Menjalani perawatan besar biayanya. Tidak berobat nyawa bisa menjadi taruhannya. Di masa serba sulit lantaran krisis ekonomi yang melanda Indonesia belakangan ini, nasihat sederhana ini agaknya sangat bermanfaat. Cegahlah datangnya penyakit seringan apa pun dan berhati-hati dalam menjalankan setiap aktivitas. Untuk itu, menjalani gaya hidup sehat menjadi sangat penting. Menurut dr. H.M. Ahmad Djojosugito, MHA, direktur RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo, menjaga kondisi tetap sehat itu bisa dilakukan dengan mengkonsumsi makanan seimbang, cukup berolahraga, dan menghindari merokok dan minum minuman beralkohol. Dengan cara itu, pengeluaran tak perlu untuk kesehatan tubuh, macam food supplement dsb., tak diperlukan lagi. Yang tak kalah pentingnya jagalah sanitasi lingkungan rumah dengan baik agar penyakit akibat sanitasi yang buruk, macam muntaber atau demam berdarah, bisa dicegah. Juga, hindari stres. Dalam menjalankan aktivitas pun mesti berhati-hati. Yang biasa mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, ya injakan pedal gasnya dikurangi. Dengan begitu, cedera sekecil apa pun bisa dihindari.

Kalaupun kepepetnya sakit atau mengalami cedera, tebuslah resep dokter di apotek. Jika tak tersedia, perlu upaya lebih untuk mencari di apotek lain. Seandainya sudah ketemu dan harganya mahal, jangan kaget.

MENCEGAH SAKIT
DI MASA SULIT

Aspek kesehatan masyarakat sudah terpengaruh krisis ekonomi. Baik obat, peralatan medis, maupun sarana penunjang perawatan pasien tak luput dari kenaikan harga. Toh, semua diharapkan tetap menjalankan fungsinya secara wajar. Alhasil, rumah sakit mengeluarkan jurus paket hemat, pengusaha obat menekan harga, sementara pasien harus bersabar. Bagi Anda yang masih sehat, berusahalah agar tidak sakit di masa sulit ini. Dengan begitu kerumitan-kerumitan hidup berikut ini tak harus Anda alami.

Tapi sebaiknya juga tidak sembrono untuk mencari obat tersebut di tempat lain, baik di toko maupun di pasar obat yang menjanjikan harga obat sejenis lebih murah. Bisa jadi obat tersebut aspal, alias asli tapi palsu. Ini justru berbahaya. "Jalan keluarnya, minta petugas apotek untuk menggantinya dengan obat generik. Biasanya permintaan itu akan dipenuhi olehnya," jelas Drs. Hardoto HDW seorang ahli farmasi. Ingat gurauan sebuah iklan di televisi, "Yang dimakan ‘kan obatnya, bukan mereknya." Cara ini memberi keuntungan, selain harganya lebih murah, obat yang diterima pun asli. Kalau dianggap perlu, tak ada salahnya pula memanfaatkan obat tradisional yang secara empiris telah terbukti berkhasiat.

Peserta askes pun bayar
alat cuci darahMemang, di masa krisis ekonomi, orang sakit atau mengalami cedera bisa diibaratkan sudah jatuh tertimpa tangga. Apalagi jika harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Betapa tidak. Kalau itu terjadi, Anda akan terbelalak melihat rincian biaya perawatan akibat kenaikan harga. Untuk obat saja, harganya naik 100 - 300% dari harga sebelum kurs dolar AS meninggalkan Rp 2.500. Reagen untuk pemeriksaan laboratorium melejit 300 - 400%. Atau, film untuk foto rontgen dan sejenisnya merangkak sampai 300%. Belum lagi biaya inap, pemeriksaan, atau terapi tertentu. Biaya tindakan foto koagulasi retina terhadap kebocoran pembuluh darah retina mata di sebuah rumah sakit mata terkenal di Jakarta, naik dari Rp 230.000 menjadi Rp 330.000.

Di RSPUN dr. Cipto Mangunkusumo, pemeriksaan dengan Magnetic Resonance Imaging(MRI) naik dari Rp 800.000,- menjadi Rp 1 juta, pemotretan CT Scan merangkak dari Rp 250.000,- menjadi Rp 300.000,-. Melihat melangitnya biaya penyembuhan penyakit tsb., sampai ada seorang pasien - dengan kepasrahan menyayat hati - ingin dirinya disuntik tidur selamanya. Mengenaskan.

Hingga sekarang hal itu memang belum terjadi. Namun, yang meninggal lantaran akibat tak langsung dari tersendatnya pengiriman bahan atau kelangkaan alat dasar medis sudah terjadi. Empat orang pasien RS Sanglah, Denpasar, yang mestinya melakukan hemodialisis (cuci darah) terpaksa harus menghadap Yang Kuasa lantaran salah satu bagian peralatan cuci darah terlambat dikirim dari penjualnya di Jakarta.

Kalaupun pelaksanaan hemodialisis tetap bisa dilakukan, pasien atau keluarganya mesti merogoh kantung lebih dalam lagi. Sekadar gambaran bisa ditengok pengalaman Taslim Hidayat. Pegawai negeri di Pemda DKI peserta askes ini biasanya tidak mengeluarkan biaya sepeser pun untuk cuci darah di RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo. Biaya hemodialisis sepenuhnya ditanggung PT Askes, yakni sebesar Rp 180.000,-. Namun, sejak 1 Januari 1998 berdasarkan Surat Pemberitahuan No. 02/TU.K/38/I/1998 yang ditandatangai wakil direktur pelayanan medik RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo tentang pengenaan biaya tambahan bagi peserta Askes yang melakukan cuci darah, istrinya mesti membuka dompetnya setiap melakukan cuci darah.

Untuk Hollow Fiber Dialyser (HFD/ginjal buatan) baru diperlukan biaya tambahan Rp 80.000,-. Selain itu, mereka juga mesti membeli sendiri heparin, bahan pengencer darah, seharga Rp 12.500,- 15.000/botol dan kalsium karbonat (untuk menghindari kekeroposan tulang akibat penyedotan kalsium besar-besaran karena tindakan dialisis) seharga Rp 10.000,-, yang tadinya sudah termasuk paket "gratis". Bagi bapak tiga anak ini biaya itu tentu memberatkan. Untung saja penggunaan HFD masih bisa diulang sampai maksimal 8 kali, tergantung tingkat keparahan pasien. Tentu saja, pemakaian ulangnya untuk pasien yang sama agar tidak terjadi penularan penyakit ke pasien lain. Dengan cara ini pasien atau keluarganya cukup mengeluarkan kocek Rp 25.000,- untuk resep penggunaan ulang HFD. Artinya, bisa menghemat Rp 55.000,- untuk sekali cuci darah. Atau, kalau cuci darah dilakukan seminggu dua kali, dalam sebulan akan dihemat Rp 440.000,-.

Bayangkan saja kalau dia tidak ditanggung Askes. Untuk melakukan tindakan medis "penyambung nyawa" ini, pasien atau keluarganya mesti merogoh kantung sangat dalam. Di RS Cipto Mangunkusumo umpamanya, berdasarkan Surat Keputusan Direktur RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo tertanggal 28 Januari 1998, biaya rumah sakit yang terdiri atas bahan & alat dasar, jasa medis, dan jasa rumah sakitnya saja Rp 75.000,-. Biaya tersebut belum termasuk biaya hemodialisis set (HD set) yang harganya selangit. HD set 4 item yang dipasarkan PT Sinar Roda Utama umpamanya, berharga Rp 577.500, termasuk PPN 10%. Jadi biaya hemodialisis pasien bukan peserta askes mencapai Rp 652.500,-. Bila HD set digunakan kembali, biayanya menjadi "cuma" Rp 100.000,-. Biaya-biaya tersebut lebih "gila" lagi kalau cuci darah dilakukan di rumah sakit swasta mewah.

Jurus paket hemat
Taslim Hidayat memang tidak sendirian dalam menangung derita. Produsen obat, penyalur peralatan atau bahan untuk perawatan medis, pengelola apotek, rumah sakit, atau balai pengobatan juga tak luput jadi pusing tujuh keliling. Produsen obat kesulitan mengimpor bahan baku obat (katanya) lantaran L/C yang diterbitkan di Indonesia sempat tidak "laku". Penyalur peralatan atau bahan untuk perawatan medis kelabakan menentukan harga baru. Pengelola apotek juga kesulitan menentukan harga dan mendapatkan obat tertentu dari pemasok. Rumah sakit pun jadi kebingungan menjelaskan kepada pasien soal besarnya biaya perawatan selama di rumah sakit. Yang lebih menyedihkan, banyak balai pengobatan terpaksa menghentikan kegiatan.

beli obatPada kondisi macam begini, semua mata rantai di bidang kesehatan tadi memang bekerja keras untuk bertahan. Penderita sakit akan berupaya sekuat tenaga untuk bisa bertahan hingga bisa sembuh. Biaya perawatan dan pengobatan berapa pun besarnya akan diupayakan pasien dan keluarganya. Itu pun masih dihadapkan kesulitan dalam memperoleh obat di apotek. "Mending kalau barangnya ada. Sudah harganya sangat tak masuk akal, barangnya susah didapat lagi," jelas Ny. Maisir, yang suaminya sudah 2,5 tahun ini mesti menjalani hemodialisis. Untuk mendapatkan heparin misalnya, dia pernah harus keluar masuk beberapa apotek sebelum akhirnya mendapatkan. "Sampai-sampai sempat terpikirkan untuk membelinya di Jl. Pramuka ("pasar" obat, Red.). Tapi mengingat penyimpanannya kurang baik, saya nggak jadi beli di sana. Kalau di apotek, obat ini disimpan di almari pendingin. Untuk membawanya ke rumah, petugas apotek pun membungkusnya dengan disertai es. Tapi kalau di sana, barangnya digeletakan begitu saja. ‘Kan ngeri!" ceritanya.

Untuk menekan biaya perawatan, tak jarang pasien atau keluarganya rela memilih rumah sakit pemerintah yang letaknya jauh dari rumah mereka. Atau, pindah dari rumah sakit swasta ke rumah sakit pemerintah. Ini diakui oleh Ny. Erwaty Amin, perawat Sub Bagian Ginjal dan Hipertensi, RSUPN dr. Cipto Mangunkusumo. "Dulu, sebelum adanya krisis ekonomi, pasien yang menjalani cuci darah tak sepenuh sekarang. Tapi sekarang, kami sampai menolak pasien baru, supaya pasien lama tetap terlayani," ungkapnya.

Pihak rumah sakit pun memutar otak agar tetap bisa melayani masyarakat dengan baik. Selain beberapa bahan/alat medis, bahan makanan yang tak perlu diimpor pun ikut naik harga dan tetap harus disediakan. Akibatnya, belanja bahan makanan RS dr. Cipto Mangunkusumo meningkat 19,86% dan belanja obat/alat kesehatan naik 26,29%. Supaya tidak memberatkan pasien, rumah sakit pemerintah ini berusaha membuat paket hemat-paket hemat dalam memberikan pelayanan medis. Hasilnya, kini terdapat tak kurang dari 15 "pahe", paket hemat. Kebetulan, "Dokter-dokter di sini memiliki pandangan terhadap perkembangan teknologi kedokteran cukup jauh. Dia bisa mengikuti yang paling canggih. Juga bisa mengikuti yang paling sederhana," tutur dr. Ahmad. Karenanya, selain tetap memanfaatkan teknologi canggih, teknologi lama pun dihidupkan kembali dari "kubur". Sedangkan RS PGI Cikini yang swasta itu, berupaya melayani masyarakat dengan (sementara) tanpa menghitung keuntungan atau biaya penyusutan.

dokterMenurut dr. Ahmad, biaya rawat inap memang mengalami peningkatan 20 - 40%. Namun, peningkatan itu bukan untuk biaya dokter atau kamar perawatan, melainkan lebih dikarenakan meningkatnya biaya bahan makanan pasien. Untuk mengurangi beban biaya, item yang bisa disubstitusi diupayakan untuk diganti. Salah satunya susu kaleng, yang harga naik hingga 80%. "Sekarang susu kaleng mahal, sedangkan susu sapi masih murah. Karena itu, kami berusaha menggantikan susu kaleng dengan susu sapi. Saat ini kami sedang meneliti formula tertentu dari susu sapi yang tepat untuk kelompok pasien tertentu," jelasnya.

Dokter di setiap unit juga diminta berupaya menekan biaya perawatan yang masih bisa ditekan. Di antaranya, penggunaan obat generik dan penatalaksanaan stroke yang tidak menggantungkan diri pada alat monitor canggih hasil impor. Untuk hemodialisis, juga dilakukan pemakaian ulang ginjal buatan. Di bagian bedah beberapa bahan atau peralatan diganti dengan yang lebih murah. Benang operasi misalnya, diganti dari yang disposible menjadi benang operasi biasa bisa dipotong-potong oleh ahli bedahnya. Dalam komponen peralatan dan bahan untuk operasi, biaya benang ini memang yang terbesar. "Benang operasi disposible memang enak bagi ahli bedahnya. Enak sekali. Tapi harganya luar biasa mahal. Dengan penggunaan benang operasi biasa, komponen biaya benang bisa ditekan menjadi sepersepuluhnya," jelas dokter spesialis bedah ini.

Yang tak bisa dihindarkan oleh pasien adalah dalam hal penyediaan obat. Obat tetap harus dibeli pasien meski harganya melambung. Inilah yang memusingkan pasien. Tapi sebenarnya tak cuma pasien yang dibikin gundah. Selain rumah sakit, pengelola apotek pun ikut gerah. Petugas di salah satu apotek di Jl. Kyai Tapa mengaku menghadapi masalah pasokan dan harga. Banyak obat yang dipesannya kepada pemasok dinyatakan tidak tersedia. Kalau pun ada harganya sudah berlipat ganda. Akibatnya, supaya jalannya usaha bisa tetap bergulir, harga obat yang telah tersedia pun ikut dinaikkannya. Ini juga tidak mudah dilakukan lantaran sulit menentukan harga yang "pas". "Kalau tanya harga ke produsen pun kami tidak bisa mendapatkannya. Harga baru diberikan bila kita hendak memesan obat tersebut," ujarnya. Yang menjadi alasan utama, fluktuasi kurs dolar sangat besar dan terjadi setiap saat.

Semua persoalan tadi tentu bermuara pada si sakit. Berapa pun harganya dan bagaimanapun susahnya mendapatkan, obat mesti tetap dibeli. Nah, dengan menjalani gaya hidup sehat, peluang munculnya persoalan tadi tentu saja sangat kecil. (I Gede Agung Yudana/Nanny Selamihardja)


Boks : ...pil "PAHE"