Pantai Jompo
Perhatian yang semakin kurang dan, sebaliknya, perlindungan yang berlebihan sering kali menimbulkan rasa kesepian yang dalam dan belenggu yang begitu mengikat bagi para lansia (lanjut usia) yang tinggal di rumah kerabatnya. Inilah antara lain yang melahirkan gagasan berdirinya Graha Werda AUSSI, panti jompo yang diperuntukkan bagi kalangan menengah ke atas di Jakarta dan sekitarnya.

Penjaga yang membukakan pintu gerbang bangunan di kawasan Bukit Cinere Indah, Jawa Barat, itu mengenakan seragam hijau-hijau lengkap dengan atribut kepangkatan. Mirip tentara. Begitu masuk ke lobi bangunan, kesan semula perlahan-lahan mulai luntur: sebuah panti jompo tak selalu harus kumuh, pas-pasan, dan sederhana. Ia juga bisa dihadirkan dalam sosok yang nyaman dan mewah. Sampai-sampai yang ini lebih mirip hotel berbintang kesannya.


Graha Werda AUSSI nama panti itu. Dikelola oleh Yayasan Aussi Kusuma Lestari (YAKL), panti itu menawarkan konsep berbeda dibandingkan dengan panti jompo kebanyakan.

Selain kemewahan, pelayanan dan pendekatan yang diberikan pada penghuni memang spesial. Dengan konsep itu, Graha Werda ingin menjaring para lansia dari kalangan kelas menengah ke atas, ceruk pasar yang belum tergarap oleh panti jompo mana pun.

Ada kamar VVIP
Kamar Lux
Kamar tidur VVIP.
Ruang serba guna
Ruang serba guna, disewakan.
Kamar standar
Kamar standar.
(Foto-foto: Repro Graha Werdha Aussi)
Layaknya sebuah hotel, kamar-kamar bagi penghuni terbagi dalam tiga kategori, kamar standar, VIP, dan VVIP. Jumlah seluruhnya ada 52 buah kamar, tersebar di keempat lantai bangunan.

Dari jumlah itu yang terbanyak kamar standar (Ruang Melati), 35 buah. Sebelas kamar, delapan diantaranya bisa dihuni dua orang, ada di lantai I, sisanya di lantai II (20 kamar untuk dua orang dan empat kamar untuk satu orang). Di setiap kamar standar tersedia sebuah tempat tidur, lemari pakaian, dua meja rias, dan satu kamar mandi dengan pemanas air.

Ruang Mawar yang masuk kelas VIP ada di lantai III, jumlahnya 13 kamar. Dirancang untuk dihuni satu orang, masing-masing kamar memiliki fasilitas sama seperti kamar standar dengan tambahan sofa dan meja kamar plus pendingin ruangan dan ruang keluarga.

Yang paling "wah" tentu kelas VVIP yang namanya Ruang Anggrek. Jumlahnya hanya tujuh dengan fasilitas mirip dengan Ruang Mawar. Hanya saja di dalamnya terdapat dua kamar tidur, salah satunya disiapkan jika penghuni membawa perawat sendiri. Selain itu ada ruang keluarga, ruang santai, meja makan, dan pantri.

Meski fasilitas kelengkapan yang ada terkesan mewah, menurut Christien Suriadjaya, ketua YAKL, semuanya produksi dalam negeri. Mebel misalnya, didatangkan dari Jepara. "Hanya tidak dalam bentuk jadi. Kami poles tahap akhirnya untuk memperoleh kesan mewah. Pengelola panti jompo dari Australia pun sempat mengagumi Graha Werda," tambahnya.

Untuk menampung kegiatan para lansia, Graha Werda menyediakan ruang makan, ruang rekreasi, ruang baca, ruang hobi, dan ruang berdoa. Selain itu ada juga ruang serba guna berkapasitas 400 orang dan dilengkapi AC. Ruangan besar ini bisa disewa untuk keperluan acara resepsi perkawinan, ulang tahun, maupun seminar bagi pihak luar.

Kesan sebagai panti jompo yang "wah" juga tempak pada biaya yang ditanggung oleh pihak penghuni. Sebagai gambaran, biaya yang dikeluarkan untuk menghuni kamar standar sekitar Rp 600.000,- per bulan per penghuni. Semua itu termasuk hidangan makan tiga kali sehari plus buah-buahan dan makanan kecil, cuci pakaian, pengontrolan kesehatan (terhadap tekanan darah, denyut jantung, suhu tubuh yang dilakukan oleh perawat), dan pelayanan tusuk jari.

Sementara itu ada dokter yang datang satu atau dua kali dalam seminggu. Dalam hal terjadi keadaan darurat, Graha Werda menjalin kerja sama dengan RS Puri Cinere. "Tapi jika sudah memiliki dokter pribadi, kami akan menghubunginya seandainya terjadi keadaan darurat," kata Tjiep Wahyudi, salah seorang pengurus YAKL dan ketua ketua pengurus harian Graha Werda.

Cuci mata di mal
Berkaitan dengan diet makanan, "Kami memperhatikan keterbatasan mereka dalam menyantap makanan. Karena itu, kami menggunakan bahan-bahan yang terseleksi. Semisal gula dan garam khusus untuk diet, atau minyak goreng dari jagung," ujar Tjiep. Kalau dirasakan ada yang kurang pas, penghuni bisa mengajukan komplain. Misalnya, kalau ada yang bilang kurang garam, dalam masakan berikutnya bumbu itu akan ditambahkan.

Banyak hal bisa dilakukan para lansia di tempat ini. Selain bisa mengikuti pembinaan jasmani dengan berolahraga, bisa pula mengikuti pembinaan rohani, salah satunya melalui kegiatan berdoa bersama di ruang berdoa. Pembinaan jasmani untuk menjaga kesehatan antara lain berupa jalan-jalan di pagi hari di taman dan istirahat siang pada pukul 14.00, sehabis makan siang. Mereka juga diberi kesempatan "cuci mata" dengan diajak berjalan-jalan di tempat-tempat keramaian umum seperti mal atau pusat pertokoan lainnya.

Waktu luang bisa diisi dengan kegiatan membaca, menonton TV, bermain kartu atau dakon. Atau bercanda ria dengan sesama penghuni.

Syarat untuk menjadi penghuni Graha Werda tidaklah sulit dan berbelit-belit. Usia calon penghuni minimal 60 tahun, bisa wanita, pria, atau pasangan suami-istri, sehat jasmani dan rohani (dengan surat keterangan dokter AUSSI), dapat mengurus diri sendiri (mandiri), memiliki KTP, dan yang terpenting, "Ada penanggung jawabnya," tandas Tjiep. Di samping itu ada uang pangkal.

Penanggung jawab sangat perlu jika ada hal-hal yang penting terjadi pada penghuni. Menderita sakit, misalnya. "Kami tidak menanggung biaya pengobatan jika penghuni masuk rumah sakit. Itulah perlunya penanggung jawab. Kami tidak kebingungan (untuk harus menghubungi siapa) jika keadaan seperti itu terjadi," lanjut Tjiep.

Tidak cari untung
Di balik gagasan awal untuk mendirikan Graha Wreda adalah AUSSI (singkatan dalam bahasa Latin yang artinya kira-kira Perhimpunan Internasional Alumni Sekolah Santa Ursula). Kegiatan AUSSI banyak berkaitan dengan lansia, entah sebagai penyumbang dana ke beberapa panti jompo maupun acara yang melibatkan para lansia di seputar Jakarta. Sumber dana perhimpunan itu berasal dari usaha mereka, di antaranya yang terkenal adalah penerbitan dan penjualan kalender dapur.

Berbagai kegiatan itu akhirnya menggiring AUSSI sampai kepada gagasan untuk mendirikan panti wreda yang akhirnya bergaung dan mengetuk hati para dermawan. Setelah selama satu tahun mencari-cari tanah untuk membangun sebuah panti jompo, pada 1990 AUSSI menerima tawaran sebidang tanah seluas 6.000 m2 dari Budi Brasali dari PT Metropolitan Kencana, di Bukit Cinere Indah. "Selain tempatnya bagus, kami bisa mencicil pembayarannya tanpa bunga," ungkap Christien.

Meski dana yang dibutuhkan cukup besar, sekitar Rp 2 miliar, YAKL tampaknya tidak terlalu banyak memperoleh hambatan dalam pengumpulannya. Dana mengalir deras dari anggota AUSSI ataupun simpatisannya yang kebetulan banyak yang sudah jadi "orang". (Sebagai penghargaan bagi para donatur, YAKL yang dibentuk kemudian untuk menjadi pengelola Graha Werda, menorehkan nama-nama mereka pada kamar-kamar di Graha Werda. Makanya, di sini tidak dikenal kamar nomor berapa, tetapi kamar bernama siapa. Daftar donatur lainnya terpampang di dinding sebelah kanan begitu masuk panti ini).

Sebagian dana yang sudah terkumpul digunakan untuk pembangunan fisik panti yang awalnya ditandai dengan peletakan batu pertama pada 25 November 1994, sembari terus mencari tambahan dana. Dua tahun kemudian, maketnya sudah tampak dalam ukuran yang sebenarnya. Bangunan panti menempati areal seluas 2.000 m2 dari lahan seluas 6.000 m2. Sisanya antara lain diolah sebagai taman dan ruang terbuka, termasuk tempat parkir. Gedung berlantai empat itu mampu menampung sekitar 100 lansia.

Menurut Tjiep, Graha Werda yang bersifat nirlaba mengemban misi sosial yang merupakan penggerak berdirinya panti di mana keluarga yang mampu berperan sebagai penyeimbang. Meskipun bersifat nirlaba, pengelola panti menerapkan manajemen yang transparan, terutama dalam soal keuangan. Semua pengeluaran tersusun rapi, sampai pembelian cabai pun, menurut Christien, ada buktinya. Semua itu untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan kelak di kemudian hari.

Serviam, saya mengabdi
Seperti diungkapkan oleh pelindung AUSSI, Ny. Emil Salim - istri mantan menteri Prof. Dr. Emil Salim - dalam sambutan acara Charity Vienna Night bekerjasama dengan Kedubes Austria, Graha Werda merupakan ungkapan hati yang ingin berbakti. Ini senapas dengan slogan pada lambang yang dipakai para siswi sekolah Ursulin di seluruh dunia yakni "Serviam", yang artinya saya mengabdi.

Lebih dari itu, pembangunan panti wreda itu dimaksudkan untuk meruangkan masa tua para lansia dalam sebuah rumah yang penuh kasih sayang dan perhatian. Sebab mereka telah meluangkan waktu panjang dalam meretas jalan bagi masa depan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, kesabaran, nasihat, didikan, dan pengorbanan. Sementara itu, keluarga masa kini (terutama di kota besar) sudah sangat sibuk. Interaksi antaranggota keluarga batih menjadi berkurang. Kalau dulu kakek dan nenek bisa bermain-main dengan cucu, perkembangan zaman memaksa anak-anak sekarang pontang-panting menambah pengetahuan dengan berbagai les untuk menghadapi persaingan yang makin ketat. "Alhasil, para opa dan oma, kakek dan nenek mengalami sindrom loneliness, kesepian," ujar Christien. Bagaimanapun mereka tetap makhluk sosial, yang tak terlepas dari kebutuhan akan rasa ingin berbagi dan menerima.

Tinggal di panti jompo bagi lansia boleh jadi banyak sisi positifnya. Mereka lebih terperhatikan dan tidak membebani keluarganya. Setidaknya itu seperti diungkapkan oleh salah seorang penghuninya. Ia mengaku tinggal di panti itu karena di rumah atmosfer kasih sayang baginya sudah terpolusi. Meski secara finansial anak-anaknya sudah mampu dan cucu-cucunya sudah beranjak dewasa, ia merasa tidak diperhatikan lagi.

Namun, umumnya lansia yang tinggal bersama dengan kerabatnya sangat dilindungi. Dari kacamata kerabat, perlindungan itu salah satu wujud ungkapan bakti anak pada orang tua. Tapi bagi lansia sering kali hal itu justru menjadi belenggu. Kalau sudah demikian, solusinya barangkali panti wreda? (Yds. Agus Surono)


Boks:
Kuncinya Olahraga,
Pola Makan,
dan Relasi.