|
|
PENARI, PEMBATIK, dan
EMPU KERIS
Sosok budayawan komplet seperti KRT Harjonagoro jumlahnya tak banyak. Dengan totalitas jiwa, ia tak hanya mendalami budaya Jawa tapi sekaligus menghirup tata nilai dan melakoninya dalam kehidupan nyata. Tarian Jawa sudah mendarah daging sejak bocah, berikutnya menggeluti baik, sampai kemudian menguasai ilmu perkerisan. "Saya berutang budi kepada penasihat dan guru saya, KRT Harjonagoro ...," tulis Iwan Tirta, yang batiknya dipakai para kepala negara anggota APEC itu dalam bukunya: BATIK a Play of Light and Shades.
KRT Harjonagoro, pelopor "Batik Indonesia", sampai sekarang masih menghasilkan batik tulis yang diincar kolektor dalam dan luar negeri. Ia juga empu keris, penari, kolektor benda seni dan budayawan yang menekuni sastra Jawa, arkeologi dan arsitektur. Pagi bersama para pangeran, siang dengan rakyat "Saya lahir tanggal 11 Mei 1931 sebagai putra sulung keluarga Cina," cerita Kanjeng Raden Tumenggung Harjonagoro yang juga dikenal sebagai Go Tik Swan. Karena ayah dan ibunya saat itu sibuk meniti tangga kemapanan, Go Tik Swan diasuh kakeknya dari pihak ibu. Sang kakek, Tjan Khay Sing, adalah seorang produsen batik yang mapan di Solo. Tempat pembatikannya ada empat: dua di Kratonan, satu di Ngapeman dan satu lagi di Kestalan. Jumlah karyawannya sekitar l.000 orang. "Semasa kecil, saya bermain di antara tukang cap, bocah ngerok-ngumbah (anak yang melepaskan lilin/malam dari kain dan mencucinya), wong nyoga (orang yang membubuhkan zat warna coklat dari kulit pohon soga) dan pengobeng batik (orang yang menggambari kain dengan canting yang mengalirkan malam)," cerita Harjonagoro. "Saya senang mendengarkan mereka nembang (bernyanyi) dan mendongeng tentang Dewi Sri, gerhana matahari, dan sebagainya. Dari mereka saya mulai mengenal mocopat (puisi Jawa tradisional yang dinyanyikan), pedalangan, gending, aksara jawa (untuk mencatat utang!), beksan (tarian Jawa) dan tradisi pedesaan." Ia pun tertarik memperhatikan keris mereka dan arca yang ditemukan di pelosok-pelosok. Kalau di rumah kakeknya bermain dengan orang-orang desa, maka di sekolah ia bergaul dengan para pangeran dari keraton. Maklum ia bersekolah di Neutrale Europesche Lagere School, yaitu sekolah Belanda untuk anak-anak pembesar Belanda, anak-anak ningrat dan anak-anak pemuka masyarakat. Go Tik Swan bisa bersekolah di situ sebab keluarganya dari pihak ayah maupun ibu adalah pemuka masyarakat Cina. Ayahnya cucu Lieutenant der Chinezen (pemimpin masyarakat Cina setempat, berpangkat letnan tituler) dari Boyolali sedangkan ibunya cucu Lieutenant der Chinezen dari Surakarta.
Tidak jauh dari rumah kakeknya, tinggallah Pangeran Hamidjojo, putra Paku Buwana X. Ia seorang indolog lulusan Universitas Leiden dan juga penari Jawa klasik. Di rumahnya selalu diadakan latihan tari yang sejak awal sudah mempesona Go Tik Swan. Sementara itu Pangeran Prabuwinoto membangkitkan minat Go Tik Swan pada karawitan Jawa. Telanjur sayang Tahun l949, saat Belanda menjalankan Agresi Militer, Balai Kota Solo dibakar. Karena orang tuanya mengungsi ke Semarang, Go Tik Swan yang masih remaja menunggui rumah mereka di Solo. Ke rumahnya itu muncullah utusan pemerintah daerah Republik, menanyakan apakah rumah itu boleh dipakai untuk Balaikota Sementara. "Monggo (Silakan)," jawab Go Tik Swan. Di situlah ia berkenalan dengan para pejuang bangsa ini seperti Slamet Rijadi, Gatot Soebroto dan tokoh-tokoh perjuangan lain. Seusai perang, Go Tik Swan belajar di sekolah menengah pertama yang berpengantar bahasa Belanda (MULO) di Semarang. Lulus dari VHO (Voortgezet Hoger Onderwijs, sebuah SMU) di Semarang, orang tuanya ingin ia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Namun ia sudah terlanjur sayang dan jatuh cinta pada kebudayaan Jawa. "Saya diam-diam masuk jurusan Sastra Jawa di Fakultas Sastra UI. Ketika ayah tahu, beliau khawatir saya tidak bisa mencari nafkah yang memadai dengan memilih bidang itu," ceritanya. Di Fakultas Sastra, ada dua pengajar yang dianggapnya berpengaruh besar terhadapnya: Profesor Dr. Tjan Tjoe Siem, seorang ahli sastra Jawa lulusan Leiden yang berasal dari Solo dan Profesor Dr. R.M.Ng. Poerbatjaraka, seorang autodidak yang legendaris.
"Tanpa menjalani pendidikan formal di universitas, Pak Poerba bisa memperoleh gelar doktor dari Universitas Leiden dengan mengupas "Adiparwa". Buku "Adiparwa" yang penuh coretan beliau dan digunakannya dalam merebut gelar doktor, diberikannya kepada saya," tambahnya. Menarik perhatian Soekarno "Saat belajar di Jakarta, paling tidak, seminggu tiga kali saya datang ke rumah Pak Poerba yang saat itu tinggal di Jl. Sumenep. Di sana saya latihan menari dibimbing Pak Kodrat dan Pak Wiradat, adik-adik beliau. Lalu dalam Dies Natalis U.I. kami diundang menari di istana." Rupanya Presiden RI waktu itu, Ir. Soekarno, terkesan pada pemuda keturunan yang bisa menarikan tarian Jawa dengan bagusnya. Zaman itu memang boleh dikatakan tidak ada WNI yang tertarik menari Jawa atau memakai nama Indonesia, Go Tik Swan sudah mempunyai nama Hardjono. Soekarno yang mencita-citakan pembauran itu lantas memberi perhatian khusus kepada Go Tik Swan. Apalagi waktu itu sebulan sekali ada acara kesenian di istana dan Hardjono rajin membantu Soewito Santoso menyelenggarakannya. Kemudian ia juga menjadi pengurus Ikatan Seni Tari Indonesia. Bung Karno konon biasa menerima tamu pagi-pagi, mulai pukul 06:00. Tidak jarang Hardjono juga kelihatan di sana. Ketika ia bercerita akan membangun rumah di Surakarta, Soekarno yang arsitek lulusan Technische Hogeschool di Bandung (sekarang ITB) itu ingin melihat gambar rumah tersebut. "Awal tahun 50-an 'kan model rumah memakai teras, " cerita Harjonagoro. "Teras depan rumah saja dirancang berbentuk bundar oleh arsitek Belanda. Gaya-nya art deco. Presiden Soekarno lantas berkata," Di masa yang akan datang nanti, jalan besar di depan rumahmu akan semakin ramai dilalui orang maupun kendaraan. Tidak akan nikmat lagi duduk-duduk di situ. Lebih baik kamu buat teras yang luas di belakang."
"Di sinilah tempat saya menerima," katanya. Tamu-tamunya beragam, mulai menteri sampai wartawan, ilmuwan sampai duta besar. Pelopor 'Batik Indonesia' Mengetahui kalau keluarga Go Tik Swan Hardjono turun-temurun mengusahakan batik, Soekarno lantas menyarankan agar ia menciptakan "Batik Indonesia". Anggota Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia itu (Ketuanya Emil Salim) merasa tergugah. Ia "pulang kampung" untuk mendalami segala sesuatu tentang batik, termasuk sejarah dan falsafahnya. Ia beruntung karena disayangi oleh ibunda Susuhunan Paku Buwana XII yang memiliki pola-pola batik pusaka. Pola-pola batik langka yang tadinya tidak dikenal umum maupun pola-pola tradisional lain digalinya dan dikembangkannya tanpa menghilangkan ciri dan maknanya yang hakiki. Pola yang sudah dikembangkan itu diberinya warna-warna baru yang cerah, bukan hanya coklat, biru dan putih kekuningan seperti yang lazim dijumpai pada batik Solo-Yogya. Lahirlah yang disebut "Batik Indonesia".
Saat itu warna-warna cerah cuma dipakai pada batik Pekalongan, namun motif batik Pekalongan kebanyakan buketan (karangan bunga aneka warna) yang berbeda sekali dari motif batik Vorstenlanden (Solo dan Yogya) yang biasanya sarat makna. Dikoleksi museum mancanegara Terobosan baru yang dilatar belakangi pemahaman yang mendalam tentang falsafah batik, selera yang baik dalam merancang pola, komposisi dan warna serta kehalusan pengerjaannya, menyebabkan batik Go Tik Swan menjadi rebutan kaum wanita golongan atas. Apalagi pemasarannya dilakukan oleh Ibu Soed, penggubah lagu anak-anak yang dekat dengan Bung Karno dan luas pergaulannya. Ibu Soed juga bisa memberi saran-saran yang berharga karena seleranya baik dalam memadukan warna dsb. Ibu Soed merupakan salah seorang wanita yang paling dikaguminya, di samping ibunya sendiri dan ibunda Susuhunan Paku Buwana XII.
Go Tik Swan pun mengajari Ibu Soed membuat batik. Nyonya Bintang Soedibjo itu kemudian kita kenal pula sebagai pembuat batik yang handal. Saat ini batik-batik Harjonagoro banyak yang menjadi koleksi museum-museum di Eropa, Amerika, Australia maupun koleksi pribadi orang-orang yang menghargai batik bermutu tinggi. Di masa Ir. Soekarno masih menjadi presiden, kalau ada tamu negara datang, maka Go Tik Swan sebagai anggota Panitia Negara Urusan Penerima Kepala Negara Asing bertanggung-jawab menyelenggarakan pameran batik di Istana Negara. Dari petani kembali ke petani Harjonagoro, penghasil batik tulis adiluhung itu tidak anti adanya pabrik-pabrik yang menghasilkan batik secara massal. "Karena pabrik-pabrik itu memberi nafkah kepada banyak orang kecil dan memperkenalkan pola dan motif yang tadinya eksklusif kepada masyarakat banyak. Orang Indonesia maupun asing jadi berkesempatan menghargai tradisi kita," dalihnya. Yang disedihkannya ialah kalau pesona magis dan historis dari batik dikalahkan oleh alasan-alasan komersial. Saat ini, di halaman belakang rumahnya, ada sebuah bangsal yang luas, beratap tinggi dan bersih. Dindingnya dari jalinan gedek yang artistik, rancangan Harjonagoro sendiri. Di dalamnya ada kira-kira sepuluh wanita lanjut usia sedang membatik dengan antengnya. Dari celah-celah gedek angin leluasa masuk, sehingga udara Solo yang panas terasa lebih sejuk di sana. "Falsafah batik sebenarnya berakar pada petani, yang dibawa masuk ke keraton, lalu diperbaiki dan diperhalus. Baru kemudian timbul falsafah batik yang tidak berpijak pada pertanian." "Karena berasal dari petani, mestinya harus mengalir kembali ke asalnya, yaitu masyarakat pertanian. Masyarakat itu, yang kini sudah bergeser menjadi masyarakat industri agraris dan sepanjang masa sengsara, mestinya diberi kesempatan mendapat bagian dari batik." Begitu keyakinan Harjonagoro yang pernah hidup di antara rakyat jelata (antara lain para pengrajin batik di rumah kakeknya) maupun lingkungan keraton. Menjadi Empu Keris Sejak menunjukkan kebolehan dan kepeduliannya pada kebudayaan, ia sering mendapat tugas muhibah dan diundang ke luar negeri untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Sementara itu di dalam negeri ia antara lain diangkat menjadi Ketua Pelaksana Art Gallery Suaka Budaya di Karaton Kasunanan Surakarta. Karena sibuk dengan batik dan kegiatan kebudayaan, akhirnya ia meninggalkan Fakultas Sastra UI setelah menjadi sarjana muda, untuk "mudik" ke Solo. Hardjono Gotikswan bertambah tenggelam dalam kebudayaan Jawa. Ia berusaha keras menyelami dan berhasil menguak tabir pengetahuan tentang keris (ilmu Tosan Aji) yang selama itu sangat dirahasiakan. Selain melakukan pelbagai penelitian di bidang kebudayaan, berpameran, dan menjadi pembicara tentang batik di mancanegara, ia juga mendirikan tempat pembuatan keris di Yogyakarta dengan bantuan The Ford Foundation dari AS serta membidani kelahiran hampir semua tempat pembuatan keris di Jawa dan Bali.
Yang menjadi kebanggaannya ialah tempat pembuatan keris di Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Surakarta di mana ia menjadi anggota Dewan Empu. Koleksinya disumbangkan ke negara Selain itu ia juga senang mengumpulkan benda-benda kuno yang tercecer di sana-sini. Ada jembatan batu di selokan kecil yang ketika diperiksa ternyata beraksara Jawa. Ada potongan batu di selokan yang ketika dibalikkan ternyata patung Durga. Ada lagi potongan-potongan batu yang ketika disambung-sambungnya menjadi arca Buddha. Benda-benda itu dibelinya dan dirawatnya baik-baik. Hasil jerih-payahnya selama berpuluh tahun itu dipajang sebagian di sebuah pendapa di samping rumahnya. Pendapa itu sendiri adalah sebuah bangunan bersejarah, yaitu tempat Paku Buwana I dinobatkan di awal abad XVIII. Bangunan itu dipindahkan dari tempat asalnya dan tampak dalam keadaan terawat sangat baik. Peninggalan sejarah yang berpuluh tahun dikumpulkannya dan dirawatnya dengan kasih sayang itu, pada tahun l985 dihibahkannya ke negara. Ia mengimbau para hartawan untuk menyelamatkan benda-benda bersejarah dengan membelinya lalu dikembalikan ke negara yang sering kekurangan dana. Ia merasa risau karena banyak orang yang mestinya berwewenang melestarikan peninggalan budaya ternyata kurang peduli, sehingga peninggalan itu terancam punah. Sebaliknya, ia memuji orang-orang seperti Joop Ave (mantan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi) yang katanya paham dan peduli. Setelah Soekarno meninggal, Go Tik Swan sempat kehilangan gairah merancang batik. Ia bahkan merasa tersisih, tidak dihargai dan jerih payahnya sia-sia. Kalau pujangga R.Ng.Ranggawarsita menyatakan protesnya terhadap situasi dengan "Serat Kala Tida" dan komponis Gesang dengan lagu Caping Gunung (yang mengingatkan para pejuang bahwa mereka diberi tempat berteduh dan nasi jagung oleh para petani di desa tapi setelah merdeka melupakan desa), maka protes Hardjono Gotikswan berupa batik kembang bangah. "Kembang bangah adalah bunga yang tumbuh di comberan. Karena mekar di tempat kotor dan berbau busuk, ia dijauhi orang," cerita Harjonagoro. Ternyata kreasinya itu mendapat banyak penghargaan sehingga harapannya tumbuh kembali. "Pola kembang bangah ini kebanggaan saya," katanya. Namun Susuhunan Paku Buwana XII menganggap Hardjono Gotikswan berjasa besar terhadap kebudayaan Jawa dan Keraton Surakarta. Bukankah ia tekun menggali, melestarikan, berbagi dan peduli pada peninggalan sejarah dan kebudayaan Jawa? Bukankah ia juga Ketua Presidium Museum Radya Pustaka dan menduduki jabatan penting di pengurusan banyak organisasi kebudayaan? Jadi Sunan menganugerahinya gelar bupati karaton kasunanan dan bahkan Bupati Sepuh, selain bintang jasa Sri Kabadya III. Sejak itu Hardjono Gotikswan yang Jawa lahir batin itu dikenal sebagai Kanjeng Raden Tumenggung Harjonagoro. Tentang nama Harjonagoro itu ada latar belakangnya. Kakek Buyut Hardjono Gotikswan, Tjan Sie Ing, yang Luitenant der Chinezen van Soerakarta itu merupakan orang pertama yang mendapat pacht (hak sewa) atas pasar yang paling besar di Surakarta, yaitu Pasar Harjonagoro. Nama KRT Harjonagoro bisa dijumpai di banyak sekali buku dan artikel tentang batik, di dalam maupun di luar negeri. Semua itu dikumpulkannya dengan saksama. Namun sayang kali ia belum mengikuti jejak teman sekolahnya, Julius Tahija (mantan Caltex dan mantan pemilik Bank Niaga) yang sudah menuliskan riwayat hidupnya yang menarik. (HI)
|
