Bagi Bambang Hertadi Mas melakukan perjalanan dengan sepeda bukan hal baru. Setelah melintasi Benua Australia beberapa waktu lalu, pemuda asal Bandung ini kembali menggenjot sepedanya mengarungi belantara dari Singapura ke Saigon sejauh 5.014,9 km. Berikut penuturannya.

manok antikDARI SINGAPURA
KE SAIGON,
DI ATAS SEPEDA

 Begitu pesawat dari Bandung mendarat di Bandara Changi, Singapura, saya langsung menuju terminal feri untuk menyeberang ke ujung selatan Semenanjung Malaysia. Hari sudah sore ketika feri merapat di Tanjung Belungkor yang dikelilingi hutan bakau. Dalam kondisi seperti itu, cukup sulit menemukan tempat untuk menginap. Setelah longok sana longok sini, akhirnya dengan seizin seorang pemilik rumah di daerah yang tak jauh dari terminal feri, saya berkemah di halamannya.

Esok harinya, Senin, 12 Mei 1997, dalam udara pagi yang masih berkabut, sepeda saya genjot menyusuri jalan membelah hutan bakau. Suasana sangat sepi, tak satu pun kendaraan melintas sampai kawasan hutan bakau berganti dengan perkebunan kelapa sawit. Sementara semakin siang udara semakin panas, mencapai 36°C.

Tiba di Kota Tinggi, saya langsung membeli peta serta bahan makanan. Saat berangkat saya sudah membekali diri dengan buku Lonely Planet. Malam itu saya terpaksa berkemah di kawasan perkebunan kelapa sawit. Selain hawa panas, nyamuk dan bunyi binatang malam membuat mata sulit terpejam. Mata terasa pedih, sementara kulit gosong tersengat teriknya matahari.

Hari berikutnya, rute yang saya tempuh berupa perbukitan dengan jalan turun-naik melewati perkebunan kelapa sawit yang diselingi hutan belantara. Suatu ketika dari sela-sela pohon kelapa sawit tiba-tiba terdengar suara orang memanggil. Ternyata ada dua orang pekerja perkebunan dari Jawa. Merasa menemukan saudara setanah air, segera saya menggabungkan diri dengan mereka untuk menikmati semangka yang baru dipetik. Keduanya menceritakan suka-duka mereka sebagai pekerja perkebunan kelapa sawit.

Namun pengalaman enak ternyata tak selalu diikuti pengalaman serupa. Di suatu hutan belantara, seekor monyet besar mendadak menyerang ketika saya sedang menggenjot sepeda. Dalam sekejap teman-temannya pun berdatangan, ikut menyerang sambil menyeringai. Bisa jadi binatang itu kelaparan, karena mereka tampak sedang mencari remah-remah di pinggir jalan. Untung jalan agak menurun, sehingga saya bisa menggenjot sepeda kuat-kuat untuk menghindar. Kalau tidak, niscaya nasib buruk seperti seorang pesepeda Amerika yang digigit dan dikeroyok monyet di Bali, bisa menimpa saya.

Selama melakukan perjalanan, saya selalu menyempatkan diri mampir di balai polis (kantor polisi) untuk mencari informasi yang saya butuhkan, selain akan memudahkan jika saya mengalami kecelakaan.

Mobil mewah di kolong rumah
Menjelang sore hari saya tiba di Kota Mersing, yang terletak di muara sungai. Ongkos menginap si sebuah hostel di tempat itu sekitar RM 6 (RM 1 = Rp 968,- kurs waktu itu). Malam harinya saya membongkar dan menyusun kembali bekal agar mudah jika butuh sesuatu. Rute yang akan dilalui pun saya evaluasi terlebih dahulu.

Motivasi saya bersepeda kali ini sebenarnya untuk memperbaiki rekor jarak tempuh yang pernah saya buat sebelumnya, yaitu 4.371,9 km ketika melintasi Benua Australia tahun 1995. Melintasi beberapa negara di kawasan Asia Tenggara kali ini memang berat. Karena itu, untuk menyelesaikannya saya membaginya menjadi beberapa tahap.

Rute perjalanan yang telah tersusun adalah dari Singapura menyeberang ke Tanjung Belungkor, menyusuri pantai timur Semenanjung Malaysia hingga Kota Bharu, memasuki Thailand melalui Takbai sampai Bangkok. Untuk itu jaraknya 1.187 km. Dilanjutkan dari Bangkok menuju Nong Khai (624 km), masuk ke Laos melalui Tha Na Leng, Vientianne, menyusuri Sungai Mekong, Xeno, Lao Bao (Vietnam). Baru dari Lao Bao ke Dong ha, Hue, Danang, Na Thrang, sampai Saigon (Ho Chi Minh City).

Dalam sehari saya bisa menempuh jarak sekitar 100 km dengan waktu 5 - 6 jam, dari pukul 08.00 - 17.30 waktu setempat. Sementara waktu istirahat selama 1,5 jam saya gunakan untuk makan dan tidur siang.

Kendala yang cukup menggangu selama perjalanan adalah udara panas yang membuat nafsu makan saya hilang. Apalagi sajian makanan di warung berupa nasi karabu berwarna biru atau nasi lemak (nasi santan, ikan teri, kacang, sambal, dan mentimun) tak mampu mengundang selera. Sebagai pengganti, untuk mengganjal perut saya makan satu sisir pisang atau buah-buahan lainnya.

Kondisi jalan di sepanjang pantai timur Semenanjung Malaysia sangat mulus. Maklum, jalan bebas hambatan ini baru diresmikan pemakaiannya beberapa tahun lalu. Para remaja dan orang tua lebih banyak mengendarai motor sport di atas 100 cc. Disiplin pengendara patut dipuji. Mereka tetap berada di jalurnya dan menjaga jarak yang aman dengan para pengguna sepeda.

Jika melintasi sebuah perkampungan, di ujung jalan tampak sepeda maupun sepeda motor ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya tanpa takut dicuri orang. Anda tak usah heran bila melihat di kolong rumah-rumah panggung kayu terparkir berbagai merek mobil mewah. Bayangkan, taksi pun umumnya menggunakan Mercy Tiger.

Dalam menempuh perjalanan cuaca tidak selalu bersahabat. Yang semula cerah bisa berubah secara tiba-tiba menjadi berangin kencang dan hujan deras. Suatu kali saat berada di tengah hutan, hujan turun dengan deras. Ketika kebingungan mencari tempat berteduh, saya lihat ada saluran air yang belum dipasang. Tanpa pikir panjang saya dorong sepeda memasuki saluran bergaris tengah 1,5 m itu. Sambil menahan dingin dan lapar, saya meringkuk di dalamnya. Ini merupakan awal dari bersepeda dalam hujan di kesempatan berikutnya. Hal ini saya lakukan agar target jarak yang ditentukan bisa tercapai sesuai rencana.

Diincar "homo"
Setiba di Kuantan saya menelepon keluarga di Bandung dan mengirim surat ke KBRI di Kuala Lumpur. Minggu, 18 Mei 1997, saya tiba di Kuala Trengganu. Di kota ini, sepanjang sore hingga malam saya hanya berputar-putar mencari alamat kenalan yang tak kunjung ketemu. Sialnya, penginapan murah baru mau menerima kalau saya juga ikut program wisatanya. Akhirnya, saya putuskan untuk berkemah di pantai, tempat banyak orang berpacaran. Tenda saya dirikan pada tembok Hotel Pantai Primula. Meskipun pada tengah malam petugas keamanan hotel berbintang itu melakukan patroli, saya sama sekali tidak diganggu.

Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, tenda sudah saya gulung rapi. Sambil menunggu munculnya sang Surya saya menyeduh kopi sambil makan biskuit. Tak berbeda dengan sifat bangsa Indonesia pada umumnya, penduduk sini juga ramah. Mereka yang sedang berolahraga silih berganti menyapa saya.

Suatu saat datang seorang pria setengah baya mengendarai sepeda motor besar. Setelah bercakap-cakap cukup lama, pria itu mengajak mampir ke rumahnya agar saya dapat mandi dan mencuci pakaian. Ajakan itu saya sambut tanpa curiga, apalagi tubuh terasa lengket. Namun begitu menginjakkan kaki di rumahnya, saya menangkap gejala tidak beres. Sewaktu dia menyiapkan sarapan, saya segera mandi. Selesai mandi, dia sudah menunggu di ruang tamu dengan menyetel video porno. Wah, benar dugaan saya, pasti orang ini homoseksual. Apalagi duduknya kian mendekat sambil bicara yang bukan-bukan. Sambil sarapan saya terus waspada dan menunggu redanya hujan. Begitu agak reda, saya langsung pamitan dan ... ngacir.
Pada hari kesebelas, setelah menempuh 850,1 km saya tiba di Kota Bharu dan menginap di sebuah hostel. Waktu dua hari benar-benar saya gunakan untuk beristirahat.

Di sebuah restoran Pusat Jajanan Kota Bharu saya mengalami peristiwa unik yang membuat hati dongkol. Sebelumnya saya tidak tahu kalau air dalam teko yang disediakan di atas meja itu untuk mencuci tangan. Setelah menyadari kesalahan itu, saya minta air minum biasa pada pelayan. Konyolnya, setelah membayar RM 0,2 si pelayan mengambil air dari teko itu juga!

Yang lebih unik, pada saat salat magrib tiba, seluruh area tempat makan itu harus dikosongkan. Beberapa polisi akan menjaga tempat itu. Selesai waktu salat, tempat itu buka lagi, dan tutup lagi pada waktu salat berikutnya. Tanpa kecuali semua orang harus patuh. Yang bingung adalah para wisatawan mancanegara, karena harus meninggalkan makanan yang sedang dilahapnya.

Sebelum memasuki Thailand, saya menyempatkan diri menukar uang baht serta mencari informasi selengkap-lengkapnya. Saya diperingatkan agar berhati-hati memasuki daerah perbatasan Malaysia - Thailand, karena dulu banyak kelompok komunis yang suka merampok. Untung kekhawatiran tadi tidak beralasan. Dari Kota Bharu saya menuju Pangkalan Kubor, perbatasan terdekat yang baru saja dibuka untuk orang asing. Dari sana saya menyeberangi Sungai Kolok dengan feri menuju Tak Bai, Thailand.

Diturunkan di tengah jalan
Begitu memasuki wilayah Thailand, terasa sekali perubahannya. Di kawasan ini para pengendara motor tidak berhelm dan memacu kendaraan seenaknya. Kendaraan bak terbuka dijejali murid sekolah. Kadang-kadang mereka duduk di atas pintu bak yang terbuka.

Sepanjang jalur Tai Bak - Bangkok sejauh 1.187 km terdapat jalur lambat khusus untuk sepeda dan sepeda motor. Kualitas jalan bebas hambatannya mirip tol Jagorawi. Bedanya, sepeda dan sepeda motor boleh lewat karena dibuatkan jalur khusus. Dari Tai Bak menuju Bangkok frekuensi lalu lintas sangat tinggi.

Kesulitan utama di tempat ini adalah jika hendak berteduh. Sepeda harus saya tuntun beberapa meter ke tepi jalan. Saya semakin tersiksa saat tangkai kacamata patah. Beberapa hari tanpa kacamata pandangan terasa nanar. Supaya mata tidak cedera, patahan kacamata saya ikat dengan karet. Saat malam tiba pun saya sulit memicingkan mata dalam tenda, karena terganggu oleh suara deru kendaraan.

Selepas Kota Hat Yai, jalan bebas hambatan tidak lagi menyusuri daerah pantai, tapi melewati perbukitan. Bahkan melewati daerah yang tanpa ada pepohonannya. Walhasil, saya harus mengerahkan tenaga sekuatnya untuk menggenjot sepeda melawan terpaan angin kencang yang berdebu. Dalam keadaan seperti ini jarak yang ditempuh hanya sekitar 10 km/jam.

Setiap kali menemui stasiun pompa bensin yang biasanya dilengkapi dengan rumah makan, tempat istirahat bagi sopir, telepon umum, dsb., saya menyempatkan diri untuk mandi dan mencuci pakaian. Atau sekadar mengguyur badan yang kepanasan pun jadilah. Mengguyur badan seperti ini bisa saya lakukan beberapa kali dalam sehari.
Untuk berkomunikasi terpaksa saya menggunakan bahasa Tarzan.
Berbekal beberapa menu dalam bahasa Siam, selama 12 hari bersepeda dari Tak Bai menuju Bangkok saya tak pernah mengubah menu makanan. Kesulitan makin bertambah jika warung makan tidak menyediakan menu yang saya maksudkan.

Sebagian besar warga Thailand Selatan menggantungkan hidupnya dengan menyadap getah karet. Setiap pagi para penduduk membawa lembaran-lembaran getah ke tempat pelelangan. Namun semakin ke Utara semakin banyak kompleks perkebunan buah-buahan yang mengelilingi pabrik pengolahannya, seperti durian, nangka, srikaya, jambu, pisang, nenas, semangka, leci, dsb. Sering kali saya diberi buah secara gratis. Penduduk pun rajin beternak burung perkutut.

Selasa, 3 Juni 1997, setelah menempuh jarak 2.134 km dari Singapura, pada hari ke-24 saya tiba di Bangkok yang dalam bahasa setempat disebut Krung Tib. Pagi harinya saya masih berada di Phetchaburi, 150 km sebelah selatan Bangkok. Saya optimistis Bangkok bisa ditempuh dalam sehari. Pukul 15.15 waktu setempat saya memasuki perbatasan Kota Bangkok. Saya segera terjepit di kemacetan arus lalu lintas. Kenikmatan bersepeda di tempat sepi selama berhari-hari berubah total menjadi penderitaan karena saya berkali-kali terjebak di jalan satu arah atau terjepit di antara bus kota. Ternyata tak ada satu sepeda pun yang melaju di jalan. Karena taksi tak ada yang mau mengangkut, akhirnya saya memanfaatkan tuk-tuk (kendaraan khas Bangkok yang mirip bajaj) untuk mengangkut sepeda dan semua bawaan saya. Namun karena kesulitan komunikasi kami malah tersasar. Sialnya, saya diturunkan di tengah jalan. Akhirnya, saya merakit dan mengayuh sepeda kembali. Padahal lokasi yang saya cari masih 20 km lagi. Akibatnya, begitu sampai di tempat tujuan pukul 19.30, tenaga benar-benar sudah terkuras.

Diberi uang oleh biku
Selama seminggu saya menginap di Kedutaan Besar RI di Bangkok, terutama untuk visa ke Laos. Meskipun demikian untuk soal dana dan makanan saya tak mau merepotkan pihak kedutaan. Sikap ini sekaligus untuk menepis anggapan bahwa petualang maupun pesepeda dari Indonesia selalu minta uang jika singgah di berbagai perwakilan negara kita di luar negeri.

Rabu, 11 Juni 1997, saya mulai melanjutkan perjalanan menuju Vientiane, Laos. Sama seperti ketika masuk, saat keluar dari Bangkok pun saya harus bersusah payah meloloskan diri dari kemacetan lalu lintas. Sempat saya saksikan berbagai kecelakaan terjadi di sana-sini.

Tiba-tiba ban belakang sepeda saya kempis setelah melindas pecahan kaca mobil yang berserakan di jalan. Saat itu saya berada di daerah gersang tanpa pepohonan sehingga tidak bisa berteduh dari teriknya matahari. Tapi saya tak kehilangan akal. Saya dorong sepeda ke arah sebuah truk yang mogok. Di bawah kolong truk itu saya beraksi menambal ban. Inilah satu-satunya kasus ban pecah yang saya alami selama perjalanan kali ini, yaitu di hari ke-32 setelah menempuh jarak 2.302,8 km.

Hampir setiap malam saya berkemah di kompleks wat semacam wihara. Setiap hari para ibu dari perkampungan terdekat datang memberi dan menyiapkan makanan bagi para biku. Sementara itu para biku pun sering berkeliling desa membawa bokor untuk mengambil makanan dari para ibu yang menunggu mereka di mulut gang sambil bersujud. Setelah para biku selesai makan, para ibu itu mengajak saya bergabung untuk menikmati hidangan mereka.

Suatu pagi, saat sedang menggulung tenda, seorang biku menghampiri saya. Ia memberi saya beberapa kotak susu, sebuah buku yang berisi peta-peta daerah Thailand, dan uang 200 baht.

Setiba di perbatasan Thailand - Laos saya dilarang bersepeda melintasi Friendship Bridge sepanjang 2 km. Terpaksa untuk menyeberangi Sungai Mekong sepeda dinaikkan ke dalam bus yang menjalani trayek antara Kantor Imigrasi Nong Khai, Thailand, dan Kantor Imigrasi Tha Na Leng, Laos. Kondisi jalan Tha Na Leng - Vientiane sepanjang 21 km kurang baik. Kendaraan pun sangat jarang.

Saya berada di ibu kota Laos ini selama beberapa hari untuk mengurus visa Vietnam dan mendapatkan obat-obatan antimalaria dari Australian Clinic. Saya menyempatkan diri untuk datang ke KBRI dan disambut oleh Bapak Herry Harjono, dubes Indonesia di sana. Selama di sana saya menginap di rumah Bapak Uun Ansjori, yang sering mengajak saya berkeliling kota. Keramaian kota itu tak lebih dari radius 4 km.

Saat akan meninggalkan Vientiane, cyclometer menunjukkan angka 2.974,7. Artinya, saya sudah menempuh sejauh itu dari Singapura atau hampir sama dengan jarak Perth - Adelaide di Australia. Belum sempat sepeda dikayuh, hujan lebat sudah mengguyur Vientiane pada tanggal 25 Juni 1997 pagi itu.
Tempat berikutnya yang saya tuju adalah Savannaketh, 425 km tenggara Vientiane. Kondisi jalan di sini jauh lebih baik. Semakin jauh dari Vientiane semakin jarang kendaraan yang lewat, bahkan bisa dihitung dengan jari.

Selama berhari-hari saya menyusuri Sungai Mekong dari sisi negara Laos. Bersepeda dalam hujan, turun-naik pegunungan merambah hutan belantara, terhambat oleh dahan pohon yang menjurai ke jalan, dan melihat binatang liar menyeberang seenaknya merupakan pengalaman sehari-hari. Di tengah hutan terlihat tangsi tentara dan gubuk-gubuk darurat. Bunker pun dibangun di mana-mana. Jadi tidak heran kalau saya sering berpapasan dengan orang yang membawa senapan AK 47 atau senapan buatan sendiri.

Tingkat ekonomi rakyat Laos sangat rendah. Daging ular, kelelawar, tikus, kodok, serangga, siput, rebung dan lalap dedaunan hutan merupakan makanan utama penduduk desa. Sebagai pengganti beras digunakan ketan. Sering kali saya memperoleh air minum berupa air tadah hujan yang mengandung jentik nyamuk.

Berbeda dengan di Thailand, wihara di Laos sangat memprihatinkan, sehingga untuk berkemah saya harus mencari tempat yang benar-benar aman karena situasi keamanan di negara itu masih belum stabil.

Saat mencapai perbatasan Laos - Vietnam petugas cukup lama membolak-balik dan mencatat. Mereka baru pertama kali melihat paspor Indonesia. Di sekitar tempat itu banyak penduduk yang menerima penukaran uang. Saat itu AS $ 1 = 11.650 dong Vietnam.

Jarak Lao Bao - Dong Ha - Hue sepanjang 158 km. Jarak ini tak bisa ditempuh dalam sehari karena keadaan medannya yang menuruni pegunungan landai dan suhu udara berubah secara drastis. Siang hari terasa sangat menyiksa karena suhu bisa mencapai 37 - 38°C. Untuk mengatasinya terpasa saya mengubah jadwal dengan berangkat pukul 06.00 waktu setempat dan berakhir pukul 18.00 dengan diselingi beberapa jam istirahat. Karena sulit memperoleh tempat berkemah, maka saya harus mencapai kota terdekat dan mencari penginapan. Akibatnya, waktu bersepeda pun bisa bertambah 6 - 8 jam sehari karena jalanan yang ditempuh sering kali berupa perbukitan yang gersang. Sebelum memasuki Kota Danang, saya harus melewati Hai Van Pass yang suasananya mirip dengan Puncak.

Satu hal yang agak unik, jika di suatu kota ada beberapa penginapan, cuma satu penginapan yang boleh menerima orang asing, ditambah ongkosnya sudah dilipatgandakan. Jika kebetulan berada di daerah, saat semua penginap sedang terlelap, pada tengah malam seluruh pintu kamar di buka. Seorang petugas menyalakan lampu untuk memeriksa. Akibatnya, timbul kegaduhan. Anehnya, begitu pemeriksaan selesai banyak pasangan muda yang ngamar.

Akhirnya, pada hari ke-64, Selasa, 15 Juli 1997, saya tiba di Saigon dengan selamat. Perjalanan sejauh 5.014,9 km ini telah selesai, meskipun saya harus kehilangan berat badan 5 kg.