Andrew Lawton, penggemar Mary Pierce
Dua pria penggemar Kournikova
Anna Kournikova dalam pakaian tenis
Anna Kournikova dalam pakaian malam resmi. Bak bintang Hollywood
Martina Hingis, ratu paripurna
Venus William, si hitam dunia tenis

DUNIA TENIS
BAK HOLLYWOOD

Dunia tenis profesional tak lagi hanya diwarnai persaingan prestasi. Munculnya bintang-bintang muda juga jadi pertanda merebaknya persaingan usia. Apa lagi kini makin muncul kesadaran, penampilan fisik tak kalah penting dari prestasi.

Kalau dulu, dalam satu masa, orang hanya meratukan Chris Evert, misalnya. Beberapa tahun belakangan penokohan itu tak hanya diberikan kepada satu nama. Yang dianggap sebagai ratu tak cuma satu. Penggemar Gabriella Sabatini, misalnya, sekaligus bisa mencintai Monica Seles. Orang yang tergila-gila pada kombinasi kaki jenjang dan lirikan menawan Steffi Graf pun bisa gandrung pada Arantxa Sanchez.

Menang atau kalah tak soal

Petenis Prancis Mary Pierce langsung jadi "rebutan" ketika muncul ke permukaan. Kecantikan, keseksian, gaya penampilan, juga kesadaran tinggi akan itu semua, menyebabkan dia difavoritkan bukan saja oleh mereka yang datang ke arena, tetapi juga oleh penonton televisi dan pembaca koran atau majalah. Rasa suka sangat kuat melanda, bahkan sampai ke bukan penggemar tenis. Pierce jadi pujaan, terlepas dari tenisnya. Orang bagai tak peduli berapa peringkat sang diva di WTA, ia juara Grand Slam atau tidak. Yang penting ia ada.

Pada saat yang sama, muncul wonder girl dari Swis, Martina Hingis. Menurut kalangan tenis, ia ratu paripurna. Selain juara Wimbledon termuda sepanjang abad (16 tahun pada 1997), ia cantik, atraktif, lucu, juga seksi. Sudah pasti penggemarnya tak melulu mereka yang suka tenis.

Petenis Rusia Anna Kournikova agak beda. Ia mempesona banyak orang justru pada saat prestasinya belum tinggi. Peringkatnya 20-an, masih di bawah Yayuk Basuki, tapi penggemarnya sudah bejibun. Selagi tak berpakaian olahraga, gadis 16 tahun nan spunky (enak dilihat) ini mirip bintang film. Orang yang semata-mata ingin melihatnya, pasti mengabaikan ia juara atau tidak di setiap turnamen. "Ia punya the winning smile, senyum kemenangan," puji para penggemar.

Jangan pula abaikan Williams bersaudari, Venus dan Serena. Kulit mereka yang hitam, bagi para penggemar memang eksotisme tersendiri. Lebih lagi keduanya menjadi fenomena karena selain kulit hitam adalah makhluk sangat langka di kancah tenis putri, kakak-adik yang menyodok berbarengan lebih istimewa lagi.

Menjadi simbol seks

Sudah lumrah kalau setiap turnamen besar tak cuma didatangi oleh penggemar tenis. Penyelenggara dan para penjaja pun tahu. Di luar arena Australia Terbuka, Januari lalu misalnya, para penjaja tak cuma menawarkan cindera mata tenis, melainkan juga foto Kournikova dengan pakaian biasa - dan laku keras.

"Bagi saya, Mary Pierce adalah dewi kahyangan. Rambutnya, matanya, pundaknya, juga lenguhannya ketika memukul bola. Dalam kostum putih yang merupakan kewajiban Wimbledon pun ia mempesona, apa lagi kalau pakaian bebas," kata Andrew Lawton, penganggur Australia yang memodeli rambut jingganya ala Mohican setinggi 30 cm, menyisakan tulisan "Mary" pada bagian samping.

"Menurut saya, kaki Steffi Graf lebih indah dari kaki Cindy Crawford," tutur Phil Dickerson, pemuda asal AS yang datang ke hampir semua gelanggang yang diikuti Graf. "Di balik langkahnya yang gemulai terdapat kekuatan luar biasa."

"Coba perhatikan Hingis. Dalam kekalahan pun ia tetap tersenyum. Itulah gelombang terkuat dari percikan airnya yang membasahi dunia," salesman asal Swis Stefan Kraus bertamsil.

Berbagai komentar di atas, menurut fotografer Australia John Anthony, menunjukkan tingginya daya jual para petenis muda masa kini. Kedudukan mereka di mata penggemar bisa disejajarkan dengan bintang Hollywood, lengkap dengan predikat simbol seks segala. Jumlah 34.000 penonton dalam satu pertandingan Australia Terbuka lalu, yang merupakan rekor tersendiri, menjadi bukti sinyalemen Anthony.

Tak pelak, kancah olahraga bayaran ini makin hari makin marak. Prestasi bukan lagi satu-satunya perbincangan (walaupun untuk diperbincangkan, seseorang mestilah berprestasi) karena ada beberapa ukuran lain yang jadi alasan untuk menjadikan seorang petenis favorit. Entah kapan muncul penerus jejak Yayuk Basuki. (ST/TST/SL)