Juni 1998 | Pernik

Sop yang tak bisa dimakan
Kambing dimakan rayap
Sapi main bola
Geger terasi

sop yang tak bisa dimakan


Hari sudah malam ketika aku menginjakkan kaki di Pulau Madura dalam rangka berkunjung ke rumah saudara di Sumenep. Meski sudah larut, pelabuhan Kamal masih ramai. Kesan pertama terhadap masyarakat di sini, mereka sepertinya tak begitu peduli dengan pendatang. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Justru pedagang yang tak henti-hentinya merayu untuk singgah ke warungnya.

Dengan berlagak sok tahu, aku terus saja ke luar pelabuhan. Tujuannya, mencari penginapan yang sesuai kantong. Sekalian mengganjal perut yang sudah memanggil-manggil minta diisi, aku langsung masuk ke sebuah kedai.

"Makan Bu! Minumnya kopi," pesanku kepada ibu pemilik kedai yang sudah agak tua. "Wah, sobung Cak!" kata ibu itu tanpa melihatku. Wah, tampaknya di sini hanya tersedia satu macam menu saja, pikirku.

"Tak apa Bu, sop bung. Yang penting makan," kataku sambil duduk. Berhubung hari sudah larut malam, kuputuskan untuk membeli makanan tersebut. Entah bagaimana rasanya. Aku pikir sop bung lumayan bisa mengganjal perut meski bagiku sangat aneh. Di tempatku, bung (tunas pohon bambu) biasanya disayur. Pemilik warung itu tampak sedikit bingung. Ia memandangku dengan penuh selidik.

"Sobung, Cak! Sobung, ya, sobung!" kata ibu tadi dengan suara lebih keras.

"Tak apa-apa kok, Bu. Sop bung saya juga mau," jawabku sedikit kesal. Pemilik warung tadi tampak kebingungan dengan jawabanku.

Untung saja datang seorang satpam. Ia kemudian menjelaskan apa yang dimaksudkan oleh si ibu tadi. Ternyata, dalam bahasa Madura sobung itu artinya habis. Sedangkan dalam pendengaranku sobung adalah sop bung, varian lain dari sop.

Dengan rasa malu aku minta maaaf kepada ibu. Wah, gara-gara sok tahu, urusan perut dan penginapan malah terbengkelai. (Sugirman)

[ Kembali ke atas ]

kambing dimakan rayap


Budaya menabung di bank masih belum menjangkau pelosok desa. Bisa jadi karena promosinya kurang atau mereka memang tidak punya uang lebih untuk ditabung. Pengalaman saya ini bisa menjadi salah satu contoh.

Desa yang saya kunjungi tersebut sebenarnya sudah bukan termasuk desa terbelakang lagi jika acuannya ketersediaan listrik. Jaringan listrik yang ada telah mampu menghidupkan beberapa TV warna yang dimiliki warga desa tersebut. Memang ada satu dua rumah yang belum memasang listrik. Mereka memang buruh tani yang kehidupannya sangat bersahaja. Dalam rangka karya sosial, di salah satu rumah tersebut saya berkunjung.

Bersama dua orang teman yang berasal dari NTT, saya masuk rumah tersebut sambil membawa bungkusan berisi bahan makanan. Sewaktu kami mengetuk pintu, kami dikejutkan oleh tangis pilu ibu tua pemilik rumah. Kami hanya menduga-duga apa yang terjadi dengannya. Mungkin ada keluarganya yang sakit parah atau meninggal dunia.

Ketika kami dipersilakan masuk, saya langsung bertanya, "Ada apa, Bu?"

"Oalah, Ngger ..., kambing saya dimakan rayap ..." katanya sambil menangis. Kami semua melongo, tidak tahu apa yang dimaksud oleh ibu tadi. Oleh sebab itu, kami memberanikan diri bertanya soal itu. Siapa tahu ada yang bisa kami bantu.

Menurut ibu itu, ia sudah setahun menyisihkan uang dari hasil memburuh. Uang tersebut akan digunakan untuk memperingati 1.000 hari meninggalnya suami tercinta. Ibu tadi menyimpan uangnya secara tradisional, yakni dimasukkan ke bambu tiang rumah yang sudah dilobangi, mirip celengan. Seminggu sebelum kami datang, ibu tersebut juga menjual kambing satu-satunya dan dimasukkan pula ke dalam celengan bambu tersebut.

Mendekati hari H, celengan tadi dibuka. Alangkah terkejutnya. Uang yang ia sisihkan sedikit demi sedikit ternyata digerogoti rayap! Dari luar memang bambu itu tampak utuh, tapi ternyata rayap telah masuk dan memangsa uang kertas milik ibu tadi.

Kami semua merasa kasihan. Segera kami turun tangan menyelamatkan uang yang tersisa. Menurut ibu itu, jumlah tabungannya sudah mencapai sekitar Rp 75.000,-. Sementara itu yang bisa terselamatkan hanya Rp 32.000,-.

Untuk memperingan beban ibu tersebut kami bergotong royong iuran menyumbang biaya 1.000 hari suaminya. Ketika pulang, kami tersenyum simpul mengingat ungkapan ibu tentang kambing di makan rayap. Hopo tumon. (Markus Basuki)

[ Kembali ke atas ]

sapi main bola


Sebelum berangkat bekerja di Kupang, NTT, saya mencari informasi dari teman yang pernah bertugas di sana. Katanya, Kota Kupang itu panas, gersang, dan banyak karang. Tetapi, kota itu ramai dengan penduduk yang berdatangan dari berbagai propinsi di tanah air kita ini.

Dengan saksama saya mendengar semua cerita yang disuguhkan. Maklum ini merupakan pengalaman pertama saya bertugas di NTT. Terakhir, kawan saya menambahkan informasi yang menarik. "Di sana ada sapi main bola," katanya sambil senyum-senyum.

Dalam benak saya, itu mungkin semacam atraksi sirkus, karena menurut catatan, NTT merupakan daratan yang didominasi padang rumput. Ini pasti aset wisata yang sangat menarik, pikir saya. Namun, ketika saya sudah sampai di sana, kemana pun saya pergi, atraksi itu tak pernah saya temui, meskipun saya telah datang ke tempat-tempat rekreasi macam Pantai Lasiana, air terjun Oe Nesu, atau Taman wisata Camplong. Tapi, untuk bertanya, saya malu.

Barulah setelah sebulan beradaptasi, saya pun mulai bisa berkomunikasi menggunakan bahasa di sana, yang kebanyakan menggunakan singkatan. Dari situlah saya tahu maksud cerita teman saya di atas. Rupanya "sapi main bola" itu singkatan dari sa(ya) pi(gi)(=pergi) main bola. Sekarang, saya sudah bisa menjawab, "Lu sapi!" alias "Lu saja yang pergi". (Bambang Supriadi)

[ Kembali ke atas ]

geger terasi


Di Australia, saya bekerja di sebuah pabrik. Tidak seperti layaknya pekerja di tanah air yang pada umumnya disediakan jatah makan buat mereka, kami pekerja di Australia harus membawa bekal sendiri buat sarapan dan makan siang. Karena masyarakatnya multiculture, untuk "urusan perut" tidak lazim perusahaan menyediakannya. Selera sudah menyangkut hak pribadi yang tak boleh dicampuri oleh pihak "luar".

Jadi, pihak perusahaan hanya menyediakan kulkas dan alat pemanas makanan berupa rak berelemen listrik yang dinyalakan sepanjang jam kerja.

Suatu hari saya membawa bekal makanan yang dilengkapi dengan sambal terasi. Bekal itu kemudian saya taruh di mesin pemanas di samping makanan rekan-rekan yang lain. Pada saat makan siang tiba, semua pekerja berkumpul di ruang makan. Mesin pemanas makanan yang disetel tinggi membuat makanan berkepul-kepul. Tapi akibatnya sambal terasi saya menyebarkan aroma "khas" yang membuat rekan-rekan lain menutup hidung. Beberapa orang bahkan tidak tahan sampai keluar ruangan untuk menarik napas!

Biarpun menurut saya bau terasi itu sedap, tapi saya tak berani lagi membawa makanan yang ada terasinya ke kantor. Soalnya, di Australia peraturan dan undang-undang mengenai makanan sangat ketat. Sebagai contoh, daging segar yang di toko tidak terjual dan sudah tergeletak beberapa jam di udara terbuka harus dimusnahkan atau diolah untuk makanan binatang. Sementara daging beku harus dijaga kedinginannya, juga makanan take away apabila tidak terjual tidak boleh dimasak atau dihangatkan kembali untuk dijual. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana reaksi mereka saat mencium bau ikan yang telah dibusukkan seperti terasi! (Susanto Simohartono)

[ Kembali ke atas ]

Kembali ke edisi baru
[ Edisi Lama ] [ Cari dokumen ] [ Sejarah ]
pemagar
© 1996, 1997, 1998 Intisari Online
www.indomedia.com/intisari/
CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!