PRANA ALIAS CHI YANG
MENYEMBUHKAN
|
Bagi terapis prana, alam menyediakan energi yang
luar biasa besar dan bebas untuk diambil. Dengan kemampuannya
ia mengumpulkan tenaga dari alam, mengolahnya di dalam tubuh,
dan memancarkannya kepada orang yang sakit untuk mendeteksi dan
menyembuhkan berbagai macam penyakit.
|
Prana, yang dianggap sebagai energi hidup atau energi vital itu,
sudah dipercaya keberadaanya sejak ratusan tahun silam. "Orang
Cina menyebutnya chi, sementara di Polinesia dikenal dengan
istilah manna. Ada juga yang menamainya energi bioplasmik.
Sedangkan di India, dan juga Indonesia, dikenal sebagai prana,"
kata Drs. Indra Gunawan, MBA, Ketua Yayasan Prana Indonesia.
"Prana yang berarti sinar suci Alam adalah zat yang menghidupkan,"
kata Drs. IGK Putra Wirawan, pengusada (penyembuh, terapis)
prana pada Klinik Prana Murti, Depok, Jawa Barat.
Energi ini terdapat di mana-mana di alam semesta, entah di tanah,
atmosfer, pohon, dsb. dengan kadar kekuatan yang berbeda-beda.
"Namun yang paling besar getarannya adalah prana yang bersumber
dari matahari, bumi, dan udara atau alam," tutur Putra Wirawan.
Energi prana, menurut Indra Gunawan, bersifat siap pakai, dan
kegunaannya pun bermacam-macam. Yang menarik, selain dimanfaatkan
sebagai unsur penting dalam upaya beladiri pada seni beladiri,
tambah Gunawan, energi tak kasat mata itu bisa untuk kesehatan
atau terapi berbagai penyakit.
Sudah barang tentu, agar bisa memanfaatkan tenaga prana untuk
kepentingan seperti itu, orang harus berlatih secara khusus; biasanya
itu dilakukan di perkumpulan olahraga seni beladiri tertentu.
Manakala seluruh cakra (inti kekuatan atau pusat energi
yang ada di dalam tubuh manusia) "terbuka", menurut
Putra Wirawan, orang akan mampu menarik prana alam secara maksimal.
Orang dengan tingkatan ini akan punya kemampuan mengobati penyakit.
Medis dan nonmedis
Menurut Putra Wirawan, penyakit yang bisa ditangani bukan
hanya yang bersifat medis tetapi juga nonmedis macam santet atau
gangguan roh halus. Penyakit atau gangguan yang diderita pasien
bisa dideteksi dengan getaran lewat kepekaan, terutama cakra
tangan.
Konon, kalau sekadar gangguan seperti pening atau sakit gigi,
itu mudah sekali diobati. Sakit kepala karena migren, misalnya,
cukup enam kali terapi. Yang juga tergolong mudah diobati antara
lain kanker prostat, kanker otak, gegar otak, kanker atau tumor
lever, kanker usus, dan usus buntu.
Sementara itu penyembuhan penyakit sistemik tampaknya makan waktu
lebih. "Penyakit diabetes stadium satu atau dua bisa sembuh
total dengan 15 - 20 kali terapi. Stadium tiga atau empat bisa
sembuh kendati lebih sulit. Tapi paling tidak pasien akan terbebas
dari obat setelah menjalani terapi 20 kali. Bahkan penderita diabetes
stadium empat pun ada yang sembuh, setelah diterapi selama 3 -
4 bulan dengan kadar gula darah tinggal 98," katanya.
Begitu juga dengan gejala penyakit jantung, semisal penyumbatan
pembuluh darah di jantung. Jantung bengkak memerlukan terapi 6
- 10 kali. Jantung koroner 10 - 20 kali, tergantung penyempitannya.
Yang sudah berat, 15 - 25 kali terapi tetapi sesudahnya perlu
mengontrolkan diri pada terapis prana.
Penderita asam urat tinggi sehingga lumpuh pun bisa memanfaatkan
terapi prana ini. "Pernah ada penderita asam urat tinggi
yang sudah nggak bisa jalan saya tolong, dan pulangnya lari,"
akunya.
Yang juga dikeluhkan para pasien yang mendatangi kliniknya adalah
kemandulan. Mereka umumnya sudah 5 - 10 tahun menikah tapi belum
mempunyai anak karena salah satu dari pasangannya ternyata tidak
subur. Dalam kasus ini sering ditemukan kista pada kandungan,
saluran indung telur menyempit atau lengket, dsb. "Dengan
prana ternyata bisa diatasi dan sudah banyak pasangan yang berhasil
punya anak," tuturnya.
Virus lebih sulit
Tanpa bermaksud jumawa, Wirawan mengaku, lebih dari
98% penyakit yang diderita manusia bisa disembuhkan. Di dalamnya
termasuk penyakit jiwa yang bukan karena keturunan dan berbagai
penyakit yang dari sisi medis tidak bisa disembuhkan. Epilepsi,
misalnya, bisa sembuh dengan beberapa kali terapi.
Namun, menurut dia, ada juga penyakit yang sulit disembuhkan yakni
patah tulang, ambeien berat, dan penyakit karena virus. "Tapi
kalau tulang patah itu dibetulkan posisinya oleh dokter atau ahli
urut, akan cepat sembuh bila dibantu dengan prana. Sedangkan ambeien
yang sudah parah itu sulit, tapi kalau masih gejala masih bisa
dengan beberapa kali terapi prana."
Kendati demikian Wirawan mengaku, "Kami sudah mampu menyembuhkan
dua orang penderita AIDS. Juga kanker darah dengan kira-kira 15
kali terapi."
Putra Wirawan yang bertutur kata lembut itu menyarankan, sebaiknya
pasien datang sekali sehari, terutama kalau penyakitnya tidak
parah. Untuk penyakit-penyakit tertentu, seperti penyakit kanker
superganas, bisa dua kali sehari - pagi dan sore. Tenggang waktu
antara terapi satu dengan yang lain paling tidak 5 atau 6 jam,
tapi disarankan 24 jam. Sebab, organ yang sakit juga perlu waktu
untuk proses penyembuhan. "Kami sarankan, tenggang waktu
pengobatan tidak lebih dari seminggu, karena kalau lebih dari
itu penyakit akan tumbuh lagi," katanya.
Dalam praktiknya pasien tidak diberi obat atau ramuan apa pun,
kecuali air yang diisi kekuatan prana. "Itu pun terutama
untuk orang yang kecanduan narkotika. Juga tak ada pantangan khusus,
kecuali yang disesuaikan dengan ilmu kedokteran. Misalnya, bagi
penderita asam urat tinggi, ya kurangi makan kacang-kacangan,
emping, kangkung, dan buncis," ujarnya.
Sementara itu Klinik Prana Utama, Sunter, Jakarta Utara menerapkan
penyembuhan dengan tenaga prana ala Choa Kok Sui (seperti tertulis
dalam buku Penyembuhan Dengan Tenaga Prana karangan Choa
Kok Sui). Klinik itu juga mengklaim bisa menyembuhkan berbagai
macam penyakit. Mulai dari sakit kepala, patah tulang, gegar otak,
cedera punggung, luka bakar, sulit tidur, kista, infeksi, glaukoma,
katarak, berbagai penyakit kulit, jantung, stroke, pernapasan,
pencernaan, kolesterol, wasir, gangguan ginjal, kemandulan, leukemia,
radang otak, kanker, tumor, dll.
Menurut Indra Gunawan, pengusada prana dengan teknik Choa
Kok Sui menganjurkan, pasien tidak mandi beberapa waktu, 10 -
12 jam, supaya energi yang disalurkan meresap ke dalam tubuh.
"Ada baiknya juga pasien pantang minuman beralkohol dan makanan
berlemak, tidak merokok, dll.," kata Gunawan.
Lama penyembuhan, menurut Gunawan, tergantung parah tidaknya penyakit,
dan cukup tidaknya pemberian prana umumnya akan terasakan oleh
si pasien, "Waktunya bisa seperempat hingga satu jam. Ada
yang merasakan pusing kalau kelebihan dosis prana," jelas
Indra Gunawan.
Sementara itu, menurut Putra Wirawan, pengusada mumpuni
bisa merasakan cukup tidaknya prana yang dibutuhkan oleh pasien.
"Kalau telapak tangan tidak lagi merasakan getaran, itu pertanda
keperluan prana sudah cukup. Tapi bagi yang kurang peka ukuran
cukup tidaknya prana berdasarkan waktu, biasanya 10 - 15 menit
untuk satu lokasi penyakit," katanya.
Ketidakseimbangan energi
Dalam pandangan Wirawan, penyembuhan dengan prana mendasarkan
diri pada ilmu Yoga. Dalam Yoga tubuh manusia diyakini terdiri
atas badan kasar (hangga salira) dan badan halus (astral
salira). Badan halus terbagi lagi atas antah salira
dan sukma salira. "Kedua badan ini bisa sakit,"
jelasnya.
Menurut dia, jika diraba dengan kekuatan getaran, badan halus
manusia berupa lapisan-lapisan yang disebut aura dan ada kalanya
cekung atau menggelembung.
Pada bagian tubuh yang sakit, menurut Wirawan, diyakini terdapat
vitalitas usang. Nah, dalam proses pengobatan, vitalitas usang
itu dibuang, dan diganti dengan vitalitas yang masih fresh.
Vitalitas itu sesungguhnya prana. "Dokter mengobati badan
kasar, dan kalau sembuh, badan halus ikut sembuh. Sedangkan terapi
prana mengobati kedua-duanya. Badan kasar dipulihkan, badan halus
disembuhkan," tuturnya.
Hal senada diungkapkan oleh Indra Gunawan. Dari sudut pandang
prana, penyakit muncul karena tak seimbangnya energi dalam tubuh.
Bisa jadi auranya menipis, menebal lantaran "kotor"
atau bocornya energi. "Jadi, prinsip penyembuhan dengan prana
adalah memperbaiki bagian aura yang tidak sempurna atau tidak
seimbang," tegasnya.
Penyakit, tambah Indra Gunawan, umumnya hinggap di tubuh bioplasmik
(aura) terlebih dahulu sebelum ke organ fisik. Misalnya, sebelum
jantungnya sakit, tubuh bioplasmik yang berada di luar tubuh sudah
menampakkan kelainan. "Namun dalam kasus kecelakaan, yang
lebih dulu rusak fisik, menyusul kemudian bioplasmik," jelasnya.
Beberapa faktor, kata Gunawan, ikut berperan dalam proses penyembuhan.
Yakni kepercayaan diri, keterampilan, dan tingkat spiritual yang
ada pada diri penyembuh. "Sikap penerimaan pasien juga ikut
menentukan. Makin reseptif, makin baik. Yang penting tidak menolak.
Sebab, menolak seperti halnya membentengi diri dari energi yang
akan masuk."
Dalam praktiknya Choa Kok Sui menggunakan metode penyembuhan beberapa
tahap. Mula-mula dilakukan penelusuran (scanning) untuk
mengetahui bagian bioplasmik yang menebal maupun menipis. Kemudian
dilanjutkan penyapuan (wipping), meliputi penyapuan umum
(seluruh tubuh), dan penyapuan lokal pada bagian yang sakit. Perlu
tersedia wadah berisi air garam untuk "melarutkan" penyakit
atau kekuatan-kekuatan negatif. Atau, bisa juga dengan membayangkan
kobaran api biru. Baru dilanjutkan dengan penyaluran energi. Dalam
hal ini penyembuh mengambil prana dari udara lalu mengalirkannya
ke bagian tubuh pasien yang sakit.
Dalam proses penyembuhan dengan prana, menurut Indra Gunawan,
selain memberikan energi ke bagian yang sakit, juga memperbaiki
cakra tertentu. Kalau penyakit berkaitan dengan sesak napas,
selain paru-paru juga digarap kerongkongan, solar flexus,
juga cakra pusar, dan cakra ajna. Kalau sakit perut,
yang digarap tentu bagian pencernaan dan cakra pusar.
Bagi pengusada yang sudah kampiun, berdasarkan teknik Choa
Kok Sui, prana masih bisa dipilah lagi menjadi warna-warni pelangi.
"Penyembuh tingkat mahir bisa mengambil prana tertentu. Misal,
untuk penyapuan digunakan prana hijau. Prana hijau punya efek
netral dan bisa diterapkan pada bagian mana pun. Hijau juga mematikan
kuman atau bakteri. Sementara bagi yang belum mencapai tingkat
lanjut, untuk penyapuan menggunakan prana putih," jelas Indra
Gunawan.
Wujud prana tergantung niatnya
Dibandingkan dengan teknik Choa Kok Sui, prosedur penyembuhan
prana ala Prana Murti secara garis besar sama. Hanya saja dalam
tahap penyapuan, pengusada di klinik Prana Murti "menarik"
kekuatan negatif dari tubuh pasien untuk ditransit ke hidung,
tapi tidak sampai tertelan, kemudian dibuang. "Telapak tangan
terasa kencang dan kadang panas. Penyakit makin parah ditandai
oleh telapak tangan makin terasa panas. Kalau di tubuh pasien
terdapat kekuatan negatif, telapak akan terasan gatal," kata
Wirawan yang belajar menyembuhkan sejak kelas IV SD.
Langkah berikutnya mendeteksi jenis penyakit - medis atau nonmedis.
Kalau penyakit itu ternyata karena santet, pengaruh santet harus
dibuang terlebih dulu. Kalau kekuatan santet lebih lemah dari
penyembuhnya, akan mudah tersedot atau terbuang. Begitu pengaruh
santet hilang, tubuh diproteksi agar kekuatan santet tidak masuk
lagi. Selanjutnya, pada bagian tubuh yang sehat ditransfer kekuatan
prana. Setiap organ, misalnya usus besar, dideteksi dengan getaran.
"Bila organ sehat, akan memberikan respons berupa getaran.
Jika tak ada respons, berarti ada masalah," jelas Wirawan.
Organ lever dideteksi lebih lanjut juga dengan sarana getaran
untuk mengetahui apakah ada tumor, kanker, atau penumpukan lemak.
"Dalam waktu lima menit bisa dideteksi dan didiagnosis penyakitnya
secara komplit," katanya.
Seumpama pada titik tertentu terdapat kanker dan sudah menyebar,
maka perlu dideteksi bagian lain lagi, seperti lever, paru-paru,
pankreas, dsb. Stadium penyakit kanker juga bisa diketahui lewat
getaran cakra tangan.
Ketika melakukan penyembuhan, pengusada di Klinik Prana
Murti senantiasa dibarengi dengan ucapan niat dan doa, "Ya,
Tuhan karuniailah hambaMu kekuatan untuk memusnahkan penyakit
apa pun dalam tubuh ini sampai ke akar-akarnya."
Prana yang digunakan untuk penyembuhan itu dihimpun lewat cakra
tangan atau cakra lain, kemudian "diproses",
dan dikeluarkan lagi sebagai "obat". "Tetapi prana
itu belum sesuai dengan kehendak kita untuk apa. Masih murni.
Prana disalurkan ke cakra pusar untuk 'diproses'. Kemudian
dipancarkan ke sasaran lewat cakra tangan kanan,"
ujar Putra Wirawan.
Kalau diniatkan panas, misalnya untuk membakar kanker agar musnah
sampai ke akar-akarnya, maka yang keluar hawa panas atau kekuatan
api. Lama-kelamaan kanker itu akan mati. Kalau berniat mengobati
sakit bengkak dan mohon sehat sempurna, pasien akan merasakan
sensasi dingin. "Jadi, prana 'diproses' sesuai dengan niatnya
untuk apa," tegasnya.
Bagi yang mampu melihat dengan mata batin, sinar prana yang terpancar
akan tampak berwarna sesuai dengan kehendaknya. Seumpama niatnya
untuk membakar, maka sinar merah yang akan tampak. Seperti yang
dialami Ny. Nyoman S. yang juga seorang pengusada prana.
"Ketika melakukan terapi pada pasien tumor otak kecil, di
bagian kepala belakang muncul sinar merah. Pada pasien jantung,
tampak ada sinar berwarna pada bagian yang diterapi. Ketika mengobati
kista, kelihatan warna putih. Warna itu muncul dengan sendirinya,
tanpa diminta," tutur Ny. Nyoman.
Terapi jarak jauh
Dengan tenaga prana, pasien bisa disembuhkan dari jarak jauh.
"Pasien di Belanda, Australia, atau Hongkong, bisa diobati
dari sini. Dengan sarana foto pasien, pengusada berimajinasi
berada di depan pasien, atau sebaliknya pasien berada di hadapannya.
Selanjutnya dideteksi, diagnosis lewat getaran, lalu diterapi,"
tutur Putra. Prinsip pengobatan jarak jauh maupun jarak dekat
(langsung) sama saja.
Di samping untuk menyembuhkan orang lain, tenaga prana juga bisa
untuk menyembuhkan diri sendiri. Prosedur atau tekniknya sama
saja. Bahkan, menurut Putra Wirawan, untuk menyembuhkan diri sendiri
selain menggunakan cakra tangan, bisa juga dengan meditasi
- menarik prana ke cakra pusar dan membiaskannya ke seluruh
tubuh, lalu mengendapkannya ke bagian yang sakit.
Karena energi prana juga terdapat pohon, maka memeluk pohon rindang
bagi orang awam baik untuk menjaga kesehatan. "Duduk hening
di bawah pohon atau meditasi mungkin bisa menyembuhkan stres.
Stres hilang, organ hormonal dalam tubuh berfungsi normal, dan
orang itu menjadi sehat," kata Indra Gunawan.
Memeluk atau duduk di bawah pohon, lanjut Indra, hanya menambah
energi, belum sampai penyembuhan total. Mungkin lebih untuk memulihkan
energi yang hilang. "Kalau ia sakit, dengan cara begitu belum
tuntas penyembuhannya," katanya. (A. Hery Suyono/G. Sujayanto)
|
|