Encer di panggung
Tembang Suwe Ora Jamu yang dipelesetkannya menjadi Suwe Ora Ngono, ngono ora suwe, suwe ora ngono, ngono-ngono ora suwe, adalah salah satu yang bagi orang tertentu bisa membuat wajah memerah. Belum lagi ujaran "Wes-ewes-ewes, bablas angine" yang akhir-akhir ini cukup populer sehingga bahkan digunakan untuk judul berita di sampul sebuah majalah.
Spontanitas dan kreativitas memang telah menyatu dengan pria berperawakan kecil ini. Tanpa tedeng aling-aling, Basuki mengaku kalimat "Yen tak pikir-pikir", "Wes-ewes-ewes", dan yang lainnya sudah ditentukan oleh sutradara. "Lha saya tinggal mengucapkan dengan menampilkan gerakan yang harus pas untuk situasi itu. Mestinya, ya perlu disesuaikan antara ide si sutradara dengan 'golek'-nya," tuturnya cengengesan sambil mengibaratkan dirinya adalah golekan atau boneka wayang.
Tak heran bila dalam pembuatan iklan atau sinetron, ia sering keluar dari garis naskah karena tiba-tiba mendapat ide memadukan dialog dengan gerak atau mimik tertentu yang dianggapnya cocok. Ini tak lain agar iklan itu mengena dan gampang diingat oleh masyarakat. "Terus terang saya punya tanggung jawab moril. Nggak enak, wong sudah dibayar tapi barang yang saya promosikan tidak laku," tuturnya serius sambil menambahkan tidak ingin memanfaatkan momen itu untuk jadi lebih terkenal.
Wajar bila kreativitas dirinya harus selalu dikembangkan agar penampilannya tidak membosankan, klise, itu-itu saja. Pengalaman dengan mencermati kejadian di masyarakat - yang hanya diingat-ingat, menurutnya, adalah faktor utama agar ia dapat dengan mudah menampilkan guyonan kocak yang bervariasi.
Masalah ingat-mengingat bagi Basuki memang tidak mudah dilakukan. Terutama bila melawak di panggung, "Angkat tangan, menyerah deh kalau harus menghapalkan joke-joke yang akan dipakai. Karena situasi panggung gampang berubah."
Ia mengaku, spontanitasnya lebih encer mengalir saat dihadapkan pada situasi yang mendesak. "Begitu naik ke panggung, saya langsung bisa 'ngoceh'. Ini tak lain karena tanggung jawab yang saya pikul. Bayangkan, saya harus membuat gedung berisi penonton gemuruh dengan tawa dan tepuk tangan. Panggung sudah jadi hak saya, sehingga saya pun berani tampil di hadapan siapa pun. Tapi jangan kaget kalau ketemu saya ternyata tidak selucu di panggung," ucap bapak beranak tiga yang dalam keseharian tidak nampak celelekan, malah cenderung pendiam. Kalaupun bicara, sebagian kata-katanya impor, bahasa Inggris.
Di balik keberaniannya, Basuki tetap memilah dan memilih jenis lawakannya. "Sesuai ajaran bapak, saya harus tahu, empan papan, siapa yang saya hibur. Apakah penonton dari kalangan kantoran, para pejabat, masyarakat umum, aparat ABRI."
Bapak-anak sama-sama Gareng
Sepertinya hukum alam, seorang seniman akan menurunkan darah seni pada anaknya. Tanpa bisa menolak prakondisi itu, Basuki kecil yang lahir di Surakarta, 5 Maret 1956, di mata teman-temannya pun memiliki bakat melucu. "Entah ya, mungkin jadi pelawak memang cita-cita saya sejak kecil. Saya cuma senang melihat dagelan dan meniru-nirukan gaya Bing Slamet di sekolahan," kenangnya akan masa kecil yang dilakoninya di Semarang.
Tak salah-salah pula ia memiliki bakat itu karena dalam dirinya mengalir darah Pete alias Suwito yang juga mantan anggota Srimulat.
Pete dan Basuki memang serupa tapi tak sama. Yang satu bapak, satunya anak. Uniknya, dalam kancah wayang orang yang pada awalnya mereka libati, khususnya Wayang Orang (W.O.) Sri Wanito Semarang, keduanya sama-sama sering mendapat peran sebagai anggota punakawan Gareng.
Keserupaan yang lain, sudah pasti adalah keterampilan tari mereka. Ditambah dengan keluwesan ibu yang penari di Sriwedari Surakarta, sehingga karena pintar menari sejak kecil, Basuki pun jadi punya tubuh lentur yang salah satunya ditampilkan dengan tambahan narasi "Wes-ewes-ewes" tadi. "Sebetulnya tidak luar biasa. Orang yang sudah bisa menari, bisa saja berkreasi, berimprovisasi sendiri dengan menyesuaikan kendang, gamelan, atau sebaliknya, gamelan yang mengikuti kita," tutur pelawak yang mengidolakan bapaknya sendiri dan almarhum Benyamin S.
Usai berkarier di W.O. Sri Wanito, Basuki mencoba ikutan di Srimulat. Melalui proses penyesuaian dan belajar beberapa lama, akhirnya ia diterima di Srimulat. Maka, mulai 1981 - 1986 Basuki pun mengembangkan karier di gudang para pelawak itu.
Sekeluarnya dari Srimulat ia pernah membentuk grup Merdeka bersama Kadir, Timbul, Nurbuat, dan Rohana yang tidak bertahan lama. Tiga orang yang tertinggal yaitu Basuki, Kadir, dan Timbul lalu membangun Batik Grup yang ternyata juga hanya bertahan 3 tahun. Ia pun luntang-lantung sendirian seiring dengan bubarnya Srimulat tahun 1988.
Biar sadis tetap diketawai
Sebagaimana laut yang mengenal pasang surut, kehidupan anak manusia bernama Basuki pun mengenal kandas terempas gelombang. Di masa sulit itu Basuki menempati rumah kos di kawasan Pejompongan, Jakarta. Mungkin tak banyak yang tahu, ketika itu uang Rp 1.500 untuk bensin tiga hari sudah dirasakannya amat berat. Ia bahkan sempat ditolong oleh anggota Wayang Orang Bharata, mendapatkan tumpangan tidur serta makan. Sampai suatu hari di tahun 1992, datang Tino Karno menyampaikan tawaran Rano Karno untuk mendukung serial Si Doel.
"Dengan menilik penampilan Mas Basuki dalam grup Srimulat kuat sekali. Dengan bahasa Jawa kentalnya, saya yakin ia mampu menghidupkan suasana. Terbukti, ia sangat spontan dan kreatif," komentar Tino Karno.
Berawal sebagai bintang tamu hanya untuk 2 atau 3 episode dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan I, akhirnya pada Si Doel III dan IV ia dipercaya sebagai pemain tetap.
Namun usaha Basuki untuk menjadi pemain tetap tidak ringan. "Tantangan pertama adalah menghapal dialog, kondisi yang tidak pernah saya temui di panggung. Selain itu belajar akting, dan tentu menyesuaikan diri dengan yang lain."
Kerja kerasnya tak sia-sia. Jiwa Mas Karyo nampak pas dalam sosok Basuki. Padahal, "Saya melakukannya dengan biasa-biasa, lugu sajalah. Yah, seperti kehidupan sehari-hari, agar tidak nampak aneh saat syuting. Kalaupun ia dianggap pas jadi orang Jawa, lha ya wong saya memang orang Jawa."
Di sisi lain kesejiwaannya dengan Karyo, ia pun pernah jadi sasaran tembak kritik. "Pernah diceritakan, Karyo itu suka ngutang tapi berat bayar. Kok kesannya menjelek-jelekkan orang Jawa. Yah, saya 'kan cuma mengikuti skenario. Apa ya mau menjelek-jelekkan orang Jawa, wong saya sendiri orang Jawa," tuturnya lirih.
Basuki kembali muncul, permintaan untuk turut bermain dalam berbagai pertunjukan pun makin deras berdatangan. Namun, ia mengaku lebih mengutamakan Si Doel.
Mata Basuki menerawang jauh. "Yah, saya dikenal masyarakat lagi, malah dikenal banget, melalui Si Doel. Saya tidak mau melupakan bantuan yang datang tepat pada waktunya, saat saya sedang benar-benar down."
Baginya, inilah jodoh. "Istilahnya, Si Doel adalah istri yang saya cintai, sudah pas - cocok benar. Sedangkan kelompok yang sebelumnya adalah pengalaman pahit kawin-cerai, atau perempuan-perempuan pengganggu," kembali ia mrenges.
Namun bukan berarti ia tidak ingin mencoba peran di sinetron lain, hanya sayang, belum ada lagi pihak yang menawarinya. Seandainya pun tawaran itu ada, perlu pemikiran panjang untuk menerimanya. Ia menceritakan pengalamannya bermain dalam sinetron Sama-sama Tahu bersama Tarzan yang dinilainya kurang berhasil, karena isinya juga kurang menggigit.
Khusus untuk tawaran bermain dalam peran antagonis, misalnya jadi orang yang sadis, "Wah, angel, sulit tenan. Biarpun saya sudah sadis-sesadis-sadisnya, penonton pasti akan ketawa. Saya masih bisa memilih, 'kan? Nah, sebisanya saya menolak, karena saya bukan pemain antagonis, lagi pula bisa-bisa hilang penggemar saya."
Ia yakin, biasanya sutradara sudah mengetahui karakter calon pemain serta peran apa yang pas untuknya. "Jadi dengan karakter saya sekarang, pasti tidak ada adegan yang terlalu sulit, sepanjang masih ada contoh yang bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya sambil menyebut buku sebagai sumber lain belajar akting.
Nge-lawak gratis pun O.K.
Jer Basuki Mawa Bea, ujaran Jawa yang artinya Tidak Ada Kesejahteraan Tanpa Perjuangan, agaknya tepat untuknya.
Jalan berliku akhirnya memampukan Basuki memboyong istri dan tiga anaknya ke rumahnya sekarang di kawasan Cinere, Jakarta. Baginya, peristiwa berkumpul kembali bersama keluarga setelah berpisah selama 14 tahun karena mereka ditinggal di Surakarta itu sungguh sangat mengesankan.
Tahun lalu, pas ia bersatu dengan keluarga, ternyata pas datang prahara krisis ekonomi. Tapi ia berharap dapat melakoninya dengan baik. "Tapi saya tidak sendirian, orang lain pun merasakan, bahkan lebih buruk. Maka saya mengingatkan keluarga untuk berhemat. Hati-hati mengatur pengeluaran, harus bisa menentukan, yang tidak perlu dibeli tidak usah dibeli," ujarnya menyiasati berkurangnya order, baik panggilan show maupun kontrak iklan, yang berimplikasi pada berkurangnya pemasukan.
Padahal, dibandingkan dengan pelawak lain, Basuki cukup selektif dalam menerima tawaran. "Kalau orang lain bisa menerima 10 order lawakan, saya hanya mau main 3 - 5 kali dalam sebulan."
Salah satu cara menyeleksi di antaranya dengan mematok harga secara ketat. Tindakannya ini sering mengundang cap bahwa ia sok, padahal, "Kalau semua dituruti, sebulan 10 - 15 kali pentas, bisa remuk badan saya."
Yang ia herankan sehubungan dengan masa krisis ini, yang mestinya banyak orang stres butuh hiburan, "Saya tidak banyak undangan untuk main. Padahal kalau memang benar-benar diperlukan, saya siap melawak secara gratis."
Pendapat serupa ia tawarkan untuk TVRI, yang dinilai berjasa membesarkannya. Maka ia pun mengajak rekan-rekannya yang kini telah berpunya, "Untuk tidak pasang tarip tinggi. TVRI tidak bisa bayar banyak, karena tanpa iklan. Jadi, mbok jangan disamakan dengan rate di luar."
Gelinding nasib yang dialaminya sebagai putra seniman lawak, rupanya juga menimpa salah satu anaknya. "Tanpa saya pernah mengajak, apalagi memaksa, ternyata ada anak saya yang juga berminat melawak."
Dari 3 orang anaknya, Galih Santoso, Wahyu Putranto, Uki Emi Triani, anak keduanya yang mencoba terjun dalam dunia lucu-melucu, di antaranya mengikuti lomba lawak yang diselenggarakan Mei ini di Jakarta.
Lucunya, sebagaimana Pete tidak pernah mengharapkan Basuki menjadi pelawak, Basuki pun tidak pernah bermimpi ada anaknya yang melawak. "Kalau bisa jangan jadi seniman, kecuali memang takdir. Kalaupun jadi seniman, ia harus lebih hebat dari saya." Basuki mengajukan syarat yang cukup berat tanpa mengutarakan alasan tepat larangannya.
Sesederhana penampilannya, harapan Basuki pun bersahaja, yakni membesarkan anak sampai selesai.
Bagi pelawak yang doyan main bulu tangkis dan sepak bola ini, falsafah Jawa eling lan waspada serta pasrah diyakininya mampu membantunya mengatasi berbagai masalah yang pernah membelitnya.
Saat ini, "Saya hanya mengandalkan bermain dalam Si Doel, belum ada persiapan lainnya," akunya tanpa menyinggung banyak kesertaannya dalam rumah makan hasil kerja sama dengan pengusaha boga di Jakarta.
Sementara usaha batik, dikatakannya jadi tanggung jawab penuh istrinya, Mulyani. Kabarnya, sutradara Rano Karno tak berkeberatan, bahkan mendukung, Basuki menggunakan nama tokoh dalam Si Doel sebagai merek dagang. Batik produksinya dijuduli Batik Collection, Mas Karyo, Indonesia Raya. Enteng judulnya, seenteng pembawaan kepribadian Mas Basuki Karyo. (Shinta Teviningrum/Yds Agus Surono)
|