Papsmear bukan pengobatan
Kunci dari upaya penyembuhan semua jenis penyakit kanker adalah pendeteksian dini. "Untuk kanker serviks (leher rahim), pendeteksian itu dilakukan dengan papsmear," jelas dr. M. Farid Aziz, DSOG.
"Tes papsmear adalah upaya pengambilan cairan dari vagina untuk diteliti apakah terlihat kelainan sel di sekitar leher rahim," kata dokter kandungan yang berspesialisasi pada bidang ilmu penyakit ini.
Tes pap, atau dikenal dengan papsmear itu hanya screening, bukan pengobatan. Diagnosis akhir harus melalui biopsi dengan memakai alat yang disebut kolposkopi, yakni semacam mikroskop untuk melihat apakah ada gambaran khas seperti lesi pada prakanker. Hasil biopsi yang telah dikonfirmasikan kepada patolog, baru bisa dijadikan pegangan bagi dokter untuk melakukan tindak pengobatan.
Makin dini penyakit ini diketahui, makin mudah menanganinya. Lebih-lebih, dari keadaan normal ke prakanker saja membutuhkan waktu lima tahun. Dari prakanker ke kanker ringan memakan waktu lima tahun, sementara dari ringan ke sedang tiga tahun. Penderita kanker stadium ringan apabila diobati dapat disembuhkan. Maka tak ada salahnya apabila dilakukan pemeriksaan pada saat kondisi masih dalam tahap gejala kelainan sel.
Nah, papsmear yang diambil dari penggalan nama seorang dokter bernama Papanicolau, mampu mendeteksi adanya kelainan sel sehingga kasus kematian akibat kanker serviks bisa diturunkan sampai 90%. "Tes ini bahkan bisa dilakukan di Puskesmas. Dokter yang akan mengambil sapuannya, kemudian mengirimkannya ke laboratorium. Biayanya tentu bisa terjangkau," jelas dr. Farid Aziz.
Teknis pengambilan sapuan bisa digambarkan sebagai berikut: dengan menggunakan spatula atau sejenis sikat halus, lendir leher rahim diambil oleh dokter atau bidan untuk dioleskan dan difiksasi (dilekatkan) pada kaca benda. Kemudian, dengan menggunakan mikroskop, seorang ahli sitologi akan menguji sel-sel leher rahim itu.
Namun, pada zaman serba canggih sekarang ini ada lagi cara pemeriksaan yang lebih baru. Namanya papnet. Pengambilan lendir leher rahim sama seperti papsmear konvensional, tetapi dengan bantuan teknologi neural network dalam penganalisaannya. Analisis akhir tetap ditentukan oleh ahli sitologi. Namun dengan bantuan komputer, kelainan yang pada pemeriksaan papsmear konvensional tidak terlihat, kini bisa jelas tergambar. Tingkat ketelitian pemeriksaan papsmear konvensional yang kalah jauh dengan papnet terkadang bisa berakibat tidak mengenakkan.
Sebagai contoh, sejak tahun 1987 - 1992 seorang wanita berusia 42 tahun secara rutin setahun sekali menjalani pemeriksaan papsmear, dan setiap kali hasilnya negatif. Namun pada tahun kelima (1992), secara klinis wanita ini tahu-tahu dinyatakan menderita kanker leher rahim ganas. Setelah seluruh kaca benda papsmear-nya dievaluasi ulang dengan papnet, ternyata diketahui sel-sel abnormal sebenarnya sudah ada sejak pertama kali dilakukan pemeriksaan papsmear pada 1987, yang hasilnya selalu negatif itu.
"Kesalahan pada papsmear konvensional di dunia sekitar 30 - 40%, bisa dipersempit oleh teknik papnet menjadi 2 - 3%," jelas dr. K. Tjandra, Presiden Direktur Mahakam Group yang menaungi laboratorium klinik penyedia jasa papnet. Jika pada pemeriksaan papsmear konvensional, ahli sitologi harus mencari kelainan sel dari 300.000 - 500.000 sel hasil sapuan. Sehebat apa pun ahli sitologinya, kalau sel abnormalnya kurang dari 200.000, sel itu tidak kelihatan. Tapi dengan papnet, 6 sel abnormal dari 200.000 - 300.000 bisa ketahuan. Menurut statistik di Australia, dari 64.000 kasus yang diperiksa dengan papnet, hanya ada 4 kesalahan.
Sayangnya, di dunia ini setidaknya baru ada tiga tempat sebagai pusat Papnet, yakni Hongkong untuk kawasan Asia, New York untuk Amerika, dan Amsterdam untuk Eropa. Namun, kita di tanah air bisa juga memanfaatkan teknik baru yang canggih ini di beberapa tempat tertentu.
Hanya saja yang dilakukan di sejumlah tempat di Jakarta itu sebatas mengambil lendir leher rahim. Hasil pengambilan itu kemudian dikirimkan ke Hongkong, lalu ke Australia, setelah itu kembali lagi ke Jakarta. Dengan demikian hasilnya baru diketahui cukup lama, sekitar 7 - 10 hari sejak pengambilan lendir. Maka wajar apabila biaya yang dipasang sedikit lebih mahal daripada tes pap konvensional.
Persiapan sebelum melakukan tes ini tak berbeda dengan persiapan ketika akan melakukan papsmear konvensional:
- Pada saat pengambilan lendir, usahakan otot-otot vagina rileks, sehingga lendir pada dinding leher rahim dapat terambil cukup dan tepat untuk pemeriksaan.
- Laporkan jika Anda menggunakan pil KB atau preparat hormon wanita.
- Sebaiknya tidak melakukan hubungan suami-istri 48 jam sebelum pengambilan lendir leher rahim.
- Perhatikan adanya kelainan, terutama pada sekitar vagina, seperti gatal-gatal, keputihan, dan sebagainya.
- Waktu yang paling baik bagi pengambilan lendir adalah dua minggu setelah haid selesai (agar benar-benar bersih dari bercak darah).
- Jangan menggunakan pembasuh antiseptik atau sabun antiseptik di sekitar vagina selama 72 jam sebelum pengambilan.
Rokok pun jadi penyebab
Penyebab penyakit kanker leher rahim antara lain adanya perubahan gen, terkena mikroba, radiasi, atau pencemaran oleh bahan kimia. Yang termasuk mikroba misalnya virus HPV, terutama nomor 16 dan 18. Sementara persentase akibat radiasi nilainya rendah sekali.
Penyebab serius lainnya adalah sperma pria. Pasalnya, bagian kepala sperma mengandung protein dasar. Apabila menyatu dengan leher rahim, protein dasar ini dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan sel di serviks.
Atas dasar asumsi itu, maka disarankan bagi wanita yang sudah melakukan kontak seksual, biarpun usianya masih muda, sebaiknya melakukan pemeriksaan papsmear untuk mengetahui normal-tidaknya sel-sel di serviks.
Apabila usia wanita di bawah 16 tahun, sebaiknya melakukan pemeriksaan papsmear selama tiga kali dalam tiga tahun berturut-turut. Jika dari hasil pemeriksaan tidak terdapat kelainan, maka pemeriksaan bisa diulang pada usia 35 tahun sampai mencapai usia 65 tahun.
Kanker leher rahim stadium dini yang cepat ditangani dapat disembuhkan 100%. Sungguh merupakan upaya yang harus disambut baik ketika Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bekerja sama dengan YKI DKI Jakarta mengadakan papsmear dan lihat leher rahim di 10 kelurahan di Jakarta Utara pada bulan Maret tahun lalu, dengan target 1.200 orang. Dengan melakukan tes pap secara massal, kematian akibat kanker ini dapat diturunkan.
Mereka yang berisiko tinggi terkena kanker jenis ini adalah pertama, wanita yang telah melakukan hubungan seksual di usia muda; kedua, yang melakukan kontak seksual dengan berganti-ganti pasangan; ketiga, perokok; keempat, wanita yang kurang mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan.
Transisi dari masa kanak-kanak ke masa menjelang dewasa ditandai dengan menstruasi yang melibatkan berbagai macam perubahan, terutama hormon. Munculnya hormon estrogen pada masa itu membuat sel-sel pada dinding vagina menebal. Selain itu, pada masa ini ada glikogen yang oleh bakteri bermanfaat diubah menjadi asam vagina. Pada dasarnya asam vagina ini berfungsi melakukan proteksi terhadap infeksi. Namun akibat suasana vagina yang menjadi asam, jaringan epitel di sekitarnya menjadi berlapis-lapis. Apabila dalam situasi yang penuh perubahan itu masuk sperma, maka perubahan akan makin menjadi-jadi. Apalagi kalau terjadi luka akibat gesekan. Sel-sel epitel akan terganggu dan kadang kala menjadi tidak normal.
Menurut dr. Farid, kemungkinan terserang kanker leher rahim pada mereka yang berusia di bawah 16 tahun ke bawah bisa 10 - 12 kali lebih besar daripada mereka yang telah berusia 20 tahun ke atas saat sudah melakukan hubungan seksual.
Selain itu mereka yang sering berganti-ganti pasangan kemungkinan besar bisa terkena. Dengan berganti-ganti pasangan kesempatan untuk terkena penyakit akibat hubungan seksual makin besar. Padahal, faktor yang paling mempengaruhi timbulnya kanker serviks adalah penyakit akibat hubungan seksual seperti gardnella vaginosis (gejalanya keputihan berwarna abu-abu yang berbau dan sering ditemukan bersama infeksi trikhomoniasis), klamidia, herpes, dan kondiloma akuminata.
Berganti-ganti pasangan ini juga berlaku pada pihak suami. Pasalnya, jika suami suka berkencan, ia akan membawa pulang virus-virus akibat kontak seksual.
Sementara itu bagi wanita perokok, risikonya didapat akibat nikotin yang dibawa aliran darah hingga sampai ke serviks. Nikotin yang sampai di serviks memudahkan virus masuk ke daerah leher rahim.
Sedangkan sayuran dan buah-buahan jelas-jelas mengandung vitamin seperti vitamin C, E, dan betakaroten yang berfungsi sebagai antioksidan.
Jika Anda wanita, tak ada salahnya waspada dan memeriksakan diri untuk menjalani pemeriksaan papsmear secara rutin. Lebih baik mencegah sebelum terkena. (Anglingsari SI SK/I Gede Agung Yudana)
|