|
|
|
| MELONGOK "SEKOLAH" EKSPOR-IMPOR |
Gara-gara tak paham seluk-beluk administrasi ekspor, seorang pengusaha yang mencoba melakukan ekspor perdana produk bola sepaknya mengalami kerugian. Padahal kalau dia tahu bahwa soal ekspor-mengekspor ada "sekolah"-nya, kerugian mungkin tak terjadi. Ilmu ekspor-mengekspor itu setidaknya bisa digali lewat PPEI (Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia) ataupun LM-Patra, keduanya di Jakarta.
Di zaman rupiah lagi jatuh macam sekarang, usaha berorientasi ekspor menjadi peluang yang cukup menguntungkan. Mungkin tak sedikit pengusaha, terutama golongan kecil ataupun menengah, juga ingin melayani pasar luar negeri dengan produk barangnya tetapi terbentur pada minimnya kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan akan seluk beluk ekspor. Karena itu cita-cita melakukan ekspor menjadi terhambat.
Sebetulnya sudah sejak lama dibentuk lembaga pendidikan dan pelatihan ekspor guna mengatasi hambatan itu. Misalnya saja Pendidikan dan Pelatihan Ekspor Indonesia (PPEI) yang terletak di Jl. S. Parman, Jakarta. Di lembaga yang berada di bawah Deperindag RI ini,
calon pengusaha, pengusaha kecil atau menengah, karyawan perusahaan produsen komoditas ekspor, atau siapa pun, bisa menimba ilmu dan keterampilan bidang ekspor yang lebih detail dan applicable. Atau Lembaga Kursus LM-Patra entera Mahardika Patriot Nusantara) yang berlokasi di Gedung Patra Jasa Lt. 8, Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
Peserta membeludak
Beberapa bentuk paket yang ditawarkan oleh unit pelaksana teknis di lingkungan Deperindag itu, misalnya, paket pelatihan dua hari hingga beberapa minggu untuk meningkatkan kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan di bidang ekspor. Atau lewat pendidikan setara D1 yang berlangsung selama enam atau tiga bulan. Untuk tahun 1998/1999 ini direncanakan dibuka program pelatihan jarak jauh dengan menggunakan perangkat CD-ROM. Dengan program ini diharapkan, kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan eksportir akan meningkat; jumlah pengusaha kecil dan menengah yang mengekspor produknya bertambah; kemampuan eksportir dalam mendesain produknya meningkat; serta jumlah pengusaha berorientasi ke pasar domestik yang beralih menjadi eksportir aktif diharapkan bertambah.
Sementara Lembaga Kursus LM-Patra menawarkan paket belajar 50 jam untuk mendalami pengetahuan dan keterampilan manajemen ekspor maupun impor. Di antaranya mengenai prosedur ekspor, letter of credit (L/C), asuransi ekspor, strategi memperkecil risiko L/C, pengapalan, serta tatacara pengisian berbagai dokumen ekspor.
Memang, pendidikan atau pelatihan lebih bersifat penyiapan sumber daya manusia di bidang ekspor. Namun, peserta pendidikan dan pelatihan itu tidak otomatis sukses dalam melakukan ekspor. Berhasil tidaknya peserta atau perusahaan tempat peserta bekerja masih tergantung banyak hal. Yang pasti, mereka setidaknya telah mendapat bekal tambahan pengetahuan dan keterampilan di bidang ekspor.
Lagi pula, di masa sulit akhir-akhir ini, diklat ekspor menjadi pilihan tepat. Buktinya, dua lembaga diklat itu belakangan ini kewalahan menerima peserta. Tahun lalu, misalnya, peserta di PPEI Deperindag mencapai 1.900 orang dari kapasitas maksimum yang cuma 1.100 orang. Bahkan, beberapa tema pelatihan tertentu dibanjiri peserta, sampai-sampai pihak pengelola terpaksa membagi mereka menjadi beberapa "kloter".
Di LM-Patra pun demikian halnya. Peserta kursus ekspor-impor melonjak sejak terjadi krisis moneter dan ekonomi. Sebelumnya, peserta pelatihan ekspor-impor di lembaga ini cuma 200 orang terhitung sejak didirikan dua tahun silam. Kondisi itu berubah drastis sejak Februari 1998. Sampai akhir April lalu peserta pelatihan ekspor-impor sudah mencapai 23 kelas, masing-masing kelas pesertanya 20 - 35 orang.
Disertai fasilitas praktik
PPEI Deperindag merupakan satu-satunya pusat pendidikan dan pelatihan bantuan Jepang yang masih eksis di Asia Tenggara. Di lembaga ini, peserta mendapat pelatihan bidang pemasaran ekspor, pengujian dan pengendalian mutu, manajemen pameran, dan bahasa niaga. Selain teori, peserta diklat juga mendapatkan kesempatan untuk praktik. Pelatihan digelar secara periodik dalam bentuk paket-paket pelatihan. Untuk seluruh pelatihan, PPEI melibatkan 16 instruktur yang semuanya staf PPEI. Metode pelatihan meliputi ceramah, diskusi, latihan, peragaan, atau studi kasus. Khusus untuk pelatihan yang diselenggarakan atas kerja sama dengan pemerintah Jepang (lewat Japan International Corporation Agency, JICA), sebagian besar instrukturnya berasal dari Jepang.
Pelatihan pemasaran ekspor cakupannya meliputi perdagangan ekspor, manajemen ekspor-impor, penyelesaian dokumen ekspor, sistem pembayaran ekspor, penerobosan pasar ekspor, teknik negosiasi, dan kontrak dagang. Untuk menunjang pelatihan ini, PPEI dilengkapi fasilitas pendukung. Misalnya, ruang khusus untuk praktik bernegosiasi. Di dalam ruangan yang didesain menyerupai ruang tamu itu, peserta bisa mempraktikkan kiat-kiat bernegosiasi bersama-sama peserta lain.
Pada pelatihan pengawasan mutu komoditi ekspor, materinya terfokus pada empat jenis produk, yakni furniture dan produk kayu atau rotan, tekstil dan garmen, karet dan produk karet, serta pangan. Menurut Dra. Nus Nuzulia Ishak, direktur PPEI Deperindag, empat produk ekspor itu dipilih lantaran produk itu termasuk produk andalan yang tidak tergantung pada import content.
Untuk pelatihan ini tersedia empat ruang laboratorium tempat peserta melakukan praktikum, yakni dalam hal pengawasan mutu karet dan barang jadi karet, mebel kayu dan rotan, tekstil dan garmen, serta makanan (makanan olahan dan beku). Pada laboratorium pangan, berbagai produk pangan yang hendak diekspor bisa diuji, meliputi pengujian kimia, fisika, mikrobiologi, dan uji sensori. Di laboratorium tekstil bisa dilakukan pengujian bahan, kekuatan, dan pewarnaan tekstil, serta kualitas garmen. Di laboratorium karet, uji kimiawi dan fisik berbagai produk karet bisa dilakukan. Jenis pengujian terbanyak di laboratorium produk kayu, yang meliputi uji kekuatan kemasan, kekuatan produk, kekuatan cat yang melekat pada produk kayu terhadap goresan, tumbukan benda keras, dan perubahan cuaca.
Lewat sejumlah laboratorium itu peserta bisa mengetahui apa dan bagaimana pengujian dilakukan terhadap suatu produk yang hendak diekspor. Selain itu, peserta bisa mengetahui perbedaan standar pengujian di tiap-tiap negara tujuan ekspor. Jepang dan Amerika, misalnya, masing-masing memiliki standar pengujian sendiri-sendiri terhadap suatu produk.
Dalam pelatihan manajemen pameran dagang, antara lain diajarkan tata cara menata arena pameran. Untuk mendukung pelatihan ini tersedia fasilitas berupa ruang pamer. Di sini peserta pelatihan dapat melihat contoh menata atau memajang produk yang dipamerkan.
Di luar semua itu unsur penting yang perlu diajarkan adalah pelatihan bahasa niaga, yang meliputi bahasa Jepang, Inggris, dan Mandarin. Dalam pelatihan ini peserta diarahkan untuk terampil dalam menjawab permintaan, membuat leaflet, dan komunikasi bisnis lain. Untuk keperluan praktik, PPEI melengkapi diri dengan laboratorium bahasa lengkap dengan perangkat audio-visualnya.
Contoh pelatihan
Salah satu contoh tema pelatihan misalnya "Pelatihan Merchandiser Garmen". Lewat pelatihan selama dua hari ini peserta, terutama merchandiser atau calon merchandiser, diharapkan bisa melengkapi atau meningkatkan kemampuan dalam melakukan evaluasi produk, serta mampu memperhitungkan waktu dan biaya produksi. Selama pelatihan, mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan menyangkut analisis dan pengetahuan produk, trend produk, syarat mutu produk tekstil dan garmen, serta pengangkutan produk.
Ada juga "Pelatihan Peningkatan Mutu Desain Konstruksi, Finishing Mebel, dan Barang Jadi Kayu" yang memerlukan waktu empat hari. Materinya, antara lain pengetahuan tentang pemilihan bahan baku; karakteristik, keawetan, dan keterawatan kayu; syarat umum yang sesuai kebutuhan konsumen; dan perhitungan biaya produksi. Di samping itu, peserta dapat melakukan praktik uji kekuatan konstruksi mebel dan aplikasi pelapisan cat pada mebel dan barang jadi kayu. Usai pelatihan peserta diharapkan paham tentang mutu, desain, konstruksi, proses pengolahan, dan finishing produksi mebel dan barang jadi kayu, perhitungan biaya, serta selera konsumen.
Tema penting lainnya adalah "Pelatihan Kontrak Dagang Internasional" dan "Pelatihan Transaksi Internasional". Keduanya berlangsung selama dua hari. Dalam "Pelatihan Kontrak Dagang Internasional" peserta mendapatkan pengetahuan dan pemahaman tentang hukum dagang internasional, terminologi dan kondisi kontrak, jenis-jenis perjanjian internasional, pemasaran, dan cara menyelesaikan perselisihan. Sedangkan dalam "Pelatihan Transaksi Internasional" peserta memperoleh pengetahuan dan pemahaman soal transaksi internasional. Peserta juga mendapat keterampilan dalam hal presentasi produk, membuat media publikasi sampai keterampilan bicara lewat telepon. Bahkan, peserta akan memperoleh keterampilan melakukan negosiasi dengan calon mitra dari mancanegara, merancang strategi bisnis yang tepat, dan melakukan diplomasi dagang.
Untuk yang sifatnya administratif praktis, ada "Pelatihan Prosedur dan Penyelesaian Dokumen Ekspor". Dalam pelatihan ini antara lain diajarkan hal-hal yang menyangkut prosedur ekspor, cara mengisi dan membaca dokumen komersial dan finansial, kepabeanan, serta pajak ekspor dan bea masuk.
Selama atau setelah mengikuti pelatihan, peserta tetap bisa berkonsultasi. Pelayanan ini diberikan oleh tim konsultasi yang dibentuk PPEI Deperindag dan tim ahli dari JICA. Tersedia pula Inkubator Bisnis Ekspor bagi para industriawan kecil maupun menengah dalam upaya memperluas pasar ekspor dengan mengembangkan produk-produk potensial ekspor.
Setara D1
Selain pelatihan, pada tahun ini PPEI juga membuka program pendidikan. Tes masuknya pada bulan Juni, pengumumannya Agustus 1998, dan perkuliahan dimulai September 1998.
Program pendidikan setara D1 ini berlangsung enam bulan. Pesertanya diutamakan lulusan baru SMU ataupun SMEA. Yang diajarkan, keterampilan manajemen ekspor-impor atau perdagangan internasional. Peserta dididik diharapkan agar bisa berkorespondensi, melakukan transaksi internasional, dll. "Kami mencoba mereka supaya bisa menjadi staf ekspor. Jadi output-nya adalah junior staff di bidang pemasaran ekspor," ujar Nus.
Sebanyak 15 dosen disiapkan untuk memberikan pendidikan itu. Mereka adalah dosen dengan pendidikan S2, kebanyakan staf Deperindag, dan beberapa praktisi.
Pendidikan jangka panjang lainnya adalah sensory analysis untuk produk makanan yang berlangsung selama tiga bulan. Pendidikan ini terutama untuk karyawan industri pangan. Selama pendidikan peserta diajari berbagai metode dan teknik sensory analysis. Indera peserta juga dilatih untuk menjadi instrumen yang bisa menilai mutu sensori produk. Pendidikan ini penting bagi dunia industri pangan dalam melakukan product development, product research, product optimization, dsb.
Pelatihan lengkap
Berbeda dengan lembaga PPEI Deperindag, LM-Patra tak cuma menyajikan pelatihan ekspor, tapi juga impor. "Soalnya ekspor di sini (Indonesia) berarti impor di negara tujuan. Jadi, di samping mempelajari ekspor, kami ajarkan pula hal ihwal impor di negara lain," ujar Nasrul Amri, direktur LM-Patra.
Metodologi pelatihannya tak ubahnya sebuah kursus. Dengan materi utama manajemen ekspor yang sifatnya administratif dan informatif. Yang bersifat administratif meliputi prosedur ekspor atau impor dengan L/C atau non-L/C; mekanisme, jenis penggunaan, pembukaan, dan perubahan L/C; metode pembayaran ekspor atau impor dan segala risikonya; dsb. Yang bersifat informatif, misalnya kebijakan pemerintah di bidang ekspor-impor serta negara asal impor atau tujuan ekspor yang dilarang. Selain itu ada materi penunjang yang disampaikan kepada peserta, di antaranya tentang kepabeanan, pengapalan, dan asuransi ekspor. Semua materi ini dituangkan dalam beberapa modul berbentuk buku.
Hal-hal yang biasanya menjadi kendala dalam melakukan kegiatan ekspor juga dijelaskan. Di antaranya menyangkut quality control dan kontinuitas produk. Bahkan, tips-tips menembus birokrasi pun diajarkan. "Tapi ini tidak tertulis," tambah Nasrul.
Di samping pelatihan yang bersifat teoritis, menurut Nasrul, peserta juga mendapat kesempatan melakukan praktik. Di antaranya, praktik pengisian berbagai dokumen yang diperlukan dalam pelaksanaan ekspor-impor. Perbandingan teori dan praktik ini kira-kira 40 : 60.
Total waktu belajar adalah 50 jam. Bisa pagi hari ataupun malam hari dengan frekuensi tiga kali seminggu, atau setiap hari. Waktu belajar bisa disesuaikan keinginan peserta. Selama masa itu peserta akan dibimbing oleh instruktur yang umumnya praktisi di bidangnya, yakni ahli perbankan, perindustrian dan perdagangan, kepabeanan, jasa pelayaran atau penerbangan, serta asuransi ekspor. Seluruhnya 15 orang, sebagian besar sarjana meski ada pula yang S2 dan D3. Jadi selama mengikuti kursus, peserta akan bertemu dengan 5 - 6 instruktur.(Gde/Rye)
|