dapat merupakan proses yang masih normal (fisiologis), tapi dapat pula
menjadi proses yang abnormal (patologis). Ada beberapa macam bentuk lupa, yakni mudah lupa
(forgetfulness), amnesia, dan demensia.
Mudah lupa terjadi bilamana informasi yang diterima berhasil melalui proses normal dan
akhirnya tersimpan di dalam memori jangka panjang. Sayangnya sukar diambil atau diingat
kembali saat dibutuhkan. Mudah lupa masih tergolong normal. Meskipun begitu tidak jarang
hal ini merupakan tanda-tanda keadaan abnormal.
Mudah lupa dapat terkait dengan penambahan usia yang sering dihubungkan dengan
inefisiensi proses memori, seperti proses berpikir menjadi lamban, kurang menggunakan
strategi memori yang baik, kesulitan memusatkan perhatian dan mengabaikan distraktor,
membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari sesuatu yang baru, dan lebih banyak
dibutuhkan isyarat untuk mengingat kembali informasi yang telah tersimpan. Mudah lupa akan
semakin berat jika menyerang manula dan disebut sebagai age-associated memory
impairment (AAMI).
Pada amnesia, informasi hanya sampai di memori jangka pendek. Dengan kata lain, terjadi
kegagalan atau kesulitan belajar yang berarti sudah bersifat patologis. Namun, perhatian
terhadap informasi yang masuk, mengingat kembali informasi yang sudah lama, fungsi
kognisi, bahasa, dan kepribadian masih berjalan dengan normal. Hanya proses penerusan
informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang yang gagal sehingga informasi
baru tersebut tidak dapat diingat kembali.
Sedangkan demensia gangguan yang paling berat. Informasi sama sekali tidak dapat masuk
dalam proses memori. Bisa disebabkan oleh berbagai kelainan di otak seperti: gangguan
vaskuler (stroke) dan degeneratif (sindrom Alzheimer).
Mirip RAM
Otak manusia berbeda dengan komputer, meski analoginya memang mirip. Sama seperti komputer
di meja Anda, otak dipersenjatai dengan dua memori dasar: memori jangka pendek dan memori
jangka panjang. Bertentangan dengan pemahaman umum, otak manusia tidak merekam segala
kejadian tanpa pilih-pilih, sebagian ada yang terkubur sampai dibangunkan kembali oleh
psikiater.
Memori jangka pendek, demikian bahasa Prof. Sidiarto Kusumoputro, pengajar bidang
neurologi FKUI/RSCM, bisa dianalogikan dengan RAM (Random-Access Memory). Informasi
yang diterima oleh panca indera menunggu dengan singkat di memori kerja ini, semacam play
group mental yang kemudian menguapkannya dengan segera. Informasi baru tersimpan
setelah terjadi proses perubahan kimia dan listrik pada sel-sel saraf atau neuron. Memori
jangka pendek memungkinkan Anda untuk membuat hitungan sederhana di kepala atau mengingat
nomor telepon cukup lama, meski begitu selesai menelepon Anda mungkin sudah lupa. Maka,
sama seperti RAM, ia juga bisa menganalisa dan menyimpan informasi tanpa membuat rekaman
yang abadi.
Sedangkan memori jangka panjang bertindak sebagai hard drive, secara fisik
menyimpan pengalaman yang telah lewat di daerah otak yang disebut cerebral cortex
(kulit luar otak). Cortex merupakan rumah bagi belukar 100 miliar neuron yang
tampangnya mirip tumbuhan merambat. Komunikasi antarsel terjadi lewat pancaran
impuls-impuls kimia dan listrik. Setiap kita merasakan sesuatu - pandangan, suara, ide -
impuls unik dari sebagian sel-sel saraf tersebut langsung aktif. Ada yang lalu tidak
kembali ke bentuk asalnya, karena mereka memperkuat koneksi satu dengan lainnya.
Musababnya, "Memori memang adalah pelbagai pola koneksi antarneuron," kata
Dr. Barry Gordon, kepala klinik gangguan memori di Sekolah Kedokteran Johns Hopkins, AS.
Bila suatu memori baru diperoleh, pengkodeannya bisa melibatkan ribuan neuron yang
tersebar di seluruh cortex. Tapi jika informasi baru itu tidak digunakan, pola
koneksi yang baru terbentuk itu akan segera pupus kembali. Sebaliknya, jika kita
berulang-ulang mengingatnya lagi, pola koneksi itu akan semakin kokoh terbentuk dalam
jaringan otak.
Meski demikian, keputusan untuk menyimpan atau membuang informasi biasanya dilakukan
tanpa sadar, karena berada di bawah kendali hippocampus, berdasarkan pada dua
pertanyaan. Pertama, apakah informasi tersebut memiliki arti emosional bagi yang
bersangkutan? Nama mantan pacar akan lebih tertanam dalam memori kita daripada nama
seorang menteri tertentu dalam kabinet yang usianya hanya 2 bulan. Minat khusus, atau
berkadar sensasional, oke. Hal yang biasa-biasa saja, sori!
Pertanyaan kedua, apakah informasi yang masuk berhubungan dengan hal yang sudah kita
ketahui? Otak memang selalu sibuk berusaha membuat asosiasi. Hal-hal yang dianggap takkan
berguna tidak akan disimpan di dalam memori. Alias, lupakan saja. Dengan sistem filter
ini, manusia sanggup menguasai dan melakukan analisis terhadap informasi yang diperoleh.
Pada beberapa kasus istimewa, neurolog kadang menemukan orang-orang dengan memori super.
Data yang betapa ruwet pun dapat mereka ingat. Namun, jangan kagum dulu. Umumnya daya
pikir abstrak orang-orang macam ini sangat lemah. Ibarat kenal angka, mereka tak kenal
makna.
Menurut Dr. Murray Grossman (45), ahli saraf dari Pusat Medis Universitas Pennsylvania,
AS, bila ditelusuri lebih teliti berdasarkan jangka waktu keawetannya, ada lima jenis
memori. Masing-masing: Semantik, Implisit, Remote, Working, dan Episodik.
Semantik merupakan memori tentang makna simbol dan kata. Dengan memori ini kita bisa
membedakan anjing dengan kucing.
Memori Implisit biasanya menyangkut kecakapan tertentu, seperti bersepeda, berenang.
Memori Remote merupakan gudang data, umumnya melemah sejalan dengan bertambahnya
usia. Sedangkan Memori Working adalah memori jangka pendek, yang kita andalkan saat
melakukan kegiatan sehari-hari, seperti mengingat bagian kalimat pertama saat lawan bicara
kita sedang mengucapkan bagian kalimat kedua, sehingga kita dapat memahami apa yang ia
maksud.
Terakhir, Memori Episodik ialah memori yang menyangkut pengalaman yang belum lama
terjadi. Apa nama film yang ditonton minggu lalu, apa nama restoran yang dipesan untuk
berkencan Sabtu mendatang, di mana Anda letakkan kacamata barusan, dst. Memori Episodik
juga mundur dengan bertambahnya usia.
100.000 sel mati per hari
Yang masih menjadi persoalan adalah bagaimana informasi yang ditangkap manusia bisa
tersimpan di otak. "Proses mengingat tak bisa dilepaskan dari belajar, learning,"
kata Prof. Sidiarto. Belajar merupakan proses untuk memperoleh informasi atau pengetahuan
baru. Sedangkan daya ingat (memori) adalah proses yang menyimpan pengetahuan yang
diperoleh itu dalam waktu lama serta dapat mengingatnya kembali sewaktu dibutuhkan. Jelas,
dalam mencerap informasi dari lingkungan, kita amat bergantung kepada kemampuan daya ingat
ini.
Banyak pertanyaan tentang proses mengingat masih belum terjawab. Soalnya, "Belajar
dan memori merupakan fenomena yang kompleks," kata John Byrne, Ph. D., guru besar dan
ketua jurusan neurobiologi dan anatomi Sekolah Kedokteran Universitas Texas di Houston,
AS. Sebab melibatkan seluruh bagian otak.
Para peneliti meyakini berkurangnya secara alami jumlah neuron di otak memberikan
kontribusi dalam kemunduran ingatan. "Dengan laju 100.000 sel per hari," ujar
Dr. Daniel Alkon (55), kepala laboratorium ilmu saraf Institut Kesehatan Nasional di AS.
Karena neuron memang tidak membelah seperti sel-sel lain. Maka sejalan dengan waktu, saat
seseorang mencapai umur 65 atau 70, ia sudah akan kehilangan 20% dari 100 miliar
neuronnya. Faktor lain kemunduran memori bisa jadi lantaran melemahnya neuron,
sehingga transmisi listrik pada sel-sel tersebut tak memadai lagi.
Buktinya nampak dari penelitian yang pernah dilakukan oleh sebuah perusahaan asuransi
di Massachusetts yang menyimpulkan, gugatan malpraktek lebih banyak ditujukan kepada
dokter tua dibandingkan dengan dokter muda. Dean K. Whitla (71), ahli ilmu jiwa Harvard,
pernah menguji 1.000 dokter berumur antara 30 dan 80 tahun. Hasilnya, secara rata-rata
dokter berusia 80-an hanya bisa mengingat setengah informasi dibandingkan dengan mereka
yang berusia 30-an.
Ketika kita berusaha mengingat suatu informasi tertentu, diperlukan beberapa langkah.
Pertama, kemampuan untuk mencatat (register), lalu menyimpan, dan kemudian mengambilnya.
Pencatatan yang efektif memerlukan perhatian dan motivasi terhadap informasi tersebut.
Informasi disimpan lebih gampang jika sering diingat-ingat kembali. Maka memudahkan pula
pemindahan suatu informasi baru, dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.
Di dalam memori jangka panjang ini, informasi diatur, disortir, dan dipadatkan sehingga
mudah ditata menurut petunjuk (clue) tertentu, yang bisa dipanggil sewaktu-waktu.
Tapi proses itu tidaklah semulus jalan tol. Banyak pengalang yang membuat informasi
tidak mengendap sebagaimana mestinya. Terlebih bagi mereka yang sedang memasuki gerbang
umur 50-an.
Overload
Menurut Jed Diamond, terapis dan pengarang Male Menopause, penyakit lupa sebagian
disebabkan oleh gangguan hormonal yang ditandai dengan beberapa gejala seperti sifat lekas
marah.
Untunglah, hal itu bersifat sementara, "Dan bisa diredakan dengan penambahan
hormon di bawah pengawasan dokter, olahraga, serta pelbagai bentuk pengurangan
stres."
Gerald Celente (51), pendiri Trends Research Institute di Rhinebeck, New York, yang
mengaku sering kelupaan sesuatu sehingga tiap kali harus kembali ke kantor, berpendapat,
meski umur membuat kemunduran itu, "tapi kerja keras dan terlampau sibuk juga pegang
peranan."
Memang abad informasi saat ini pada akhirnya membawa implikasi tersendiri, sehubungan
dengan terbatasnya kapasitas otak. Overload. Seperti yang dituturkan oleh Pamela
Boyd (48), seorang guru SD di Olympia, Washington, "Saya harus ingat kode angka untuk
mematikan alarm di rumah. Kemudian kode pos daerah saya diperbarui. Untuk masuk ke lobi
apartemen saya yang baru, saya juga harus memencet-mencet kode dulu. Belum lagi nomor
Jaminan Sosial saya (di AS ini amat penting), e-mail, nomor telepon, dan faksimili,"
kata Boyd.
Beberapa gangguan lain, medik maupun bukan, juga bisa menyebabkan orang jadi pelupa.
Tekanan darah tinggi, kurang tidur atau kebanyakan minum pil tidur, kebanyakan minuman
keras, disfungsi kelenjar tiroid. Gangguan psikologis macam depresi, kecemasan, atau
sekadar kurang stimulasi, juga bisa jadi pengalang terciptanya memori baru.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti RS Ninewells di Dundee memperoleh
kesimpulan senada, bahwa pengobatan (khususnya obat tidur), gangguan kelenjar tiroid, dan
kekurangan vitamin juga bisa memicu timbulnya penyakit lupa. Hanya saja, hal itu biasanya
terjadi setelah usia 55 tahun.
Orang muda juga
Tepatlah apa yang dikatakan oleh Cynthia Green, ahli ilmu jiwa yang mengajar di Sekolah
Kedokteran Mount Sinai, New York, memori akan menjadi bom krisis baru. Hal itu diperkuat
oleh tim Pusat Riset Rank Xerox, sebuah laboratorium di Manchester, Inggris, produsen
berbagai alat untuk mengatasi kegagalan memori. Hasil riset tersebut, kemunduran memori
sudah dialami oleh orang-orang muda, usia akhir 20-an. Mereka, misalnya, sering lupa wajah
dan nama seseorang selama beberapa saat. Atau mau mengerjakan sesuatu tiba-tiba lupa sama
sekali.
Tim Xerox menuding semakin kompetitifnya kehidupan masa kini sebagai salah satu
penyebabnya. Ini bisa ditengarai dengan semakin panjangnya jam kerja kantor. Tuntutan
kehidupan juga membuat orang menjadi bunglon pekerja alias mendobel. Entah menjadi dosen
luar biasa atau konsultan.
"Kehidupan yang sangat sibuk memungkinkan Anda manjadi pelupa," kata Dr. Abigail
Sellen, salah seorang peneliti.
Sellen mengacu kepada penelitian yang dilakukannya terhadap 15.000 manajer dan
eksekutif di Insead, sebuah sekolah bisnis di Eropa. Selama lima tahun, angka yang
menyatakan memori dan konsentrasi merupakan persoalan besar meningkat dari 15% menjadi
25%. Kesibukan, seperti diungkapkan oleh dr. Michael McGannon, kepala bagian Pendidikan
Bisnis Kesehatan Insead, bisa menenggelamkan seseorang dalam suasana tertekan yang bisa
berakibat buruk, yakni kegagalan memori.
Ancaman lainnya adalah lingkungan. Profesor James Reason dari Universitas Manchester
mengatakan, timah hitam yang terdapat dalam bensin dan sumber-sumber lain dapat merusak
inteligensia dan daya ingat anak-anak. "Memori seorang anak yang dalam masa
pertumbuhan bisa rusak karena banyak menghirup zat beracun," katanya.
Hal ini diamini oleh Prof. Dr. Soemarno Markam, ahli saraf FKUI - RSCM. Menurut dia,
polusi bisa menyebabkan perkembangan saraf otak terganggu. Ia memberi contoh orang-orang
Rusia pedesaan yang hidup di lingkungan bersih. "Hingga usia 100 pun mereka tidak
pikun," ujarnya.
Studi terbaru malah menunjukkan, bedah operasi menggunakan bius total juga bisa
menimbulkan masalah berkaitan dengan memori dan konsentrasi.
Apa yang terjadi dengan otak mereka?
Stimulasi dan obat
Berbagai persoalan di atas mendorong para peneliti untuk menyelidik apa penyebab hilangnya
atau mundurnya daya ingat. Apalagi, seperti yang diungkapkan oleh Dr. Arnold Scheibel,
direktur Institut Penelitian Otak UCLA, "Masih sedikit sekali yang kami ketahui
tentang otak yang kecil itu, meski penelitian telah riuh-rendah begitu."
Dana memang mengalir deras. Sehubungan dengan AAMI, misalnya, The Charles A. Dana
Foundation telah mengucurkan dana untuk kelangsungan sebuah penelitian sebesar AS $ 8,4
juta kepada lima pusat medis universitas utama. Para peneliti memperoleh bantuan peralatan
yang bernama pelarik PET (positron emission tomography) yang dapat mendeteksi perubahan
kimiawi yang terjadi saat otak sedang melakukan berbagai tugas, semisal menghafalkan
daftar kosa kata.
Beberapa penelitian telah menunjukkan hasil meski baru diterapkan kepada binatang.
William Greenough, peneliti di Universitas Illinois, bisa jadi memberikan seberkas lilin
untuk menyibak kegelapan yang dialami para manula. Greenough mengurung tikus bersama
beberapa mainan seperti bola, boneka, dsb., serta luncuran dan terowongan. Ketika ia
kemudian membedah otaknya, ia mendapati jumlah sel otak yang lebih banyak dibandingkan
dengan tikus-tikus yang tidak memiliki mainan dan alat permainan. "Apakah hal itu
juga akan berlaku bagi manusia, dalam arti jika dirangsang akan tumbuh sel otak
baru?" tanya Greenough.
Penelitian yang mirip juga dilakukan di La Jolla, Kalifornia. Para peneliti menempatkan
tikus-tikus pada lingkungan tertentu yang lebih luas dilengkapi dengan sejumlah mainan
tertentu. Hasilnya, volume sel otak tikus yang bertanggung jawab terhadap kemampuan
belajar dan mengingat ternyata bertambah 15% dibandingkan dengan tikus yang ditempatkan
dalam keadaan normal. Ini menunjukkan bahwa tikus-tikus yang ditempatkan pada kondisi
tertentu itu lebih pintar dibandingkan dengan sesamanya.
Para ahli sebenarnya sudah lama mengetahui bahwa "lingkungan yang diperkaya"
dapat meningkatkan kinerja otak. Stimulasi, yang muncul dari lingkungan, mampu membuat
otak bekerja secara lebih efisien dan meningkatkan koordinasi antarsel. Kalau mengacu
kepada kesamaan struktur otak tikus dengan otak manusia, maka semestinya hal itu bisa
terjadi pada manusia juga. "Saya justru terkejut kalau hal itu tidak terjadi pada
manusia," papar Fred Gage, peneliti sel otak yang memimpin penelitian di Institut
Salk.
Otak manusia memang mempunyai sel-sel cadangan, seperti yang diujarkan ilmuwan dari
Institut Riset Stanford bahwa kita hanya menggunakan 10% otak kita. Selebihnya nganggur
gur! Cadangan tersebut dipakai untuk mengantisipasi rangsangan tertentu dengan
mengembangkan daya komputasi melalui peningkatan jumlah sel yang tersedia. Akan tetapi
jika seseorang hidup dalam lingkungan yang rendah stimulasi dan tak pernah menggunakan
sel-sel cadangan, maka sel-sel itu akan mati.
Selain penelitian soal stimulasi, para ahli bidang farmasi pun berusaha menciptakan
obat yang mampu meningkatkan kinerja otak. Salah satu pemainnya adalah Cortex, perusahaan
yang didirikan oleh tiga ahli ilmu syaraf dari Universitas Kalifornia di Irvine. Mereka
mengklaim telah menemukan ampakine yang dapat menyegarkan saraf yang lelah.
Yang lainnya, Helicon Therapeutics di Cold Spring Harbor, New York, mengembangkan
obat-obatan yang ditujukan untuk molekul otak. Peneliti di sana menemukan adanya protein
yang diberi nama CREB, yang kadarnya pada lalat buah berdampak nyata terhadap kemampuan
belajar dan mengingat.
Istirahatkan otak Anda
Penelitian untuk menemukan unsur baru dalam otak yang bisa diberi perlakuan obat-obatan
masih terus berlanjut. Di pihak lain, banyak terapis yang menawarkan metode lain. Dengan
motivasi yang kuat, serta mengaitkan informasi dengan yang telah ada di memori jangka
panjang, ternyata orang bisa menjadi super dalam ingat-mengingat. Peneliti di Universitas
Carnegie Mellon mencoba hal itu terhadap beberapa siswanya. Dengan memfokuskan mereka
kepada deretan panjang angka, para siswa tersebut pada akhirnya menemukan pola yang mereka
hubungkan dengan sejumlah bilangan yang telah mereka kenal, semisal hari ulang tahun.
Cara lain diajarkan oleh Harry Lorayne (71), pelatih memori yang terkenal di kalangan
penderita insomnia. Ia mengingat nama seseorang dengan mengasosiasikan salah satu ciri
tubuh yang gampang diingat.
Tak bisa disepelekan juga adalah jembatan keledai. Sebagai contoh, memori adalah WIRES,
yang diambil dari huruf depan Working, Implisit, Remote, Episodik, Semantik.
Prof. Sidiarto pun mengembangkan pola serupa. "Ingatlah LUPA, maka kamu tidak akan
lupa," ujarnya. LUPA versi Prof. Sidiarto ini adalah Latihan, Ulangan, Perhatian, dan
Asosiasi. Jadi, supaya informasi yang masuk tahan lama harus dilatih, diulang, diberi
perhatian, dan kita asosiasikan. Tapi, yang patut diperhatikan juga adalah dalam mencerna
informasi harus bermodalkan KAMU, "Konsentrasi, Atensi, Motivasi, Upaya,"
tambahnya. Dengan menjalankan LUPA sejak usia muda, otak manusia akan lebih lama menyimpan
informasi karena informasi yang diterimanya tersimpan di ingatan jangka panjang.
Bagaimanapun juga otak manusia terbatas kemampuannya. Sementara informasi yang tersebar
di dunia ini tak terbatas. Oleh sebab itu McGannon memberi nasihat, "Biasakan
berkonsentrasi pada satu hal. Kemudian istirahat untuk menjernihkan pikiran dan baru mulai
yang lain." Ia juga mengusulkan agar kita tidak perlu mencemaskan banyak hal. Sebagai
manusia modern, orang sering terjebak pada pemikiran bahwa membaca koran merupakan
keharusan. Apalagi dalam situasi yang tidak menentu seperti saat ini. Tapi, apakah hidup
kita tergantung kepada semua yang tertulis di koran tersebut? Menurut McGannon, ketika
Anda cemas, pikiran dipenuhi berbagai hal. Lahan untuk memori menjadi tersita dan akhirnya
lupalah Anda akan beberapa hal.
McGannon kemudian menambahkan, cara terbaik untuk mengatasi penyakit lupa adalah
beristirahat yang cukup untuk memberikan kesempatan otak berelaksasi. Ini bisa dilakukan,
semisal, dengan tidur selama lima menit, mengambil napas dalam-dalam, melakukan meditasi
pagi dan malam, serta berolahraga agar pusat-pusat memori otak dipenuhi darah yang kaya
oksigen. Tapi, tambahnya, yang terpenting adalah menghilangkan perasaan cemas dan jangan
terlalu mempersoalkan masalah yang tengah dihadapi. (Dari pelbagai sumber/Yds) |