Budaya menabung di bank masih belum menjangkau pelosok desa. Bisa jadi karena promosinya kurang atau mereka memang tidak punya uang lebih untuk ditabung. Pengalaman saya ini bisa menjadi salah satu contoh.
Desa yang saya kunjungi tersebut sebenarnya sudah bukan termasuk desa terbelakang lagi jika acuannya ketersediaan listrik. Jaringan listrik yang ada telah mampu menghidupkan beberapa TV warna yang dimiliki warga desa tersebut. Memang ada satu dua rumah yang belum memasang listrik. Mereka memang buruh tani yang kehidupannya sangat bersahaja. Dalam rangka karya sosial, di salah satu rumah tersebut saya berkunjung.
Bersama dua orang teman yang berasal dari NTT, saya masuk rumah tersebut sambil membawa bungkusan berisi bahan makanan. Sewaktu kami mengetuk pintu, kami dikejutkan oleh tangis pilu ibu tua pemilik rumah. Kami hanya menduga-duga apa yang terjadi dengannya. Mungkin ada keluarganya yang sakit parah atau meninggal dunia.
Ketika kami dipersilakan masuk, saya langsung bertanya, "Ada apa, Bu?"
"Oalah, Ngger ..., kambing saya dimakan rayap ..." katanya sambil menangis. Kami semua melongo, tidak tahu apa yang dimaksud oleh ibu tadi. Oleh sebab itu, kami memberanikan diri bertanya soal itu. Siapa tahu ada yang bisa kami bantu.
Menurut ibu itu, ia sudah setahun menyisihkan uang dari hasil memburuh. Uang tersebut akan digunakan untuk memperingati 1.000 hari meninggalnya suami tercinta. Ibu tadi menyimpan uangnya secara tradisional, yakni dimasukkan ke bambu tiang rumah yang sudah dilobangi, mirip celengan. Seminggu sebelum kami datang, ibu tersebut juga menjual kambing satu-satunya dan dimasukkan pula ke dalam celengan bambu tersebut.
Mendekati hari H, celengan tadi dibuka. Alangkah terkejutnya. Uang yang ia sisihkan sedikit demi sedikit ternyata digerogoti rayap! Dari luar memang bambu itu tampak utuh, tapi ternyata rayap telah masuk dan memangsa uang kertas milik ibu tadi.
Kami semua merasa kasihan. Segera kami turun tangan menyelamatkan uang yang tersisa. Menurut ibu itu, jumlah tabungannya sudah mencapai sekitar Rp 75.000,-. Sementara itu yang bisa terselamatkan hanya Rp 32.000,-.
Untuk memperingan beban ibu tersebut kami bergotong royong iuran menyumbang biaya 1.000 hari suaminya. Ketika pulang, kami tersenyum simpul mengingat ungkapan ibu tentang kambing di makan rayap. Hopo tumon. (Markus Basuki)