HARIMAU POLIGAMI

Keganasan harimau begitu terkenal sampai ia dijadikan simbol kekuatan, keberanian, dan pembawa maut dalam horoskop Cina. Tahun macan dipercaya membawa bencana, tindak kekerasan, dan keberanian berperang. Bagaimana kehidupan binatang pembawa maut ini yang sebenarnya?

Kebuasannya melegenda, sampai nenek moyang kita di Jawa Tengah tidak berani membicarakan mereka terang-terangan sebagai macan (kalau sedang melewati hutan), tetapi si mBahe. Harimau sumatra malah disebut dengan segan si Datuk.

Harimau cina yang dijadikan simbol horoskop itu ada dua. Harimau siberia yang Panthera tigris altaica, dan harimau cina-selatan yang Panthera tigris amoyensis. Si amoy sudah hampir punah (tinggal 10 - 30 ekor di alam), sehingga tidak ada kisahnya lagi yang menyisa. Tetapi harimau siberia masih lumayan banyak yang belum mati. Masih 150 - 430 ekor, menurut catatan tahun 1996. Kini mereka tinggal di lembah Sungai Amur dan Ussuri, Manchuria. Padahal nenek moyangnya dulu pernah merajai hutan-hutan Siberia yang lebih luas di sebelah barat.

Rambu-rambu air sendiri

Daerah keluyuran harimau Amur (cucu cicit harimau siberia) itu juga luas sekali (bisa sampai 3.000 km2 tiap keluarga), tetapi kini sudah tidak ada yang sampai menginjak wilayah hutan Siberia.

Kalau kapling HPH (Hak Pengusahaan Hutan) sudah mulai menipis stok binatang ganyangannya, harimau tidak segan-segan mencuri ternak para petani daerah perbatasan. Inilah yang membuat marah para petani, sampai raja hutan itu berubah status menjadi raja maling. Kebanyakan mati ditombak dan diparang, setelah tak berdaya karena dipojokkan dalam jebakan berisi kambing umpan.

Sebaliknya, kalau daerah perburuan itu makmur menyediakan bahan makanan, seekor harimau jantan bisa tahan bertahun-tahun tinggal di daerah itu. Rentang hidupnya 15 tahun. Ia mempertahankan perbatasan teritoriumnya jangan sampai dimasuki harimau jantan dari wilayah lain. Baik harimau jantan maupun betina pasangannya menandai batas wilayah kedaulatan mereka dengan goresan cakar pada batang pohon perbatasan dan air kencing. Di Padang, air semacam ini disebut "air sendiri".

Walaupun sudah mempunyai pekarangan rumah sendiri, tetapi tidak berarti harimau jantan wajib tinggal di rumah. Ia suka keluyuran juga untuk mencari makan dan hiburan. Sering sekali ia melanggar batas teritorium harimau lain. Tetapi selama tidak diketahui oleh pemilik kapling, pelanggaran itu tidak sampai menimbulkan konfrontasi politik.

Makanan yang diburu bisa berupa kijang panter, babi hutan, anak beruang, dan kambing hitam.

Cara berburunya seperti pengecut. Calon mangsanya sudah diikuti gerak-geriknya dari jarak 10 - 25 m. Selama ia masih menghadapkan muka dan alat beladirinya ke arah macan, ia tidak akan diserang. Harimaunya diam koplo-koplo seolah-olah tidak berminat. Tetapi begitu ia membalik badan dan membelakangi harimau, kontan ia akan diserang dari belakang dengan lari lebih cepat dan loncatan maut di atas punggung, sambil digigit lehernya. Harimau memang pengecut, kalau dipikir-pikir! Kaki belakangnya tetap berdiri kokoh di atas tanah. Jadi mangsa itu seperti disentak ke belakang.

Kalau mangsanya kecil, gigitan sekali saja sudah cukup. Tetapi mangsa yang besar harus digulingkan dulu, baru bisa digigit untuk kedua kalinya pada tenggorokan.

Hasil buruan diseret ke dekat sungai atau sumber air. Sebab makan besar memang perlu minum-minum segala. Sesudah mengganyang segumpal demi segumpal daging mangsa, ia minum banyak-banyak, lalu tidur! Sisa santapan ditinggal untuk diganyang nanti saja, kapan-kapan kalau ada waktu. Biasanya bangkai terlantar ini juga diserbu oleh para pencoleng pemakan bangkai, seperti burung buas, anjing hutan, dan serigala yang memanfaatkan makanan gratisan.

Kawin turbo

Hiburan Pak Harimau yang keluyuran meninggalkan keluarganya itu berupa harimau betina juga, kenalan baru di rantau. Tetapi mengenai skandal ini sebaiknya kita pura-pura tidak tahu saja.

Sementara itu, harimau betina pasrah saja ditinggal suami semacam itu. Ia juga tidak ambil pusing kalau wilayah teritoriumnya dimasuki harimau lain, baik jantan, betina, maupun pemuda macan ingusan. Mestinya 'kan mempertahankan wilayah kedaulatan keluarga itu! Tapi tidak! Itu urusan Pakne Tole. Begitu kira-kira pendirian Bu Harimau ini.

Sepanjang tahun, mereka bisa kawin, tidak terikat pada musim tertentu, baik panas, dingin, semi, maupun gugur. Setiap waktu kalau harimau betina siap dibuahi, ia mengirim pesan melalui batang pohon yang dijumpai di tengah jalan, berupa goresan cakar yang menunjukkan identitasnya, disertai "air sendiri" sebagai pengharum surat.

Sayang, daerah tempat perburuan mereka begitu luas, sampai pesan semacam itu tidak selalu bisa ditemukan oleh suami yang keluyuran malam-malam. Padahal kesigapannya untuk digauli hanya sampai tujuh hari. Karena itu, kalau dalam waktu sependek ini ia tidak kedatangan suaminya yang sah, ia juga mau dengan seekor suami lain yang keluyuran mencari hiburan seperti suaminya.

Kalau tidak bertemu, ya sudah! Tidak jadi kawin, kali ini. Itulah sebabnya, kadang sampai dua tahun ia tidak beranak lagi karena suaminya tidak menemukan surat panggilan di pohon.

Tetapi begitu suami-istri yang sah itu bertemu karena memang ndilalah ketemu, mereka akan hidup bahagia berduaan lagi, selama hari-hari kesigapan digauli itu. Kawinnya tidak hanya sekali sehari, tapi aji mumpung, dengan kecepatan turbo. Soalnya, sudah hampir mendekati dead line.

Tugas keibuan

Sesudah masa kesediaan dibuahi berlalu, mereka berpisah ranjang. Masing-masing sibuk mencari mangsa sendiri-sendiri lagi.

Baru sesudah 3 - 3,5 bulan kemudian, induk harimau melahirkan empat ekor anak yang masih buta dalam sarang yang dicarinya sendiri sebelumnya. Kebanyakan berupa gua alamiah yang bebas dari angin dan salju. Ia menyusui anaknya seperti kucing piaraan kita dalam keranjang yang hangat.

Dalam waktu dua minggu anak-anak mulai melek dan giginya mulai tumbuh. Induknya sudah bisa meninggalkan mereka sebentar untuk mencari makan. Sebab dua minggu lamanya ia berpuasa tanpa buka dan sahur.

Hasil perburuannya ada yang dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Anak-anak boleh mencicipinya dalam rangka perkenalan dengan bahan makanan yang tidak terlarang. Tetapi sementara itu mereka masih wajib minum susu sampai umur enam bulan.

Sesudah itulah, anak-anak mulai diajak ikut berburu binatang kecil yang mudah disergap. Burung salju, tikus wirok, atau kelinci percobaan.

Pada umur satu tahun mereka sudah bisa dilepas oleh induknya untuk berburu sendirian. Tetapi mereka masih harus pulang ke sarang induk lagi setiap subuh menjelang fajar. Soalnya, mereka harus tidur siang "sama mama" di tempat yang aman dari binatang buas lain.

Baru sesudah berumur 3 - 5 tahun, mereka benar-benar sudah mahir bela diri sendiri, tidak perlu mengajak kawan-kawan untuk tawuran.

Mereka meninggalkan sarang induk untuk selama-lamanya, dalam rangka usaha mencari padang perburuan baru. Seperti papi dan mami, mereka pun memproklamasikan teritorium ini dengan air kencing. Kurang ajar, nggak? (Slamet Soeseno)

Biang Punahnya Harimau