![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
BAK HOLLYWOOD
Dunia tenis profesional tak lagi hanya diwarnai persaingan prestasi. Munculnya bintang-bintang muda juga jadi pertanda merebaknya persaingan usia. Apa lagi kini makin muncul kesadaran, penampilan fisik tak kalah penting dari prestasi.
Kalau dulu, dalam satu masa, orang hanya meratukan Chris Evert,
misalnya. Beberapa tahun belakangan penokohan itu tak hanya diberikan
kepada satu nama. Yang dianggap sebagai ratu tak cuma satu. Penggemar
Gabriella Sabatini, misalnya, sekaligus bisa mencintai Monica
Seles. Orang yang tergila-gila pada kombinasi kaki jenjang dan
lirikan menawan Steffi Graf pun bisa gandrung pada Arantxa Sanchez.
Menang atau kalah tak soal
Petenis Prancis Mary Pierce langsung jadi "rebutan"
ketika muncul ke permukaan. Kecantikan, keseksian, gaya penampilan,
juga kesadaran tinggi akan itu semua, menyebabkan dia difavoritkan
bukan saja oleh mereka yang datang ke arena, tetapi juga oleh
penonton televisi dan pembaca koran atau majalah. Rasa suka sangat
kuat melanda, bahkan sampai ke bukan penggemar tenis. Pierce jadi
pujaan, terlepas dari tenisnya. Orang bagai tak peduli berapa
peringkat sang diva di WTA, ia juara Grand Slam atau tidak.
Yang penting ia ada.
Pada saat yang sama, muncul wonder girl dari Swis, Martina
Hingis. Menurut kalangan tenis, ia ratu paripurna. Selain juara
Wimbledon termuda sepanjang abad (16 tahun pada 1997), ia cantik,
atraktif, lucu, juga seksi. Sudah pasti penggemarnya tak melulu
mereka yang suka tenis.
Petenis Rusia Anna Kournikova agak beda. Ia mempesona banyak orang
justru pada saat prestasinya belum tinggi. Peringkatnya 20-an,
masih di bawah Yayuk Basuki, tapi penggemarnya sudah bejibun.
Selagi tak berpakaian olahraga, gadis 16 tahun nan spunky
(enak dilihat) ini mirip bintang film. Orang yang semata-mata
ingin melihatnya, pasti mengabaikan ia juara atau tidak di setiap
turnamen. "Ia punya the winning smile, senyum kemenangan,"
puji para penggemar.
Jangan pula abaikan Williams bersaudari, Venus dan Serena. Kulit
mereka yang hitam, bagi para penggemar memang eksotisme tersendiri.
Lebih lagi keduanya menjadi fenomena karena selain kulit hitam
adalah makhluk sangat langka di kancah tenis putri, kakak-adik
yang menyodok berbarengan lebih istimewa lagi.
Menjadi simbol seks
Sudah lumrah kalau setiap turnamen besar tak cuma didatangi
oleh penggemar tenis. Penyelenggara dan para penjaja pun tahu.
Di luar arena Australia Terbuka, Januari lalu misalnya, para penjaja
tak cuma menawarkan cindera mata tenis, melainkan juga foto Kournikova
dengan pakaian biasa - dan laku keras.
"Bagi saya, Mary Pierce adalah dewi kahyangan. Rambutnya,
matanya, pundaknya, juga lenguhannya ketika memukul bola. Dalam
kostum putih yang merupakan kewajiban Wimbledon pun ia mempesona,
apa lagi kalau pakaian bebas," kata Andrew Lawton, penganggur
Australia yang memodeli rambut jingganya ala Mohican setinggi
30 cm, menyisakan tulisan "Mary" pada bagian samping.
"Menurut saya, kaki Steffi Graf lebih indah dari kaki Cindy
Crawford," tutur Phil Dickerson, pemuda asal AS yang datang
ke hampir semua gelanggang yang diikuti Graf. "Di balik langkahnya
yang gemulai terdapat kekuatan luar biasa."
"Coba perhatikan Hingis. Dalam kekalahan pun ia tetap tersenyum.
Itulah gelombang terkuat dari percikan airnya yang membasahi dunia,"
salesman asal Swis Stefan Kraus bertamsil.
Berbagai komentar di atas, menurut fotografer Australia John Anthony,
menunjukkan tingginya daya jual para petenis muda masa kini. Kedudukan
mereka di mata penggemar bisa disejajarkan dengan bintang Hollywood,
lengkap dengan predikat simbol seks segala. Jumlah 34.000 penonton
dalam satu pertandingan Australia Terbuka lalu, yang merupakan
rekor tersendiri, menjadi bukti sinyalemen Anthony.
Tak pelak, kancah olahraga bayaran ini makin hari makin marak.
Prestasi bukan lagi satu-satunya perbincangan (walaupun untuk
diperbincangkan, seseorang mestilah berprestasi) karena ada beberapa
ukuran lain yang jadi alasan untuk menjadikan seorang petenis
favorit. Entah kapan muncul penerus jejak Yayuk Basuki. (ST/TST/SL)
|