MISTERI |
S
alem, ibu kota negara bagian Oregon, AS, yang indah dan tenteram,
sebelumnya tak pernah terukir dalam sejarah kejahatan. Itulah sebabnya ketika seorang
pemancing di sebuah rawa Salem Tenggara, musim semi 19 April 1975, menemukan mayat
terpotong-potong, penduduk kota ini gempar. "Semula saya pikir benda yang terapung di
balik alang-alang itu manequin yang sering dipajang di etalase toko. Ternyata tubuh
manusia!" cerita pemancing tersebut. Ia baru menyadari hal itu ketika melihat
potongan kerangka sendi kaki mencuat dari dalam air. "Sebagian pakaian dan sebuah
handuk putih masih menempel di tubuhnya." Tanpa menunggu waktu, ia segera melaporkan
temuannya tersebut ke kantor polisi terdekat.
Dr. William Brady, patolog dari Oregon yang mengumpulkan potongan tubuh, kaget bagian kelamin mayat ini hilang sama sekali. Namun bagian kepalanya masih utuh. Matanya tertutup rapat, tampak seperti tidur tenang. Kulitnya berwarna gelap, menunjukkan ia berkebangsaaan Spanyol, India atau suku kulit hitam. Walaupun tercampur lumpur, rambut korban tetap berombak berwarna coklat kehitaman. Pada wajahnya terdapat banyak parutan bekas luka. Bisa jadi korban pernah mengalami pukulan hebat di masa lalu. Pakaiannya berupa celana panjang warna biru, jas bermotif kotak-kotak biru dan abu-abu, sweater putih, celana dalam, serta BH yang terpotong bagian depannya dan pengikat (hak) belakangnya hilang. Ada pula sepatu kulit berwarna hitam bertumit sedang. Selain itu, ditemukan pula sebuah kaos kaki pria berwarna abu-abu muda bergaris merah, yang biasa dikenakan orang bekerja di hutan atau berburu. Sulitnya mengidentifikasi korban lantaran jari-jarinya sudah terkelupas dan ujung-ujung rusak, sehingga sidik jarinya hilang. Apalagi pada jari tangan tak ada cincin atau asesori lain yang menempel pada untaian rantai kalung perak yang sudah terputus-putus. Yang lebih mengecewakan lagi, tak ditemukan dompet yang mungkin menyimpan SIM, atau KTP yang dapat membantu memberikan kunci siapa sebenarnya wanita malang tersebut. Potongan-potongan tubuh tersebut kemudian dikirim ke kamar jenazah
di Golden Mortuary Salem. Dari hasil otopsi diketahui, wanita tersebut berusia sekitar
30-40-an, tingginya 160 cm dan beratnya antara 58-66 kg. Dari catatan medisnya terungkap,
ia pernah melahirkan dan menderita batu empedu. Namun belum bisa dijelaskan apakah ia
diperkosa atau tidak, karena kelamin bagian luar dan dalamnya hilang. Ibu tujuh anak Polisi kemudian mengecek daftar orang yang belakangan dilaporkan hilang. Namun ternyata tidak satupun cocok dengan diskripsi korban yang sampai saat itu belum diketahui namanya. Mungkin, wanita dewasa ini meninggal dalam waktu singkat. Jadi belum sempat dilaporkan kehilangannya. Minggu siang telepon di Kantor Pusat Marion berdering. Suara dari seberang terdengar tergesa-gesa, "Barangkali ini bisa keliru, tapi setelah membaca surat kabar, saya duga korban tersebut adalah wanita penjahit langganan saya. Wanita yang kulitnya agak gelap ini punya beberapa bekas goresan pada mukanya. Katanya, ia berasal dari Carolina Selatan. Namanya, Betty Wilson. Kebetulan saya punya nomor teleponnya. Anda memerlukan?" Petugas Byrnes mencatat nomor telepon tersebut, dengan kode wilayah Scio, sebuah dusun di daerah Linn. Tak lama kemudian nomor itu dihubungi. Penerima telepon, yang mengaku sebagai kakak Betty Wilson mengatakan, Betty tidak di rumah. Ketika mengetahui bahwa yang menghubungi adalah dari kepolisian, ia bertanya, "Apakah ini laporan orang hilang di Kantor Polisi Linn? Sejak Jumat memang Betty tidak pulang." Akhirnya sang kakak diminta datang untuk mengindentifikasi korban, memang benarlah bahwa korban adalah Betty Lucille Wilson, asal Fayetteville, Carolina Utara. Betty menikah pada usia 16 tahun. Selama 9 tahun pernikahannya ia mempunyai 7 anak. Saat terbunuh, anak tertuanya berusia 18, yang bungsu 9 tahun, semua dibawah pengasuhan rumah penitipan anak di Carolina Selatan. Sudah lama rumah tangga Betty mengalami kesulitan keuangan walaupun ia berusaha ngobyek dengan menerima jahitan. Keluarganya tinggal dalam sebuah caravan tua di pinggiran daerah pembuangan sampah di Fayetteville, yang tidak berfasilitas apapun serta jauh dari kehidupan layak. Betty pernah mengaku seringkali dipukuli suaminya, Wilson. Rupanya bekas-bekasnya masih tampak pada wajahnya. Wanita malang ini sudah lama mendambakan cinta kasih dan rasa aman setelah mengalami penderitaan selama 35 tahun. Ia ingin melarikan diri dari penganiayaan suaminya dengan mencari kehidupan baru di kota lain. Akhirnya lantaran tidak tahan menanggung beban, Januari 1975 ia minggat dari rumah dan menumpang di rumah kakaknya di Scio. Sang kakak menyambutnya dengan senang hati apalagi rumahnya cukup besar. Betty berjanji akan membiayai dirinya begitu ia memulai pekerjaannya lagi sebagai penjahit. Ia berharap bisa hidup tenteram agar nanti dapat mengirimkan uang ke anak-anaknya. Di rumah kakaknya, Betty menempati sebuah kamar sederhana. "Betty bisa menyelesaikan sepotong pakaian dalam sehari," cerita kakaknya sedih. "Dengan kepandaiannya, pakaian dari bahan bernilai beberapa dolar saja, bisa tampak seperti 75 dolar." Betty Wilson bukan tipe wanita yang suka keluyuran keluar masuk bar atau pun ke pesta. Ia menikah terlalu muda saat baru saja meninggalkan masa anak-anaknya. Wanita sederhana ini telah mengajukan cerai di Linn. Sejak kedatangannya di rumah sang kakak, ia hanya keluar malam sekali. Kedua kalinya, tanggal Jumat 18 April. Petang itu, bersama pacarnya keponakan Betty mengajaknya keluar malam. Mereka akan makan malam dan dansa di restoran Pepper Tree di Salem. Malam itu Betty mengenakan celana panjang biru baru yang selesai dibuatnya, ia tampak gembira sekali. Namun sayang kemenakannya yang baru berusia 20 tahun dilarang masuk Pepper Tree, karena masih dibawah umur. Untuk tidak mengecewakan tantenya, keponakan dan pacarnya menyarankan Betty masuk sendiri agar bisa berdansa sebentar. Mereka berjanji akan menjemput kembali sekitar pukul 23.00. "Teryata saat kami jemput, Betty mengatakan ia masih betah dan tidak ingin segera pulang," cerita kemenakannya. "Ia mengatakan, akan bertemu kami di apartemen temannya di Stayton." Saat bertemu Betty di bar, terlihat ada seorang pria berdiri di belakang Betty. Diduga mereka baru saja berkenalan. Pria tersebut berambut hitam dan tingginya sekitar 1.90 m. "Di situ memang tidak ada tempat untuk parkir. Saat kami kembali lagi untuk menjemputnya, kami tidak menemukan Betty." Seperti telah dijanjikan, dua anak muda itu langsung menyusul Betty ke apartemen temannya di Stayton. Ternyata ia tidak ke sana. Akhirnya pukul 03.00 dini hari, mereka putus asa dan pulang. Namanya sulit dieja Letnan Byrnes dan McCoy langsung menuju Pepper Tree. Mungkin beberapa petunjuk lain bisa diperoleh dari situ. Klub tersebut dihias serba mewah dengan nuansa merah mulai dari dindingnya sampai karpetnya. Sangat digemari kaum muda yang ingin bermalam minggu. Maklum, para pengunjung bebas berdansa apapun. Ketika staff restoran ditanya siapa kira-kira pria yang berdansa dengan Betty, Jumat malam itu, mereka tidak dengan mudah mengingatnya, karena ada 250 pengunjung saat itu. Namun, beberapa orang masih ingat memang ada wanita yang mengenakan celana panjang biru stelan yang lafal berbicaranya aksen daerah Selatan. Mula-mula ia duduk bersama dua wanita lebih muda, kemudian ia pindah ke bagian bar. Pelayan bar mengatakan, "Ia tampak begitu gembira dan minum beberapa gelas bir. Ia membayarnya dengan uang kecil dan dompetnya ditinggalkan begitu saja di situ." Detektif McCoy mencoba berdiri dekat kursi bar dimana korban pernah duduk dan melihat ke arah depan. Siapa saja yang duduk di sana akan langsung bertatap muka dengan orang yang duduk di bar, kira-kira jaraknya 5 kursi dari lengkung bar. "Siapa yang duduk di situ saat itu?" tanya Mc Coy kepada pelayan bar. "Banyak, tapi ada seorang pria yang sekali-kali datang ke klub ini," katanya. Pelayan bar ini tidak tahu nama pria tersebut, tapi usianya setengah baya dan datang 3-4 kali seminggu. Ia masih ingat, seorang wanita terburu-buru mengambil dompet dan baju hangatnya dari tempat duduknya, kemudian bergabung dengan pria tersebut. "Saya tidak ingat kapan mereka keluar dari klub ini,"katanya. Jim Byrnes bertanya-tanya, mungkin suami Betty yang katanya suka memukul dan membencinya, mengikutinya sampai jarak 3.000 mil dari tempat tinggalnya untuk mengakhiri hidup istrinya? Kepala detektif Mayor Kiser dari Fayetteville, Carolina Utara segera dihubungi. Ternyata tanggal 17 dan 18 April, Wilson bekerja penuh. Bahkan Sabtu, 19 April pun Wilson tidak kemana-mana. Jadi pasti pembunuh Betty, bukan sang suami. Walaupun siang-malam para detektif tak hentinya melakukan penyelidikan, pembunuhan sadis tersebut tetap merupakan suatu misteri. Dalam suatu wawancara dengan seorang petani yang tinggal di daerah dekat rawa, didapat keterangan bahwa ada mobil pick up putih yang parkir sebentar dekat rawa, tapi ia tidak mengamati nomornya. Jejak ban mobil dan sepatu pada lumpur dekat rawa ternyata tidak bisa memberikan bukti apa pun karena tanahnya bercampur kerikil. Minggu April 20, para detektif menemui sejumlah karyawan kantor penimbunan sampah kalau-kalau mereka pernah melihat kendaraan yang mengangkut jenazah Betty Wilson. Rupanya di sini ditemukan kunci untuk mengungkap siapa pelaku pembunuhan keji ini. Mereka mengatakan, setiap kendaraan yang datang ke situ harus berhenti, membayar dan menyebutkan namanya."Kami memberikan bon kepada setiap kendaraan," kata seorang pegawai. "Para pelanggan yang tidak datang teratur mendapatkan bon asli, tapi kami menyimpan tembusannya." Detektif menanyakan lebih detail soal kendaraan yang datang pagi hari tanggal 19 April. Tiga kendaraan masuk sebelum pukul 7.45 pada saat shift para karyawan. Dua orang yang mengendarai truk memang pelanggan tetap yang secara rutin menimbun barang rongsokan besar."Orang ketiga, mengendarai mobil pick-up merk Ford tahun '69. Ia seorang asing," jelas seorang karyawan."Ketika saya menanyakan namanya, ia menyahut, "Anda tidak akan bisa mengeja nama saya. Ini nama saya, 'Marzuette'". Ketika dicek di buku telepon, nama tersebut tidak ada. Namun Byrnes tiba-tiba teringat nama seseorang yang mirip. Ia masih terkenang sewaktu masih calon prajurit patroli di Beaverton, Oregon, sekitar 14 tahun lalu, ia ikut mengejar seorang pembunuh kejam bernama Richard Laurence Marquette. Sejak semula dalam penyelidikan kasus Betty sebenarnya Byrnes sudah
teringat pelaku kejam ini, tapi masih terlalu awal disebutkan. Kini Byrnes mencoba
mengenang kembali peristiwa 14 tahun yang lalu tersebut. Kisah anjing menggondol kaki orang Kaki manusia itu belum mengalami kebusukan. Saat potongan mayat diperiksa, sang anjing berlari kencang dan kembali membawa bungkusan lain. Kali ini tangan manusia, yang baru diamputasi! Polisi patroli segera dipanggil untuk memeriksa daerah sekitar mayat ditemukan. Ditemukan lagi sebuah tangan dan tulang paha. Paha telah dikuliti, sama rapinya seperti pangkal paha sapi yang siap dijual. Tidak satupun bagian tubuh yang dikubur, semuanya masih segar dan penuh darah setengah kering. Menurut perkiraan, wanita ini meninggal tidak lebih dari 48 jam sebelumnya. Masih ada bagian tubuh lain yang bisa untuk bahan identifikasi: antara jari kaki ke tiga dan ke empat terdapat selaput, sehingga belahannya tidak dalam. Sementara itu polisi memeriksa semua bak sampah, tanah kosong, maupun rumah kosong, siapa tahu masih ada bungkusan lain. Ternyata hanya ibu jari dan 3 jari tangan bisa diambil sidik jarinya, yang lain sudah rusak. Karena tahun itu belum bisa dilakukan pencocokan sidik jari dengan komputer, FBI hanya menyimpan file sidik jari dari para penjahat ulung. Tanpa adanya satu set sidik jari, detektif Portland mengalami kesulitan mengidentifikasi dengan cepat. Para detektif tetap tidak berhasil menemukan sisa-sisa tubuh korban sekalipun telah dicoba lagi dengan bantuan anjing pelacak. Patolog menduga wanita ini masih muda, mungkin berambut coklat, kulitnya halus dan ukuran sepatu nomor 7. Laporan tentang orang hilang di Portland dan sekitarnya mengatakan, 4 wanita muda tidak muncul selama minggu terakhir. Konsentrasi penyelidikan terutama pada wanita yang hilang sekitar 48 jam sebelum Juni 8 pagi. Melihat bagian tubuh tadi tampaknya potongan tubuh tidak dimasukkan pendingin sebelumnya. Jadi, pasti pembunuhan tidak dilakukan sebelum Senin, tanggal 5 Juni! Wanita yang dilaporkan hilang pertama adalah June Freese, seorang gadis yatim piatu berusia 16 tahun, tinggal bersama bibinya. Ketika bibinya ditanya apakah antara jari kaki ketiga dan keempatnya tumbuh jaringan, ia tidak bisa menjawab. Namun melihat sepatunya, ukurannya lebih kecil dari sang korban. Orang hilang kedua, Joan Caudle, asal Portland, 24 tahun. Menurut suaminya, ia pamit belanja, Senin sore 5 Juni. Suaminya tinggal di rumah menjaga kedua anaknya yang masih kecil."Joan membawa uang sekitar 100 dolar AS," kata suaminya. Lelaki ini memang belum melaporkan hilangnya sang istri, karena pikirnya ia masih ada urusan lain. "Ibu Joan sakit keras dan membuatnya sedih," tambah suaminya. Ia mulai curiga saat menelepon sahabat dan sanak saudaranya, tidak satupun tahu dimana Joan. Joan pun tidak menelepon rumah sakit untuk menanyakan ibunya. Sayang, ia tidak ingat apakah pada jari kaki Joan tumbuh jaringan. Namun, nomor sepatu Joan Caudle ternyata nomor 7. Walaupun 40% wanita di Portland mengenakan sepatu dengan ukuran sama, tapi paling tidak ditemukan satu kemungkinan yang benar. Wanita ketiga dan keempat yang hilang rupanya tidak dicurigai sebagai korban pembunuhan. Usaha pencarian bagian tubuh yang lain telah disebarkan, tapi tidak juga ditemukan. Detektif Portland berpendapat bungkusan kaki dan tangan itu dilempar begitu saja dari mobil ke tong sampah. Sejauh ini polisi mau tidak mau hanya mengidentifikasi berdasarkan bagian tubuh yang ada. Penyelidikan untuk mengungkap siapa pelaku pembunuhan itu menemui kesulitan lantaran tidak lagi ditemukan darah, pada potongan tubuh korban. Para penyelidik kemudian mengumpulkan barang-barang pribadi seperti sikat rambut, botol minyak wangi, dan tempat bedak, milik para wanita yang dilaporkan hilang. Juga diambil sidik jari dari meja dan kosen pintu dari rumah masing-masing. Repotnya, semua wanita yang hilang itu belum pernah diambil sidik jarinya. Kemudian sidik jari tadi dicocokkan dengan sidik jari yang diperoleh dari potongan jari. Akhirnya lewat proses penyelidikan yang sangat teliti, jawabannya, korban adalah Joan Caudle. Dengan sedih sang suami menambahkan:"Saya sudah menduga pasti sesuatu terjadi pada diri Joan. Soalnya waktu ibunya meninggal, ia tidak muncul pada hari pemakamannya". Karena orang pertama yang dicurigai sang suami, ia diminta berrcerita: "Saat toko-toko buka Senin malam, Joan mengatakan ingin membeli hadiah. Ia menelepon saya sekitar pukul 21.00, akan pulang agak terlambat, naik bis atau taksi." "Mungkin istri Anda mampir di bar untuk minum?" "Mungkin juga, tapi itu bukan kebiasaan dia". "Apakah pikir Anda, istri Anda menyeleweng ?" "Sama sekali tidak,"kata Caudle."Ia selalu di rumah bersama anak-anak dan saya pulang setiap malam. Ia bukan wanita tipe itu." Lantas apa saja yang dilakukan Joan antara pukul 21.00 Senin malam itu sampai Kamis pagi waktu potongan tubuh ditemukan? Dari foto yang diperlihatkan suaminya, Joan yang berambut hitam tampak cantik dan menarik. Foto ini segera dimuat di suratkabar Portland, siapa tahu ada orang yang pernah melihatnya. Benarlah. Sehari kemudian ada seorang wanita muda ingin menyampaikan berita tentang Joan Caudle. "Saya pernah melihat wanita cantik dalam foto itu di sebuah bar di Portland Tenggara. Saat itu saya sedang minum bersama Dick. Pria yang biasanya pakaiannya lusuh malam itu tampak lebih rapi. Rupanya Dick langsung terarik pada wanita cantik itu dan tak lama kemudian menghilang bersama dia," cerita wanita tersebut. "Anda yakin dia adalah Joan Caudle?" tanya polisi. "Saya yakin karena saya mengamatinya benar-benar. Ia cantik dan lebih muda dari saya". Menurut penuturan wantia tersebut, Dick datang teratur ke bar itu. Usianya sekitar 25 tahun, tingginya kira-kira 1.90 m beratnya sekitar 85 kg. Rambutnya keriting berwarna coklat muda, matanya biru dan tampangnya lumayan. "Oh, ya. Dia sering menyebut saya 'dear'. Katanya saya mempunyai mata seperti "deer"(rusa)." Mendengar kata 'deer', para detektif langsung ingat pembunuh ini menyembelih dan menguliti tubuh korban seperti seorang pemburu menguliti rusa. "Saya ingat, pria itu masih muda tapi gigi atas dan bawahnya palsu. Kalau bicara sering terdengar suara gemeletuk,"tambahnya. Akhirnya polisi mengetahui, nama lengkap pria itu Dick Marquette, bekerja di sebuah perusahaan pengangkatan mobil rongsokan. Polisi semakin yakin ketika ada beberapa pengunjung bar juga mengatakan wanita yang hilang itu berada di bar Senin malam bersama Dick. "Aneh memang, ia datang sendirian tapi kemudian langsung akrab dengan pria tersebut," kata seorang pengunjung. Mereka sempat bermain game Where do I know you from?(Darimana saya tahu asal usulmu?). Game tersebut menjawab, mereka berasal dari sekolah yang sama dan tidak bertemu selama 15 tahun. Saat mereka mau pergi bersama, Dick mengatakan, karena tidak membawa mobil ia mengajaknya berjalan kaki. Di perusahaan rongsokan mobil, seorang pekerja mengatakan Richard L. Marquette memang bekerja di situ tapi sejak Kamis, 8 Juni tidak muncul."Sisa upahnya belum diambil," katanya. Menurut daftar karyawan, alamat rumahnya di sekitar tempat ditemukannya potongan tubuh. Di situ para penyelidik Portland menemukan sebuah rumah dengan dua kamar dikelilingi halaman penuh dengan tumbuhan tidak terawat. Bangunan ini hanya mempunyai satu pintu dan satu jendela, keduanya tertutup. Polisi langsung bisa masuk karena pintu tidak terkunci. Begitu pintu dibuka, tercium bau busuk, khas bau mayat yang sudah menginap beberapa hari. Ditemukan pula sweater hitam, yang diidentifikasi sebagai pakaian yang dikenakan Joan Caudle saat ia menghilang. Di sebelahnya, ditemukan pakaian dalam wanita dengan sedikit percikan darah. Ada pula sebuah almari es tua sarat dengan bungkusan-bungkusan besar terbungkus koran. Sungguh mengerikan, ternyata potongan-potongan daging manusia! Kepalanya tidak ada! Surat perintah segera dikeluarkan untuk menangkap Richard Marquette. Para tetangganya heran, mana mungkin jejaka agak pendiam dan pemalu serta selalu memberi salam hangat kepada tetangga melakukan perbuatan sadis? Menurut polisi memang banyak pembunuh terkenal berciri khas sbb: kelakuan sehari-harinya tampak manis, diam, tidak pernah mengganggu, bahkan suka menolong sesama. Mulai 19 Juni 1961, dibantu FBI pengejaran terhadap Marquette mulai dilaksanakan. Gambar si pembunuh juga disebarluaskan. Tanpa susah payah, hari berikutnya FBI berhasil menangkap terdakwa di sebuah toko barang bekas. Semula ia menyangkal sebagai pembunuh tapi kemudian ia menyatakan, "Dalam keadaan mabuk, malam itu saya tak sengaja bertemu dengan eks teman sekolah. Saya tidak tahu nama barunya. Lalu ada orang yang menjemputnya. Entah siapa". Kemudian ia mengaku Joan dibawa ke rumahnya, "Saat hendak melakukan hubungan seks kedua, tiba-tiba Joan berontak. Dengan sekuat tenaga saya berusaha mencekiknya. Bangun pagi hari, ia sudah meninggal. Saya panik," ceritanya. Karena ia tidak mempunyai mobil untuk membuangnya, ia memotong-motong tubuh tak bernyawa itu. Menurut pengakuannya, kepalanya dibuang ke Sungai Willamette dekat jembatan Rose Island. Ternyata benar, kepalanya ada di sana. Pengadilan terhadap Richard Marquette dilaksanakan 28 November 1961.
Setelah kesaksian selama 2 minggu, mungkin dengan alasan masih muda dan baru pertama kali
melakukan kejahatan, juri memutuskan hukuman seumur hidup. Beruntung pria muda cukup
tampan dan pemalu ini mendapat keringanan hukuman walaupun melakukan pembunuhan tingkat I
sewaktu berusaha memperkosa seseorang. Penduduk Oregon merasa tenang dan percaya Marquette
akan berada di penjara seumur hidup. Pembunuhnya sama Meneliti kembali kisah pembunuhan sadis terhadap Joan Caudle oleh Michael Marquette, Jim Byrnes semakin yakin bahwa pembunuh Betty Wilson kemungkinan sama. Apalagi sudah ditemukan nama yang mirip. Pengejaran kini mengarah ke Michael Marquette. Ternyata ia sedang magang sebagai tukang ledeng pada sebuah perusahaan bereputasi di Salem dan tinggal di sebuah perkampungan mobil rumah (trailer). Dengan segala upaya, akhirnya ia berhasil menemukan tempat tinggalnya, yang ternyata tidak jauh dari Pepper Tree. Tanggal 21 April 1975, pada saat Byrnes bersama rekannya mendatangi trailernya, ternyata sudah kosong dan dibersihkan. Ia telah melepaskan mobil Ford pickup-camper buatan 1969 dari rumah mobilnya. Tapi akhirnya mereka dapat menemukan Marquette kembali di situ. Marquette dulu dan sekarang lain. Pria yang kini sudah berusia 40 tahun, tidak lagi kelihatan tampan, tapi tampak tua dan kurus. Saat rumah mobilnya diperiksa, ia tetap tenang dan relaks sambil bersandar pada mobil pick-upnya dan tangannya dilipat. Rupanya psikopat sadis ini pandai bersandiwara sehingga para detektif ragu apakah pelakunya orang yang sama. Namun kemudian Byrnes menemukan titik-titik darah kering pada daun pintu dan sebuah kran air panas. Sebuah celana pendek dengan noda berwarna merah jambu tergantung pada tangkai shower, juga noda yang sama pada celana jeans. Di tangga luar, Byrnes menemukan kuku jari yang sudah sobek."Identifikasi melalui kuku jari bisa lebih baik daripada sidik jari," komentarnya. Rupanya sebelum para detektif datang Marquette telah membersihkan semua kuku yang masih tertinggal. Selanjutnya, detektif membersihkan pekarangan sekitar trailer dengan vacuum cleaner, kemudian meraup semua kotoran kedalam kantong plastik untuk diteliti lebih lanjut. Seorang detektif tiba-tiba melihat sesuatu berkilap di atas rumput. Ternyata potongan rantai kalung perak! "Ini cocok dengan potongan rantai kalung yang menempel pada janazah korban," katanya. Juga ditemukan pengikat BH yang terlepas. Dengan ditemukan barang-barang kecil itu sudah hampir bisa dibuktikan siapa pembunuhnya. Walaupun Marquette tetap tenang, ia sebenarnya mulai cemas. Soalnya tiba-tiba omongannya agak kacau: "Wah, seandainya saja saya dapat kembali ke masa lalu saya." Padahal Byrnes tahu benar selama 14 tahun ia mendekam dal |