CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!
Agar Kartu ATM Aman di Tangan

Zaman "serba kartu" memang rawan. Setelah beberapa kota dimarakkan oleh kejahatan kartu kredit, disusul kemudian dengan akal-akalan kartu telepon, kejahatan mutakhir adalah perampasan kartu ATM (anjungan tunai mandiri - automated teller machine). Pemilik dipaksa menyebutkan nomor identifikasi pribadi (PIN), lalu kartu ATM "dipinjam" sementara untuk menguras uang simpanannya.

Ada anggapan, proses pembobolan ATM berlangsung ketika kartu berpindah dari tangan pemiliknya. Tetapi, kejadian yang menimpa seorang pemuda di kawasan Pinangsia, Jakarta Barat, akhir tahun lalu, jelas melalui cara yang lebih canggih. Si pemuda, yang ditodong dan disandera selama 1 jam setelah dipaksa menyerahkan kartu ATM sekaligus memberitahukan PIN-nya, langsung mengecek saldo uangnya segera setelah dibebaskan. Ternyata, simpanannya tetap utuh. Dasar apes, teledor, atau tak merasakan akibat apa-apa setelah penyanderaan, ia tak segera mengubah PIN-nya. Ternyata, 12 hari kemudian, uangnya di bank terkuras habis tanpa permisi.

Nona HPW, nasabah BII Surabaya, punya pengalaman berbeda. Pada 15 April 1997 saldo tabungannya Rp 1.326.221,-. Selama 8 bulan uang itu ia diamkan, kartu ATM pun disimpan aman. Namun ketika ia mengambil uang dengan kartu ATM pada 18 Desember 1997, uangnya berkurang Rp 300.000,-. Tak ada penjelasan tuntas dari bank. Pihak ini bahkan menjamin, sistemnya sangat aman, tak ada pihak yang bisa membobolnya. Namun bank tak bisa memberikan ketika HPW meminta rekaman gambar kegiatan pengambilan uang di kios ATM lewat televisi sirkuit tertutup, karena alat itu memang tidak terdapat di kios ATM.

Seharusnya, kerugian nasabah model begini menjadi tanggung jawab bank, sebagai akibat dari teknologi yang digunakan. Jaminan petugas bank bahwa tak ada pihak yang bisa membobol sistem keamanan ATM terkesan ngawur, karena sistem teknologi elektronik selalu bisa dibobol. Beberapa kasus pembobolan bank menjadi buktinya; bahkan data base markas besar angkatan bersenjata AS Pentagon sekalipun. Seharusnya pihak bank langsung curiga pada kebobolan sekecil apa pun. Bisa saja dibobol orang dalam karena ring pengaman di bank bersangkutan tidak jalan, atau cara kerja teknisi yang tumpang tindih.

Pita berisi rekaman data

Kartu ATM, atau kartu-kartu magnetik lain, memang rawan penggandaan. Juga, tentu saja, rawan kerusakan. Menyimpan atau memilikinya harus cermat dan hati-hati.


kartu telepon

kartu ATM

Kartu ATM, kartu kredit, kartu telepon, atau kartu absensi magnetik untuk karyawan, pada salah satu sisinya terdapat pita magnetik yang berisi rekaman data atau informasi pemiliknya. Jangankan didekatkan pada besi berani atau magnet, terimpit besi "takut" alias besi biasa pun bisa rusak. Apalagi kalau ditempelkan pada pita magnetik sesama kartu.

Karena isi pita magnetik adalah rekaman data, maka secara logis dapat dipindahkan ke pita magnetik lain. Bagi yang mengenal seluk-beluk dunia teknik dan informatika, alat khusus ini tidaklah terlalu rumit, terbukti banyak penjahat kota besar memilikinya. Rekaman data pada pita magnetik kartu kredit dipindahkan ke kartu kredit lain. Demikian pula kartu ATM. Sama halnya dengan data pulsa pada kartu telepon. Rekaman jumlah pulsa yang banyak dipindahkan ke kartu lain yang sudah kosong, atau kartu yang data jumlah pulsanya kecil.

Penerbit kartu, baik ATM maupun kredit, sebenarnya sudah melakukan upaya pengamanan, antara lain dengan memberikan PIN bagi pemegang kartu. Selain sebagai pengaman, PIN secara teknis adalah kode penghubung antara pemakai kartu dengan mesin atau pusat data. Jika PIN tidak sesuai, kontak antara kartu dengan mesin atau pusat data tidak terjadi. Karena itulah, biasanya, mesin memberi kesempatan sampai tiga kali kesalahan pencantuman PIN. Selain itu, PIN bisa diubah. Yang sering jadi masalah, pemakai lupa akan nomor barunya setelah diubah. Lagi pula, pengalaman Nona HPW membuktikan, keamanan data tidak 100% menjamin segalanya.

Bukan bebas dari akal-akalan
Kartu chip (ataupun microchip) yang belakangan muncul menggantikan kartu telepon magnetik, agaknya merupakan solusi mutakhir untuk meredam penggandaan.

Chip, kalau digambarkan kira-kira seperti komponen mikro otak komputer. Bentuk dan cara kerjanya mirip kartu SIM pada telepon selular GSM. Komponen yang lebih canggih ini juga mulai diterapkan pada pembuatan beberapa kartu kredit dan kartu ATM terbitan mutakhir.

Selain lebih aman dan lebih pintar, kartu chip juga tidak macet jika ada gangguan telekomunikasi. Kartu ATM dengan chip, misalnya, tetap bisa dioperasikan ketika jalur hubungan antara mesin ATM dengan pusat data terputus. Dengan sedikit manipulasi pada chip, data akan berubah.

Tetap saja, seaman-amannya produk rekayasa manusia, bukan berarti mustahil dipalsukan. Dengan kata lain, kartu chip hanya sulit dipalsukan; bukannya tidak mungkin. Apa lagi kecanggihan kartu ini juga mengandung kelemahan. Umpamanya, data mutakhir tentang saldo yang minim belum sampai ke pusat data akibat gangguan komunikasi, sementara data sebelumnya saldo masih banyak, pemakai kartu yang bukan pemilik dan mau akal-akalan bisa mengakses data yang belum tersimpan itu. Bobollah ATM, sekalipun sebenarnya pada data mutakhir saldo sudah minim.

Maka, akal-akalan atau pemalsuan kartu chip, barangkali cuma menunggu waktu. Karena saat ini perangkat pengesetan microchip masih sangat mahal, orang harus berpikir panjang untuk berinvestasi pada kejahatan jenis ini. Entah kalau nanti. (Robert M. Erwinn)

CARA AMAN MENYIMPAN:

  1. Letakkan kartu magnetik pada dompet sesuai ruangan/kompartemen kartu. Setiap ruangan hanya boleh ditempati satu kartu, jangan menumpuk beberapa kartu berimpitan dalam satu ruangan. Kalau hal itu terpaksa dilakukan, maka pita magnetik pada kartu harus diletakkan pada posisi berlawanan dengan kartu lain.
  2. Jangan letakkan kartu magnetik (ATM, telepon, kredit, dll.) di atas atau di dekat besi atau benda yang mengandung medan magnet.
  3. Jaga jangan sampai pita magnetik kotor atau tergores.

TINDAKAN SETELAH KEHILANGAN:

  1. Beritahukan kepada bank atau instansi penerbit kartu tersebut agar segera memblokadenya.
  2. Jika dipaksa memberikan kartu ATM beserta nomor PIN-nya, segeralah menghubungi bank atau penerbit kartu untuk memblokade. Kalau kartu masih di tangan, segera ke ATM untuk mengubah nomor PIN kemudian mengingatnya.
  3. Jangan menyimpan nomor PIN di dalam dompet.
  4. Kalau mempunyai beberapa kartu ATM dan kartu kredit, jangan bawa semua setiap hari. Gunakan satu kartu setiap hari, atau buat jadwal pemakaiannya, agar kalau hilang tidak semuanya.

Kembali ke edisi baru
[ Edisi Lama ] [ Cari dokumen ] [ Sejarah ]
pemagar
© 1996, 1997, 1998 Intisari Online
www.indomedia.com/intisari/