KEJANG-KEJANG
TAK SELALU
EPILEPSI

Sering kita serta merta menghubungkan kejang-kejang dengan gejala epilepsi. Padahal ada beberapa macam gangguan otak yang menyebabkan seseorang terkena serangan kejang. Epilepsi sekunder ini tidak ada hubungannya dengan gangguan epilepsi primer. Namun kebanyakan dapat ditanggulangi melalui bedah saraf otak mikro.


Nasib Fatroji (27), atau biasa dipanggil Oji, memang lagi mujur. Bagaikan kejatuhan bulan, penyakit yang sudah lebih dari setahun dia derita dan terpaksa membuat dirinya kena PHK, berhasil disembuhkan total tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. "Benar-benar berkah dari Allah SWT.," katanya terharu.

Sekitar dua tahun lalu mendadak Oji mendapat serangan mirip epilepsi alias ayan. Mata buruh bangunan di Cilegon ini melotot, sekujur tubuh terasa kaku dan kejang, serta napas tersengal-sengal. "Rasanya seperti mau mati," cerita Oji. Ia mendapat serangan 1 - 4 kali dalam seminggu. "Serangannya sih cuma beberapa menit, tapi setelah itu badan saya serasa lumpuh, selama satu jam sulit digerakkan, terutama pada kaki dan tangan kiri," katanya.

Anehnya, hanya sebagian tubuh saja yang mengeluarkan keringat. Namun ia tidak sampai pingsan atau hilang kesadaran. "Anehnya lagi, kalau sedang asyik bekerja, jarang serangan datang. Tapi begitu santai bahkan tengah tidur, tiba-tiba kumat," tambahnya. Pernah suatu kali ketika sedang mengendarai sepeda motor, Oji merasa akan mendapat serangan. "Buru-buru motor saya hentikan dan saya kelojotan di pinggir pasar. Orang sekampung sudah hafal penyakit saya. Begitu melihat saya kelojotan, saya langsung digotong pulang."

Dokter EkaSemula Oji berobat ke dukun. Oleh si penyembuh tradisional itu ia dinyatakan terkena rematik. Karena penyakitnya semakin berat dan bikin dia tidak lagi sanggup bekerja, Oji pun berobat ke dokter. Seorang dokter saraf di RS Krakatau Steel, Cilegon, melaporkan kasus Oji kepada dr. Eka J. Wahjoepramono, seorang ahli bedah saraf otak mikro dari RS Honoris, Tangerang, Jawa Barat.

Dr. Eka yakin, penyakit Oji bukan epilepsi primer karena gejalanya dimulai pada usia dewasa. Serangan bukan disebabkan oleh ambang rangsang yang rendah terhadap cetusan listrik dalam otak seperti pada penderita epilepsi pada umumnya, tapi karena faktor sekunder yang menimbulkan gejala mirip epilepsi. Dari pemeriksaan CT Scan diduga Oji terkena arterio venous malformation (AVM), semacam varises di daerah otak kirinya.

Penderita kelainan bawaan seperti ini diperkirakan hanya sekitar 0,2% dari penduduk dunia. Hasil pemeriksaan angiografi otak dengan memasukkan kateter kecil yang diisi cairan dan disemprotkan ke dalam otak, memperjelas keberadaan benda yang mengganggu fungsi otak kirinya, yaitu mirip gerombolan cacing kecil yang bersifat "gemar mencuri" (stealing fenomena). Artinya, ia menyedot semua nutrisi dan oksigen jaringan di sekitarnya jauh melebihi arteri normal lain.

Arteri abnormal itu tumbuh jauh lebih besar dari yang lain. Kalau pembuluh arteri normal mengecil begitu sampai pada pembuluh kapiler menuju ke pembuluh balik untuk mengambil oksigen. Pada penderita AVM pembuluh arteri abnormal ini tanpa melewati pembuluh kapiler, langsung menuju pembuluh balik dan meraup semua jatah makanan pembuluh di sekitarnya. Hal ini menyebabkan gerakan-gerakan yang dikoordinasi oleh jaringan otak sering terganggu dan menimbulkan gejala mirip epilepsi primer, serta menganggu fungsi tangan dan kaki kanannya.

"Kalau tidak segera dilakukan pembedahan, dikhawatirkan akan terjadi kelumpuhan permanen seperti pada stroke. Atau, kalau pembuluh AVM ini pecah, penderita bisa langsung meninggal," jelas dr. Eka yang alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Pajajaran, Bandung, dan pernah memperdalam ilmu bedah saraf otak mikro di Jerman dan Jepang.

Sebelum pembedahan dilaksanakan, dr. Eka menjelaskan kepada pasien bahwa risiko terburuk pada pembedahan itu adalah kelumpuhan, sebab penyakitnya terletak pada bagian otak motorik. "Tapi saya pasrah daripada terus menderita," komentar Oji terhadap risiko itu.

Suasana operasi bedah syaraf otak mikroOperasinya sendiri berlangsung empat jam dengan bantuan alat teropong Contravest buatan Jerman. Teropong yang tidak lain adalah mikroskop khusus itu sangat fleksibel gerakannya dan mampu memperbesar 8 - 20 kali objek atau daerah yang "direparasi". Melalui alat ini dokter dengan jelas dapat mengoreksi bagian-bagian yang terkena gangguan. Selama proses pembedahan, penderita dibius total dan kepalanya difiksasi (semacam dijepit) agar tidak bergerak sama sekali.

"Saraf dan pembuluh di otak bagaikan kabel yang sangat empuk, lembut, dan rentan. Sekali saja dokter salah melakukan tindakan pembedahan, koreksi sulit dilakukan. Jadi, harus ekstra teliti dan hati-hati, jangan sampai mengganggu ataupun mencederai jaringan otak lain yang masih normal," tambah dr. Eka.

Biayanya memang tidak murah, sekitar Rp 15 juta (sekarang Rp ...). Dana sebesar itu tentu membuat pasien pas-pasan seperti Oji putus asa. Tapi ia sungguh beruntung. Ketika itu RS Honoris membebaskan Oji dari semua biaya itu dalam rangka ulang tahun ke-2 rumah sakit yang berlokasi di Kompleks Perumahan Kota Modern, Cikokol, Tangerang, itu.

Operasi yang dilakukan sekitar enam bulan lalu itu berjalan sukses. Pembuluh yang tidak normal berhasil disingkirkan. Kini Fatroji sudah pulih dan mampu bekerja kembali tanpa menderita cacat apa pun. Sementara, obat antikejang hanya diberikan 2 - 3 bulan setelah pembedahan. Kini Oji hanya memerlukan pemeriksaan rutin sebulan sekali.

Kejang tidak selalu epilepsi
Banyak orang menghubungkan kejang dengan gejala epilepsi primer. Padahal, menurut dr. Eka, ada berbagai macam gangguan otak yang menyebabkan seseorang menderita kejang atau epilepsi sekunder seperti kasus Fatroji. Apalagi kalau gejala kejang tidak dimulai sejak dari masa kanak-kanak, tapi sejak usia belasan hingga dewasa.

Selain kejang disebabkan oleh AVM seperti pada kasus Fatroji, ada pula yang disebabkan oleh tumor otak, radang otak, gegar otak, bekuan darah atau benda asing akibat cedera karena kecelakaan, dll. "Pada kasus-kasus seperti itu jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hanyalah lewat bedah saraf otak mikro," tutur dr. Eka.

Contohnya, seorang pasien mengeluh sering mengalami kejang mirip ayan. Ternyata dari pemeriksaan CT Scan diketahui, terdapat pecahan kaca kecil yang tertinggal dalam otak. Rupanya, pada 15 tahun lalu pasien itu pernah mengalami kecelakaan yang mencederai kepalanya. Dari pemeriksaan foto saat itu tidak terlihat masih ada benda asing tertinggal di otaknya.

Kasus lain dialami seorang pasien wanita yang mengeluh sering mendapat serangan kejang. Ternyata operasi tumor jinak yang pernah dilakukan beberapa tahun sebelumnya belum berhasil mengangkat semuanya. Ada pula seorang penderita pria datang dengan keluhan kejang. Selama berobat bertahun-tahun ia hanya diberi obat antiepilepsi. Padahal, dari pemeriksaan terbukti kejang itu gara-gara tumor jinak. Ketiga kasus ini dapat disembuhkan lewat bedah saraf otak mikro.

Kalau banyak kasus epilepsi sekunder dapat dikoreksi melalui bedah saraf otak mikro, apakah metode ini juga berlaku untuk penyembuhan epilepsi primer?

Metode penyembuhan epilepsi primer yang umumnya gejalanya sudah dimulai sejak kecil (usia 4 - 5 tahun) melalui bedah mikro itu, menurut dr. Eka, memang sudah banyak dilakukan di Jepang, Eropa, dan AS, tapi di Indonesia belum. "Umumnya, yang perlu pembedahan itu mereka yang sudah sampai pada taraf intractable atau tidak lagi bisa ditanggulangi dengan obat dosis maksimal ditambah serangan terlalu sering," kata ayah tiga anak ini sambil menambahkan, "Tapi karena tindakannya lebih rumit dan memerlukan alat bantu khusus, belum dilakukan di sini."

Menurut dr. Eka, penanganan epilepsi primer dengan metode ini bukan tanpa risiko pascapembedahan, misalnya salah satu tangan atau kaki menjadi lemah (kalau pembenahan menyangkut korteks motorik), proses berpikir lamban, bahkan ada kalanya pasien berubah sifat. Sebab itu pembenahan acap kali tidak dilakukan secara menyeluruh, tapi hanya sebatas untuk mengurangi penderitaan saja. Misalnya, penderita yang tadinya setiap hari mengalami serangan total, melalui bedah mikro ini serangannya diperingan, yaitu kekejangan hanya sebatas pada kaki atau tangan.

Alat bantu khusus yang diperlukan pada metode pembedahan epilepsi primer mencakup MEG (Magnetik Ensefalografi), dikombinasi dengan alat MRI (Magnetic Resonance Imaging), dan EEG (Elektro Ensefalografi) guna memeriksa secara cermat lokasi yang mengalami cetusan listrik berlebihan. Metode ini mensyaratkan pembedahan dilakukan dalam keadaan pasien sadar, karena itu hanya dilakukan pembiusan lokal. Saat dilakukan pembedahan, pasien terus diajak berbicara tapi kepala difiksasi supaya tidak bergeser semilimeter pun. Tujuannya agar dokter bisa memetakan (maping) lokasi terjadinya lonjakan listrik secara tepat. Kalau fokus penyebab kejang hampir meliputi seluruh bagian otak, tentunya tidak mungkin dilakukan pembenahan total, hanya sebatas yang perlu saja.

Memutus jembatan
Otak sebelah kiri dan kanan memang dihubungkan oleh semacam jembatan. Kalau serangan sudah intractable, menurut Eka, dokter hanya berusaha memutus jembatan itu untuk mengurangi gejala serangan. Namun, kalau fokus penyebabnya terlokalisasi, akan lebih sudah pembenahannya.

Sebelum pembedahan dilakukan, ahli bedah saraf otak perlu terlebih dulu berkonsultasi dengan dokter ahli saraf untuk mengetahui riwayat penyakit pasien maupun obat yang pernah diberikan. Kemudian pasien diminta berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk diberi penjelasan soal faktor risiko yang bisa terjadi.

Mengingat berbagai risiko yang cukup tinggi itu, penanganan epilepsi primer selama ini secara maksimal hanya dengan obat-obatan fenobalbital, fenitoin, karbamasepin, klonasepam, dan asam valproat. Obat itu diberikan asal tidak mengganggu kegiatan sehari-hari, misalnya menjadi teler, lemas, atau mengantuk.

Belakangan ini diberitakan adanya upaya lain untuk meredam serangan epilepsi primer, yakni dengan pacemaker otak atau alat pacu denyut yang ditanamkan di otak. Begitu penderita merasa akan mendapat serangan, alat ini segera diaktifkan dengan mendekatkan magnet khusus ke generator kecil yang ditanamkan di dadanya. Dalam beberapa detik serangan kejang bisa digagalkan. Namun, alat ini belum sepenuhnya mendapat pengakuan dari kalangan kedokteran. Lagi pula, harganya relatif sangat mahal, bisa sampai AS $ 15.000 per unit (atau Rp 75 juta dengan kurs Rp 5.000,- per dolar AS).

Kasus epilepsi primer memang cukup tinggi di Indonesia. Saat ini diperkirakan penyandang epilepsi dari teringan sampai terberat sekitar 900.000 - 2 juta orang. Lewat Perkumpulan Penanggulangan Epilepsi Indonesia (PERPEI), kini kasus epilepsi bisa ditanggulangi secara dini. Sebagian dari penderitanya memang belum tertanggulangi secara baik mengingat pengetahuan tentang penyakit ini belum merata di kalangan masyarakat.

Gangguan otak, apa pun penyebabnya, memang tidak boleh dianggap remeh. Kini, teknologi bedah saraf otak mikro semakin mendapat perhatian para ahli karena banyak membantu derita gangguan fungsi otak. Dr. Eka sendiri sebenarnya berminat mengembangkan bedah saraf otak mikro ini sampai ke kasus epilepsi primer berat. "Namun, masih perlu waktu untuk menuju ke sana mengingat biaya yang mahal dan masih banyak kasus-kasus lain yang perlu didahulukan," katanya. (Nanny Selamihardja)


Boks : Jangan lewat...