Mulanya ia dituduh telah "memanusiakan" simpanse dengan melihat mereka secara individu. Hasil penelitian dan dedikasinya pada simpanse telah melegenda dan menjadi salah satu tonggak dalam dunia penelitian primata.

JANE GOODALL:
SIMPATINYA PADA
SIMPANSE


"Huuuu wa, hu huuu wa," begitu teriakan panjang Jane Goodall (63), meniru suara panggilan kera simpanse, yang telah menjadi paten pakar perilaku simpanse itu dalam setiap pembukaan dan penutupan ceramahnya. Undangan dan hadirin yang membeli tiket ceramah, biasanya ikut-ikutan menirukan suara pimpinan The Jane Goodall Institute for Wildlife Research, Education and Conservation di Tucson, Arizona, AS, itu.

"Saya tahu, tak sedikit simpanse menjadi binatang percobaan di berbagai laboratorium biomedis, termasuk di Amerika. Bagi saya, simpanse yang dipelihara di laboratorium itu, nasibnya seperti masuk ke dalam kamp penyiksaan Auschwitz di zaman Nazi Jerman," ujar Jane yang 30 tahun lebih "bergaul" dengan simpanse (bahkan menemukan jodoh pula) di Pusat Penelitian Taman Nasional Gombe, Tanzania, Afrika.

Jane Goodall selama sekian tahun belakangan ini, sedang menghimpun dana untuk menyelamatkan simpanse, dari kandang kolektor atau kerangkeng lab bioriset. Di Afrika, kini paling banyak masih hidup sekitar 250.000 ekor simpanse, termasuk simpanse kerdil. Namun populasinya terus merosot mendekati titik kepunahan.
Dalam kampanyenya, Jane selalu memperjuangkan agar tak ada lagi penangkapan liar simpanse di habitatnya. Sebab simpanse liar tangkapan langsung dari habitatnya, kini menjadi binatang paling favorit untuk "kera percobaan" berbagai penyakit manusia, terutama AIDS, karena kemiripannya dengan bio-anatomi manusia.

Sabar
Jane Goodall kelahiran London, Inggis, pada 1934, sejak masih gadis langsing cantik, sudah berniat menjadi peneliti binatang, gara-gara sejak kecil sudah terpincut dengan cerita Dr. Doolittle yang hidup di tengah binatang jinak. Bahkan lebih awal lagi dari masa itu, saat ia baru berumur setahun, ibunya membelikan boneka simpanse yang besar dan berbulu. Berlawanan dengan perkiraan kawan-kawan sang ibu, boneka bernama Jubilee itu malah menjadi sahabat kesayangan Jane sampai dewasa.

Jubilee baru awal dari minatnya yang menggebu-gebu pada dunia satwa. Ketika baru 4 tahun, Jane dilaporkan "hilang" oleh orang tuanya. Siapa mengira, selama lima jam hilang, Jane asyik nonton induk ayam bertelur di kandangnya? Empat tahun kemudian, Jane sudah memutuskan, jika sudah dewasa, ingin hidup di Afrika bersama binatang.

Lulus SMU, ia masuk sekolah sekretaris lalu bekerja. Setelah dua macam pekerjaan, datang ajakan dari seorang kawan untuk menginap di tanah pertanian orang tuanya di Kenya. Tahu ini jalan menuju impiannya, Jane tanpa ragu pindah pekerjaan menjadi pramusaji supaya bisa cepat mengumpulkan uang selama musim panas untuk bekal ke Afrika.

Sekitar sebulan di Kenya, ada yang memberi tahu supaya ia menghubungi Dr. Louis Leakey, kalau memang benar-benar berminat pada hewan. Jane mendatangi Louis Leakey yang ketika itu kurator di Museum of Natural History, Nairobi. Entah Leakey yang punya pengamatan amat tajam, atau Jane yang beruntung, ia langsung diterima sebagai asisten sekretaris.

Di situlah Jane mendapat pelatihan awal dan pengenalan pada dunia hewan. Ia belajar tak hanya dari sesama karyawan yang semuanya pencinta alam, tetapi juga saat mengikuti ekspedisi paleoantropologi Dr. Leakey ke Olduvai Gorge (tempat ditemukannya Zinjanthropus atau Nutcracker Man dan Homo Habilis) di dataran Serengeti, yang saat itu masih daerah terpencil.

Di penghujung ekspedisi itulah, pelan-pelan Dr. Leakey mulai ngobrol soal kehidupan simpanse di Danau Tanganyika, khususnya kelompok simpanse yang berbulu panjang, Pantroglodytes schweinfurthi. Leakey berminat meneliti kehidupan simpanse yang berhabitat di tepi danau, karena fosil manusia purba sering kali ditemukan di tepi danau. Kalau rahasia perilaku mereka dapat dikuakkan, siapa tahu diperoleh pemahaman lebih dalam mengenai kehidupan manusia purba. Strategi Leakey didukung oleh hasil penelitian bahwa secara fisiologi dan biologi simpanse amat mirip dengan manusia.

Selama ini, tutur Leakey kepada Jane, kera itu baru diteliti Prof. Henry W. Nissen selama 2,5 bulan. "Yayasan saya membutuhkan wanita peneliti, karena wanita lebih sabar dan mungkin kurang merupakan ancaman bagi simpanse jantan yang masih liar," kata Leakey. Di samping itu, wanita yang bukan ilmuwan diharapkan belum memiliki bias dan pembatasan-pembatasan dalam pengamatannya.

David dan Goliath
Di tahun 1960, Jane Goodall yang nihil pengalaman dan tak berbekal ilmu pengetahuan khusus, menerima tawaran itu (Leakey kemudian juga membiayai Dian Fossey meneliti gorila di Rwanda, serta Birute Galdikas yang meneliti orangutan di Tanjungputing, Kalimantan Tengah). Jane membangun pos penelitiannya di tepian Sungai Gombe. Atas desakan pemerintah setempat di Kigoma, Jane harus ditemani Vanne Goodall, ibunya.

Baru sekitar tiga bulan setelah mereka terjun di Gombe, setelah Jane dan Vanne sama-sama ambruk karena malaria, Jane berhasil memperoleh kesempatan mengobservasi simpanse secara berarti. Hari itu, seperti biasa Jane berangkat subuh-subuh, ketika udara masih sejuk. Ia mendaki bukit yang berada pas di atas perkemahan mereka. Dengan bersusah-payah, karena kondisi fisik yang belum kuat, akhirnya ia berhasil mencapai ruang terbuka di ketinggian 300 m kaki dari permukaan danau. Duduk sambil beristirahat, ia mengeluarkan teropong untuk melihat tanda-tanda kehadiran simpanse. Setelah sekitar 15 menit, tampak ada tiga ekor simpanse berdiri memandang dia di kawasan botak bekas kebakaran tak lebih dari 60 m jauhnya dari tempat ia duduk. Mereka pergi menghilang, tanpa ketakutan. Belakangan ketika matahari lebih tinggi, ada dua rombongan simpanse lagi yang datang ke kawasan dekat situ untuk makan buah pohon fig yang memang sedang berbuah lebat. Mereka pun tak kabur ketakutan meski melihat Jane, seperti yang sudah-sudah, ketika Jane masih ditemani seorang atau dua orang pria.

Dalam usaha membuat dirinya diterima oleh mereka, Jane selalu mengenakan setelan baju dan celana pendek berwarna khaki. Untuk tidak membuat mereka takut, Jane berusaha diam tak bergerak, meski sedang diamat-amati oleh simpanse tertentu dari jarak dekat. Sudah tentu ini membutuhkan ketabahan tersendiri, karena menyusul periode "kabur", selama sekitar lima bulan berikutnya, para simpanse memasuki periode agresif terhadapnya. Bahkan ia pernah dihantam dengan cabang pohon oleh seekor simpanse besar yang kemudian dia panggil dengan nama Goliath. Jane berhasil menahan dorongan untuk lari, meski mengaku lututnya sampai gemetaran karena ketakutan.

Namun sahabat pertama Jane tak lain adalah David Graybeard, simpanse pertama yang "bertamu" ke tenda Jane, untuk makan buah pohon kelapa yang tumbuh di dekat tendanya. Ia bahkan dengan santainya melongok ke dalam kemah! Dengan David yang digambarkannya berperilaku lembut ini Jane sering bepergian bersama. David di depan, Jane terengah-engah di belakang mengikutinya. Ada saat-saat tertentu Jane yakin, David sengaja menantinya. Belakangan Goliath yang ternyata "kepala suku" itu bergabung dengan David untuk makan pisang yang disediakan di depan tenda.

"Di tahun 1960, seharusnya tak seekor pun simpanse saya beri nama," kata Jane. "Saat itu simpanse dianggap tak memiliki kepribadian, juga pikiran. Mereka cuma hidup liar dengan naluri alam."
Namun karena Jane mengawali penelitiannya tanpa latar belakang ilmu, ia dapat menerima fakta bahwa simpanse adalah individu-individu yang berbeda. Malah sejalan dengan semakin diterimanya ia dalam masyarakat simpanse Gombe, terbit pula keterikatan batin. Pada musim penghujan, ketika ia pulang ke tendanya, Jane sering tak tega membayangkan simpanse-simpanse itu kehujanan di sarang tidur mereka.

Sudah kenal senjata dan alat
Untuk menambah pengetahuannya, Jane diharuskan studi perilaku satwa, hingga meraih gelar di Universitas Cambridge pada tahun 1965. Setelah itu, Jane kembali ke stasiun penelitiannya di Gombe. Pos penelitian itu makin besar, juga kian ramai dikunjungi pendatang dan turis. Jane merasa risih. Apalagi kelompok simpanse yang dia teliti, sering berkelahi berebutan pisang. "Pemberian pisang itu juga unsur perubah lingkungan hidupnya. Juga ikut merusak penelitian," katanya.

Makin lama tambah mantap studi simpanse ini. Jane pun mulai memberi nama tiap ekor simpanse yang bisa diikuti kehidupannya secara individual, mencatat perilaku berikut perkembangan ciri fisiknya. Selama 30-an tahun itu, Jane yang ulang-alik AS - Tanzania, terus memantau dan bergaul dengan Flo, Flint, Figan, Fifi, David, Goliath, Gilka, Goblin, Mike, Melissa, dan puluhan simpanse lainnya, di sekitar pos penelitiannya.

Dari catatan lapangan dan pengamatannya, Jane memiliki arsip silsilah simpanse Gombe. Juga tingkat perkembangan kemampuannya berdasarkan usia. Misalnya simpanse 3 bulan, mulai tumbuh gigi pertama. Umur 5 bulan mulai melangkah atau menunggang punggung induknya. Pada umur 8 bulan sudah membuat sarang tidur, atau sudah terlibat perkelahian antar-"remaja" dalam umur 18 bulan. Jane pun tahu kapan simpanse itu copot gigi susunya, kapan simpanse betina remaja mulai matang dan baru melahirkan anak pada usia 11 atau 12 tahun.

Yang menonjol, Jane Goodall membuktikan kalau simpanse itu sejak umur 3 tahun sudah tahu cara pemakaian alat, misalnya kayu untuk memukul, ranting pencungkil, dan lainnya. Semua alat ini cenderung dipakai sebagai alat bantu untuk mencari makanan tambahan atau menyerang musuh.

Simpanse memang mengenal senjata untuk memukul dan menyerang. Bahkan benda keras yang dapat digenggam, digunakan sebagai senjata lempar. Untuk mencari makanan tambahan, kawanan simpanse ini sudah "bertradisi" memakai batang gelagah untuk menusuk sarang rayap, sekalian "memancing" agar anak rayap melekat. Untuk beberapa keperluan, simpanse biasanya memetik daun atau ranting, lalu membentuk benda agar sesuai kegunaannya. Misalnya gumpalan lumut untuk spons pengisap cair bersih atau lumut sebagai "kertas toilet".

Jane dengan teliti kemudian mencatat, simpanse Gombe ini menyantap lebih dari 90 jenis daun, ranting, kulit kayu, dan getah berbagai tumbuhan di habitatnya. Juga serangga dan burung kecil beserta telurnya. Sebagai pelengkap kebutuhan mineral, simpanse pada waktu tertentu suka memakan tanah yang mengandung zat garam. Yang paling mengejutkan tentunya kebiasaan simpanse memakan daging. Kera omnivora ini, selain suka makan daging, juga senang berburu. Satu kelompok simpanse beranggota 40 - 50 individu, tiap tahun minimal memburu dan membunuh 50-an ekor mangsa. Binatang buruan simpanse antara lain babi hutan, rusa dan kijang, serta jenis kera kecil lainnya.

Makna suara dan hura-hura
Perhatian Jane lebih tertuju terhadap perilaku hidup simpanse betina. Berdasarkan catatan studi antara tahun 1970 - 1990, disimpulkan kalau tingkat reproduksi simpanse betina, terpengaruh oleh hirarki dan kedudukan dalam kelompoknya. Juga anak simpanse dari betina peringkat atasan, memiliki harapan hidup lebih tinggi daripada anak simpanse peringkat sosial bawah. Begitu juga anak simpanse betina asal kelas atas, kematangan seksualitasnya lebih cepat.

Selain perilaku sosial yang struktural, Jane juga menemukan suatu peristiwa besar dalam studi perilaku primata di dunia. Sekelompok "masyarakat" simpanse, tak jarang melakukan serangan terhadap kelompok simpanse tetangganya. Mereka saling baku gigit, cakar, dan pukul. Serta serangan mendadak, terutama terhadap simpanse betina dan anaknya.

Untuk beberapa kasus tertentu, tercatat beberapa perilaku kejam simpanse jantan. Selain suka menyerang dan memperkosa, simpanse ini ternyata juga suka membunuh bayi simpanse sekaligus memakannya. Dalam bukunya In The Shadow of Man (1971), Jane panjang lebar menguraikan perilaku simpanse lainnya, yang juga memang agak mirip dengan perilaku manusia. Jane memberi contoh betapa Flo yang cantik, sebetulnya induk yang baik serta betina yang menarik banyak jantan. Passion, seekor simpanse jantan berhati dingin dan kejam; dia tega membunuh dan memakan bayi simpanse.

"Tadinya perilaku simpanse di kalangan pakar primatologi, hanya tercatat standar saja. Temuan studi Jane Goodall membuka jendela baru, serta menjelaskan betapa simpanse yang merupakan kera terpandai di antara primata lainnya, ternyata bertemperamen lebih kompleks daripada gorila dan orangutan," ujar seorang pakar primatologi dari Universitas California.

Meski simpanse tak memiliki bahasa, dalam kenyataan di lapangan, kera itu memiliki bahasa panggilan yang secara umum berupa teriakan "huu wa". Dari pengalamannya hidup puluhan tahun di antara simpanse, Jane boleh dibilang sudah menguasai makna di balik suara hura-hura kera itu. Wanita ini juga memiliki catatan "bahasa isyarat" simpanse, berupa gerak-gerik berbagai ragam anggota tubuh simpanse, termasuk mimik muka kera ini yang senang menyengir, merengut, menyeringai, melucu, dan lainnya.

Membunuh demi manusia
Penelitian di Gombe ini, belakangan makin jelas sebagai bukan hanya milik kalangan primatologi atau antropologi, sebab juga melibatkan zoologi, ekologi, etologi, psikologi, dan bahkan psikiatri. Kesertaan pelbagai disiplin ilmu itu tampak dengan antusiasnya keterlibatan ilmuwan dari Universitas Dar es Salam, Cambridge, Stanford, dan lainnya. Mereka mempelajari perilaku simpanse, untuk mencari kesamaannya dengan perilaku manusia juga, terutama sikap dan tindakannya yang agresif.

Ilmuwan juga tertarik masalah "kejiwaan" simpanse yang hidup tertekan di lingkungan alam dan kelompoknya. Beberapa individu simpanse yang hidup depresif, serta stres berlebihan, diamati perilaku serta jalan keluar pemecahannya.

Ironisnya, "Kini simpanse juga digunakan sebagai bahan studi laboratorium untuk kepentingan pengobatan manusia. Mereka membunuh simpanse demi manusia," kata Jane dalam bahasa manusia, bukan "bahasa" simpanse. (Dari pelbagai sumber/Bd)