Namun tak sembarang orang yang sudah meninggal bisa menjadi kliennya. Ia hanya mau menerima mereka yang semasa hidupnya terkenal dan bercitra baik. Meski secara pribadi tidak kenal atau sama sekali belum pernah ketemu. Profesi macam apa ini sebenarnya?
Di Beverly Hills, AS, gudangnya para artis dunia yang sarat dengan nuansa glamour, terdapat Creative Artist Agency (CAA) semacam perusahaan jasa kehumasan paling berpengaruh di Hollywood. Lembaga ini menangani dan mewakili bisnis serta kepentingan para artis top yang sedang populer. Sesuai dengan gaya hidup para kliennya, kantor ini pun cukup menterang, mewah dan nyaman. Tak pernah sepi dari tamu. Namun, bukan ini yang akan diceritakan.
Hanya beberapa meter dari situ, terdapat kantor sederhana dengan tulisan kecil di pintu kacanya, Roger Richman Agency. Tak banyak orang tahu, apa bisnis kantor yang sepi pengunjung ini. Kegiatan Roger Richman Agency pun nyaris tenggelam dalam hiruk pikuk dan aroma wangi selebriti yang hilir mudik di CAA.
Meski kliennya banyak yang berasal dari kalangan selebritis, Richman Agency memiliki keistimewaan yang tidak lumrah. Betapa tidak? Selain calon kliennya pernah terkenal dan memiliki citra baik, mereka harus sudah meninggal.
"Saya lebih suka menyebut para
klien kami sebagai tokoh yang sudah melegenda," kata Richman
yang saat ini memiliki 45 klien. Tentu, semuanya sudah almarhum/mah,
termasuk di antaranya nama-nama tenar dari Hollywood seperti John
Wayne, W.C. Fields, Boris Karloff, Steve McQueen, Mae West, Groucho
Marx, Elvis Presley, Sammy Davis Jr., dan Audrey Hepburn, di samping
juga ilmuwan genius seperti Albert Einstein dan Sigmund Freud.
Tisu John Wayne
"Secara fisik para tokoh itu memang sudah tidak ada." jelasnya, "Tetapi mereka pernah memiliki pengaruh dan karisma yang kuat sepanjang hayatnya, bahkan reputasinya tetap hidup dalam sanubari masyarakat sampai sekarang. Itulah yang saya lindungi," jelas Richman.
Prinsip dasar inilah yang menjadi lingkup kegiatan Richman Agency. Dengan memberi pelayanan jasa pengurusan izin dan pembayaran hak pakai beserta royalti segala sesuatu yang berhubungan dengan kliennya, Richman membuat jaringan perusahaan yang terdiri atas 19 kantor pengacara yang tersebar di seluruh dunia. Termasuk empat kantor cabangnya di Los Angeles.
Mereka bekerja berdasarkan hukum California Celebrity Right Act 1984, yang melarang semua bentuk pemakaian citra maupun suara orang yang sudah meninggal untuk tujuan komersial secara tidak sah. Hukum seperti itu juga terdapat dalam kitab undang-undang negara bagian lain dan negara-negara lain.
Sebagai pemegang kuasa dari ahli waris atau yayasan sosial milik kliennya, setiap saat Richman beserta jajarannya siap mengejar individu atau lembaga yang menggunakan nama, gambar, suara, atau menjiplak segala sesuatu dari para kliennya secara ilegal. Ia berhak memaksa mereka menghentikan tindakan itu, membayar royalti, atau kalau masih nekad, menyeretnya ke pengadilan. Sebagai contohnya, beberapa waktu lalu Richman terbang ke Cina, guna mengurus perjanjian copy-right dengan perusahaan setempat soal pemakaian tokoh Albert Einstein, "kliennya" yang paling terkenal dan selama ini banyak mendatangkan keuntungan.
Secara terbuka ia memberikan contoh tuntutan hukum yang pernah dilakukannya terhadap beberapa perusahaan Amerika yang secara terang-terangan melecehkan citra para kliennya. Misalnya, foto John Wayne yang dipakai sebagai penghias kertas tisu toilet di Las Vegas tahun 1997. Juga, kartu ucapan selamat bergambar Judy Garland dan Clark Gable dalam posisi beradegan porno yang tidak etis, atau kemasan botol kecil yang diklaim berisi keringatnya Elvis Presley.
Sesuai etika bisnis, Richman tidak mau membocorkan berapa besar duit yang dihasilkan dari perburuan hak pakai ini. Namun dari sumber yang layak dipercaya, sejumlah ahli waris kliennya mengaku justru memperoleh uang lebih banyak setelah sang tokoh meninggal dibandingkan kala yang bersangkutan masih hidup.
Dari uang "buruan" itu, si ahli waris atau yayasan yang mewakilinya memperoleh bagian 65%, sementara Richman menerima 35% sebagai imbalan atas jerih payahnya.
Royalti dari hasil kampanye bir Coors
secara besar-besaran di Amerika menggunakan potret John Wayne,
penampilan pertama sang koboi dalam iklan sejak kematiannya,
disalurkan ke John Wayne Cancer Institute. Sebelumnya potongan
adegan Steve McQueen dalam film Bullitt digunakan untuk iklan
Puma dalam televisi Inggris. Sementara perolehan dari hak pakai
foto diri Einstein dikirimkan untuk membangun sebuah universitas
di Yerusalem. Sedangkan sebagian dari uang yang diperoleh dengan
memanfaatkan citra Freud diserahkan kepada ahli waris Freud di
London.
Membela Einstein
Untuk memutuskan "ya" atau "tidak" serta memberi izin pemakaian citra klien yang dilindunginya, baik dalam bentuk lisensi atau pemakaian dalam iklan, terlebih dahulu Richman akan berkonsultasi dengan ahli waris atau yayasan para kliennya" berdasarkan kriteria yang disepakati bersama.
Di lain pihak, Richman juga bisa sangat selektif dan tidak bermental aji-mumpung. Selama ini citra Einstein sudah dipakai oleh raksasa Apple dalam kampanye penjualan produk komputer terbarunya. Oleh karena itu Roger Richman Agency menolak permintaan pemakaian gambar tokoh ini untuk iklan produk rambut. Rupanya, produsen produk perawatan rambut ini berusaha untuk mempercantik penampilan Einstein yang rambutnya awut-awutan. Begitu pula ketika ada sebuah permintaan untuk memakai foto Einstein sedang menjulurkan lidahnya, yang sangat terkenal tersebut.
"Mereka yang ditolak mengatakan, memangnya siapakah saya, 42 tahun setelah kematiannya, membuat suatu keputusan seperti itu," kata Richman yang menyimpan sejumlah besar relief Einstein di lobi kantornya dan memotret dirinya sebagai seorang bayi yang sedang digendong oleh ilmuwan besar tersebut.
"Orang mengatakan, saat Einstein menjulurkan lidahnya tentu ia tahu apa yang diperbuatnya. Tapi menurut saya, Einstein harus dikenang karena sejumlah penemuannya yang membuatnya jadi tokoh penting abad duapuluh. Bukan untuk tindakan menjulurkan lidah yang hanya untuk sesaat itu," kilah Richman.
Toh, tak semua pekerjaannya bisa dijalankan dengan mulus. Selain sebagai klien yang membawa rezeki, Einstein pun banyak mendatangkan masalah. Bisa dibayangkan betapa kesalnya ia melihat ulah Dr. Thomas Harvey (84) ahli patologi asal New Jersey, AS, yang memperlakukan otak Einstein bak barang mainan. Setelah penemu teori relativitas ini meninggal tahun 1955, Harvey melakukan otopsi atas jazad Einstein dan mengeluarkan bagian otaknya. Sebelumnya dokter ini memang sudah mengantongi izin dari Hans Albert, putra bungsu Einstein, untuk memakai otak tersebut demi keperluan riset ilmiah.
Rupanya dokter krontroversial ini menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan. Ia memotong-motong otak Einstein menjadi 200 bagian. Sebagian dimanfaatkan untuk keperluan riset, tapi 50 potongan lain malah dibagi-bagikan kepada orang-orang yang tak berhak. Itupun dengan tujuan yang tak jelas. Termasuk salah satunya bagian otak itu diberikan kepada Prof. Kenji Sugimoto, ahli matematika pengagum Einstein yang tinggal di Osaka.
Menyesalkan Diana
Kekesalan serupa diperlihatkan Richman atas kasus Putri Diana Spencer. Ia begitu geram melihat betapa banyaknya pihak-pihak yang secara tak bertanggung jawab memanfaatkan baik gambar, suara, atau sosok Putri Diana demi keuntungan sepihak, begitu sang Putri meninggal. Sayang, Putri Wales bukanlah kliennye. Kalau ya, pasti ia sudah melakukan operasi pasar besar-besaran dengan mengerahkan para pengacaranya, memburu para pelanggar hak pakai tersebut.
Kegeraman Richman memang beralasan, apalagi ia termasuk pengagum berat Diana. Di atas mejanya, tergelar ratusan kliping media massa yang menunjukkan berbagai benda yang menampilkan gambar Diana tanpa lisensi (izin). Richman yakin, yayasan Diana tidak memperoleh apa-apa dalam bentuk royalti. Kalaupun ada, kebanyakan memorabilia itu norak.
"Sebagian besar cara penjualan benda-benda ini melanggar undang-undang," keluhnya. "Tak ada satu pun dari benda-benda ini yang memperoleh persetujuan keluarga Spencer." Berapa banyak kerugian yang diderita keluarga Diana? "Oh, jumlahnya benar-benar sangat mengejutkan."
Banyak perusahaan yang memakai citra Diana menawarkan "kontribusi" bagi berbagai kegiatan amal yang paling disukai Diana. Salah satu perusahaan akan menyumbangkan AS $ 100.000 kepada yayasan-yayasan tersebut. Tetapi menurut Richman, semua itu tidak cukup. "Jumlah AS $ 100.000 tak ada artinya sama sekali," katanya.
Richman ingin sekali segera terbang ke London untuk bertemu dengan para pengacara Diana. "Saya merasa kasihan terhadap Diana seperti juga orang Amerika atau orang Inggris sendiri," katanya. "Saya sedang melakukan perang dan melakukan perlindungan terhadap berbagai tokoh masyarakat yang dimanfaatkan secara tidak sah. Orang seperti Diana hanya satu dalam sejuta, jadi ia harus dilindungi dan dihargai."
Dilindungi dan dihargai. Terlepas dari
kacamata bisnis yang dilirik Richman, kedua kata ini bisa disebut
mata pisau bagi penegakan hukum sekaligus penghormatan yang sebaiknya
dilakukan terhadap mereka yang sempat menjadi bagian dari sejarah.
Bagi orang awam barangkali kedengaran aneh, tetapi boleh jadi
Roger Richman yang benar. (Christopher Goodwin/Ypt)
