Sungguh ironis! Ketika produk bola kaki buatan anak negeri ini mendapat pengakuan dunia, di negerinya sendiri malah dipandang sebelah mata. Contoh mutakhir adalah, kebutuhan akan bola kaki bagi sekolah-sekolah negeri justru dipasok oleh produsen luar negeri. Namun, usut punya usut, bola yang dipasok dari luar itu sebagian ternyata buah tangan perajin bola asuhan H. Irwan Suryanto (48) yang dipesan oleh produsen luar kemudian diekspor ke Indonesia dengan merek asing!
Padahal produk bola sepak asal Kadipaten itu telah memperoleh CE Mark, setelah lolos uji, dari Merchandise Testing Lab. (HK) dan Instituto Italiano Sicurezza Dei Giocattoli sebagai persyaratan untuk bisa dipakai dalam Piala Dunia 1998 di Prancis. Selain itu juga sudah diterima di kalangan dunia sepak bola di AS, Uni Emirat Arab, Jepang, dan Korea.
Sempat jadi pelatih nasional
Awalnya hanyalah hobi. Namun ketekunan dan suratan nasib memupuk hobinya menjadi sumber penghidupan. Itulah yang terjadi pada jalan hidup Irwan, pengusaha bola sepak yang tiba-tiba menyedot perhatian para pejabat. "Hendropriyono (kini menteri transmigrasi) saja langsung terbang ke sini dengan helikopter untuk membuktikan sendiri," kata Irwan tanpa bermaksud menyombongkan diri.
Pria kelahiran Kadipaten, Majalengka, 1 Desember 1950, ini tidak membayangkan sebelumnya kalau dirinya bisa seperti saat ini. Perjalanan panjang memang telah ditempuhnya. Ia masih menganggur ketika menikahi mojang Priangan bernama Pepen Supartini pada 1973. Untuk menghidupi keluarganya, ia sempat menjadi kenek angkutan umum jurusan Majalengka - Bandung. Setahun kemudian naik pangkat jadi sopir sebelum akhirnya membuka toko kelontong Sinar Jaya. Toko itu kemudian ia serahkan kepada istrinya untuk dikelola karena ia ingin menekuni hobinya tepak-tepok bola tenis.
Usahanya tak sia-sia. Sebagai pemain tenis namanya tak mencuat seperti Yustedjo Tarik atau Sulistiyo Wibowo. Namun untuk tingkat Majalengka ia termasuk pemain top. Bahkan ia sempat duduk sebagai pimpinan Pelti Majalengka sampai delapan kali berturut-turut. Selain sebagai pemain ia juga belajar jadi pelatih. Kepelatihannya mendapat pengakuan dengan memegang sertifikat Pelti Jawa Barat, Bill Time dari AS, dan Van der Mill dari Belanda serta teruji melalui anaknya, Vivi - kini mahasiswi Teknik Informatika ITB - yang sempat menjadi pemain nasional. Sempat pula ia melatih pemain nasional.
Namun, menjadi pelatih di daerah tidak seperti pelatih di kota. "Banyak nombok-nya," akunya. Membikin lapangan, menyediakan bola dan minuman serta membayar pemungut bola adalah di antaranya. Banyak rekannya yang menyarankan untuk meninggalkan hobinya itu. Namun olahraga sudah merasuk dalam diri Irwan sejak kecil.
Bukan Irwan kalau tak keukeuh dengan pendiriannya. Nyatanya lewat hobinya itulah bisnisnya berjalan. Toko kelontongnya berubah menjadi toko alat-alat olahraga, khususnya tenis lapangan. Sebagai ketua bidang pembinaan Pelti Majalengka, ia bisa berkenalan dengan para pejabat, baik di tingkat lokal maupun nasional. Salah satunya Moerdiono yang kala itu ketua umum PB Pelti. "Saya diperkenalkan kepada salah seorang manajer perusahaan Korea yang sedang memasarkan raket tenis melalui pelatih."
Ia pun semakin akrab dengan pengusaha Korea itu. Di kemudian hari hubungan itu berkembang menjadi persaudaraan. Satu saat, ia disarankan membangun industri pembuatan bola. Mulanya, ia tak begitu menanggapi. Namun setelah dia pertimbangkan, di antaranya bisa menjadi industri rumahan yang dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat, saran itu dia jalankan.
Pola industri rumahan sesuai untuk kondisi daerahnya. "Tahu sendiri kondisi Majalengka. Bagi mereka uang Rp 1.000,- sangat berarti," ungkapnya. Selama menunggu masa panen, banyak penduduk Majalengka yang bekerja sebagai tukang gali di Bandung maupun Jakarta. Sebagai kenek dan sopir Irwan tentu hafal sekali kapan mereka berangkat dan kembali. Adanya industri rumahan, selain meningkatkan pendapatan juga mencegah terjadinya arus urbanisasi.
Ekspor malah rugi
Naluri bisnis Irwan pun terusik. Apalagi pasar bola (jahit) masih terbuka lebar dan saat itu memang sedang booming. Pasar dunia dikuasai Pakistan (70%) serta Cina (10%). Sementara Vietnam pun mulai melirik dengan pemikiran serupa dengan Irwan bahwa industri rumahan bisa menampung ribuan perajin. Industri di Majalengka hanyalah gula, yang besar kemungkinan akan dipindahkan ke luar Jawa. Sedangkan industri genting sudah kembang kempis dan pertanian tak didukung oleh kesuburan tanah.
Usaha ke arah industri rumahan pun segera diwujudkan. Sejak semula Irwan sudah sadar akan arti kualitas sumber daya manusia. Maka pada 1993, bermodalkan pinjaman bank Rp 350 juta, ia "menyelundupkan" 20 orang pemuda Majalengka untuk menimba ilmu praktis ke pabrik bola di Korea tanpa sepengetahuan pimpinan pabrik itu. Sisa duitnya dipakai untuk mengimpor sejumlah peralatan dan membangun pabrik. Itulah langkah pertama Irwan menanggapi saran "saudaranya" dari Korea itu.
Langkah berikutnya menarik ke-20 pemuda itu pada 1994 setelah tiga bulan menimba ilmu pembuatan bola. Jadilah mereka pionir industri rumahan pembuatan bola di Kadipaten. Proyek awal yang mereka kerjakan menggarap pesanan bola dari mitra kerja di Korea tadi. Sebagai permulaan, menggarap 2.000 buah bola sebulan sudah lumayan. Berhubung pesanan, mereknya pun pesanan pula, yakni "Action".
Pelan namun pasti, kapasitas produk bola-bola Irwan meningkat (5.000 buah tahun 1995, 10.000 tahun 1996, sampai rata-rata 15.000 kini). Sebagian besar memang pesanan, desain dan merek berasal dari pemesan. Ordernya berdatangan dari luar negeri, seperti Uni Emirat Arab (dengan merek "Alhasad") maupun AS (di antaranya dengan merek "Spalding").
Sedangkan Irwan memberi label bola produknya sendiri dengan nama "Triple S", yang diambil dari nama Sinja Santika Sport. Sinja kependekan dari Sinar Jaya, nama toko peralatan olahraganya. "Mau bikin PT sudah ada yang menggunakan nama Sinar Jaya," ungkap Irwan ketika akhirnya ia mendirikan koperasi Sinar Jaya untuk menghimpun sekitar seribuan pengrajin bola. Dengan sistem koperasi Irwan mencoba menyatukan mata rantai sebuah industri. Perajin tidak perlu pusing-pusing memikirkan bahan baku maupun pemasaran bolanya.
Dari pabriknya seluas 1.000 m2 di Kampung Liangjulang, Kadipaten, Irwan melakukan finishing touch terhadap bola-bola produknya sebelum dilempar ke pasaran. "Sayang, hari ini listrik sedang padam sehingga kegiatan praktis terhenti," katanya ketika dijumpai di pabriknya.
Kesuksesan tak ia raih dengan gampang. Sebelumnya ia lebih banyak mengerjakan bola yang dipesan oleh pabrik produsen bola serupa. Melalui bisnis marklon (memproduksi bola dengan merek dagang orang lain) itu Irwan memang bisa menempatkan Majalengka sebagai sentral pembuat bola kelas dunia. Namun sistem itu justru sering membuat dirinya tertipu. Selain dikenai harga murah, beberapa kali produk pesanan yang dia kirim ditolak oleh pabrik pemesan dengan alasan rusak. Tapi barang yang ditolak itu tidak dikembalikan ketika diminta untuk dipelajari kerusakannya. Usahanya kelimpungan dan Irwan sempat menjual harta bendanya termasuk tanah untuk menutupi kerugian yang ditimbulkan.
Belakangan ia mencoba melakukan ekspor sendiri. Meski hanya berpendidikan SMP bapak tiga anak ini - dua kuliah di ITB dan satu di Pondok Pesantren Gontor - tak putus asa. Semula dia mengira, melakukan ekspor sama seperti menjual produk di dalam negeri. Ternyata tidak.
Ketika mengikuti suatu Pameran Produk Ekspor di Jakarta pada 1995, ia bertemu calon pembeli dari Singapura. Bola yang dipesan lumayan juga, 1.000 biji. Namun sampai batas waktu L/C (letter of credit) hampir habis, ia belum juga mengirimkan barangnya. Padahal pesanan itu sudah selesai dikerjakan. Irwan bertambah bingung ketika ditelepon langsung oleh calon pembeli sebab ia tidak tahu bagaimana cara mengirim barangnya. Akhirnya ia ketemu pedagang dari India yang ingin membantu. Karena sudah pasrah, ia mengangguk saja ketika diberi tahu rincian biaya untuk mengirim barang itu. Ekspor perdananya itu akan selalu dia kenang. Bukan karena sukses, tapi karena gagal dan ia rugi Rp 2,5 juta!
Kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda tampaknya mengena betul dalam sepak terjang bisnis Irwan. Setelah kegagalan yang dialaminya itu Irwan menyadari kekeliruannya akibat ia buta soal seluk beluk administrasi ekspor. Ia lalu mengikuti pelatihan yang diadakan oleh pihak Pemda Kabupaten Majalengka dan instansi terkait, Depnaker, Deperindag, serta Yayasan Dharma Bakti Astra. Setelah tergabung dengan Astra dalam pola kemitraan, usaha Irwan "laris manis tanjung kimpul".
30% untuk GNOTA
Saat ini Irwan terus berusaha mempertahankan apa yang sudah dicapai sambil meningkatkan kapasitas ekspor produk dengan merek sendiri, Triple's. Perusahaannya memiliki karyawan tetap 30 orang, sementara jumlah perajinnya ribuan orang yang tergabung dalam Koperasi Sinar Jaya. Mereka tersebar di 17 kecamatan di tiga kabupaten, Majalengka, Sukabumi, dan Purwakarta. Menurut dia, kapasitas produksi saat ini yang 15.000 buah per bulan bisa ditingkatkan menjadi 25.000 buah per bulan dengan terus menambah jumlah perajin.
Bola yang dihasilkan adalah bola jahit berkualitas internasional. Bukan bola tempel yang tidak memenuhi standar internasional. Hingga kini semua bahan diproduksi sendiri, kecuali bleder (bola dalam) yang masih harus didatangkan dari Jakarta.
Mengingat produknya bersifat hand made (buatan tangan) maka kontrol kualitas menjadi penting. Irwan punya trik cukup jitu untuk mengontrol mutu. Pada tahap awal, perajin hanya boleh membuat bola setengah jadi. Maksudnya, belum dijahit seluruhnya. Di balik potongan kulit bola tertulis nama si pembuat. "Ini untuk memudahkan saja. Kalau bola itu belum sempurna garapannya, gampang untuk mengetahui siapa pembuatnya (sehingga mudah mengontrolnya)," kata Irwan.
Oleh Irwan, bola-bola setengah jadi itu dikumpulkan di pabriknya untuk dilakukan pengontrolan kualitas bola. Bola yang memenuhi standar langsung dilakukan finishing touch, sementara yang belum memenuhi standar ditandai bagian mana saja yang perlu diperbaiki. Bola itu kemudian dikembalikan ke perajin untuk diselesaikan atau diperbaiki. Pada kasus bola yang belum sempurna bisa dilempar ke perajin yang sudah mumpuni. "Ada sembilan tahap yang harus dilakukan dalam proses quality control ini," ujar Irwan.
Soal mutu memang boleh diuji. "Lihat pantulannya! Bola saya, meski belum dipompa, terlihat lebih ringan dibandingkan dengan bola lain (buatan dalam negeri) yang sudah dipompa. Bola saya, kalau dipompa nanti bertambah ringan, sedangkan yang satunya akan bertambah berat," jelas Irwan. Suara akibat pantulan pun sangat berbeda. Seperti iklan sebuah mobil, suara pantulan bola buatan Irwan nyaris tak terdengar bila dibandingkan dengan bola lain.
Tak heran kalau pesanan datang dari berbagai negara. "Di Malaysia produk kita paling laku," tuturnya. Kemudian ia menunjukkan faksimili dari Kanada yang memesan bola dengan merek dan logo dari mereka dan belum sempat dijawab. Saat itu ia sedang sibuk mempersiapkan keikutsertaannya di Pameran Produk Ekspor. "Sekalian di Jakarta saja membalasnya," katanya.
Namun puncak dari semua itu ialah pesanan dari panitia Piala Dunia 1998 di Prancis. Bukan saja karena nilainya yang lumayan besar, namun juga kerena produknya memperoleh sertifikat CE Mark Standard International untuk memenuhi persyaratan standar mutu yang dituntut Piala Dunia. Sertifikat itu pun tak pelak merupakan tiket untuk menggelindingkan produk bola sepaknya di lapangan-lapangan sepak bola di kawasan Uni Eropa. Perolehan sertifikat yang dikeluarkan pada 10 September 1997 itu berkat kemitraannya dengan Astra. "Mereka 'kan memiliki relasi dan lobi yang luas," jelasnya.
Kesempatan memperoleh tender di Piala Dunia bermula ketika ia mengikuti rombongan Menko Prodis Hartarto menghadiri forum promosi dagang sedunia (ITPC) di Belanda, Januari 1996. Dalam forum itu ia bertemu Harry Romies, pemilik 17 jaringan pasar swalayan di Eopa. Dari mitra itulah pesanan berasal. Dengan harga setiap bolanya yang Rp 60.000,- itu, Irwan patut berbangga sebab mampu mengalahkan Pakistan yang menawarkan dengan harga yang lebih murah. Tiga bulan kemudian, pesanan perdana sebanyak 7.500 buah pun berhasil digenggamnya.
Berhubung itu bola pesanan, Irwan tak bisa mencantumkan merek "Triple S" pada bola yang dipakai pada Piala Dunia nanti. Merek yang nongol adalah "Smits".
Tak tersangkal lagi Irwan telah mengukuhkan dirinya sebagai raja (pembuat) bola di Indonesia. Sembilan dari sepuluh bolanya berkelana di lapangan-lapangan sepak bola manca negara. Namun Irwan masih menyimpan obsesi bagi produk bola tendangnya untuk memenangkan pasar dalam negeri yang dikuasai oleh bola-bola impor.
Ia juga mencoba menjalin hubungan dengan pihak terkait untuk menjadi pemasok bola bagi sekolah-sekolah di Indonesia. "Bayangkan kalau dari sekitar 170.000 sekolah di Indonesia memesan satu bola saja," ujarnya. Kalau itu tercapai, obsesi Irwan lainnya pun - yakni ikut mengentaskan kemiskinan - akan terwujud. Sebab 30% dari nilai order di atas akan disumbangkan ke GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh). (Yds Agus Surono)