CLICK HERE TO VISIT THE TOP 1000!
PENTINGNYA TRANSPARANSI PRIBADI

Transparansi tidak hanya dibutuhkan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pengelolaan urusan publik saja, melainkan juga diperlukan untuk menggalang relasi antarmanusia yang harmonis dan baik. Transparansi pribadi adalah keterbukaan wajar yang dilandasi keberanian untuk jujur terhadap diri sendiri dan jujur terhadap orang lain.

Konon, Barbara Bush, mantan ibu negara Amerika Serikat, oleh rakyatnya dikenal sebagai tokoh yang menampilkan transparansi pribadi mengagumkan. Wanita ini tidak malu mengungkapkan di depan umum bahwa dirinya memiliki banyak keriput di sekujur kulit tubuhnya. Ternyata keterbukaan Barbara itu tidak menimbulkan cemoohan melainkan justru penghargaan dari rakyat. Warga Amerika merasakan betapa Barbara adalah juga manusia biasa seperti mereka. Rakyat merasakan betapa Barbara dekat dengan mereka, dan dalam berbagai hal, senasib dengan mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa merasakan betapa tidak enaknya menjalin hubungan dengan orang yang serba tertutup. Orang yang sangat tertutup adalah insan yang dihantui ketakutan antisipatoris tertentu. Yakni rasa takut lantaran ia mengantisipasi secara berlebihan akibat-akibat buruk yang diyakininya pasti akan timbul jika membuka diri secara wajar di hadapan orang lain. Bisa dibayangkan, ketakutan antisipatoris ini tentu akan merupakan beban tersendiri. Padahal, setiap ketakutan yang berlangsung lama (kronis), menjadi beban psikis yang sangat melelahkan, bahkan bisa melumpuhkan. Maka orang yang digelantungi ketakutan antisipatoris itu akan tampil kaku, terkesan terlalu serius, tak bisa santai, kurang humor, dan sulit dimengerti oleh orang lain.

Pada titik ini, sesungguhnya orang yang serba tidak transparan itu semakin menjauhkan dirinya dari orang-orang lain, dan membuat dirinya tidak disukai orang lain. Ketertutupan yang berlebihan juga berakibat tampilnya kesan angkuh dan menimbulkan kekikukan dalam relasi antar sesama. Dalam kadar yang membahayakan, bisa mencetuskan rasa saling curiga yang destruktif.

Tak bisa disangkal, setiap orang memang bisa dan berhak memiliki rahasia pribadi. Normal sajalah, kalau manusia sebagai pribadi, punya hidden agenda (rencana pribadi yang tidak dibeberkan secara terbuka di hadapan orang) atau memiliki secret pocket (rahasia pribadi yang sangat memalukan jika diketahui orang lain). Namun, setiap hidden agenda dan secret pocket selalu membuahkan beban pada tataran dinamika jiwa. Penjagaan agenda rahasia atau rahasia pribadi hanya dapat dilakukan dengan pengerahan energi psikis secara terus-menerus. Tindakan merahasiakan sesuatu pasti harus didukung pengerahan energi psikis terus-menerus. Kalau hal ihwal yang harus dirahasiakan itu sangat banyak, tentulah penjagaan rahasia pribadi akan menjadi beban berat yang sangat melelahkan.

Kondisi ini menjadikan seseorang tak bisa tampil baik dalam menggalang relasi dengan sesama karena energi psikisnya terkuras untuk menjaga rahasia pribadi. Artinya, ia tak punya sisa waktu dan tenaga guna memberi perhatian pada orang lain. Akibat yang lebih jauh lagi adalah munculnya aneka komplikasi relasi yang menimbulkan kerenggangan, bahkan rasa permusuhan. Oleh karena itu sebaiknya, jangan memiliki rahasia pribadi atau rencana pribadi yang terlalu banyak. Justru demi keharmonisan relasi antarmanusia, setiap insan perlu berupaya sejauh mungkin meminimalkan segala sesuatu yang bersifat rahasia. Dengan demikian, kalau tidak dibebani banyak rahasia pribadi yang harus dipertahankan terus-menerus, jiwa (psike) seseorang akan semakin sehat.

Yang penting jangan lupa bahwa pada dasarnya setiap insan normal memiliki kepekaan merasakan fakta (baik berupa kelemahan maupun kekuatan) yang ada pada sesamanya. Ini kebenaran penting yang boleh diyakini. Sesungguhnya, kendatipun seseorang berupaya keras menutup-nutupi kelemahannya di hadapan orang-orang lain, bersit-bersit kelemahan itu tetap bisa dirasakan keberadaannya oleh orang-orang lain. Meskipun barangkali kelemahan itu tidak dapat diketahui secara jelas dan rinci karena memang ditutup-tutupi dengan cara sangat "canggih". Namun, tanpa mengetahui secara jelas dan rinci pun, orang lain bisa merasakan kelemahan itu. Fakta ini juga melandasi anjuran supaya manusia berani tampil dengan keterbukaan wajar, dengan transparansi yang masuk akal, dan meminimalkan hal ihwal pribadi yang dirahasiakan.

Transparansi pribadi memang merupakan daya efektif yang sangat penting untuk menumbuhkembangkan relasi antarmanusia yang baik dan serasi. Transparansi pribadi akan mengantar manusia pada kedekatan dengan sesamanya. Kalau jalinan relasi tersebut dilandasi transparansi pribadi yang wajar, manusia akan makin mampu menghayati persamaan-persamaan di antara mereka. Kondisi ini akan membuat kita semakin saling mengerti, saling menerima, saling mengasihi. Pada titik ini, keanggunan relasi yang sukses, sungguh terwujud.

Di sisi lain, memang, fakta pentingnya transparansi pribadi meniscayakan setiap insan berani menghargai dan menghormati keterbukaan sesamanya. Orang yang berupaya membuka diri secara wajar, seyogianya tidak dicemoohkan. Bahkan orang yang membeberkan kelemahan pribadinya di depan publik, jangan dicemoohkan, jangan dilecehkan. Inilah sikap mental yang harus ditumbuhkembangkan, sebagai konsekuensi logis apresiasi atas transparansi pribadi.

Sudahkah Anda berupaya mengurangi sejauh mungkin hal ihwal pribadi yang dirahasiakan? Sudahkah Anda menghargai dan menghormati keterbukaan orang lain, dan tidak mencemooh siapa pun yang bersedia membeberkan kelemahannya di hadapan Anda?
(dr. Limas Sutanto DSJ, pengamat psikososial dari STFT Widya Sasana, Malang)


Kembali ke edisi baru
[ Edisi Lama ] [ Cari dokumen ] [ Sejarah ]
pemagar
© 1996, 1997, 1998 Intisari Online
www.indomedia.com/intisari/