Jangan coba-coba membekali diri dengan pisau bikinan Teddy. Bisa-bisa Anda terkena razia senjata tajam di jalan. Ia bukan sejenis pisau dapur meski bisa untuk memotong sayur. Tak tanggung-tanggung, pelanggannya Special Force atau pasukan khusus dari Amerika Serikat, Yordania, dan juga Kopassus TNI AD. Tapi Anda akan aman-aman saja kalau menyimpannya sebagai benda koleksi seperti para peminat pribadi asal Spanyol, Prancis, Belanda, dan Indonesia sendiri.

Tentu bukan tanpa sebab kalau pelbagai jenis pisau keluaran bengkel kerja Teddy Sutadi Kardin (45) di Hegarmanah, Bandung, ini sanggup menusuk dan menembus pasar internasional. Simak saja tuturan Miguel Carillo Diaz, salah seorang pelanggannya asal Canary Islands, dekat Maroko, "Belati Fairbairn yang baru saja saya terima kualitasnya lebih tinggi dibandingkan dengan belati sejenis yang biasa saya lihat di toko-toko pisau di beberapa negara, di antaranya buatan Sheffield, Inggris, yang khusus untuk serdadu Inggris. Tapi buatan Anda lebih baik."
Selain mutu yang lebih baik, atau setidaknya sejajar, daya saing lainnya didorong oleh harganya yang jauh lebih murah daripada produk pisau luar negeri. Ambil contoh saja, pisau Damaskus style harganya sekitar AS $ 2.000, sementara benda tajam sejenis produksi Hegarmanah Rp 600.000,-.
Hingga kini sudah sekitar 50 desain pisau yang berkelebat meluncur dari bengkel kerjanya di lereng sebuah bukit tak jauh dari rumah Teddy. Kebanyakan dari jenis skinner atau bowie yang tergolong pisau komersial. Sisanya dari jenis tusuk macam belati atau pisau komando, dan jenis tebas seperti golok.

Gara-gara musibah
ladengku..Kalau ditarik ke masa beberapa tahun lalu, akan tampak benang merah perjalanan Teddy menebas jalan untuk menekuni dunia pembuatan dan bisnis perpisauannya. Sebagai seorang geolog lapangan, bukan satu dua bulan ia harus tinggal di tengah hutan. Bahkan dalam setahun bisa delapan bulan ia menjadi penghuni hutan untuk melakukan survai menemukan sumber minyak. Tak hanya hutan di Sumatra atau Kalimantan tetapi juga, "Dari Aceh sampai Irian Jaya saya singgahi," kenang pria kelahiran Kota Kembang ini.
Karena itu pisau lalu menjadi salah satu perkakas wajib bagi Teddy yang tak boleh ketinggalan. Selain memberikan rasa aman dan untuk keperluan survival, bekal pisaunya merupakan alat bantu praktis untuk memotong bahan pembuat rakit, tempat berteduh, jebakan binatang untuk santapan, dan macam-macam lagi.
Namun kecelakaan mobil pada Agustus 1993 membuat Teddy terpaksa amit mundur dari dunia surveyor yang selama itu dia tekuni. Akibat peristiwa tragis itu ia harus operasi wajah, ingatannya sempat hilang selama tiga bulan, dan luka-lukanya baru sembuh setelah setahun. Namun semua itu tidak lantas jadi alasan dia duduk manja berleha-leha. Justru karena itulah ia punya waktu lebih banyak lagi untuk mewujudkan impiannya, membuat pisau!
Sebenarnya, gagasan itu sudah muncul jauh sebelum musibah.
Sebagai ahli geologi yang sering merambah hutan, seorang temannya memberinya hadiah berupa pisau Buffalo Skinner buatan Solingen, Jerman. Ia begitu sayang pada pisau itu, apalagi itu pisau pertama berkelas dan mahal yang pernah dimilikinya. Pisau itu juga yang selalu menemaninya kala ia masuk hutan. Begitu sayangnya sehingga hati-hati sekali Teddy merawatnya. Gagang sedikit goyang, segera dibetulkan. Terasa kurang tajam, cepat-cepat diasah dengan sangat hati-hati.
Tapi apa daya, pisau tak bisa diperbarui layaknya minyak yang dia buru. Mau beli baru, harganya mahal. Di benaknya lalu terpikir, kenapa tak membuatnya sendiri? Sebagai pemakai, ia tahu betul konsep pisau yang enak dipakai. Kelak itu menjadi salah satu modalnya.

Cresss, tajam sekali
Rencana memproduksi pisau sendiri belum terwujud sampai akhirnya ia bertemu dengan Prasidi, sobat lamanya, yang ternyata punya segudang referensi soal dunia perpisauan. Namun sebuah pandai besi yang mereka harapkan jadi tumpuan untuk menuangkan ide mereka, tak mampu mewujudkannya. Dengan sikap pantang menyerah mereka lalu mencoba membuatnya sendiri. Maka pada 1992, bermodalkan uang tabungan mereka Rp 5 juta, garasi di belakang rumah Teddy di Hegarmanah yang cukup luas mereka sulap jadi bengkel kerja kecil-kecilan.
Untunglah, pada tahun itu juga ketika menggarap proyek survai di suatu daerah di Jambi, Teddy bertemu dengan seorang pandai besi asal Palembang yang mampu membuat pisau dengan mutu setara dengan bikinan luar negeri. "Waktu itu saya pesan pisau padanya untuk anak buah saya. Ternyata hasilnya tak mengecewakan," kenangnya.
Kekerasan bahan memang salah satu ukuran mutu pisau. Ketika diadu dengan Buffalo Skinner yang berstandar internasional itu, pisau buatan pandai besi asal Palembang itu berani bersaing. Maka makin tebal saja tekad Teddy untuk memproduksi sendiri pisau berkualitas tinggi. Dibawalah pisau-pisau made in Sumatra yang masih polos dan belum bergagang itu ke bengkel kerjanya di Bandung.
Adalah Slamet Wicaksono, temannya tamatan ITB jurusan Seni Rupa, yang kemudian memoles dan memperbaiki pisau bawaan Teddy. Ternyata hasilnya sangat menjanjikan. Selanjutnya, dibantu sejumlah pengrajin untuk menggarap pekerjaan halus, Slamet yang lulusan jurusan seni patung itu mendesain pisau-pisau pertama produksi Hegarmanah.
Sejak produk dan bengkelnya diekspos di sebuah majalah untuk kaum pria, peminat pisau Teddy mulai bermunculan. Meski dari segi desain dianggap sudah bagus, namun tak sedikit yang menghendaki mutunya, terutama kekerasan, ditingkatkan. Begitu juga dengan bahannya yang mudah berkarat. Kritikan itu segera ditanggapi Teddy dengan mencari pandai besi sebagus orang asal Palembang itu. Setelah "tusuk sana tusuk sini", belakangan ketemu juga pandai besi yang paham betul tentang proses hardening (pengerasan) baja dengan baik.
Pengerasan baja ini sangat penting bagi benda tajam untuk menjamin ketajamannya. "Sebaliknya, bagian yang tumpul harus lebih lunak karena berfungsi sebagai pelentur," papar Teddy. Ia lalu membuktikan ketajaman pisau keluaran bengkelnya dengan peragaan memotong kertas koran yang direntang. Bak pisau silet baru pisau itu mengiris koran. Cress, tajam sekali!
Proses hardening sebenarnya sederhana. Baja yang sudah dipanaskan didinginkan secara tiba-tiba dengan memasukkan ke dalam cairan tertentu.

Pisau klasik untuk koleksi
Begitulah, desain demi desain terus lahir dari perut bengkel kerjanya melalui tangan desainer. Tidak hanya jenis-jenis pisau standar macam skinner, bowie, atau modifikasinya, tetapi juga bentuk-bentuk klasik senjata tradisional suku-suku yang pernah disambanginya, seperti rencong Aceh, mandau Dayak, atau badik Ujungpandang, sebagai koleksi. Teddy juga menerima pesanan jenis pisau tradisional lain seperti yang terlihat dalam katalog, misalnya kujang dan bedog Cepot khas Sunda.
Ciri khas lain yang hendak dia jadikan unggulan produknya selain desain dan mutu bahan yaitu jenis-jenis pisau berpamor macam yang ada pada bilah keris. Untuk itu ia mengajak kerja sama seorang empu pembuat keris di Solo yang punya pengetahuan tinggi tentang metalurgi untuk menciptakan karakter atau pamor pada pisau buatannya.
Pamor seperti itu juga dikenal dalam dunia perpisauan internasional, dengan sebutan Damaskus style. Disebut demikian karena di luar Indonesia teknologi pamor, yakni cara penempaan yang menghasilkan alur-alur pada bilah pisau atau benda tajam lainnya, diterapkan oleh para pembuat benda tajam di Damaskus, Suriah.
Bengkel kerja Teddy mengandalkan tangan-tangan terampil pekerjanya yang rata-rata lulusan STM untuk mengerjakan produk hand made berupa pisau-pisau klasik atau pisau pesanan. Karena pekerjaan tangan, maka diperlukan waktu cukup lama untuk menghasilkan sebilah pisau. "Kalau dikerjakan terus-menerus, bisa makan waktu seminggu," kata Teddy yang beristrikan Ida Wiryanti ini. Sedangkan untuk memenuhi pesanan masal (dalam jumlah besar dengan desain bentuk sejenis), barulah digunakan mesin buatan Jerman yang bisa memotong bilah baja dalam hitungan detik.

Garapan tangan
Proses pembuatan pisau sebenarnya sederhana. Baja dipotong atau dibor sesuai dengan pola detail pisau yang sudah dibuat. Bakalan pisau itu dikikir atau digerinda sampai halus sebelum memasuki proses hardening. Pengerjaan pernak-pernik pisau seperti takikan, lengkungan, relief, dll. dilakukan pada tahap akhir, termasuk pemberian gagang yang bisa berupa tanduk rusa, besi, kayu hitam (eboni), atau kuningan.
Kini semua proses pembuatan pisau di bengkel kerja Teddy sudah seperti ban berjalan. Ada bagian yang khusus memotong pisau, menggerinda, menggarap gagang pisau. Dengan sekitar 20-an orang pengrajin, bengkel kerja Teddy mampu menghasilkan seratusan bilah pisau per bulan. "Untuk pisau yang bentuknya sejenis, misalnya pisau komando, malah bisa 300-an buah sebulan," kata Teddy.
Mengingat produk-produk pisau tersebut hampir sebagian besar garapan tangan, kontrol kualitas (QC) menjadi penting. Hasil kerja yang kurang memenuhi syarat pada setiap prosesnya, dikembalikan ke pengrajin untuk diperbaiki. "Mereka akan malu dan berusaha sebaik mungkin kalau hasil pekerjaannya sering dikembalikan," tandas anggota Wanadri dengan nomor registrasi AL-279 ini.
Dengan konsep QC seperti itu, Teddy menjamin pisau keluaran bengkelnya menyandang mutu yang bisa disejajarkan dengan produk-produk luar. Daya saing di pasaran semakin tinggi karena ia mematok harga yang relatif lebih murah dibandingkan dengan buatan luar negeri. "Pisau hand made buatan luar negeri bisa berharga jutaan," tuturnya. Dari katalog yang dikeluarkan Teddy, harga pisau jenis itu dipatok antara AS $ 35 - 250.

Dikunjungi Green Beret AS
Semula dipilih per mobil sebagai bahan baku. Kelenturannya memang bisa diandalkan dan per mobil itu antikarat karena memang dicampuri bahan khusus dari sononya. Namun setelah ditempa dan disepuh, meski hasilnya bagus, permukaan bilahnya tidak rata. Juga kekerasannya masih kurang, sehingga diperlukan proses pengerasan berulang-ulang sampai diperoleh spesifikasi yang diinginkan. Kini Teddy mengandalkan baja impor produksi Hitachi Steel, Jepang.
Baja untuk pembuatan pisau setidaknya memiliki kekerasan sedikit di bawah silika yang nilai kekerasannya 7 pada skala Mohs, di mana nilai kekerasan 10 dimiliki intan. "Bisa saja bahan dibuat hingga memiliki nilai kekerasan tujuh, tapi hasilnya sangat regas dan mudah patah," tutur ayah dua anak, Rangga dan Swasti, ini sambil menambahkan bahwa ia tak mendalami khusus tentang metalurgi.
Dulu pisau-pisaunya diberi merek Cordato ditambah keterangan made in Indonesia. Merek itu diambil dari nama belakang temannya, Hiwata Cordato, yang kebetulan muncul ketika ia sedang bingung memilih-milih nama. Namun, nama Cordato tak bertahan lama karena pada 1994 ia menggantinya dengan T Kardin Pisau Indonesia, langsung menunjuk pada namanya sendiri, meski tak ada hubungannya dengan Pierre Cardin, desainer kondang asal Prancis itu. "Kata Indonesia sengaja dicantumkan agar pasar luar negeri tahu, Indonesia mampu menghasilkan pisau bermutu," kilahnya.
Peminat pisau dalam negeri yang mengenal bengkel kerja Teddy dan produknya bukan nama-nama sembarangan. Sebut saja misalnya Letjen TNI Soebagyo Hadisiswoyo (Wakasad), Mayjen TNI Prabowo Subiyanto (Komandan Jenderal Kopassus), IGK Manila (kepala STPDN), Bambang Trihatmodjo (bos Kelompok Bimantara), atau Yapto Suryosumarno (ketua Presidium Pemuda Pancasila). Teddy mengaku sangat beruntung karena dari mereka ia sering mendapat banyak masukan untuk pengembangan pisau-pisau produknya.
Dari luar negeri tak kurang bengkel kerjanya pernah dikunjungi salah satu anggota Green Beret, AS, Sersan Curzis Lovito, serta dipublikasikan dalam Majalah Tactical Knives. Ketika meliput bengkelnya, wartawan majalah tersebut sempat terkejut menjumpai belati Inggris yang terkenal, British Fairbairn/Sykes Dagger yang diproduksi ulang di Indonesia. Publikasi gratis itu tentu akan semakin mengibarkan nama Teddy di dunia internasional sebagai produsen pisau berkualitas.
Menyadari posisinya yang demikian, Teddy merasa perlu terus membekali diri termasuk melanggan beberapa majalah terbitan luar negeri seperti Blade maupun Tactical Knives. Ia tidak ingin ketinggalan kereta informasi tentang perkembangan industri perpisauan dunia.
Biar nggak tertusuk pesaing dari belakang ya, Ted? "You are only as sharp as your knife," kata pepatah sono. Ini mungkin perlu diberlakukan oleh Teddy S. Kardin supaya bisa terus menembus dan membabat pangsa pasar pisau internasional lebih lebar lagi. (Yds Agus Surono)

*Kembali ke halaman muka.*