Mukjizat di kolong jembatan

Elmshorn sedang mencuci piring.
(Foto-foto: Repro Stern)

Di Jerman yang negaranya sudah maju, ada saja warganya yang tunawisma. Beberapa di antaranya ada yang menarik perhatian karena meskipun hidup sebagai gelandangan, penampilannya tetap sebagai warga negara maju.

Gunter sebenarnya warga negara yang baik dan benar, tetapi karena penghasilannya hanya cukup untuk makan dan minum sehari-hari, ia tidak mampu meyewa rumah tempat tinggal. Karena itu, ia tinggal di kolong jembatan layang antara Landungsbrucken dan Reeperbahn, Hamburg, bersama Renate (istrinya) dan dua orang tunawisma lain yang seakan-akan dipersatukan oleh keadaan.

Insiden Luden
Riwayatnya dimulai pada musim semi tahun 1995, ketika ia bersama Renate dan dua orang laki-laki lain sama-sama berteduh di bawah jembatan layang itu. Mereka terkejut ketika Luden (yang nama bagusnya sebenarnya Ludwig), diturunkan dari mobil ambulans di tepi jalan depan mereka. Luden memang gelandangan yang sudah lama menghuni tempat itu. Dokter yang datang bersama ambulans mencoba menolong dengan memberi pernapasan buatan, tetapi tidak berhasil. Luden meninggal di depan mata mereka, seakan-akan diserahkan untuk diurus.

Seperti digerakkan oleh tangan ajaib, mereka berempat memakamkan jenazah itu, lengkap dengan pemberian nisan dan tanda salib dari kayu. Gunter kemudian membersihkan semua sampah dan kotoran yang selama ini tertimbun di bawah jembatan itu. Sesudah semuanya bersih, ia mengajak tiga orang lain yang tetap nongkrong di tempat itu agar menjaga kebersihan, ketertiban, dan kejujuran. Siapa yang tidak setuju silakan pergi.

Renate mempersiapkan makan malam.
Oven dari drum bekas, merangkap
tempat api untuk bediang.
Dilengkapi pula dengan TV dan sound system.
Setiap hari karpet dibersihkan.

Ketegasan Gunter membuka rahasia perjalanan hidupnya sebagai seorang tentara. Ia memang pernah berdinas sebagai anggota pasukan para, tetapi ketika bertempur di front Rusia, ia kehilangan sebuah matanya. Sampai sekarang ia memakai mata "aspal" sebelah. Kemudian ia hidup sebagai veteran perang dengan tunjangan yang cukup untuk hidup pas-pasan di asrama penampungan. Tetapi ia meninggalkan tempat itu karena bosan hidup di asrama yang menyedihkan keadaannya dan tiba di kolong jembatan yang dibuangi sampah dan gelandangan setengah mati (sampai mati) itu.

Aneh sekali, dua orang gelandangan (Elmshorn dan Eddie Murphy) patuh pada ajakan wajib sukarela Gunter. Mungkin karena merasakan suasana kesungguhan, solidaritas yang jujur, dan kepastian hidup aman di kolong jembatan itu.

Dibangun patungan
Gunter membeli drum bekas oli untuk disulap menjadi oven pemasak dan tempat bediang (penghangat tubuh). Di seputar oven yang dinyalakan terus-menerus itu dibangun kamar tanpa atap (atapnya cuma-cuma berupa geladak beton jembatan layang di atasnya) dari papan kayu lapis bekas yang dikumpulkannya dari tempat pembuangan sampah.

Mula-mula semua memang tidur bersama dalam kamar yang satu itu. Selain sebagai dapur dan ruang makan, kamar itu memang bisa dipakai tidur. Tetapi kemudian mereka membangun ruangan tambahan sebagai kamar tidur kedua dan kamar mandi. Kamar tidur tambahan ini untuk Eddie Murphy dan para tamu yang datang menginap. Elmshorn yang sudah hampir menjadi opa tidur bersama Gunter suami istri.

Ruang dapur yang ada ovennya itu sendiri juga diperluas menjadi ruang tamu, ruang makan, dan bar penyimpan minuman. Ruang tamunya kemudian dilengkapi zitje bekas, meja buatan sendiri untuk menaruh pesawat TV bekas, dan sound system (bekas juga).

Dengan berpatungan, mereka membeli generator listrik kecil (bekas) untuk lampu-lampu penerangan, TV, dan sound system. Tidak hanya membeli peralatan, mereka berpatungan juga membeli bahan makanan untuk dimasak dan disantap bersama sehari-hari. Gunter menjadi bendahara dan Renate ditunjuk dengan saur manuk (aklamasi) menjadi manajer dapur dan gudang persediaan makanan. Seminggu sekali, mereka berbelanja di pasar swalayan untuk kepentingan bersama.

Jangan mimpi lagi
Sebelum bergabung dengan Gunter suami istri, Elmshorn hidup menggelandang dan tidur di mana saja yang bisa ditiduri. Istrinya sudah meninggal, tetapi anaknya yang sudah berumah tangga dengan orang kaya tinggal di Elmshorn (karena itu ia dipanggil dengan nama kota asalnya). Rumah anaknya betul-betul rumah, dengan halaman yang ada kolam renangnya. Karena sering mabuk, ia diminta oleh anaknya tinggal di rumah jompo. Tetapi ia tidak mau karena di tempat itu tidak ada kebebasan minum sampai mabuk.

Datang di kota Hamburg, Elmshorn menggelandang selama beberapa bulan sebelum akhirnya bertemu dengan Gunter.
"Boleh tinggal, tapi ingat pedoman kita: hidup bersih, tertib, dan jujur! Kalau tidak setuju, silakan pergi lagi mencari kelompok lain yang amburadul hidupnya, sampai mati tidak terurus seperti Luden!"

Elmshorn agaknya takut akan nasib yang dibayangkan itu dan patuh pada peraturan Gunter. Memang ia masih boleh minum, tetapi tidak boleh sampai mabuk. Sebaliknya, Gunter dan Renate menjaga benar jangan sampai Elmshorn minum tak terkendali.

Sehari-harinya Elmshorn dibuat cukup sibuk, supaya tidak ingat akan nasibnya yang malang karena dibuang oleh anaknya sendiri. Pagi-pagi membantu Gunter membelah kayu untuk kayu bakar oven. Siang hari membersihkan karpet tempat tidur mereka dengan penyedot debu (bekas) yang mereka beli patungan di pasar loak. Kemudian ia mencuci piring untuk makan bersama. Airnya diambil dan digotong dengan jeriken plastik (bekas) dari Wisma (tempat penginapan) Pemuda di dekat jembatan layang itu.

Di sela-sela tugasnya ia boleh menikmati musik dan lagu-lagu pop dari sound system. Malam hari ia bertugas menyetel dan menjaga TV sampai mereka tidur dengan tertib. Tidak dibenarkan begadang sampai pagi.

Setiap kali Elmshorn ingat akan anaknya di rumah yang ada kolam renangnya, Gunter mengingatkannya dengan tegas, "Siapa yang tidak mau melupakan kehidupannya yang sudah lewat, akan merana tanpa guna!"

Kehangatan
Dari empat orang, kelompok itu kemudian berkembang menjadi enam orang, setelah Thorsten dan Richie bergabung. Thorsten seorang kelasi kapal pengangkut minyak dari Hamburg ke Rotterdam. Sebagai pelaut ia memang bisa hidup boros gengsi-gengsian di hotel, losmen atau lainnya sampai uangnya ludes, dan harus mulai lagi dari nol, tetapi karena bertemu dengan Gunter, ia hidup tertib, hemat, dan bersih. "Orang akan menemukan pekerjaan tetap yang kekal kalau ia hidup sehat dan tampak bagus mentalnya!" tutur Gunter meyakinkan, "Perusahaan mana yang mau menerima orang sakit dan buruk mentalnya?"

Juga Richie yang dipecat dari pekerjaannya sebagai tukang cat karena penyakit alergi (mungkin ini hanya dalih untuk memecat seseorang). Setelah menggelandang sebentar, ia mendengar ada seorang Gunter yang hidupnya tertib, jujur, dan bersih mentalnya. Lalu ia bergabung.

Sesudah mendapat pekerjaan lagi di tempat lain, Richie tidak mau pindah ke tempat lain. Bersama Thorsten, ia menjaga malam di kolong jembatan layang itu.

Kadang-kadang mereka kedatangan tamu (kenalan lama) yang dijamu sebagaimana layaknya seorang tamu. Yaitu disilakan duduk di sofa ruang tamu yang ada ovennya dari drum bekas, saling menunjukkan perhatian, dan mencurahkan isi hati. Atau bertukar informasi dan pengalaman, sambil menikmati minuman dari bar. Kalau tamu tinggal sampai tiba waktunya makan malam, mereka juga dijamu makan malam seadanya. Ini mengharukan karena mereka sendiri sebetulnya hidup pas-pasan. Ada kehangatan, sampai tamu itu merasa betapa masih berharganya orang gelandangan ini sebagai manusia.

Pengunjung datang dari berbagai penjuru. Anak-anak sekolah yang sedang bertamasya ke Hamburg, tetapi tidak kebagian kamar menginap di Wisma Pemuda, datang ke kolong jembatan Gunter, dan minta tolong diberi penginapan. Dua orang di antaranya malah tinggal selama seminggu, meskipun teman-temannya sudah pulang ke kota asal. Mereka mengagumi, kemudian menyelami cara hidup yang tetap tertib, sederhana karena harus menghemat penghasilan (tunjangan hari tua) yang tak seberapa, tetapi juga suka menolong orang sesama fakir miskinnya.

Tak lama kemudian datang para wartawan ke kolong jembatan yang ada listriknya itu. Mula-mula wartawan surat kabar lokal, tetapi kemudian juga wartawan majalah dan TV nasional. Kisahnya merupakan kisah sosial yang mengharukan, dari orang-orang yang tersisihkan, tetapi masih tetap bersemangat untuk hidup sebagai orang bermartabat. (Kai Herman/SS)



Penghuni Karton