Ketika warga beberapa negara Asia tengah prihatin menghadapi gejolak moneter, di penghujung 1997 warga Hongkong SAR dicemaskan oleh mewabahnya flu burung. Biang keladinya diidentifikasi sebagai virus flu tipe H5N1. Dalam waktu singkat, enam orang menemui ajal. Pemerintah Hongkong pun kelabakan menghadapinya. Untuk mencegah penularan lebih luas, anak-anak dianjurkan menjauhi burung dan unggas piaraan. Sekitar 1,5 juta ekor ayam, bebek, dan angsa yang diduga sebagai biang keladi penyebar penyakit mematikan itu pun dibantai. Sebagai ganti ruginya, pemerintah mengeluarkan dana AS $5,17 juta (Rp 25,85 miliar, dengan kurs Rp 5.000,- per dolar).
Petaka macam ini memang bukan pertama kali terjadi di dunia. Tahun 1994 silam, India mengalami bencana wabah penyakit pes berupa radang paru-paru atau pneumonic plague. Akibatnya, 50 orang di India Barat tewas dari 1.400 orang yang tertular di seluruh India. Penyakit yang disebabkan basil Yersinia pestis dengan perantaraan pinjal berinduk semang tikus ini membuat pemerintah India bekerja ekstra keras mengatasinya. Negara-negara lain yang kedatangan orang-orang dari India pun ikut repot mencegah jangan sampai penyakit "Maut Hitam" ini ikut masuk bersama mereka.
Dua tahun sebelumnya, Indonesia pun sempat dibikin kalang kabut oleh ulah rabies (gila anjing). Penyakit ini mewabah di 115 kabupaten dalam 20 propinsi. Tak kurang terjadi 1.199 kasus. Pemasukan devisa pun ikut terganggu lantaran para wisatawan mancanegara ngeri bertandang ke Indonesia. Untuk mengatasinya, pemerintah memutuskan untuk membantai setiap anjing liar.
Mulai terkuak
Tiga contoh bencana penyakit itu menunjukkan, hewan punya andil terhadap wabah penyakit tertentu yang diderita manusia. Di samping unggas, tikus, dan anjing, masih banyak jenis satwa yang bisa menularkan penyakit kepada kita. Pada kelompok hewan ternak bisa disebutkan sapi, kuda, dan ayam. Sapi bisa bikin orang terbatuk-batuk oleh TBC, demam karena bruselosis, meninggal lantaran antraks, serta mulut dan kuku membusuk oleh penyakit mulut dan kuku. Kuda membuat orang terancam kematian lantaran terserang tetanus yang ditularkan lewat kotorannya. Ayam bikin kita terserang tipus/paratipus oleh kuman Salmonella typhii/S. paratyphii, atau demam dengan sakit kepala hebat lantaran penyakit psittacosis.
Pada kelompok binatang piaraan tercatat anjing, kucing, burung, ayam, dan beberapa satwa eksotis macam iguana dan kura-kura tertentu, juga bisa menjadi sumber penyakit bagi manusia. Anjing, misalnya, selain membuat orang tutup usia gara-gara rabies (97%), juga berpotensi bikin orang buncit lantaran perut terserang cacing hidatid yang mematikan dan penyakit cacing lainnya, bruselosis, serta radang paru-paru akibat pes. Kucing bisa membuat ibu hamil keguguran gara-gara toksoplasmosis, menderita bruselosis, pes, atau rabies.
Kalau dibandingkan, pet alias satwa piaraan lebih berpeluang menularkan penyakit. Pasalnya, kontak mereka dengan manusia lebih banyak ketimbang hewan ternak.
Pada kasus wabah flu burung di Hongkong, unggas menjadi sumber penularan kepada manusia. Menurut dr. Keiji Fukuda dari Centres for Disease Control and Prevention, virus flu burung hidup di dalam saluran pencernaan unggas. Kuman ini kemudian dikeluarkan bersama kotoran, dan infeksi akan terjadi bila orang mendekatinya. "Penularan sepertinya terjadi dari kotoran secara oral atau melalui saluran pernapasan," ujarnya.
Orang yang terserang flu burung menunjukkan gejala seperti terkena flu biasa. Namun kondisinya sangat cepat menurun drastis. Bila tidak segera ditolong, korban bisa meninggal. Celakanya, obat untuk menendang virus tipe baru bagi tubuh manusia ini masih belum ada. Maka, tindakan sementara yang bisa dilakukan adalah dengan menggorok leher ayam, bebek, dan angsa yang ada. Dengan upaya itu diharapkan rantai penularan virus flu H5N1 kepada manusia terputus.
"Misteri" flu burung memang belum terungkap tuntas. Yang pasti, menurut para ilmuwan, virus flu memang mudah mengalami perubahan genetik sehingga mampu menembus perbedaan jenis dan bisa menular ke manusia seperti pada flu burung. Beberapa ilmuwan juga percaya dengan perubahan yang sama, mengawali berjangkitnya flu Spanyol 1918 - 1919 yang menewaskan 20 - 40 juta orang di seluruh dunia, flu Asia 1957 yang membunuh 98.000 orang, dan flu Hongkong menelan korban jiwa 46.500 orang.
Dari wabah flu burung, pertengahan Januari lalu peneliti AS berhasil mengungkap struktur molekul virus flu burung dari bocah laki-laki Hongkong berusia tiga tahun yang meninggal Mei tahun lalu. Tim peneliti dari US Centres for Disease Control and Prevention di Atlanta, Georgia itu menyatakan, protein virus yang diisolasi itu memberikan sifat virus flu mematikan seperti yang menyebabkan epidemik Flu Spanyol. Ketika peneliti menyuntikkannya pada ayam, kebanyakan ayam tadi mati. Penelitian juga menunjukkan, virus lain yang diambil dari korban flu burung mirip dengan virus yang diisolasi di Atlanta itu.
Tidak ada gejala klinis
Selain flu burung, satwa bersayap ini juga jadi sumber penyakit psittacosis, yang menular pula ke manusia. Biang penyakitnya adalah bakteri Chlamydia psittacosi.
Semula, psittacosis ditemukan pada burung berparuh bengkok. Kemudian, burung biasa, ayam, dan kalkun juga diketahui menjadi sumber infeksi terhadap manusia. Bahkan, burung dara yang dipelihara di kota-kota pun memberikan persentase kejadian psittacosis yang tinggi. Yang mengherankan, kucing juga bisa tertular penyakit ini. Bila sampai menyerang manusia, tingkat kematian bisa mencapai 20% dari penderita.
Penyebarannya melalui feses burung yang menderita penyakit ini. Bakteri itu masuk ke tubuh manusia melalui pernapasan. Misalnya, ketika berdekatan dengan ayam yang menggelepar di rumah potong atau kandang ayam. Atau, karena kepakan sayap burung di sangkarnya. Burung penderita psittacosis biasanya menunjukkan gejala diare dan peradangan pada kelopak mata. Namun dari hasil survai, 0 - 80% burung terinfeksi tidak menunjukkan gejala klinis. Kita baru patut curiga adanya infeksi chlamydia bila dijumpai kematian dalam jumlah besar dalam suatu koloni atau banyak burung yang lemah dan diare.
Untuk mencegah terjadinya wabah psittacosis, burung atau unggas piaraan diberi tetrasiklin pada pakannya, terutama untuk yang baru datang atau setelah menjalani perjalanan jarak jauh. Burung-burung mati pun perlu didesinfeksikan.
Cacing dikira tumor
Anjing biasanya juga jadi sasaran tuduhan terhadap penularan penyakit ke manusia. Kalau saja man's best friend itu benar-benar anjing rumahan dan sehat-sehat saja, sebenarnya tak apa-apa. Tapi kalau sampai sempat adu gigit dengan anjing liar berpenyakit rabies, kewaspadaan "nasional" seisi rumah mesti ditingkatkan. Pasalnya, bila si anjing lalu menggigit orang, nyawalah taruhannya. Orang yang terinfeksi rabies hampir selalu menemui ajal. Yang lebih ngeri lagi, dari hasil penelitian, penyakit ini tak cuma ditularkan lewat gigitan, tapi juga melalui udara yang mengandung virus dari air liur. Misalnya, bila kita memasuki gua kelelawar, binatang yang juga bisa menyebarkan rabies.
Anjing pun menjadi induk semang Echinococcus granulosus atau cacing hidatid, penyebab hidatidosis. Penyakit yang telah dikenal sejak abad XVI ini pernah mewabah di Selandia Baru dan menelan banyak korban jiwa. Waktu itu cacing hidatid itu dikira tumor ganas.
Di dalam usus anjing, cacing pipih ini bertelur, dan telurnya bisa melanglang buana bersama kotoran. Kalau sampai telur supermini ini nyelonong masuk ke perut, kita bisa menderita hidatidosis. Masuknya sudah tentu bersama makanan atau minuman yang dihinggapi telur-telur itu setelah diterbangkan angin atau lalat. Atau, bila kita habis bercanda dengan si anjing, yang bulunya tertempeli banyak telur (tapi tak kelihatan), lalu makan dengan tangan tanpa cuci tangan dulu. Di dalam tubuh kita telur akan tumbuh dan berkembang menjadi cacing ganas.
Kista dalam jumlah banyak bisa menimbulkan kelainan. Kalau hanya ada satu kista di paru-paru, tidak mengganggu kesehatan. Meski begitu, bila sampai pecah, akibatnya bisa mematikan. Kalau pecahnya di tempat lain, bisa menimbulkan pernanahan atau alergi. Sedangkan jika pecah di perut, akan menyebabkan penyebaran sekunder di selaput-selaput perut dan pembesaran perut. Fungsi alat-alat tubuh pun bisa terganggu. Selain itu, adanya kista di tulang bisa menyebabkan erosi tulang.
Penyakit ini cuma dapat disembuhkan dengan pembedahan untuk mengambil kista. Celakanya, tindakan ini sering menimbulkan komplikasi. Sedangkan pencegahannya dengan menghindarkan anjing makan jeroan mentah ternak potong yang mengandung telur cacing hidatid tanpa diketahui. Anjing sebaiknya diobati dua kali dalam setahun. Juga dengan melakukan desinfeksi bahan yang tercemar kotoran anjing.
Nah, meskipun kita termasuk pencinta berat binatang piaraan, tak ada salahnya untuk tetap berhati-hati terhadap satwa-satwa itu. Kemungkinan mereka menularkan penyakit kepada kita tetap ada. Karena itu, pemeriksaan kesehatan mereka secara rutin pada dokter hewan menjadi sangat penting. Selain untuk menjaga kesehatan binatang piaraan, upaya ini juga menjaga kesehatan kita dari kemungkinan tertular penyakit dari satwa yang kita sayangi. Bahkan, bila hewan kesayangan kita mati pun, sebaiknya dikubur baik-baik dan tidak dibuang ke tempat sampah. Maksudnya, untuk menghindarkan penularan penyakit ke manusia atau satwa lain bila binatang tersebut terinfeksi kuman penyakit di tubuhnya. (*/I Gde Agung Yudana)
|