SUPLEMEN |
Bisnis suplemen makanan melanda hampir seluruh dunia terutama Amerika,
Australia, bahkan sampai ke Asia, termasuk Indonesia. Tayangan iklan melalui media cetak
maupun elektronik tentang food supplement itu begitu marak sehingga menarik untuk
disimak. Khasiat yang ditawarkan mulai sebagai pencegah kanker, penurun tekanan darah
tinggi, peningkat daya seksual, ataupun daya ingat. Siapa saja yang dianjurkan
mengkonsumsi suplemen makanan yang banyak ditawarkan? Dr. Elvina Karyadi, M.Sc,
ahli gizi masyarakat pada SEAMEO-Tropmed, Universitas Indonesia, menguraikannya. Sekitar 2.000
tahun lalu, bapak ilmu kedokteran Barat, Hipocrates, berujar, "Let your food be
your medicine and your medicine be your food". Ini bisa diartikan, pola makan
yang sehat dan seimbang dapat menunjang kesehatan seseorang secara optimal dan dari zat
gizi makanan, sehingga kita dapat terhindar dari berbagai macam penyakit.
Timbul pertanyaan, dalam era modernisasi dan globalisasi ini mampukah kita memenuhi pola makanan yang seimbang? Sebagian dari kita tidak. Mungkin inilah yang menjadi latar belakang tumbuhnya berbagai macam bisnis suplemen makanan demikian pesat sehingga memberikan banyak peluang bagi para produsen untuk memasarkannya. Sebenarnya, perlu atau tidak kita mengkonsumsi suplemen makanan dan seberapa banyak kita membutuhkannya? Kondisi bagaimana saja yang diperbolehkan? Suplemen makanan merupakan makanan yang mengandung zat-zat gizi dan non-gizi; bisa dalam bentuk kapsul, kapsul lunak, tablet, bubuk, atau cairan yang fungsinya sebagai pelengkap kekurangan zat gizi yang dibutuhkan untuk menjaga agar vitalitas tubuh tetap prima. Sebagai pelengkap, suplemen makanan bukan diartikan sebagai pengganti (substitusi) makanan kita sehari-hari. Suplemen makanan umumnya berasal dari bahan-bahan alami tanpa tambahan zat-zat kimia walaupun pada vitamin tertentu ada yang sintetis. Suplemen vitamin seperti asam folat dalam bentuk sintetis memang lebih mudah terserap dalam tubuh, walaupun vitamin E dari bahan alami jauh lebih baik penyerapannya daripada yang sintetis. Suplemen makanan digolongkan sebagai nutraceutical, sedangkan obat-obatan masuk golongan pharmaceutical. Berbeda dengan obat-obatan yang harus diuji efektivitasnya secara klinis mengikuti serangkaian prosedur, suplemen makanan ini khasiatnya tidak perlu dibuktikan melalui uji klinis. Sampai saat ini pun jenis nutraceutical boleh dijual secara bebas tapi tidak boleh diklaim memiliki khasiat untuk mengobati penyakit seperti halnya obat-obatan. Di Indonesia suplemen makanan dimasukkan dalam golongan makanan, bukan obat. Peraturan Menteri Kesehatan No. 329/Menkes/Per/XII/76 menyatakan, makanan sebagai barang yang untuk dimakan dan diminum tetapi bukan sebagai obat. Namun akibat pengaruh iklan yang menarik bahwa suplemen makanan dapat menyembuhkan atau mencegah penyakit ini dan itu, timbullah kerancuan. Tentu di sini peranan Ditjen POM (Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan), Departemen Kesehatan RI, sangat penting dalam menentukan masalah labelling, claim, serta etika periklanan untuk melindungi konsumen. Radikal bebas dan antioksidan Dr. Kenneth H. Cooper's, presiden Cooper Aerobics Center di Dallas, AS, dalam buku barunya Revolusi Antioksidan menyatakan, terobosan berikutnya dalam ilmu kedokteran preventif adalah antioksidan. Dengan latar belakang teori radikal bebas dan antioksidan itu, kini salah satu jenis suplemen makanan juga menawarkan zat antioksidan dalam bentuk kemasan beraneka ragam. Beberapa studi yang telah dilakukan mengungkapkan, vitamin C, vitamin E, beta karotin, dan selenium berfungsi sebagai antioksidan untuk menangkal senyawa radikal bebas ini. Selain itu, zat non-gizi seperti pigmen (likopen pada tomat, flavonoid, klorofil) dan enzim (glutation peroksida, koenzim Q-10) juga berkhasiat sebagai antioksidan. Zat gizi dan non-gizi ini sebenarnya dapat kita peroleh dari makanan sehari-hari seperti sayuran, buah-buahan, tempe, dll. Namun sering menjadi pertanyaan, sejauh mana kita memerlukan suplemen makanan ini untuk mencukupi kebutuhan gizi yang dianjurkan bila kita sudah mengkonsumsi makanan yang mengandung antioksidan ini? Stres perlu suplemen Namun, beberapa kondisi yang perlu diingat sebagai latar belakang penggunaan suplemen makanan dapat disimak sebagai berikut: dalam masyarakat modern dengan pola makan yang tidak seimbang karena kesibukan dan kurangnya persiapan makanan dengan menu seimbang atau kebiasaan mengkonsumsi makanan olahan seperti junk food yang terkadang memakai zat pengawet atau zat tambahan agar makanan tetap awet. Faktor itu akan mempengaruhi asupan zat gizi yang masuk ke dalam tubuh. Belum lagi kurangnya waktu untuk berolahraga karena kesibukan kerja, tidak cukup tidur dan istirahat, bahkan faktor stres yang banyak melanda masyarakat terutama di perkotaan. Dalam keadaan stres, tubuh akan menguras cadangan gula darah (glukosa) dalam tubuh. Cadangan glukosa ini akan diambil dari persediaan protein dan juga karbohidrat tambahan untuk memenuhi energi yang banyak terbuang pada waktu stres. Rendahnya jumlah serotonin dalam otak dapat memacu terjadinya stres, dan untuk meningkatkan serotonin diperlukan konsumsi protein yang memadai termasuk asam amino yang juga mendorong produksi serotonin. Di samping itu, stres juga memacu ginjal untuk meningkatkan pengeluaran beberapa mineral penting dari tubuh seperti magnesium, seng, dan kalsium. Stres yang berkepanjangan dan tidak segera diatasi dapat menghilangkan selera makan seseorang sehingga kebutuhan zat gizi tidak dapat dipenuhi dari pola makannya yang terganggu. Dalam hal seperti itu, suplemen makanan diperlukan karena dapat membantu melengkapi kekurangan zat gizi. Faktor lingkungan seperti pencemaran udara yang dapat merupakan sumber radikal bebas bagi tubuh kita kini juga tidak terlepas dari kehidupan kita. Salah satu bahan pencemar udara itu antara lain timah hitam (Pb), hasil buangan dari knalpot kendaraan yang menggunakan bahan bakar (bensin) yang mengandung timah hitam. Laporan Bank Dunia URBAIR 1994 menyatakan, dampak pencemaran timah hitam atau timbal menimbulkan 350 kasus penyakit jantung dan 62.000 kasus tekanan darah tinggi dengan angka kematian 340 orang per tahun. Sumber radikal bebas lain dari lingkungan di sekitar kita seperti asap rokok, radiasi sinar matahari, sinar X, dll. Dalam hal ini suplemen makanan yang mengandung antioksidan memang dapat membantu menetralkan radikal bebas dengan mengikat elektron bebas dari sumber tersebut. Dengan memusnahkan radikal bebas, kita dapat mengantisipasi dalam mengurangi kerusakan inti sel, membran sel, dan sistem kekebalan tubuh serta meningkatkan perlindungan tubuh kita. Cegah ketergantungan Selain itu faktor usia di mana beberapa fungsi organ tubuh sudah menurun, seperti kurangnya penyerapan zat gizi atau gangguan pada gigi yang menyebabkan sulit makan, terkadang memerlukan suplemen makanan sebagai pelengkap kebutuhan asupan zat gizi. Penggunaan suplemen makanan juga dapat bermanfaat untuk seseorang yang mengalami, misalnya, gangguan kekurangan gizi seperti anemia pada ibu hamil atau menyusui, avitaminosis, dan gondok. Juga bagi para perokok berat, peminum alkohol, dan pengguna obat-obatan dalam jangka waktu lama seperti anti-tuberkulosis yang memerlukan vitamin B6, pengguna obat antikejang, kontrasepsi steroid, dan antibiotik tertentu yang dapat menyebabkan defisiensi jenis vitamin atau mineral tertentu. Seseorang dengan perilaku makan yang sulit diubah sejak kecil hingga usia tua terkadang memerlukan "koreksi" dengan suplemen makanan secara kualitatif dan kuantitatif untuk mencapai gizi seimbang. Tentunya harus sambil diberi motivasi dan pendekatan psikologis yang dapat merubah perilaku makannya agar tidak timbul ketergantungan pada suplemen makanan terus- menerus. Untuk membantu penyembuhan penyakit kronik atau akut tertentu, selain obat-obatan dari dokter, suplemen makanan juga dapat bermanfaat. Bahkan juga untuk penderita yang dirawat di rumah sakit dengan keadaan gizi kurang diperlukan sebagai penunjang pemulihan dan penyembuhan. Tapi penggunaan suplemen makanan harus selalu dikonsultasikan dengan dokter karena penggunaan yang tidak tepat dikhawatirkan menyebabkan gangguan penyerapan obat-obatan tertentu atau interaksi antara obat dan suplemen makanan yang dapat menyebabkan efek merugikan. Suplemen makanan jangan dianggap sebagai obat dewa yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Peranannya dalam membantu proses pencegahan dan penyembuhan serta rehabilitasi penyakit tertentu memang bisa digunakan. Bukti-bukti ilmiah untuk zat gizi tertentu seperti zat antioksidan, asam lemak esensial (omega-3), memang sudah menunjukkan manfaatnya bagi kesehatan tubuh. Bahkan dalam suatu seminar di FKUI pernah dibahas beberapa khasiat bahan alami seperti temulawak, bawang putih, bawang merah, dan tempe sebagai antioksidan penangkal senyawa radikal bebas. Kembali pada slogan "Aku Cinta Makanan Indonesia" (ACMI), perlu diingat bahwa sebenarnya makanan tradisional Indonesia dalam pola makan sehari-hari mengandung bahan alami yang banyak mengandung antioksidan. Konsumsi suplemen makanan sebenarnya berawal dari konsep kembali ke alam: bahan-bahan alami dikemas begitu rupa dalam bentuk kapsul, pil, dsb. Namun perlu diingat, makanan segar yang beraneka ragam tetap lebih alami dan bermanfaat. Jadi hendaknya, sebelum mengkonsumsi suplemen makanan, kita mempertimbangkan segala aspek: kondisi tubuh, daya beli, dan manfaat yang diinginkan. Mengkonsumsi suplemen makanan jangan dengan alasan mengutamakan gengsi, terbawa mode, atau memenuhi faktor sugesti. |
| POTRET: Ade Rai TERAWANG: Lupa LANG-LANG: Maluku HALHI: Nata de cacao LEPAS 1: KKN KES 1: Makanan suplemen KES 2: Susu kedelai KES 3: Viagra PSI 1: Ogah makan CERKRIM:Mayat Boks: |