1. Brunei Ada Di Jambi
  2. Jangan Repot-Repot, Mbak!
  3. Ayam Dulu, Baru Telur
MENYAMBUT PAK NASIONAL

Setiap kali memperingati Hari Kebangkitan Nasional, saya selalu teringat kejadian pada tanggal 20 Mei 1954 lalu. Saat itu saya masih duduk di bangku SD kelas I. Sehari sebelum tanggal itu, kepala sekolah memberikan instruksi, "Anak-anak, besok kita akan memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Jadi, kalian wajib memakai seragam nasional." Setelah tiba di rumah, saya minta bantuan ibu untuk membelikan pakaian seragam nasional.

"Lho, pakaian seragam untuk apa?" tanya Ibu.

"Kata Bu Kepala Sekolah, besok Pak Nasional akan bangkit. Jadi, saat menyambut kebangkitan beliau, kami diwajibkan untuk pakai seragam nasional!" jawab saya.

"Pak NasionaL akan bangkit? Siapa orang itu?" tanya Ibu terheran-heran.

"Saya juga tidak tahu, Bu!"

Karena merasa bingung, Ibu lalu menghadap Kepala Sekolah sambil menceritakan permintaan saya. Mendengar cerita Ibu, Kepala Sekolah tertawa terbahak-bahak.

"Nak, yang dimaksud dengan Kebangkitan Nasional itu adalah bangkitnya kesadaran berbangsa, bernegara. Jadi, bukan Pak Nasional yang bangkit. Tapi kesadaran rakyat Indonesia untuk hidup bernegara. Sebelum tahun 1908, suku bangsa di tanah air kita terpecah-pecah menurut ikatan suku, agama, ras, dan golongan. Akibatnya, mereka tidak dapat mengusir penjajah. Namun sejak 20 Mei 1908 mereka berjuang dengan semangat nasionalisme, sehingga mampu mengusir penjajah," kata Bu Kepala Sekolah sambil membelai rambut saya.

Nah, sejak itulah saya mulai mengerti arti kata kebangkitan nasional. (Ny. Suratmi)